
Donghae sedang berada di cafetaria kampusnya, duduk berbincang dengan dua sahabatnya yang hampir selalu ada di sampingnya sepanjang mereka berada di kampus.
“jadi kau benar-benar akan bertunangan dengan gadis yang bernama Hyunjin itu Donghae-ya?” tanya Lee Sungmin sambil menatap tak percaya namja didepannya ini. Donghae hanya menjawab dengan sekali anggukan, sambil menyesap coklat dingin yang tersaji di depannya.
“kali ini kau sungguh-sungguh?” tanya teman lainnya, namja bernama Lee Hyukjae tak kalah terkejutnya.
Lagi-lagi Donghae hanya mengangguk malas, bosan dengan pertanyaan mereka yang sama terus-menerus.
“kau hanya mempermainkannya saja kan?” tanya Hyukjae ragu-ragu. Apa benar ini keputusan Donghae? bukankah beberapa hari lalu ia bilang akan menentang keras keputusan kakeknya untuk menjodohkannya? Mengapa sekarang ia malah santai saja mengetahui akan segera bertunangan dengan gadis itu?
“kau pasti hanya ingin menyenangkan kakekmu saja kan?” tebak Sungmin sambil terkekeh.
Donghae meletakkan gelasnya yang sudah kosong, lalu menatap dua orang di depannya dengan sebal. “apa kalian tidak mengerti bahasaku? Aku sudah setuju diodohkan dengannya. Bahkan aku sendiri yang mengusulkan pada haraboji untuk segera melangsungkan pertunangan.”
“MWO?” dua namja itu langsung membelalakkan mata lebar-lebar, sangat terkejut atas pernyataan Donghae barusan. Mereka yakin sekali kalau Donghae yang ada dihadapan mereka saat ini sedang tidak beres otaknya. Mana ada orang yang bisa mengubah perasaannya secepat itu? apa ia sudah kena guna-guna oleh gadis bernama Choi Hyunjin itu?
“tapi kau bilang kau tak suka padanya. Lalu kenapa bisa seperti itu?” cecar Sungmin mencoba mencari kejelasan dari perkataan Donghae tadi. Hyukjae mengangguk setuju, ia juga penasaran mengapa sahabatnya bisa mengubah keputusannya secepat itu.
“awalnya memang aku menolak. Aku bahkan bilang padanya jika aku sudah menyukai orang lain dan tak akan mungkin menerimanya sebagai gadis yang dijodohkan denganku.” Donghae mulai menjelaskan, rasanya ia ingin tertawa melihat wajah dua namja itu yang terlihat sangat terkejut.
“memangnya siapa orang yang kau sukai? Kau tak pernah menceritakannya pada kami.” Potong Hyukjae sebelum Donghae melanjutkan penjelasannya.
“memang. Orang itu tak ada, aku hanya mengatakan itu agar ia juga sama-sama menolak perjodohan kami.”
“lalu?” Sungmin semakin penasaran.
“aku tak tahu mengapa, tapi semakin dekat dengannya membuatku mulai tertarik padanya. Aku sudah lelah bersikap ketus terus padanya. Yah, walaupun hubungan kami tak bisa di bilang dekat juga sih, tapi aku sudah memutuskan gadis itu yang akan jadi tambatan hatiku. Aku merasa kami memang sudah berjodoh.”
Hyukjae dan Sungmin berusaha menahan tawa mereka mendengar kata-kata Donghae barusan. Tapi tak terelakkan lagi, tawa mereka pecah bersamaan.
“Kau terlau banyak menonton drama romantis, Hae.”
“sudah ku bilang untuk membuang semua novel-novelmu itu Lee Donghae.”
“YA! apa-apaan kalian ini huh!” Donghae memberengut kesal melihat dua orang didepannya sedang asyik meledek ucapan puitisnya tadi. Bukankah itu terdengar romantis? Pikirnya kesal.
_
Sekali lagi Hyunjin berputar di depan cermin besar di kamarnya itu. Entah ini sudah yang keberapa kalinya ia meneliti penampilannya. Semuanya pas, tidak terlalu mencolok atau terlalu sederhana. Gaun yang diberikan oleh Donghae benar-benar cantik, sangat cocok di tubuhnya –tentu saja karena Hyunjin sendiri yang mencobanya saat belanja kemarin. Tapi ia masih saja merasa ragu. Hatinya tidak siap.
Lagi-lagi acara makan malam formal seperti ini. Mengingatkannya kembali pada kejadian beberapa waktu lalu, saat untuk pertama kalinya ia menghadiri perjodohan konyol itu. Ketika ia mendapat penolakan langsung dari Donghae, bahkan sebelum namja itu mengenalnya lebih jauh.
Namun kali ini bukan perasaan sakit karena di tolak itu yang membuatnya ragu. Tapi ada hal lain, sesuatu yang membuatnya semakin yakin ia memang tidak di takdirkan bersanding bersama Lee Donghae.
__ADS_1
Cho Kyuhyun
Hanya nama itu yang terus berputar-putar di kepalanya seharian ini. Ia tak sanggup mengontrol detak jantungnya yang berdegup berkali-kali lebih cepat saat mengingat ucapan Kyuhyun tadi siang. Itu adalah pernyataan cinta yang paling tidak romantis menurutnya. Tapi entah mengapa kata-kata itu sanggup membuat pipinya merona merah, mengacaukan hatinya hingga benar-benar berantakan.
Hyunjin menepuk-nepuk pipinya kuat, mencoba menyadarkannya untuk tak melambung lebih tinggi lagi. Tadi Kyuhyun langsung pergi begitu saja, tak mengucapkan apapun lagi setelah kata-kata bertuah itu keluar dari mulutnya. Bisa saja kan namja itu hanya mempermainkannya? Mungkin setelah mengucapkan itu Kyuhyun sedang tertawa terbahak-bahak di belakangnya, puas sudah membuatnya membeku di tempat.
“Hyunjin-ah, apa kau sudah siap sayang?” suara sang ibu membuat Hyunjin menoleh ke arah pintu, melihat ibunya yang sedang tersenyum padanya.
“omo.. kau cantik sekali.”
Hyunjin hanya tersenyum tipis, tak tahu harus bereaksi seperti apa. Padahal jarang-jarang ibunya bisa memujinya seperti itu. Hal ini jadi terlihat aneh, biasanya jika seperti ini ia akan mendelik kesal dan mengatakan, “oemma baru sadar kalau aku cantik?” atau, “yang jelas kecantikanku bukan turunan dari oemma.” Dan akan disambut jitakan dari ibunya.
Tapi kali ini rasanya ia sama sekali tak ingin mengatakan apapun. Senyuman itu pun rasanya berat sekali, ia memaksakannya.
“kalau kau sudah siap cepatlah keluar kamar. Kita harus segera berangkat. Oemma rasa keluarga Lee sudah menunggu kedatangan kita.”
“nde oemma, tunggu aku sebentar lagi.”
Nyonya Choi keluar dari kamar putrinya, sementara Hyunjin masih menatap ragu ke arah cermin. Haruskah ia menerima pertunangan yang sudah disetujui semua pihak -selain dirinya sendiri- ini? bahkan Donghae sepertinya sama sekali tidak keberatan dengan hal ini, hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
_
Hyunjin hanya terdiam sambil menunduk menatap makanannya, tak sanggup memperlihatkan wajah muramnya pada semua orang di ruangan itu. Saat ini mereka sedang berada di kediaman Lee, membicarakan acara pertunangan –yang bahkan tak pernah meminta pendapat Hyunjin terlebih dulu.
“apa tidak apa-apa melaksanakan pertunangan secepat ini? aku rasa mereka masih terlalu muda.” Ucap Nyonya Choi -ibu Hyunjin- di tengah obrolan mereka mengenai pertunangan Donghae dan Hyunjin.
“lagipula mereka bisa menyelesaikan studinya dulu. Kami tak akan memaksa mereka untuk cepat-cepat menikah, asalkan sudah terikat hubungan pertunangan saja aku rasa itu sudah cukup.” Ibu Donghae mengeluarkan pendapatnya. Memang tak mungkin jika mereka menikah secepat itu, bertunangan saja rasanya sudah terlalu awal.
“baiklah, sudah seharusnya kita segera menetapkan tanggal yang tepat.” Kakek Donghae tampak bersemangat membicarakan hal ini, berbanding terbalik dengan Hyunjin. “bagaimana menurutmu, Minhwan?” pria tua itu menatap ayah Hyunjin meminta persetujuan.
“kita serahkan saja pada mereka berdua, biar mereka sendiri yang menentukan kapan pertunangannya.”
“aku juga berpendapat begitu.” Ayah Donghae mengangguk, tanda ia juga setuju dengan saran ayah Hyunjin.
“kapan kalian inginkan pertunangannya dilaksanakan?” pria berkacamata itu sekarang menatap Donghae.
“aku setuju kapan saja, haraboji. Terserah saja pada kalian. Kami akan menurut.” Jawab Donghae santai sambil menikmati hidangannya. “kurasa Hyunjin juga setuju denganku.” Ia melirik Hyunjin yang langsung saja tersedak makanannya begitu mendengar ucapan Donghae. Apa namja itu sudah gila? kenapa ia terlihat tenang-tenang saja?
Hyunjin memang ingat saat di rumah sakit ia dan Donghae pernah mengatakan menyetujui pertunangan itu, dan mereka sudah sama-sama setuju –lebih tepatnya sama-sama sepakat untuk setuju. Tapi Hyunjin benar-benar tidak pernah menyangka akan secepat ini mereka memutuskanya. Baginya ini terlalu cepat, ia belum bisa menerimanya, ditambah lagi fakta tentang Kyuhyun yang ternyata punya perasaan padanya.
Jika saja Kyuhyun tak pernah muncul dalam hidupnya,
Jika saja Kyuhyun tak pernah mengatakan kata-kata itu padanya,
__ADS_1
Jika saja.. ia tak terjerat pada seorang Cho Kyuhyun, masihkah ia akan merasa bimbang dengan perjodohan ini?
Tentu saja tidak! Bahkan mungkin dengan senang hati ia akan mengiyakan segalanya.
“ada apa denganmu Hyunjin? wajahmu terlihat pucat. Kau tidak enak badan?” tanya Nyonya Lee menyadari Hyunjin yang hanya diam sejak tadi. Ia memperhatikan wajah gadis itu yang memang terlihat pucat.
Hyunjin menggeleng, mengisyaratkan ia baik-baik saja. “hanya sedikit kelelahan saja.”
“ah, Donghae bawa dia ke kamar tamu. Biarkan Hyunjin istirahat disana.” perintah Nyonya Lee pada putranya. Tanpa banyak bicara Donghae segera melakukan apa yang diperintahkan ibunya.
Hyunjin mengikuti Donghae dari belakang. Ia benar-benar tak sanggup melihat wajah Donghae kali ini.
“kau kenapa? Apa kau tak senang?” tanya Donghae di sela-sela perjalanan mereka, tanpa menghentikan langkahnya sama sekali.
Hyunjin menghembuskan nafas pelan, “menurutmu?”
“harusnya kau senang.”
“bagaimana aku bisa senang jika akan bertunangan dengan namja yang bahkan tak mencintaiku sama sekali?” ucap Hyunjin sarkastik. Mati-matian ia menahan gejolak di dadanya. Rasanya sakit saat mengatakan itu, tapi setelahnya semua terasa ringan. Seolah beban yang ada di hatinya menguap begitu saja.
Donghae menghentikan langkahnya, terpaku sejenak atas pengakuan Hyunjin. Dalam satu gerakan langkah ia sudah berbalik ke belakang, menatap Hyunjin dengan pandangan yang lembut, “jika aku bilang aku mencintaimu, bagaimana?”
Hyunjin tersentak, apa lagi kali ini?
“jangan bercanda! Apa kau sedang mencoba mempermainkanku?”
“apa menurutmu aku sedang mencoba mempermainkanmu?” Donghae balik bertanya, kakinya melangkah semakin mendekati Hyunjin. Gadis itu perlahan-lahan mundur menjaga jaraknya dengan Donghae.
“kau aneh! Sebenarnya yang mana kepribadianmu?” Hyunjin memekik dengan suara bergetar, tapi tidak cukup keras untuk terdengar oleh para orang tua di ruangan sebelahnya.
Langkah Donghae terhenti, ia memandang Hyunjin tepat di manik matanya. “bukankah kau juga menyukaiku?”
“siapa yang bilang? Aku tak pernah menyukaimu.” Jawab Hyunjin berdusta, mencoba mengalihkan pandangannya menghindari tatapan mata Donghae. Tatapan itu yang selalu membuatnya luluh, terpesona akan sosok namja itu. Bahkan sebelum ini setiap detiknya ia habiskan untuk memikirkan satu nama itu, Lee Donghae. Siapa sangka semua itu kini sirna begitu saja?
“semua orang bahkan tahu kalau kau menyukaiku. Benar kan?” Donghae semakin menatapnya dalam.
“Ya, sebelum aku sadar kalau aku terlalu bodoh untuk mencintaimu.” Hyunjin menahan suaranya agar tidak terdengar semakin bergetar. Ia merasa airmatanya sedang mendesak ingin keluar, tapi mati-matian berusaha ia tahan tangisnya. “kau tak pernah menyadarinya. Aku hanya mengantungkan harapan kosong. Kau menolakku waktu itu, kau ingat?”
Donghae meraih bahu gadis di depannya, bulir-bulir air mata sudah keluar dari sudut mata gadis itu. “harus kukatakan ini, aku menyesal mengatakan hal itu sebelumnya padamu. Mungkin kita hanya butuh proses, perasaan tak bisa dipaksakan.”
“seperti katamu barusan, perasaan memang tak bisa dipaksakan. Aku.. aku mencintai orang lain. Bukan dirimu lagi.” Kini airmatanya tumpah sudah, ia tak tahu mengapa sangat berat mengatakan ini pada Donghae. Tapi ia sadar, perasaannya pada Donghae hanya merupakan harapan kosong, sebuah obsesi, tak lebih. Dan seiring waktu berjalan, perasaan itu kian memudar perlahan-lahan, hanya menyisakan sedikit jejak yang tak terlalu tampak. Dan kini posisi itu telah tergeserkan oleh perasaan lain di hatinya.
“tapi kenapa? Padahal aku sedang belajar untuk mencintaimu. Kita bisa memulai ini dari awal.”
__ADS_1
“tak bisa, Donghae-sshi. Andai kau mengatakan itu sejak awal, mungkin keadaannya akan berbeda.” Hyunjin tertunduk. Menatap wajah Donghae akan membuatnya semakin hancur. Donghae terlambat satu langkah, kini hatinya sudah di kunci oleh seseorang. Dan Hyunjin baru saja menyadarinya.
“aku tak bisa..”