
Karena takut terlambat, aku berusaha untuk datang secepatnya. Sampai-sampai tadi aku berlari untuk sampai kesini. Tapi didalam cafe aku sama sekali tak menemukan Kyuhyun. Aku beralih ke dapur, mungkin saja ia ada disana.
Ku edarkan pandanganku ke penjuru dapur, tapi tetap saja tak menemukannya. Sebenarnya dia ada dimana sih? Kenapa sulit sekali menemukannya hari ini?
“mencari Kyuhyun?”
Aku langsung berbalik, sesuai dugaanku itu memang Jongwoon. Kenapa ia senang sekali muncul tiba-tiba seperti ini?
“ah, tidak. Aku hanya..”
Jongwoon menyeringai, “hanya apa? jujur saja, kau sedang mencarinya kan?”
“i..iya. apa kau melihatnya?” tanyaku ragu.
“aku juga tak tahu, hari ini dia tidak masuk kerja.”
“lalu.. bukankah ia yang memebawa kunci cafe?” tanyaku bingung.
“sebenarnya aku yang memegang kunci cadangannya. Entah mengapa hari ini dia tidak datang.” jelas Jongwoon lagi. Kenapa ia tidak memberi kabar jika tak masuk kerja?
“ah, Jongwoon-sshi. Apakah kau tahu alamat Kyuhyun?”
-
Aku memandang ragu bangunan apartemen kecil di hadapanku ini. Sekali lagi aku mencocokkan alamatnya. Benar, ini memang tempat tinggal Kyuhyun yang diberitahukan Jongwoon padaku tadi. Tapi aku masih ragu akan masuk atau tidak. Bagaimana jika ia tak senang jika aku datang dan malah mengusirku? Ah, aku jadi bingung sendiri. Di satu sisi aku merasa khawatir padanya –ia sama sekali tak mengangkat telepon ataupun membalas pesan dariku. Tapi disisi lain aku juga takut ia masih marah padaku –walaupun aku tak tahu salahku apa padanya. Sikapnya kemarin benar-benar aneh.
Tapi bagaimanapun aku harus menemuinya. Aku ingin tahu keadaannya sekarang. mungkinkah ia sedang sakit?
Langkahku sampai di pintu 47. Dengan segenap hati kukumpulkan semua keberanianku. Ku tekan bel pintu satu kali, tapi sama sekali tak ada sahutan dari dalam.
Sekali lagi aku menekan belnya, tetap tak ada yang membukakan pintu.
“CHO KYUHYUN, AKU TAHU KAU ADA DI DALAM. CEPATLAH KELUAR!” aku berteriak keras, semoga tak ada panci yang melayang ke arahku karena tetangganya yang merasa terganggu.
Kali ini aku kembali harus menelan kecewa. Pintu itu sama sekali tak dibuka. Orang yang kuharapkan muncul dari baik pintu itu sama sekali tak keluar.
Ah, apa sebaiknya aku mendobraknya saja? tapi itu kan melanggar hukum. Tidak, sebaiknya aku pulang saja. Sepertinya ia sama sekali tidak menginginkan kehadiranku.
Aku langsung berbalik hendak pergi, tapi baru beberapa langkah saja kaki ini rasanya berat sekali untuk melangkah.
“ah, biarlah jika dia nanti mengusirku. Aku akan terima apapun yang akan terjadi.” Kakiku berbalik kembali menuju pintu apartemennya. Aku hendak mendorong paksa pintu itu, tapi saat kusentuh kenopnya pintu itu langsung terbuka.
“tidak dikunci?” gumamku menyadari pintu itu tidak terkunci. Kalau tahu begini seharusnya sejak tadi aku bisa masuk.
Aku menatap ke sekeliling ruangan, dan betapa terkejutnya aku melihat sesosok makhluk (?) tergeletak di lantai, kepalanya ia sandarkan di atas sofa. Aku mendekatinya, ku tepuk bahunya pelan mencoba membangunkannya tapi ia tak kunjung bangun.
Akhirnya karena menyerah, aku mengguncang tubuhnya lebih keras. Sesaat tubuhnya langsung terjatuh begitu saja ke lantai. Dan yang membuatku semakin terkejut, aigo..wajahnya penuh luka lebam. Apa Kyuhyun habis dikeroyok warga sekampung?
__ADS_1
“Ya! Kyuhyun kau kenapa?” aku menepuk-nepuk pelan pipinya mencoba menyadarkannya. Entah ia sedang tidur atau pingsan.
“Kyuhyun!”
“nggh..” ia menggeliat, kemudian mengucek-ngucek matanya.
“ah, syukurlah kau bangun. Ada apa denganmu? Mengapa bisa sampai seperti ini?” aku bertanya panik sambil memegangi wajahnya yang terluka.
Dengan cepat ia menepis tanganku, “Sedang apa kau disini?”
“aku.. aku cemas padamu. kau tidak masuk kerja tanpa kabar.”
“bukan urusanmu.” Ujarnya sinis, kemudian ia bangun dan duduk di lantai, bersandar di sofa.
“kau tak apa-apa? apakah lukanya sakit?” aku mencoba menyentuh bagian wajahnya yang terluka, tapi ia kembali menepiskan tanganku.
“aku tak apa-apa.” ia mengalihkan wajahnya dariku, mencoba menyembunyikan luka-lukanya.
“luka separah ini kau bilang tak apa-apa? apa kau sudah gila?” aku kemudian berdiri dan melihat ke sekeliling. “dimana kotak P3K-mu?”
Ia memandangku bingung, “untuk apa?”
“tentu saja untuk mengobati lukamu bodoh!”
“YA! jangan sebut aku bodoh!”
_
“diam saja kalau kau tak mau ini semakin sakit.” aku mengompres wajahnya dengan air hangat. Kasihan sekali dia. Setelah ini mungkin butuh waktu agak lama untuk mengembalikan ketampanan wajahnya.
“kenapa kau bisa jadi begini? Apa kau berkelahi?” tanyaku lagi.
“bukan begitu. Semalam ada beberapa preman yang tiba-tiba menghajarku.” Ucapnya sambil meringis menahan sakit saat aku agak menekan lukanya.
“jika semalam kau pulang bersamaku, pasti itu tak akan terjadi.”
“tak masuk akal.” Ucapnya mencibir. Aku langsung menekan keras lukanya hingga ia menjerit keras.
“YA! michyeoso!”
“hahaha.. kau ini namja atau bukan sih? Hanya begitu saja sudah menjerit-jerit seperti perempuan.” Ia langsung melotot saat ku katakan begitu.
“sudah selesai. Apakah masih ada luka yang lain?” tanyaku sambil meletakkan handuk yang kugunakan untuk mengompres lukanya tadi.
Kyuhyun menggeleng mencoba meyakinkan, namun mataku langsung tertuju pada bajunya yang kotor di bagian perut.
“cepat buka!” perintahku sambil mengisyaratkan dengan mataku ke arah bajunya.
__ADS_1
“k..kau mau apa?” tanyanya gugup.
“Aku bilang cepat buka!” tanganku bergerak hendak menarik kaos yang ia kenakan.
“Ya! dasar ! kenapa kau ini mesum sekali sih?” ia menyilangkan tangannya di depan dada.
“M..MWO? aku bukannya mesum. Memangnya kau mau di obati tidak?”
Ia akhirnya menyerah, dan langsung melepaskan kaosnya. Benar dugaanku, di tubuhnya juga banyak terdapat luka. Dengan tangan bergetar aku mulai mengompres bagian dada hingga perutnya. Sebenarnya aku tak mau melakukan hal ini, dadaku terus-terusan berdetak tak karuan. Tapi aku kasihan padanya, kalau bukan aku siapa yang mau mengobati lukanya itu? aku rasa ia tak akan mau pergi ke rumah sakit.
“k..kau di apakan oleh preman-preman itu hingga jadi begini?” tanyaku berusaha menghilangkan kegugupan.
“apakah harus ku ceritakan?” tanyanya sinis. Sepertinya ia tak mau menceritakannya. Ah, benar juga. Ia pasti malu karena kalah berkelahi dengan preman-preman itu.
“kau ini kenapa sejak kemarin bersikap ketus padaku?”
“aku memang seperti ini dari dulu kan?”
Aku menghentikan gerakan tanganku, kemudian menatap matanya sendu, “aku lebih suak kau marah-marah daripada mengabaikanku terus. Kau tahu betapa sakitnya aku?”
“aku yang lebih sakit.”
Aku memandangnya penuh tanya, “apa maksudmu? Sikapmu selalu tidak jelas. Kalau aku bersalah katakan apa salahku. Aku benar-beanr bingung denganmu.”
“salahmu karena terus-terusan didekatku. Aku mencintaimu. Kau puas?” Kyuhyun langsung berdiri dan menghilang di balik pintu sebuah ruangan. Aku masih berusaha mengerti maksud ucaannya tadi.
Jadi ia mencintaiku?
Tak mungkin!
“hahaha.. kau pintar sekali bercanda Kyuhyun.” aku memaksakan diri untuk tertawa. Ekspresinya tadi, entah dia sedang bergurau atau benar-benar serius. Aku tak tahu.
Terdengar suara kucuran air dari shower, sepertinya dia sedang mandi. Sepertinya aku harus menjernihkan pikiranku dulu. Rasanya jantungku sedang meledak-ledak sekarang. ah, ada apa denganku?
.
-Author’POV-
“salahmu karena terus-terusan didekatku. Aku mencintaimu. Kau puas?”
Kyuhyun segera pergi dari hadapan Hyunjin setelah mengatakan kalimat itu. Ia tak percaya kata-kata itu keluar begitu saja dari bibirnya.
Kyuhyun masuk ke kamar mandi, dan langsung menyalakan shower.
“hah, apa aku sudah gila?” gumamnya pelan.
“Kyuhyun, aku pulang dulu! kau jangan memaksakan diri pergi kemanapun. Istirahat saja di rumah sampai sembuh.” Gadis itu berteriak dari balik pintu. Ia masih bisa bersikap biasa, apakah ucapan Kyuhyun tadi hanya di anggap angin lalu saja?
__ADS_1
Kyuhyun mengguyur tubuhnya di bawah shower, ia ingin mendinginkan pikirannya dulu. Baginya semuanya sudah terlihat jelas sekarang. Gadis itu hanya memandangnya sebagai orang kejam yang suka menindasnya, tak akan pernah ada balasan dari perasaannya ini.
To Be Continue