
Donghae mengantarku kembali ke cafe. Aku memang hanya minta izin untuk pergi selama dua jam, jadi masih ada waktu untuk bekerja.
Baru saja aku akan membuka pintu mobil ketika tiba-tiba ia menahan tanganku. “apakah tak apa-apa kau turun disini? Aku bisa mengantarkanmu sampai di depan cafe.”
Memang sengaja kuminta ia agar menurunkanku sedikit lebih jauh dari cafe, aku tak ingin orang-orang berpikir macam-macam nanti. Bisa-bisa ada yang berpikir aku menggoda cucu pemilik cafe.
“tak perlu, aku turun disini saja.” aku menepis halus tangannya dan membuka pintu, kemudian keluar dari mobilnya.
“kau tak mengucapkan terima kasih?”
“untuk apa?” tanyaku bingung. Bukankah seharusnya ia yang berterimakasih karena sudah ku temani belanja?
“sudahlah, lupakan saja. kalau begitu aku pergi dulu.” aku mengangguk, dan mobilnya langsung melesat pergi.
_
Aku sampai di dalam cafe, ku lihat Kyuhyun sedang sibuk melayani pelanggan.
Aku langsung saja berganti pakaian dan ikut membantunya. Tapi sebisa mungkin aku agak menjaga jarak dengannya, aku masih sedikit takut dengan ekspresi marahnya siang tadi. Mungkin saja ia masih marah padaku sekarang.
Tiba-tiba mata kami bertemu, Kyuhyun langsung mengalihkan pandangannya dariku. Aku tak mengerti ada apa dengan sikapnya, ia sama sekali tak mengomel karena aku pergi dengan Donghae tadi. Biasanya ia sangat cerewet dan suka memarahiku dengan kesalahan sekecil apapun.
Dia berjalan hendak menghampiriku –sepertinya-, tapi kemudian terhenti karena seorang pelanggan memanggilnya untuk memesan. Ia langsung menuju pelanggan itu dan mencatat apa yang ia minta. Aku sedikit kecewa karena itu, kukira ia akan mengajakku bicara adi.
Sepanjang sore ini kami hanya seperti ini saja, tak ada pertengkaran atau adu mulut seperti biasanya. Ia jadi pendiam, aku tak tahu mengapa tapi perasaanku jadi terasa aneh. Aku jadi merindukan omelannya itu.
Ah, apa yang kupikirkan?
Saat berpapasan pun ia hanya diam saja, tak mempedulikanku sama sekali biarpun aku sudah tersenyum padanya. Aku jadi merasa ia sengaja menghindariku. Tapi mengapa? Itulah yang membuatku bingung.
_
Saat pulang kerja, aku kembali menunggu Kyuhyun. Padahal sebenarnya aku sedikit ragu, mengingat sikap Kyuhyun tadi. Apakah ia akan tetap mengacuhkanku?
Setelah menunggu agak lama akhirnya Kyuhyun muncul juga. Ia keluar kemudian mengunci pintu cafe. Ia berjalan begitu saja tanpa mempedulikanku. Menyadari hal itu aku langsung saja mengejarnya.
Aku berjalan berusaha mensejajarkan langkahku dengannya. Namun lagi-lagi ia hanya diam. Sepanjang perjalanan ia sama sekali tak menoleh sedikitpun ke arahku , membuatku jadi merasa canggung. Tapi aku tak tahan dengan situasi ini.
“Kyu, kau marah padaku?” tanyaku takut-takut.
“tidak. Memangnya mengapa aku harus marah?” ia bicara tanpa menatapku sedikitpun, tetap memandang lurus ke depan. Tapi aku sedikit lega karena ia masih mau menjawab pertanyaanku.
“walaupun aku tak tahu apa kesalahanku, aku minta maaf. Jangan mengacuhkanku seperti ini terus.”
__ADS_1
Langkahnya terhenti, kemudian menoleh menghadapku. “kau tak perlu minta maaf. Aku yang salah membentakmu tadi siang. Tak seharusnya aku bersikap seperti itu.” ia kembali berjalan.
Aku hanya dapat terdiam.
“tapi jangan mendiamkanku seperti ini!” tiba-tiba aku membentaknya keras, Kyuhyun yang sudah berjalan didepanku langsung menoleh ke belakang. Aku tak mengerti kenapa, tapi rasanya aku merindukan sikapnya yang seperti biasa. Jika ia diam seperti ini aku jadi merasa sedih.
“jika kau marah padaku kau bisa mengatakannya, jangan diamkan aku.” Suaraku bergetar, dan sepertinya airmataku sudah mendesak ingin keluar. Rasanya sakit diperlakukan seperti ini olehnya. Aku tak tahu kenapa, tapi rasanya seperti kehilangan salah satu bagian terpenting dari hidupku.
“kau pikir aku mau seperti ini?” ia berkata tanpa menatapku, mengalihkan pandangannya ke arah lain. “aku juga tak suka dengan keadaan seperti ini.”
“lalu mengapa kau tetap bersikap seperti itu?”
“Apa benar kau akan bertunangan dengan Lee Donghae?” tanyanya mengacuhkan pertanyaanku.
“siapa yang mengatakannya?” Aku membulatkan mata tak percaya. Darimana ia tahu?
“semua orang bahkan sudah tahu tentang hal ini.” ucap Kyuhyun lagi. Aku kembali terkejut. Apa kabar tersebut bisa secepat itu menyebar? Aku bahkan belum mengatakannya pada orang tuaku tentang hal ini.
“apa kau juga mencintainya?”
“siapa?” tanyaku pura-pura tak mengerti, walaupun aku tahu betul siapa yang ia maksud.
“Lee Donghae. Memangnya siapa lagi?” ucapnya marah.
“tak apa-apa.” aku menghentikan tawaku. Sebenarnya tak ada yang lucu, tapi mungkin aku terlalu senang karena sepertinya ia tak benar-benar marah lagi padaku.
“kau pulanglah, ini sudah malam.” Ujarnya lembut.
“kau tak ingin menemaniku menunggu bus?” aku menatapnya penuh harap. Sebenarnya ini lebih terdengar seperti permintaan, bukan pertanyaan.
“apakah harus?”
“aku akan tetap memaksamu jika kau tak mau.”
“maaf, tapi aku ingin segera tiba di rumah. Aku sudah sangat lelah sekarang. Sebaiknya kau menunggu bus sendirian saja.” Kyuhyun berlalu begitu saja, tanpa mau mendengar protes dariku. Ia jadi mengacuhkanku lagi. Aku tak dapat melakukan apa-apa. Jika ia memang tak mau aku tak mungkin memaksanya. Semoga besok ia tak marah lagi padaku, aku merindukan omelannya.
_
Sesampainya di rumah, aku begitu terkejut karena oemma sudah menungguku di depan pintu. Apa ia sengaja menunggu untuk menyambut kepulanganku? Hah, tak biasanya.
“Hyunjin-ah, bagaimana tugas kuliahmu? Apakah lancar?” tanyanya begitu aku menutup pintu. Aku hanya mengangguk, aku memang memberitahukan pada orang tuaku selama minggu ini aku akan sangat sibuk dengan tugas kuliah dan mengerjakannya di rumah Jiyoo hingga malam. Begitulah alasan yang kuberikan untuk menutupi bahwa aku bekerja di cafe.
“apa tak ada sesuatu yang seharusnya kau beritahukan pada kami?” tanya oemma lagi masih mengikutiku yang sudah sampai di dapur.
__ADS_1
Aku membuka lemari es dan mengeluarkan botol air minum, kemudian menuangkannya ke dalam gelas. “aku rasa tidak ada.” Jawabku kemudian meneguk isi gelas itu. Aku jadi sedikit gugup, jangan-jangan oemma sudah tahu tentang pekerjaanku di cafe.
“benarkah?” oemma semakin menatapku tajam, sepertinya ia tak percaya dengan ucapanku.
“benar oemma, memangnya apa yang harus ku tutupi?” sebisa mungkin aku berusaha untuk meyakinkannya. Ku teguk lagi air banyak-banyak untuk menghilangkan kegugupanku. Aku benar-benar sudah banyak berbohong padanya.
“lalu mengapa tadi Nyonya Lee memberitahukan bahwa minggu depan adalah hari pertunanganmu dengan Donghae?”
BRUSSHH..
Dengan suksesnya air yang masih berada di dalam mulutku tersembur keluar. “ APA MAKSUDNYA DENGAN MINGGU DEPAN?” pekikku histeris. Ternyata kakek Donghae tak main-main ingin aku segera bertunangan dengan cucunya. Apa setelah itu ia akan memaksa kami untuk langsung menikah? Ya Tuhan..
“kenapa kau kaget begitu? Bukankah kau sudah tahu tentang hal ini sebelumnya?” oemma menatapku penuh selidik.
“kakek Donghae memang meminta kami agar bertunangan, dan kami berdua sudah setuju. Tapi aku sama sekali tak menyangka mereka akan memutuskannya secepat ini.”
“benar kan, kau tak bilang pada kami jika kalian sudah sama-sama setuju. Mengapa kau sembunyikan kabar gembira ini? oemma kira Donghae akan benar-benar menolak untuk dijodohkan denganmu.”
“maaf, aku lupa.” Aku berusaha berkilah. “tapi apa mereka tak membicarakannya dulu dengan oemma dan appa?”
“mereka mengundang kita makan malam besok untuk membicarakannya. Memangnya Donghae tak memberitahukan padamu?”
“ia sama sekali tidak mengatakan apa-apa soal ini.” sialan Donghae itu, kenapa tidak bilang padaku? Hah.. mereka seenaknya saja memutuskan sesuatu.
“apakah hubungan kalian sudah sedekat itu hingga ingin langsung bertunangan?” lagi-lagi oemma kembali mendesakku. Ia jadi terlihat seperti sedang menginterogasiku sekarang.
“kami belum lama kenal oemma. Lagipula ini kan hanya-“ aku langsung terdiam memikirkan kalimat apa yang sebaiknya ku keluarkan. Bagaimana aku bisa menjelaskan kepadanya?
“hanya apa?” tanyanya penasaran. Tapi aku tak mungkin bilang pada oemma jika ini hanya pura-pura. Tidak, tidak boleh ku beritahukan pada siapapun. Donghae bisa membunuhku nanti.
“hanya untuk keformalan. Bukankah harus ada ikatan di sebuah hubungan?”
“sejak kapan anak oemma yang manja ini bisa berbicara bijak seperti itu?” ia bedecak tak percaya.
“sudahlah, aku lelah. Aku ingin tidur.” Aku segera beranjak ke kamarku. Oemma masih saja mengikutiku dari belakang dan bertanya macam-macam. Tapi sama sekali tak ku pedulikan.
“aku lelah oemma, kumohon biarkan aku istirahat.” Segera ku tutup pintu kamarku.
Aku lelah dengan semua ini. Lama kelamaan semuanya menjadi rumit. Bukankah seharusnya aku senang akan bertunangan dengan Donghae? tapi kenapa hati kecilku berkata lain? ada sisi lain dari diriku yang ingin berontak menolak semua ini. Bukan karena aku membenci Donghae karena sikapnya padaku akhir-akhir ini. Tapi ada hal lain yang membuatku jadi bimbang.
Kyuhyun..
Ada apa denganku? Mengapa malah namja itu yang terpikirkan? Ah, aku benar-benar lelah. Aku bahkan bingung dengan perasaanku sendiri.
__ADS_1
“Tapi bagaimana dengan Kyuhyun? apa yang sedang dilakukannya sekarang?” aku memandang mantel musim dingin milik Kyuhyun yang masih tergantung di gantungan pakaian di dinding kamarku. Kenapa aku malah memikirkannya? Kurasa otakku benar-benar sudah tidak beres.