
Hyunjin langsung masuk ke kamarnya begitu tiba di rumah. Gadis itu menghempaskan tubuhnya kasar ke atas tempat tidur, membenamkan wajahnya pada bantal, lalu menangis sekeras-kerasnya.
Takdir telah memberi kesempatan padanya untuk melihat pria itu sekali lagi, memberinya alasan untuk kembali menatap sepasang mata indah itu. Tapi sayang, yang ada dipikirannya saat itu adalah ia harus lari, pergi sejauh-jauhnya dari pria itu.
Suatu saat nanti, apabila takdir kembali mempertemukan mereka, akankah hal yang sama akan terjadi? Apakah Kyuhyun masih tetap akan mengejarnya seperti hari ini? Mungkin tidak. Kyuhyun bukanlah pria bodoh. Rasanya tak mungkin ia akan tetap seperti itu, mengejar wanita yang bahkan tak mau menoleh saat ia memanggil namanya. Mungkin di pertemuan mereka selanjutnya, Kyuhyun sudah menggandeng wanita lain dan tak mau menoleh untuk melihat sosok wanita yang sudah mencampakkannya, menganggap Hyunjin bukan siapa-siapa lagi. Hyunjin semakin terisak keras saat membayangkan hal itu. Kyuhyun pasti akan melupakannya, cepat atau lambat.
Bunyi bel di depan rumah membuat Hyunjin terkesiap. Segera dikeringkannya air mata yang membasahi wajahnya. Dia tak mungkin menemui tamu dengan wajah penuh air mata seperti itu.
Dengan penuh keengganan gadis itu berjalan ke pintu depan. Namun matanya melotot lebar saat menatap layar intercome, melihat siapa orang yang sedang berdiri di luar. Tubuhnya gemetaran, entah mengapa ketakutan tiba-tiba merayapi dirinya. Hyunjin menahan diri untuk tidak membukakan pintu. Ia tak akan mau keluar dan menemui orang itu.
*
Cho Kyuhyun sialan. Bagaimana bisa dia terus-terusan muncul dan membuat gadis itu tersiksa seperti ini? Susah payah Hyunjin berusaha menghindarinya, tapi kini Kyuhyun malah datang sendiri dan berdiri di depan pintu rumahnya. Apakah Kyuhyun datang untuk menyodorkan rasa sakit pada gadis itu? Tak cukup kah apa yang sudah dikatakan Hyunjin tentang jangan menganggap kehadirannya lagi? Apa itu masih belum jelas untuk dipahami oleh seorang Cho Kyuhyun? Hyunjin benar-benar merasa marah.
Beberapa menit berlalu, tapi Hyunjin tetap diam di tempatnya. Ia bahkan tak bergeser sedikitpun. Ponselnya berbunyi, dan gadis itu langsung panik karena yang menelpon ternyata adalah Kyuhyun. Ia mengangkatnya, tapi tidak mengeluarkan suara sama sekali. Dia hanya diam membiarkan suara angin mengisi keheningan ini, membisik jelas di telinga keduanya.
“Aku tahu kau ada di dalam.” kata Kyuhyun akhirnya, sudah tak sabar karena gadis itu hanya diam saja sejak tadi. “Keluarlah, ada yang ingin kuberikan padamu.”
Hyunjin tak merespon, ia masih diam sambil berpikir apakah harus menuruti perkataan Kyuhyun atau tetap pada tempatnya.
“Choi Hyunjin, sekali lagi aku mohon kau keluar. Mungkin ini yang terakhir kalinya aku menemuimu. Setelah ini kau boleh tenang, aku tak akan mengganggumu lagi.” Ada sedikit kelegaan sekaligus rasa sakit yang tiba-tiba menghujam jantungnya saat mendengar itu. Terakhir kali? Benar-benar yang terakhir kalinya?
Hati Hyunjin luluh juga akhirnya, ia memilih untuk keluar dan menemui pria itu.
Terakhir kali.
Kyuhyun bukan orang yang tidak bisa dipercayai omongannya. Mungkin dia benar-benar serius. Kyuhyun tak akan pernah datang dan mengganggu hidupnya lagi, bukankah itu yang dia inginkan? Tapi kenapa hatinya begitu sakit saat Kyuhyun sendiri yang mengatakan hal itu?
“Aku tak bisa lama-lama.”
Kyuhyun tersenyum melihat gadis itu sudah berada didepannya. “Tidak akan lama, hanya sebentar saja.”
*
__ADS_1
Mereka duduk bersebelahan di salah satu bangku di taman kota, berpaling satu sama lain―tak mau saling menatap, dan larut dalam keheningan yang mereka ciptakan sendiri. Dua orang itu seperti tak pernah saling mengenal sebelumnya, bersikap kaku satu sama lain.
“Aku sudah bersamamu sekarang, apa yang kau inginkan?” Hyunjin bertanya ketus. Lagi-lagi ia memakai topengnya, bersikap tak senang padahal kenyataannya ia sangat gembira bisa bertemu lagi dengan pria itu.
“Ini.” tangan Kyuhyun bergerak menyerahkan sebuah lembaran kartu undangan berwarna kuning emas, dengan ukiran tulisan yang tercetak cantik di sampulnya. Kepalanya masih menatap lurus ke depan, tak mampu melihat gadis itu saat menyerahkannya.
Hyunjin merasakan sensasi seperti tersengat listrik. Bukan karena takjub melihat keindahan benda itu, tapi karena menyadari deretan huruf yang tertera pada undangan itu. Nama Kyuhyun.. beserta wanita lain. Ia tidak bodoh untuk mengetahui apa isi undangan tersebut. Undangan pernikahan Kyuhyun dan Yeoram, sudah pasti. Tapi mengapa Kyuhyun harus memberikannya pada Hyunjin? Malah mengantarkannya sendiri pada gadis itu.
Seharusnya ia tidak melakukan ini, sehingga Hyunjin bisa berpura-pura tidak tahu dan mengabaikannya.
Seharusnya Kyuhyun tahu, ini akan menghancurkan Hyunjin. Bukankah Kyuhyun mengetahui dengan pasti bagaimana isi hati Hyunjin yang padanya?
Hyunjin menerima benda itu kemudian meletakkan di pangkuannya tanpa tertarik sedikitpun untuk mengintip isinya.
“Apa kau ingin aku datang?” gadis itu tertawa hambar, suaranya terdengar menyedihkan. Kyuhyun tak menjawab.
“Aku selalu berharap yang berdiri di altar bersamaku adalah dirimu, bukan gadis lain.” masih menatap ke depan, pria itu bicara sambil tersenyum miris. Angan-angan indahnya bersama Hyunjin kini akan buyar, lenyap tak berbekas.
“Aku juga.”
“Aku ingin memakai gaun putih indah dan mengucapkan janji suci bersamamu suatu saat nanti. Aku ingin kita bisa hidup bahagia dan membina keluarga bersama anak-anak kita kelak―” Hyunjin menutup mulutnya untuk menahan isakan yang lebih hebat lagi, tapi ia tak mampu. “―tapi itu tak mungkin.”
Lepas sudah topeng itu. Hyunjin menangis sejadi-jadinya, membuat Kyuhyun dapat merasakan seberapa menderitanya gadis itu karena terus menahan perasaannya.
“Masih belum terlambat, masih ada kesempatan untuk merubah semuanya. Kita bisa pergi jauh dan hidup berdua, tanpa ada yang mengganggu.” Kyuhyun berharap gadis itu akan setuju dengannya kali ini. Mengapa harus memilih untuk menderita jika mereka bisa bahagia?
“Dan lari dari kenyataan?” Hyunjin menggelengkan kepalanya kuat-kuat, “Aku tak bisa. Kita akan melukai banyak orang. Aku tak mau itu sampai terjadi.”
“Berhentilah bersikap keras kepala!” Kyuhyun meledak, membentaknya dengan marah. Gadis itu benar-benar tak bisa dimengerti jalan pemikirannya―Kyuhyun tidak mengerti dan tidak mau mengerti.
“Aku baik-baik saja sebelum kau datang dalam hidupku, semuanya begitu sempurna saat aku belum mengenalmu.”
“Begitukah? Jadi aku adalah penghancur hidupmu?” Kyuhyun membuang muka ke arah lain.
__ADS_1
“Tapi ada sesuatu yang hilang saat kau tak ada, saat kau menghilang dariku. Ada sesuatu yang hilang disini.” dia menunjuk ke arah jantungnya. Ya, jantung itu seperti berhenti berdetak saat Kyuhyun tak lagi mengisi hari-harinya.
“Aku tak pernah menghilang, kau lah yang selalu menghindar dariku!” Kyuhyun yang sudah habis kesabarannya menarik wajah gadis itu ke dekatnya, memandang sepasang mata bening yang terus mengalirkan air mata, dia bisa melihat kesedihan Hyunjin dengan begitu jelas disana. “Apa yang kau takutkan? Kau tak sendiri, ada aku bersamamu, kau tak pantas untuk merasa takut.”
“Bisakah kau menghilang dari hidupku―untuk selamanya?”
Rasanya seperti dipermainkan sekarang, Hyunjin terus memberinya harapan kemudian menghempaskannya lagi. Sentuhan tangan Kyuhyun di pipi gadis itu melemah, beriringan dengan perasaannya yang luluh lantak. Dia tersenyum sinis, “Kalau kau mau itu terjadi, bunuh aku saja.”
“Baiklah.”
“Baiklah apanya?”
“Sepertinya aku yang harus pergi. Aku yang harus menghilang dari hidupmu.”
“Apa maksudmu?”
“Bukankah kau takut tak bisa melepasku? Jika aku tak ada, semuanya akan lebih mudah bagimu.”
Kyuhyun tak mengerti apa yang baru saja dikatakan gadis itu. Tapi perasaannya mengatakan kalau ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi. Hyunjin pasti akan melakukan sesuatu yang bisa menghancurkan dirinya.
Gadis itu berdiri, berusaha menahan tangisnya meskipun itu sudah tak ada gunanya lagi. Kyuhyun sudah melihatnya terisak sejak tadi, seharusnya dia tak perlu menyembunyikan rasa sakitnya lagi. “Bisakah aku mengucapkan selamat tinggal untukmu? Mungkin sebelumnya aku sudah pernah mengatakan ini, tapi kali ini benar-benar yang terakhir kalinya.”
“Hyunjin..”
“Selamat atas pernikahanmu. Selamat atas kebahagiaanmu.” Dia tersenyum pahit, namun air mata itu belum mau berhenti untuk mengalir semakin deras. “Jangan merindukanku, jangan mengingatku lagi. Anggap aku sudah mati. Lupakan aku.”
“Choi Hyunjin!” Kyuhyun membentaknya keras. Dia ikut berdiri, serta merta memeluk erat gadis itu. Hyunjin berontak tapi Kyuhyun tak mau melepaskannya.
“Mengapa kau begitu jahat padaku?” Kyuhyun ikut terisak. Air matanya tidak terlihat memang, tapi hatinya benar-benar terasa perih. “Kau membuat hidupku semakin menderita tanpamu. Apa kau puas melihatku tersiksa seperti ini?”
“Tapi ini yang terbaik, maafkan aku.” Hyunjin bergerak ingin melepaskan diri dari Kyuhyun, tapi Kyuhyun tetap menahannya.
“Jangan!” Kyuhyun menarik gadis itu semakin erat, takut jika dia melepaskan diri dan lari lagi meninggalkannya. “Bila ini memang yang terakhir kalinya, biarkan aku memelukmu lebih lama. Aku tak bisa memaksamu lagi, jika itu memang keputusanmu. Tapi jangan suruh aku untuk melupakanmu, itu terlalu sulit.”
__ADS_1
“Pelan-pelan kau pasti bisa melakukannya. Semuanya hanya butuh waktu.”