Bukan Dia

Bukan Dia
9


__ADS_3

Satu persatu pegawai mulai membubarkan diri dan kembali ke tempatnya masing-masing. Aku pun hendak kembali mengerjakan pekerjaanku yang sempat tertunda tadi. Kyuhyun pasti akan berteriak-teriak memanggilku kalau aku tak segera datang.


“bisa kita bicara sebentar?” seseorang menarik tanganku dan membuatku menoleh ke belakang.


“ada apa?”


_


“jadi begini caramu? Berpura-pura jadi pegawai di cafe milik kakekku untuk berusaha memaksaku?” dengan seenaknya Donghae menuduhku. Apa-apaan dia bicara seperti itu? aku kan tidak tahu kalau cafe ini milik kakeknya. Lagipula aku kerja disini juga kan karena ada sebabnya. Ini sama sekali bukan keinginanku. “siapa yang mengirimmu kesini? Oemma, atau appaku?”


“maaf Donghae-ssi, tapi sepertinya kau sudah salah sangka. Aku sama sekali tak ada niat apa-apa disini. Aku tak tahu sebelumnya jika ini adalah cafe milik kakekmu. Dan tak ada yang menyuruhku.” Ucapku sesopan mungkin. Aku masih menghargainya sebagai orang yang ku hormati, walaupun dia sudah bicara tak sopan padaku. Lagipula aku masih menyimpan perasaan padanya.


“kau bohong. Kau pasti punya niat tertentu. Jujur sajalah!” ucapnya dengan angkuh. Aku seperti tak punya harga diri di depannya.


“terserah kau mau berpikiran seperti apa. Maaf, tapi pekerjaanku masih banyak.” Sesegera mungkin aku pergi dari hadapannya. Semakin aku mengenalnya, ia semakin berbeda. Bukan lagi Donghae sunbae yang sempurna di mataku.


“ya! gadis pemalas, dari mana saja kau huh?” begitu sampai, aku langsung di omeli lagi oleh Kyuhyun. Ku rasa ia harus mendapatkan piring cantik sebagai penghargaan karena sudah memecahkan rekor ‘terbanyak mengomeliku hari ini’.


“dari toilet. Memangnya aku harus melapor padamu dulu sebelumnya?” tanpa menunggu perintahnya aku langsung mendorong Jongwoon menjauh dan mengambil alih pekerjaannya mencuci piring –yang memang sudah menjadi tugas utamaku selama bekerja disini.


“Bagus. Sepertinya kau sudah bertambah rajin.” Ia tersenyum seperti ayah yang bangga anaknya mendapat juara satu lomba membaca puisi se-kabupaten.


“kalau tidak begini kau pasti akan terus mengomeliku kan?” ucapku ketus sambil tetap mencuci piring. Aku berusaha tetap berkonsentrasi mencuci, melakukannya dengan penuh hati-hati. Aku tak mau harus bertambah lama disini hanya karena memecahkan sebuah piring atau gelas setiap harinya.


“Hyunjin, kau di panggil Lee sajangnim di ruangan manager.” Kibum muncul tiba-tiba membuatku terkaget. Untung saja piring ini tidak terlepas dari tanganku. Bisa gawat kalau sampai pecah lagi.

__ADS_1


“memangnya ada apa?”


“aku juga tak tahu. Sepertinya ada yang penting.”


Aku menoleh pada kyuhyun untuk minta persetujuannya. “pergilah.” Ia menggerakkan kepalanya memberiku izin. Aku jadi merasa bosku yang sebenarnya adalah Kyuhyun -__-


“baiklah, aku akan ke sana.” Aku segera mencuci tangan dan bergegas pergi. Piring kotornya masih sangat banyak. Pekerjaanku pasti akan semakin menumpuk nanti.


_


“tapi aku tak mau haraboji, aku bukan anak kecil yang harus di paksa seperti ini.”


“bagaimana kau bisa tahu sebelum menjalaninya?”


Dengan samar-samar ku dengar suara dari dalam ruangan manager. Tidak terlalu jelas apa yang mereka katakan, suaranya kecil sekali. Dengan ragu-ragu aku mengetuk pintu untuk minta izin masuk. Sebenarnya untuk apa aku di panggil kesini? Apakah aku akan di pecat karena bukan pegawai legal? Maksudku.. aku kan masuk kesini karena ketidaksengajaan. Ah, tapi bukankah itu malah bagus? aku akan segera keluar dari sini dan tak akan bertemu lagi dengan Kyuhyun. Bukankah itu yang ku inginkan?


“masuklah!” ucap suara dari dalam. Dengan perlahan aku membuka pintu itu. Di dalam hanya ada Lee sajangnim dan Donghae.


“ah, kau rupanya. Duduklah!” Lee sajangnim menyuruhku duduk di sofa tepat di sebelah Donghae. Dengan ragu aku akhirnya duduk di sana. Terasa canggung, mengingat aku baru saja mengalami pertengkaran kecil dengannya tadi.


“maaf. Tapi untuk apa sajangnim memanggil saya?”


“tak perlu seformal itu, Hyunjin. kita ini kan keluarga.” Ucap Lee sajangnim sambil tersenyum.


“mwo?” tanyaku kaget. Aku jadi seperti orang bodoh saat ini. Lee sajangnim malah tertawa melihat ekspresiku. Sementara Donghae membuang mukanya tak mau melihatku. Kenapa dia itu?

__ADS_1


“ternyata aku tak salah mengenali orang. Kau sangat mirip dengan ayahmu.” Ucap Lee sajangnim yang membuatku langsung mengerti maksudnya. Jadi dia sudah tahu siapa aku sebenarnya. “kau pasti sudah tak ingat padaku. Kau masih sangat kecil saat aku melihatmu terakhir kali.”


“ne, tapi kakekku sering sekali menceritakan tentang anda.”


“begitu ya? ah, bagaimana kabar kakek dan orang tuamu?”


“mereka sehat. Tapi haraboji sekarang menetap di Mokpo setelah beliau pensiun.” Jelasku pada Lee sajangnim. Ia pasti sudah lama tak bertemu dengan kakekku karena orang sesibuk dirinya pasti jarang sekali pulang ke kampung halaman.


“jadi, apa yang ingin sajangnim katakan? Tak mungkin kan kalau hanya menanyakan kabar orang tua dan kakek saya.” tanyaku dengan nada sopan, berusaha untuk tak menyinggungnya. Sebenarnya aku ingin cepat-cepat pergi karena Donghae yang sudah melirikku dengan pandangan tak suka.


“tak perlu buru-buru. Lagipula cafe ini kan milikku, aku tak mungkin memecat calon cucu menantuku (bener nggak nih sebutannya?) karena mengajaknya ngobrol sebentar.” Donghae langsung memasang wajah tak suka saat Lee sajangnim mengatakan “cucu menantu”.


“ne, maafkan kalau saya tidak sopan, sajangnim.”


“Hyunjin, jangan memanggilku sajangnim. Aku sudah menganggapmu cucuku sendiri. panggilah haraboji.”


“hmm.. tapi saya rasa tak sopan jika memanggil anda seperti itu di tempat kerja. Mungkin jika di luar saya bisa memanggil anda haraboji.” Tolakku secara halus. Apa kata pegawai lain nanti? Aku kan juga belum tentu jadi di jodohkan dengan Donghae.


“haraboji sudah menganggapnya cucu sendiri kan? jadi untuk apa tetap memaksaku menikah dengannya? Jadikan saja dia cucu haraboji.” Donghae berkata dengan sinisnya. Ingin ku jambak rambutnya itu. tapi kuurungkan niatku karena ada kakeknya disini. Aku tak menyangka, ternyata ini sifat aslinya. Dimana namja malaikat yang selalu kupuja-puja selama ini? rupanya itu hanya topengnya saja. Ini wujud aslinya, orang yang egois dan angkuh.


“Donghae, jaga bicaramu!” Lee sajangnim sedikit membentaknya.


“sajangnim, bisa saya permisi sekarang? masih banyak yang harus saya kerjakan.” Pamitku sopan. Aku sudah kesal melihat Donghae. dia pikir aku mau di jodohkan dengannya? Kalau kemarin-kemarin sih iya, tapi sekarang tidak lagi. Entah mengapa perasaanku jadi sedikit berubah padanya.


“baiklah. Silakan.” Lee sajangnim mempersilakanku pergi.

__ADS_1


_


__ADS_2