Bukan Dia

Bukan Dia
42


__ADS_3

“bagaimana ini oppa? aku takut sekali.” Hyunjin terus gelisah menunggu kabar dari polisi yang katanya telah berhasil melacak keberadaan mobil yang membawa Kyuhyun. Donghae duduk disebelahnya, mencoba terus menenangkan gadis itu. Di satu sisi ia merasa sangat bodoh karena tak bisa lepas dari gadis itu, tapi di sisi lain ia tak bisa membiarkan Hyunjin menghadapi ini sendirian.


“tenanglah, aku yakin polisi akan menemukan Kyuhyun.”


“maaf, apakah anda nona Choi Hyunjin?” seorang pria berdiri tepat di depannya. Gadis itu mendongak, kemudian menganggukkan kepalanya, “benar.”


“mari ikut saya.” pria berseragam polisi itu berjalan menuju sebuah ruangan. Hyunjin dan Donghae segera berdiri lalu mengikutinya.


“benarkah anda yang melaporkan penculikan yang dialamai Cho Kyuhyun?” polisi itu bertanya, saat mereka sudah duduk di kursi yang di sediakan.


“Benar. Lalu bagaimana? apa ada kabar tentang kasus itu? Kami sudah berjam-jam menunggu disini.” tanya Hyunjin tak sabar, berharap mereka sudah menemukan dimana keberadaan Kyuhyun.


Polisi itu menghela nafas pelan, “Nona, sebaiknya anda pulang saja. Kasus ini tak akan dilanjutkan.”


“Mwo? Memangnya kenapa?” Hyunjin kaget, tak percaya dengan hal yang disampaikan polisi tersebut.


“pemuda itu tak diculik, anda bisa dituntut balik karena salah tuduh.”


“bagaimana bisa? aku sendiri yang melihat Kyuhyun dibawa paksa oleh mereka, bahkan sampai dipukuli. Apa itu namanya bukan penculikan?” seru Hyunjin emosi, tapi Donghae langsung menggenggam tangan gadis itu untuk menenangkannya.


“kau tak bisa melaporkan ini sebagai penculikan. Ia dibawa pulang ke rumah orang tuanya sendiri.”


“apa? orang tuanya sendiri?” Hyunjin memekik tak percaya. “bagaimana mungkin orang tuanya memperlakukannya seperti itu? kalian pasti salah.”


“silakan kalian berdua meninggalkan tempat ini. Urusan kalian sudah selesai.” Polisi itu menunjuk ke arah pintu keluar ruangan itu dengan tangannya.


“kalian tidak bisa mengabaikan kasus ini!” Hyunjin berdiri, menatap tajam pada polisi itu.


“maaf, silakan pergi.” polisi itu bangkit dari duduknya, kemudian keluar meninggalkan ruangan itu. Hyunjin hendak mengejarnya, namun Donghae dengan sigap menahan gadis itu.


“Oppa.. bagaimana dengan Kyuhyun?” Hyunjin mulai menangis, ia benar-benar khawatir dengan keadaan Kyuhyun.


Donghae menepuk punggungnya, berbisik pada gadis itu, “semua akan baik-baik saja. tenanglah. Sekarang ayo kita pulang.”

__ADS_1


Hyunjin mengangguk, ia tak punya pilihan lain selain pulang ke rumahnya, karena kedua orang tuanya pasti sudah pulang. Ia bisa mendapat masalah jika ketahuan kabur. Tapi bukan itu masalahnya, ia sudah tak peduli lagi jika akan dihukum atau apa, ia masih saja tidak bisa tenang memikirkan Kyuhyun. Hyunjin takut Kyuhyun akan disakiti lagi. Mengapa ayah Kyuhyun begitu tega membiarkan anaknya disakiti?


___


“oppa, sampai sini saja.” ujar Hyunjin saat mobil Donghae mulai mendekati kompleks rumahnya.


Donghae berhenti kemudian menoleh pada gadis itu, “masih beberapa ratus meter lagi. Apa kau mau tetap turun disini?”


Hyunjin mengangguk yakin, “aku tak mau orang tuaku melihatku pulang bersamamu. Nanti kau bisa kena masalah. Biar akibatnya aku sendiri yang tanggung.”


“jangan, bagaimana kalau ada apa-apa? jalanannya sangat sepi.” Donghae menarik tangan Hyunjin yang bersiap akan membuka pintu mobil. Dengan perlahan Hyunjin melepaskan tangan Donghae, gadis itu tersenyum meyakinkan, “aku tak apa-apa. Aku sudah biasa pulang malam sendirian, lewat jalan itu.”


“tapi tetap saja, kau itu yeoja, Hyunjin-ah.”


“sudah ya, aku pergi.” Hyunjin segera keluar mobil, ia tak mau merepotkan Donghae lagi kali ini. Sudah cukup ia menyakiti namja itu dulu. Hyunjin bahkan masih belum percaya Donghae mau datang saat ia telepon, ia kira namja itu sudah tidak mau berhubungan dengannya lagi, mengingat Donghae yang sering menghindarinya. Walaupun tidak ia pungkiri, ia juga sering menghindar dari Donghae setelah kejadian itu.


Donghae hanya pasrah, Hyunjin sudah keluar dan melambaikan tangannya. Tapi Donghae tidak langsung pergi, ia masih melihat gadis itu dari kaca mobilnya. Tiba-tiba terbesit rasa khawatir di pikirannya, Donghae tidak tenang membiarkan Hyunjin berjalan sendirian malam-malam seperti ini. Akhirnya ia keluar dari dalam mobil, mengikuti Hyunjin diam-diam di belakangnya.


Donghae berhenti di dekat pagar rumah Hyunjin saat gadis itu sudah masuk ke dalam rumahnya. Ia mengintip sedikit dari celah pagar, “semoga kau bisa melalui ini, Hyunjin-ah.”


___


Hyunjin masuk ke dalam rumahnya, mengunci pintu lalu jalan berjingkat-jingkat menuju kamarnya. Ia bersyukur, ayahnya tidak menunggunya pulang. Setidaknya ia bisa menunggu sampai besok untuk dimarahi, ia sudah terlalu lelah untuk hari ini.


“dari mana saja kau?”


Hyunjin tersentak, ia berbalik dan menemukan siluet ayahnya di balik kegelapan ruangan itu. “a..appa.”


Terdengar langkah yang semakin mendekat, Hyunjin merasa jantungnya benar-benar terpompa untuk berdetak lebih cepat dari biasanya. Ternyata ayahnya menunggunya, pria itu bahkan tidak tidur sampai selarut ini, duduk menunggu dalam gelap.


“jawab pertanyaan appa!”


“aku.. dari kantor polisi.” Hyunjin menundukkan kepalanya, lebih baik menatap lantai dari pada menatap mata ayahnya yang berkilat marah.

__ADS_1


“Kantor polisi? Memangnya apa yang kau lakukan? Kau membuat masalah?”


Hyunjin menggeleng, masih tetap menundukkan kepalanya, “Kyuhyun diculik.”


“mwo? Lalu bagaimana?”


Hyunjin mendongak, ayahnya sepertinya juga khawatir mendengar ini. “katanya ini bukan kasus penculikan, karena Kyuhyun di bawa ke rumahnya. Tapi besok aku akan berusaha untuk datang lagi. Polisi itu tak bisa seenaknya.”


“tidak, kau tidak boleh pergi kemanapun besok. Apa kau lupa bahwa kau sedang di hukum?”


“tapi aku harus melakukan ini, appa.”


“sudah appa bilang untuk tidak berhubungan lagi dengannya bukan? Kenapa kau tak bisa menuruti appa kali ini?”


“tapi-“


“tak ada tapi-tapian, sekarang masuk ke kamarmu dan tidur. Mulai besok kau tak akan appa biarkan sendiri. Apa sekarang aku mencoba untuk jadi anak pembangkang?”


“bukan seperti itu, aku benar-benar harus menemui Kyuhyun.” Hyunjin memelas, walau ia tahu berdebat dengan ayahnya tak ada artinya.


“jangan banyak bicara! Sekarang pergi ke kamarmu!”


Hyunjin diam, ia tak bisa membantah lagi. Segera ia berjalan ke kamarnya.


Hyunjin menjatuhkan dirinya di atas ranjang begitu sampai di kamarnya, dan langsung membenamkan wajahnya di bantal, ia menangis sesenggukan.


Choi Minhwa berdiri di depan pintu kamar putrinya yang sudah tertutup. Dari situ ia bisa mendengar suara isak tangis Hyunjin. Ia juga sebenarnya tidak tega pada Hyunjin, tapi gadis itu terlalu keras kepala. “maafkan appa nak.”


Ponsel Hyunjin berdering, ia melihat siapa si penelepon itu, ternyata Donghae. Hyunjin meraih ponsel itu lalu mereject-nya. Gadis itu kemudian menonaktifkan ponselnya. Ia tak bisa dan tak ingin bicara pada siapapun dulu kali ini. Ia tahu Donghae pasti mencemaskan keadaannya, tapi ia benar-benar ingin menangis sendirian.


“Kyuhyun..”


To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2