Bukan Dia

Bukan Dia
35


__ADS_3

Hyunjin mengaduk-aduk minumannya jenuh. Ia bukannya merasa bosan karena orang yang sedang di tunggunya belum datang juga, tapi karena cemas akan mengatakan apa pada orang itu jika ia datang nanti. Hyunjin terlalu takut hanya untuk mengatakan ia tak bisa memilih Donghae, ia takut namja itu akan membencinya karena hal ini.


“maaf aku terlambat. Kau sudah lama menunggu?” suara seseorang langsung membuat gadis itu terhenyak dari lamunannya. Ia sedikit tertegun melihat Donghae sedang tersenyum lalu duduk di kursi di hadapannya.


“ah, tidak. Baru beberapa menit.” Jawab Hyunjin kaku. Ia tak bisa membalas senyum itu -tidak karena mengingat hal yang akan dilakukannya pada Donghae nanti.


“ada apa kau memintaku datang kesini? Kau rindu padaku ya?” goda Donghae bercanda, masih belum menyadari raut wajah Hyunjin yang memandangnya dengan tatapan bersalah.


“Donghae oppa..” panggil Hyunjin pelan.


“hm?” Donghae menoleh dan bergumam kecil menjawabnya.


“Apa kau akan membenciku?”


“mwo? Memangnya kenapa aku harus membencimu?” Doghae menatapnya bingung. Demi apapun, ia tak mungkin membenci gadis itu tanpa alasan yang jelas.


Hyunjin menggigit bibir bawahnya demi menghilangkan kegugupan. Ia sedang berusaha mengumpulkan keberanian untuk memberitahukan semuanya pada Donghae.


“mengenai pernyataanmu waktu itu.. aku akan menjawabnya sekarang.” Hyunjin tak sanggup menatap mata Donghae. Sebisa mungkin ia mengalihkan pandangannya ke arah lain saat mengatakan hal barusan.


Donghae memandangnya tak yakin, “kalau kau belum siap, kau bisa menjawabnya lain kali. Aku tak akan memaksa.”


Hyunjin mengeleng kuat, meyakinkan pada Donghae bahwa ia benar-benar sudah mantap dengan keputusan yang akan di ambilnya. “aku sudah memutuskannya. Jangan buat aku bimbang lagi.”


“benarkah? Jadi apa keputusanmu?” Donghae memandangnya penasaran. Ia tersenyum, berharap jawaban yang diharapkannyalah yang akan di ucapkan oleh gadis itu.


Hyunjin menahan nafasnya tegang, “Aku tak bisa. Maafkan aku.”


Senyum di bibir Donghae perlahan menghilang, berganti dengan ekspresi kaget bercampur kecewa. “mengapa?”


Hyunjin menunduk, masih menyembunyikan pandangannya dari wajah Donghae yang terlihat sangat kecewa. “aku dan Kyuhyun.. kami sudah bersama sekarang. Aku sangat mencintainya. Kumohon maafkan aku. ”


“benarkah?”


Hyunjin tak bersuara, hanya mengangguk lemah. Ia masih belum sanggup menatap mata Donghae.


Donghae hanya bisa tersenyum tipis, biar bagaimanapun Hyunjin berhak memilih. Ia juga tak mungkin memaksakan kehendaknya pada gadis itu. “tak perlu minta maaf. Aku bisa mengerti.”


“aku sadar aku terlalu serakah. Dulu aku mengejarmu, dan sekarang saat kau sudah ada untukku aku melepasmu begitu saja.” Hyunjin memberanikan diri untuk memandang Donghae dalam, ia dapat melihat guratan kesedihan di mata Donghae.


Donghae menggeleng, dan lagi-lagi tersenyum –Hyunjin bahkan heran mengapa Donghae masih bisa tersenyum seperti itu padanya. “aku juga salah. Kalau saja sejak awal aku menerimamu, menerima perjodohan kita, pasti tak akan seperti ini jadinya.”

__ADS_1


“jangan salahkan dirimu! Aku yakin kita punya takdir masing-masing. Mungkin kita berdua memang tidak berjodoh. Tapi oppa pasti akan mendapat gadis yang lebih baik dariku. Kau tahu? Kau itu sangat populer di kalangan mahasiswi di kampus kita.” Ucap Hyunjin tertawa, berusaha membuat suasana sedikit mencair.


“benarkah? Tapi sepertinya memang begitu.” Donghae terkekeh geli, mati-matian ia berusaha menyembunyikan sakit hatinya.


“oppa, apa setelah ini kau akan membenciku?”


“sudah ku bilang kan tadi? aku tak akan membencimu, tenang saja.”


“Aku harap setelah ini hubungan kita akan tetap baik. Aku akan merasa sangat bersalah jika kau menjauhiku.”


“Hyunjin-ah, kau terlalu takut. Tenanglah, aku tak mungkin menjauhimu hanya karena hal ini. Kita bisa berteman kan?” Donghae kembali memamerkan senyum tulusnya.


“terima kasih oppa. Kau memang pria yang baik.”


“ya, memang. Bukan kau saja yang bilang seperti itu.”


Hyunjin memukul bahu Donghae pelan, “dasar narsis. Ah, lalu bagaimana caranya kita memberitahukan hal ini pada Lee haraboji dan orang tua kita?”


Donghae terdiam. Benar juga, bagaimana reaksi mereka jika sampai tahu hal ini? apa mungkin kakeknya akan langsung meninggal karena penyakit jantungnya? Tidak! Tidak boleh seperti itu. Pikirannya terlalu jauh.


Kakek Donghae sebenarnya masih sangat sehat untuk ukuran pria seumurannya –ia bahkan tak punya penyakit jantung. Donghae tahu kakeknya hanya berbohong waktu itu, ia pura-pura sakit untuk membuat mereka berdua menyetujui perjodohan itu.


“tidak. Kita lakukan bersama. Kita akan mengatakannya bersama-sama, ini bukan masalahmu sendiri oppa.”


___


Donghae duduk termenung. Matanya memandang lepas ke arah jalan, tapi pikirannya terbang memikirkan hal lain. Secangkir capuccino yang telah dipesannya pun ia biarkan mendingin begitu saja di atas meja, tanpa ada keinginan sedikitpun untuk menyentuhnya.


Sekelebat ucapan Hyunjin tadi terus menari-nari di pikirannya. Ia benar-benar merasa hancur untuk yang kedua kalinya –di tolak oleh orang yang sama.


Ia bohong jika bilang dirinya tak apa-apa, jika ia baik-baik saja. Sesungguhnya keadaannya kini seperti kaca yang di jatuhkan ke lantai, pecah kemudian hancur berkeping-keping. Tapi ia tak mungkin mengatakannya langsung pada Hyunjin, ia tak ingin membuat gadis itu lebih menderita lagi.


‘Aku tak bisa. Maafkan aku.’


Kalimat itu, seperti bongkahan batu yang menghantam keras dadanya. Membuatnya tertohok.


‘aku dan Kyuhyun.. kami sudah bersama sekarang. Aku sangat mencintainya. Kumohon maafkan aku.’


Kalimat itu, membuatnya serasa dijatuhkan dari tebing tertinggi di dunia sampai ke dasar laut yang paling dalam.


‘jangan salahkan dirimu! Aku yakin kita punya takdir masing-masing. Mungkin kita berdua memang tidak berjodoh. Tapi oppa pasti akan mendapat gadis yang lebih baik dariku. Kau tahu? Kau itu sangat populer di kalangan mahasiswi di kampus kita.’

__ADS_1


Benarkah? Tapi baginya tak ada yang lebih baik dari Hyunjin. Disaat ia sudah merasa bahwa Hyunjin adalah takdirnya, mengapa di saat itu pula Hyunjin melepaskan genggamannya? Dulu Hyunjin begitu memujanya. Mengapa bisa secepat itu ia berubah?


‘Aku harap setelah ini hubungan kita akan tetap baik. Aku akan merasa sangat bersalah jika kau menjauhiku.’


Bisakah itu terjadi? Bagaimana Donghae bisa terus berpura-pura kalau dirinya baik-baik saja? mengapa Hyunjin tidak menyuruhnya untuk melupakannya saja? itu mungkin akan jauh lebih baik daripada memintanya untuk tidak menjauhinya.


‘terima kasih oppa. Kau memang pria yang baik.’


Kalau Donghae pria yang baik, kenapa Hyunjin memilih Kyuhyun, bukan dirinya?


Semua pertanyaan itu terus menggerogoti keteguhan hati Donghae. Ia merasa seperti terhempas keras, sangat menyakitkan. Ia benar-benar merasakan terluka oleh yang namanya cinta.


“maaf tuan, bisakah aku duduk disini? semua tempat sudah penuh dan aku harus menunggu seseorang disini.” sebuah suara menyeruak di telinga Donghae, tapi suara itu di acuhkannya. Entah siapa orang itu, Donghae sama sekali tak peduli.


“tuan, bolehkah?” tanya orang itu lagi. Donghae masih tak bergeming. Suara itu hanya seperti angin yang berhembus pelan baginya.


Orang itu mendengus kesal karena di abaikan, kemudian segera memposisikan dirinya duduk di kursi di hadapan Donghae –tempat Hyunjin duduk tadi sebelum pergi. Persetan ia diizinkan atau tidak. Yang penting ia segera duduk dan bisa melepaskan lelahnya.


Orang itu memanggil pelayan, kemudian meminta pesanannya. Ia merogoh tasnya, dan mengeluarkan sebuah i-pod. Beberapa saat setelahnya ia sudah sibuk mengotak-atik benda itu.


Donghae akhirnya menyadari seseorang duduk di depannya. Ia memandang orang itu, seorang gadis yang tengah sibuk dengan i-pod di tangannya.


“nona, apa kau tidak punya sopan santun?” Donghae bertanya kesal, mengapa gadis itu seenaknya duduk dihadapannya dan mengacaukan renungannya?


Gadis itu melepaskan earphone di telinganya, kemudian memandang Donghae dengan alis berkerut bingung.


“ye?” Tanyanya bodoh. Mengapa pria di depannya ini tiba-tiba marah? Gadis itu yakin tak punya kesalahan apapun padanya.


“mengapa kau duduk disini?”


“bukankah aku sudah bertanya tadi?”


“apakah aku mengizinkannya?”


Gadis itu menggeleng, “tidak. Tapi kau juga tak menolaknya. Kau diam, ku anggap itu sebagai jawaban ‘boleh’.” Gadis itu tak mau kalah. Donghae mengumpat pelan kemudian bangkit berdiri.


“kau mau kemana?” suara gadis itu sempat mencegah langkah Donghae.


“bukan urusanmu!”


____

__ADS_1


__ADS_2