Bukan Dia

Bukan Dia
50


__ADS_3

Cho Kyuhyun—


Hyunjin tersenyum geli. Ia ingat, Kyuhyun pernah tertidur ketika menemaninya menunggu bus di tempat ini dulu. Itu bukan kenangan baru—sudah cukup lama—tapi Hyunjin merasa saat itu baru terjadi kemarin. Semuanya berlalu begitu cepat, tak pernah terbesit dalam benaknya jika akhir kisah mereka akan jadi seperti ini.


“Jangan tersenyum-senyum seperti itu. Orang akan menganggapmu gila jika melihatnya.”


Dengan gerakan cepat gadis itu menoleh, memandang sosok pria yang sudah dia tunggu kehadirannya sejak tadi. Dengan menyembunyikan segala kegugupannya, Hyunjin segera merapatkan bibirnya, melenyapkan senyum sialan itu. Rasa hangat menjalari wajahnya, merasa malu karena tetangkap basah saat sedang senyum-senyum sendiri. Apa yang ada di pikiran Kyuhyun saat melihatnya tadi? Gadis itu bahkan tak menyadari hentakkan sepatu Kyuhyun saat ia datang. Memalukan. Pasti Kyuhyun diam-diam sedang menertawakannya.


“Ini mantelmu. Maaf baru ku kembalikan sekarang.” Hyunjin bangkit dari duduknya dan langsung menyerahkan sebuah paper bag yang berisi mantel namja itu. Kyuhyun menerimanya dengan sedikit enggan. Mengapa gadis itu buru-buru sekali? Ia minta Hyunjin datang bukan semata-mata hanya untuk mengembalikan mantelnya—ia bahkan sudah tak peduli dengan mantel itu—tapi karena ia ingin mendapat kesempatan bertemu gadis itu. Setidaknya dengan alasan ini Hyunjin masih mau menemuinya kan?


“Aku pergi. Selamat tinggal!” Hyunjin hendak melangkah, namun tiba-tiba saja Kyuhyun menarik tangannya, membuat gadis itu terhenti di tempatnya. Sebenarnya dia bisa saja melepaskan tangan Kyuhyun dan melanjutkan langkahnya—tarikan Kyuhyun sama sekali tidak terasa kuat—tapi ia tak melakukannya. Ia berhenti.


“Jangan ucapkan selamat tinggal, jika itu akan membuatku tak pernah bisa melihatmu lagi.”


“Kau memang tak akan pernah bisa melihatku lagi. Bukankah kita sudah memutuskan ini bersama?” ucap Hyunjin tanpa mau menggerakkan kepalanya sedikitpun untuk menoleh ke arah Kyuhyun. Ia lebih memilih menyembunyikan wajahnya yang mulai menahan tangis daripada menatap Kyuhyun, karena itu akan membuatnya semakin hancur.

__ADS_1


“Kau boleh berkata sudah tak mencintaiku, tapi aku tahu itu adalah sebuah kebohongan. Aku bisa melihatnya dari matamu.” Kyuhyun menarik tubuh Hyunjin agar menghadapnya. Ia tak suka gadis itu mengalihkan pandangan saat sedang bicara dengannya.


“Kau tidak pernah tahu. Mata bisa saja menipumu.”


“Tidak! Mata selalu berkata jujur.”


“Jadi?”


Mereka diam untuk beberapa saat. Kyuhyun berusaha mengatur suaranya yang mulai terdengar aneh, tercekat, seolah sesuatu telah mencuri pita suaranya agar ia tak bisa bicara. Waktu seolah berhenti, membuat keheningan menyebar ditengah-tengah mereka.


Hyunjin tertegun setelah mendengarnya. Secepat itu kah? Mengapa harus disaat ia masih belum bisa mengenyahkan Kyuhyun dari pikirannya?


“Selamat!” Sebuah senyum dengan sangat terpaksa dipamerkannya pada Kyuhyun.


“Aku akan menolaknya―jika kau meminta.”

__ADS_1


“A―apa?” Hyunjin tak dapat menyembunyikan keterkejutannya―lagi. Matanya melebar sempurna memandang penuh tanya pada Kyuhyun. Apa Kyuhyun sudah gila? Pemikiran macam apa itu?


Kyuhyun semakin mendekat, memegang kedua sisi wajah gadis itu untuk menatapnya. “Jika kau bilang jangan, jika kau bilang kau tak rela, aku akan kembali padamu. Kita bisa menjalani semuanya kembali―dari awal.”


“Tidak!” Hyunjin menepis tangan Kyuhyun dari wajahnya. Ia ingin mengatakan jangan, aku tak rela, atau apapun yang bisa membuat Kyuhyun batal terikat dengan gadis lain selain dirinya. Tapi itu terlalu sulit, rasanya ia tak punya nyali untuk hanya sekedar mengatakan “tidak” atau “aku tak rela” itu. Sangat berat, ia terlalu pengecut untuk melakukannya.


Kyuhyun mencelos. Ini bukanlah jawaban yang ia harapkan. Sama sekali bukan.


“Kau pasti bahagia bersamanya. Aku adalah salah satu orang yang akan turut berbahagia atas pernikahan kalian.” Hyunjin tersenyum lagi, setelah itu ia berbalik. Kali ini kakinya benar-benar melangkah pergi. Kyuhyun tak berusaha menghentikannya, ia masih terpaku tanpa tahu harus berbuat apa.


Dari kejauhan, Kyuhyun dapat melihat tubuh gadis itu bergetar. Ia tahu Hyunjin sedang menangis. Mengapa gadis itu begitu bodoh? Ia terlalu memaksakan diri. Andai saja Hyunjin mengatakan jangan, maka ia tak akan pergi dari sisinya. Ia akan menanggung semua resiko yang mungkin saja akan terjadi. Ia tak peduli, yang terpenting adalah kebahagiaannya―kebahagiaan mereka berdua―bisa didapatkan. Tapi gadis itu dengan gamblangnya sudah menolak keputusannya. Hyunjin terlalu berpikir realistis, sehingga mengesampingkan perasaannya sendiri. Memilih tersiksa dengan keputusan yang membuat dirinya hancur.


Sudut mata Kyuhyun sedikit basah.


Gadis bodoh. Gadis bodoh..

__ADS_1


__ADS_2