
Akhirnya kami sampai juga di cafe. Aku tak akan mau lagi pergi ke swalayan itu dengan berjalan kaki. Ini benar-benar melelahkan. Padahal sebelumnya aku sudah mengusulkan pada Kyuhyun untuk naik bus saja, tapi ia menolak. Ia bilang aku terlalu manja karena jarak cafe dan swalayan tidak begitu jauh. Tidak jauh menurutnya, kalau menurutku sih lumayan jauh juga.
“darimana saja kau? Aku sudah menunggumu sejak tadi.” Donghae tiba-tiba muncul di depanku. Apa ia sedang menyambutku?
“mau apa lagi? aku tak punya waktu kalau kau hanya ingin marah-marah.”
“sekarang kau ikut aku! Haraboji ingin bertemu denganmu.” Ucapnya dengan nada yang terdengar seperti perintah, bukan permintaan.
“aku akan bawa semua ini ke dapur. Kemarikan kantungnya.” Aku baru sadar Kyuhyun masih berdiri di sebelahku. Ia langsung mengambil alih kantung-kantung yang kubawa, kemudian berjalan masuk ke dapur. Aku malah berharap Kyuhyun menahanku disini agar Donghae tak memaksaku ikut dengannya.
“untuk apa Lee sajangnim ingin bertemu denganku?” tanyaku bingung.
“sudah ikut saja, tak usah banyak tanya.” Ia berjalan keluar mendahuluiku. Aku masih belum bergeming dari tempatku sekarang.
“ayo! Sedang apa kau masih disitu?” ia meneriakiku. Dasar menyebalkan.
_
Tanpa banyak protes –meskipun dengan terpaksa- aku ikut dengan Donghae untuk menemui kakeknya. Tapi yang aku bingung, kenapa ia membawaku ke rumah sakit? Siapa yang sedang sakit? Apakah kakek Donghae?
“ngg.. Donghae-sshi, mengapa kita kesini?” tanyaku bingung. Ia menoleh sebentar ke arahku, sejak tadi ia melihat terus ke arah lain. “bertemu haraboji.” Jawabnya singkat.
Tanpa banyak bertanya lagi aku mengikutinya terus, sampai di depan sebuah ruang rawat VVIP bertuliskan “Mr. Lee Dongjae” di pintunya.
Donghae membuka pintunya perlahan, dan aku mengikutinya masuk kedalam. Di dalam dapat ku lihat ada dua pria dan dua wanita. Sepasang suami istri –yang aku tahu mereka ayah dan ibu Donghae- duduk di kursi sebelah ranjang, sedang dua pria dan wanita yang lebih muda sedang duduk di sofa tidak jauh dari situ. Dan di ranjang itu ku lihat Lee sajangnim sedang terbaring lemah. Apakah beliau sedang sakit? Bukankah kemarin saat ke cafe ia terlihat baik-baik saja?
“ah, kalian sudah datang? Baguslah.” Lee ahjumma -ibu Donghae- langsung tersenyum pada kami begitu kami masuk.
“annyeong..” sapaku agak gugup.
“baguslah kau sudah membawa Hyunjin kesini, Donghae-ya.” ujar Lee ahjussi yang membuatku semakin bingung mengapa aku diminta kemari.
__ADS_1
“perkenalkan, aku Lee Donghwa, kakak Donghae. Dan ini istriku, Lee Yeorin.” Pasangan muda itu tersenyum padaku, aku membungkuk, “aku Choi Hyunjin.”
Pria bernama Lee Donghwa itu tersenyum padaku, “jadi ini wanita yang sebentar lagi akan jadi adik ipar kita?”
“Mwo?” pekikku terkejut. Bukankah kami berdua sudah memutuskan untuk tidak menyetujui perjodohan ini? kenapa ia bicara begitu?
“Donghae-ya, calon istrimu cantik sekali.” Komentar wanita bernama Yeorin itu. Lagi-lagi perkataan mereka membuatku bingung.
“ah, maaf.. tapi-“
“sudahlah hyung, noona.” Donghae memotong perkataanku. Mengapa ia tak menyangkalnya tadi? Biasanya ia yang paling sentimen kalau disinggung soal perjodohan ini. sikapnya membuatku semakin bingung.
“oh, kalian sudah datang?” tiba-tiba kakek Donghae terbangun, ia langsung mecoba untuk duduk di ranjangnya.
“pelan-pelan saja ayah.” Lee ahjussi mencoba membantu kakek.
“annyeong sajangnim. Ah, maksudku haraboji.” Ulangku saat ingat Lee sajangnim menyuruhku untuk memanggilnya dengan sebutan haraboji jika di luar tempat kerja.
“baik-baik saja.”
“kau pasti bingung mengapa aku menyuruh Donghae untuk membawamu kesini. Benar kan?” tanyanya mengira-ngira. Itulah yang sejak tadi menari-nari di pikiranku. “aku hanya ingin mengatakan, kalau pertunangan kalian harus secepatnya dilaksanakan.”
“MWO?” tanpa sadar aku memekik keras sekali, Donghae langsung melotot ke arahku. Cepat-cepat kututup mulutku ini. “maksud saya.. kenapa mendadak sekali haraboji?” ucapku berpura-pura. Bagaimana ini? apa yang harus ku lakukan? Donghae, mengapa kau hanya diam saja seperti itu?
“aku tak tahu umurku akan sampai kapan. Uhukk.. uhukk” ucapannya terbatuk-batuk. “Kau lihat sendiri kan, aku sudah semakin tua dan sakit-sakitan. Keinginanku sekarang hanyalah melihat cucu bungsuku bahagia dengan menikahi wanita yang baik. Saat ini hanya itu harapanku.”
Aku terenyuh, apakah Lee haraboji sedang sakit keras? Tapi, aku tak mungkin menikah dengan cara seperti ini. Ini namanya kepura-puraan, hubungan tanpa cinta. Memang ku akui aku masih sedikit menyukai Donghae, tapi bagaimana dengannya? Ia sepertinya sama sekali tak ada perasaan padaku, ia justru membenciku malah.
“kau tak keberatan kan Hyunjin? aku tahu kalian masih sangat muda, tapi yang penting kalian menjalani suatu ikatan saja dulu sudah cukup.” Lee haraboji menatapku dalam. Aku tak tahu, aku bingung dengan perasaanku sendiri.
“jika itu yang terbaik, saya setuju saja.” ku paksakan senyum di wajahku. Aku tak tahu apakah ini benar atau salah.
__ADS_1
_
Aku dan Donghae berjalan di koridor rumah sakit, hendak pulang. Sejak tadi kami hanya berjalan dalam diam. Lagipula aku tak tahu harus bicara apa dengannya. Tadi kami semua mengobrol cukup lama di dalam, ternyata Yeorin oenni orang yang sangat ramah. Baru bertemu saja aku sudah akrab dengannya. Semua keluarga Donghae baik. hanya saja.. namja disebelahku ini sejak di dalam tadi tak banyak bicara. Ia hanya diam dan sesekali tersenyum kecil saat di ajak bicara. Ia sepertinya tak senang.
“Gomawo.” Ucapnya tiba-tiba memecahkan keheningan, aku langsung menoleh padanya.
“untuk apa?”
“kau sudah mau bersandiwara. Aku harus berterimakasih padamu.” hatiku sakit saat dia bilang “bersandiwara” apakah aku terlihat seperti sedang bersandiwara?
“kenapa kau setuju? Bukankah kau yang menentangnya duluan?” tanyaku mengeluarkan rasa penasaran yang terus mengendap di kepalaku sejak tadi.
“kau lihat sendiri kan kondisi haraboji. Aku tak mungkin terus-terusan membantahnya, ia akan cepat mati karena itu.”
“jadi kau terpaksa?” dengusku pelan.
“ne, tentu saja. Tak ada alasan lain. Jadi, kau jangan terlalu berharap padaku.”
“tentu saja tak akan.” Gumamku sambil tersenyum miris. Padahal aku sedikit berharap tadi, ia menolakku secara tak langsung.
“jangan memanggilku sunbae atau dengan embel-embel –sshi jika di depan keluargaku, mereka akan curiga nanti.”
Aku menatapnya tak yakin, “lalu aku harus meamnggilmu apa?”
“panggil aku oppa!”
“ne, oppa.” Ucapku pelan, sedikit aneh saat memanggilnya dengan sebutan itu.
“baiklah, setelah ini aku akan mengantarmu pulang.”
“tapi aku harus kembali ke cafe.” Ucapku berusaha menolak.
__ADS_1
“tak perlu. Lagipula ini sudah sore, sebaiknya kau langsung pulang saja.” ujarnya sambil tersenyum. Sudah lama aku tak melihatnya tersenyum seperti itu. Tapi, rasanya tak seperti dulu lagi. Tak ada getaran di hatiku saat melihat senyum manisnya itu. Apa perasaanku telah berubah padanya?