Bukan Dia

Bukan Dia
27


__ADS_3

Perlahan Hyunjin membuka kelopak matanya yang terasa sangat berat. Gadis itu menghalau sinar matahari yang menyilaukan pandangan dengan punggung tangannya. Matanya terpaku pada telapak tangannya yang masih terbungkus sarung tangan rajutan berwarna coklat bergaris putih pemberian Donghae semalam. Ia tersenyum sekilas mengingat namja itu. Akhirnya sosok Donghae yang ia kenal dulu telah kembali.


Hyunjin melirik ke arah jam waker di meja samping tempat tidurnya. Tapi sesaat matanya langsung membelalak lebar.


“MWORAGO?” ia langsung terlonjak bangun mengetahui sekarang sudah pukul 9 pagi. Memangnya jam berapa ia tidur semalam?


Sesuatu yang basah terjatuh dari keningnya. Ternyata sebuah handuk kecil, sepertinya habis dipakai untuk mengompres.


“ya! kau kenapa teriak-teriak Choi Hyunjin?” seseorang masuk ke kamarnya, membuat Hyunjin seketika menoleh ke arah pintu.


“oemma kenapa tidak membangunkanku? Aku kan bisa terlambat pergi kuliah.” Hyunjin bergegas menyambar handuk dan hendak keluar kamarnya menuju kamar mandi.


“bukankah ini hari Minggu? Kau tidak kuliah di hari Minggu kan?” ucapan sang ibu sontak membuatnya langsung berhenti di tempat.


“oh iya, aku lupa.” Hyunjin menepuk dahinya sambil nyengir. Dengan segera ia kembali ke ranjangnya dan berbaring lagi. Entah mengapa rasanya ia masih sangat mengantuk.


Ibu Hyunjin berjalan mendekati putrinya itu, kemudian meraba dahinya pelan, “demammu sudah turun. Kau istirahat saja, jangan keluar rumah.” Hyunjin hanya mengangguk patuh.


“memangnya kemarin kau pergi kemana hingga malam? Untung saja Donghae yang mengantarmu pulang, kalau tidak oemma akan memarahimu kali ini.”


“aku hanya jalan-jalan sebentar kok, lalu tidak sengaja bertemu Donghae di jalan.”


“ya sudah kalau begitu. Oemma dan appa mau pergi ke rumah pamanmu. Kalau kau mau makan, semuanya sudah oemma siapkan di meja makan.” Lagi-lagi Hyunjin hanya mengangguk merespon penuturan ibunya.


“lalu Minho dimana?” tanya Hyunjin tiba-tiba saat ibunya hampir melangkah keluar.


“ia ada di kamarnya, sedang main Playstation.”


_


Hyunjin berjalan ke ruang makan, perutnya sejak tadi sudah meronta ingin diisi.

__ADS_1


“noona sudah bangun?” terdengar suara Minho saat ia hendak membuka pintu kulkas. Hyunjin hanya mengangguk, ia sedang tak ingin banyak bicara hari ini.


“jadi itu yang namanya Lee Donghae? ternyata hyung itu baik juga.”


“mwo? Kau sudah bertemu dengannya?”


Minho mengangguk, “nde, bukankah semalam ia yang mengantarkan noona pulang?”


Hyunjin terdiam sejenak, mencoba mengingat-ingat. Kepalanya masih terasa berat setelah tidur cukup lama sejak tadi malam. “benar, tapi kenapa aku sama sekali tidak ingat saat sampai di rumah semalam?”


“tentu saja noona tidak ingat, noona kan tertidur. Kau ini merepotkannya saja nonna. Donghae hyung sudah mengantarmu pulang, dan ia harus menggendongmu juga sampai ke dalam kamarmu.”


“MWO?” Hyunjin memekik keras, membuat Minho harus menutup telinga dengan kedua tangannya.


“benarkah itu?” pipi Hyunjin merona merah. ‘Mengapa aku harus tertidur sih? Aigo… pasti sangat memalukan.’ Pikir Hyunjin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


“oh ya noona, kau tidak lupa kan dengan taruhan kita? Kau kalah tanding PS denganku, ingat? Ini sudah lewat beberapa hari.” Minho mengerling licik.


Hyunjin mendengus, adiknya ini tidak bisakah mengerti keadaannya saat ini? ah, tapi bukankah Minho juga tak tahu apa yang sedang terjadi padanya? “Maaf, aku lupa.”


“Ya! akhir-akhir ini aku sibuk.”Hyunjin berusaha berkilah. Minggu ini memang ia sibuk kuliah dan bekerja di cafe. Cafe.. Ah, sial! Ia jadi teringat Kyuhyun lagi.


“tapi kau sedang tidak sibuk sekarang kan? traktir aku ice cream hari ini..” Minho memandangnya penuh harap.


“hari ini juga aku sibuk.” Ucap Hyunjin tak peduli kemudian duduk di meja makan dan mulai memakan makanannya.


“ya! noona kau tidak bisa bersikap seperti itu. Kau sudah berjanji.”


“kau ini seperti anak kecil saja. Kalau mau ice cream kan kau bisa membelinya sendiri.” Hyunjin menyumpitkan makanannya dengan kesal karena mendengar rengekan sang adik. ‘sudah sebesar itu masih saja bersikap kekanakan.’ Dengusnya dalam hati.


“tapi rasanya akan beda noona.. makan ice cream dengan hasil kemenanganku sendiri pasti akan lebih enak.”

__ADS_1


“cih. Mau dengan apapun rasa ice creamnya tetap akan sama.”


“Noona! Kau tidak bisa seenaknya… kau egois.”


“aish.. nde, baiklah. Aku akan mentraktirmu nanti sore. Kau puas?” gertak Hyunjin kesal, Minho langsung saja tersenyum penuh kemenangan.


“aku yang tentukan tempatnya.” seru Minho girang.


“terserah kau saja.” ucap Hyunjin tak peduli dan melanjutkan makannya.


_


“ya! kau mau merampokku Minho-ya?” Hyunjin memandang Minho bengis. Adiknya itu sudah makan 5 cup ice cream dengan rasa berbeda, dan sekarang ia masih ingin memesan lagi?


“bukankah noona sudah janji mau mentraktirku?” tanya Minho balik sambil menyendokkan ice cream rasa blueberry ke mulutnya.


“tapi tidak sebanyak ini juga kan? memangnya apa saja isi perutmu itu? aku saja makan satu cup belum habis sejak tadi.”


“aku sengaja tidak makan sejak pagi.”Minho nyengir tidak bersalah, membuat Hyunjin semakin melotot tajam pada adiknya itu.


“aigo.. uang sakuku akan ludes karenamu.” Decak Hyunjin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Minho terlihat seperti monster buas yang sedang melahap ice cream.


Lelah melihat adiknya, Hyunjin memutuskan untuk menatap keluar jendela, menikmati sore yang sejuk ini. Melihat kedai ice cream ini membuat pikirannya melayang ke suasana cafe yang secara tidak langsung mulai membuatnya terbiasa. Sudah berapa hari ia tidak pergi ke cafe tempatnya bekerja? Baru dua hari, dan itu rasanya sudah sangat lama. Padahal baru semalam ia bertemu Kyuhyun, dan sekarang ia sudah merindukannya lagi?


‘Aigo.. aku harus memeriksakan kesehatanku sepertinya. Badanku sudah tidak demam tapi otakku semakin tidak beres saja.’ Hyunjin bergumam dalam hati.


Mata Hyunjin menangkap sosok seseorang di luar jendela, seseorang yang sepertinya ia kenal. Ia tak bisa memastikan orang itu karena posisi orang tersebut yang membelakanginya.


“Minho kau tunggu disini ya, noona mau keluar sebentar.”


“mau kemana?” tanya Minho saat Hyunjin baru saja akan berdiri.

__ADS_1


“hanya sebentar, aku akan segera kembali.”


Minho mengangguk, dan Hyunjin segera keluar dari kedai ice cream itu.


__ADS_2