Bukan Dia

Bukan Dia
2


__ADS_3

‘Heh, kau ada dimana sih? Tidak tahu ya kelas sudah di mulai sejak tadi? Matilah kau!’


Begitulah isi pesannya. Dan itu membuatku tersadar akan satu hal. Aku benar-benar sudah terlambat.


Benar saja, saat sampai di ruangan semua sedang sibuk memperhatikan dosen yang mengajar di depan. Aku hanya cengengesan dan membungkuk minta maaf, syukurlah aku masih diizinkan masuk.


Entah aku sudah gila atau apa, tapi wajah Lee Donghae terus saja memenuhi pikiranku. Aku jadi tidak bisa konsentrasi. Sial! Ada apa sih denganku? Sejak tadi hanya namja itu yang ada di kepalaku.


Aku mengucek-ngucek mataku, semua orang di kelas ini terlihat terlihat seperti Lee Donghae. orang di sebelah kiri, kanan, depan, di belakangku, di mana-mana. Bahkan dosen di depan itu pun berubah menjadi Lee Donghae. Aku benar-benar sudah gila! Setelah ini sepertinya aku harus memeriksakan diri ke psikiater. Efek dari kecanduan Lee Donghae sungguh berdampak besar bagi akal sehatku.


À


Aku mengetuk-ngetukkan jari di kursi yang sedang kududuki ini, rasanya bosan sekali sejak tadi hanya duduk diam disini. Rumah sakit bukanlah tempat yang kusukai, bau disini sungguh membuatku tak nyaman. Aku benci rumah sakit.


Ah tidak, aku ke sini bukan untuk memeriksakan kejiwaanku karena sindrome (?) Lee Donghae. Aku hanya ikut appa mengantar dongsaengku ke rumah sakit. Adikku itu kejang-kejang setelah tersedak duri ikan. Ada-ada saja kelakuannya. Dan sekarang kami sedang duduk di ruang tunggu, menungguinya yang sedang di periksa oleh dokter. Tapi baru lima belas menit disini aku sudah sangat bosan, apalagi melihat appa yang bolak-balik di depan pintu dengan wajah cemas. Appa sangat panik dan khawatir, ku rasa ia takut jika terjadi apa-apa pada Minho. Minho kan bukan sedang sekarat karena penyakit parah -__-


“appa, aku bisa keluar sebentar kan? Aku bosan disini terus.”


“nde, boleh. Tapi jangan jauh-jauh, nanti kau tersesat.” Kata appa masih tetap sibuk mondar-mandir dengan wajah tegang. Melihatnya begini seperti suami yang sedang menunggui istrinya yang akan melahirkan saja.


“Iya tenang saja, memangnya aku anak kecil apa?”


Aku berjalan mengelilingi rumah sakit. Berjalan tak tentu arah. Semua ruangan ku lewati, sampai-sampai aku salah masuk ke kamar mayat. Untung ini masih siang. Apa jadinya kalau malam-malam bertemu mayat sendirian? Aku takut mayat itu tiba-tiba hidup dan mencekikku sampai mati. Hah.. sepertinya imajinasiku terlalu berlebihan.


Sekarang langkahku terayun ke tangga menuju atap rumah sakit ini. Baru saja menginjakkan kaki di puncak gedung ini, aku sudah di kejutkan oleh seorang namja yang sedang berdiri di pinggir pembatas. Ia akan naik ke pembatas, dan sepertinya akan melompat. Omo! Apa dia ingin bunuh diri? Sebelum ia berhasil naik, segera saja aku berlari ke arahnya. Aku memeluknya dari belakang dan menahannya agar tidak melakukan tindakan bodoh itu.

__ADS_1


“Ya! apa kau pikir dengan bunuh diri semua masalahmu akan teratasi?” aku membentaknya kasar, masih sambil memeluknya dari belakang. Sementara namja itu hanya terdiam. Ia kemudian berbalik dan melepaskan pelukanku, memandangku dengan tatapan aneh. OK tuan, setelah ini kau akan berterimakasih padaku karena telah mencegahmu mati sia-sia. Selama beberapa saat posisi kami tetap seperti ini, saling terdiam. Dan ia? Masih menatapku dengan pandangan aneh.


“bwahahahaha!!!” tiba-tiba saja tawanya meledak. Aku hanya bisa melongo melihat tingkahnya. Apa dia sudah gila? Jangan-jangan ia adalah salah satu pasien gangguan jiwa yang sedang kabur.


“Kenapa malah tertawa? Memangnya ada yang lucu ya?” tanyaku bingung. Bukannya menjawab pertanyaanku, ia malah tertawa semakin keras. Eh, apa dia menertawaiku? Memangnya ada yang aneh dengan penampilanku?


“hahaha… jadi kau mengira aku akan bunuh diri? Hahahaha..” ia kembali tertawa lepas. Aku mengangguk mengiyakan. Memang begitu kan? Posenya tadi benar-benar seperti akan melompat dari gedung ini.


”eh, jadi kau bukan mau bunuh diri ya? lalu kenapa tadi kau mau berdiri di pembatas ini?” tanyaku salah tingkah.


“aku memang suka berdiri di ketinggian. Pemandangan dari atas sini terlihat lebih indah.” Jelasnya menepis semua kecurigaanku tadi.


“hoh.. aku kira kau mau bunuh diri. Maafkan aku ya, sepertinya aku sudah salah sangka.” Bodohnya aku tidak bertanya lebih dulu. Aish.. aku benar-benar malu. Mau ditaruh dimana mukaku?


“Kau…” ia mendekatkan wajahnya ke wajahku, membuat wajahku terasa panas. Pasti wajahku kini sudah lebih merah dari tomat busuk. Kya! Apa-apaan namja ini?


“Hahaha.. ternyata selain mesum kau juga aneh ya.” ejeknya tanpa sungkan padaku.


“Mwo? Siapa yang kau bilang mesum?”


Tiba-tiba ponselku berdering, ternyata appa yang menelpon.


“Yobosseo! Aku masih di rumah sakit. Mwo? appa sudah pulang duluan? Ya! lalu aku bagaimana? Aish.. baiklah. Aku akan naik taxi.” Langsung kututup ponselku dengan penuh emosi. Appa kejam sekali, masa ia dan Minho sudah pulang duluan dan meninggalkanku.


“Sudahlah! Aku mau pergi. Sial sekali aku bertemu denganmu disini.” aku langsung berjalan pergi, namun belum sempat sampai ke pintu, namja itu memanggilku. “hei, namamu siapa?” teriaknya padaku. Aku menoleh padanya kemudian ikut berteriak. “Choi Hyunjin!” setelah itu aku segera pergi meninggalkannya. Untuk apa dia tanya namaku?

__ADS_1


À


Pasti hari ini oemma sudah pulang. hah, baguslah. Aku kan jadi tidak perlu stres mengurusi rumah sendirian. Padahal baru dua hari saja ia pergi sudah membuatku pusing mengurus rumah.


Aku baru saja sampai di depan rumah. Yang membuatku heran, ada sebuah mobil terparkir di halaman. Mobil siapa itu? Itu kan bukan mobil appa. Sepertinya ada tamu.


Aku langsung masuk kedalam rumah. Appa dan oemma sedang duduk di ruang tamu dan berbincang dengan dua orang wanita dan pria seumuran mereka, sepertinya mereka adalah pasangan suami istri.


“annyeong!” salamku pada mereka. Semua mata langsung beralih padaku.


“kau sudah pulang Hyunjin?” tanya oemma yang ku jawab dengan anggukan. “nde..”


“Kenalkan, mereka ini tuan dan nyonya Lee.” Ujar appa memperkenalkan pasangan suami istri itu. Aku kemudian membungkuk dan memperkenalkan diriku, “annyeong haseyo ahjussi, ahjumma. Cheoneun Choi Hyunjin imnida.”


“Wah.. dia sopan sekali.” Ucap Lee ahjussi.


“dan juga cantik.” Tambah Lee ahjumma sembari tersenyum. hehe.. aku di bilang cantik? Jarang-jarang ada orang yang mau memujiku seperti itu.


“Kamsahamnida..” ucapku agak canggung. “e.. aku masuk dulu. annyeong!” sekali lagi aku membungkuk.


“Minho-ya, kau tahu siapa tamu appa itu?” tanyaku pada Minho yang sedang menonon tv di ruang keluarga sambil memakan cemilannya. Sepertinya dia sudah sehat.


Minho menggeleng, “aniyo. Memang mereka siapa?” tanyanya balik.


“pabo! Aku kan yang bertanya padamu.” dia tidak menggubrisku dan malah tetap fokus menonton tv.

__ADS_1


“jadi, kapan kita bisa mulai perjodohannya?” samar-samar ku dengar suara dari ruang tamu. Ruang keluarga di rumah ini memang berdekatan dengan ruang tamu, jadi aku bisa mendengar pembicaraan mereka walaupun tidak begitu jelas. aku dan Minho langsung berpandangan begitu mendengar kata “perjodohan”. Kami berdua segera mendekat dan menguping dari balik tembok.


“kalau bisa secepatnya.” Suara Lee ahjussi terdengar oleh pendengaranku.


__ADS_2