
Hyunjin pulang setelah cukup malam, hari terakhirnya bekerja di cafe ternyata cukup melelahkan. Tahu apa yang terjadi? Kyuhyun kembali seperti dulu, memerintahnya, mengomeli, dan menyiksanya seperti biasa. Bahkan mungkin tak akan ada orang yang bisa menebak kalau mereka adalah sepasang kekasih.
Kyuhyun bahkan berkata, ‘bukankah kau yang bilang sendiri merindukan omelanku? Maka ku kabulkan. Seharusnya kau senang.’
Hyunjin tak bisa marah, ia memang terus protes, tapi dalam hati ia merasa senang. Tak apa lah, toh hanya tinggal sehari itu. Setelahnya, ia sudah tidak bekerja di cafe itu lagi. Tapi, pasti intensitas mereka untuk bertemu jadi semakin jarang. Kyuhyun sudah berjanji, mereka akan sering bertemu jika ada waktu.
Sebenarnya Hyunjin masih ingin bekerja disana, tapi Kyuhyun menolaknya. Ia tak tega pada gadis itu. Lagipula Hyunjin juga berpikir jika memang sebaiknya ia tidak lebih lama lagi bekerja disana. Ia takut jika bertemu kakek Donghae, dan kalau sampai beliau mengetahui tentang hubungannya dengan Kyuhyun. Ouh, ia benar-benar merasa bersalah pada pria tua itu. Lalu bagaimana caranya mengatakan pada keluarganya dan Donghae tentang hubungan ‘pura-pura’- nya dengan Donghae yang telah berakhir?
Ponsel Hyunjin berdering, gadis itu segera menekan tombol untuk menjawabnya, “yobosseyo.. ada apa oppa?” tanyanya pada sang penelepon.
“oh, besok? Aku bisa. Tapi.. apa ini tidak terlalu cepat?” tanya Hyunjin ragu. Sedetik kemudian ia mengangguk, “baiklah, kau benar. Lebih cepat lebih baik.”
“nde, akan ku katakan pada orang tuaku nanti. Sampai jumpa besok!”
Klik. Ia mematikan teleponnya.
Gadis itu terdiam bimbang. Sejujurnya ia takut menghadapi ini. Bagaimana reaksi orang tuanya dan orang tua Donghae nanti? Terlebih kakek Donghae. Mereka sudah sangat menginginkan Hyunjin dan Donghae menikah kelak. Tapi Hyunjin juga tak dapat menerimanya, ia tidak mencintai Donghae, ada orang lain yang sudah menempati bagian paling spesial di hatinya.
“apa itu tadi telepon dari Donghae?”
Hyunjin terkesiap kaget mendengar suara seseorang yang tiba-tiba muncul itu. di tolehkannya kepalanya ke belakang, dan ia mendapati ibunya sedang senyum-senyum di depan pintu kamarnya.
Hyunjin mendengus, “apa oemma menguping?”
“tidak, oemma hanya tak sengaja mendengar saja. Hah, kau tak usah sembunyi-sembunyi begitu. Oemma juga pernah muda, pernah merasakan jatuh cinta sepertimu.” Ucap ibunya menggoda Hyunjin. Wanita itu langsung pergi begitu saja, masih sambil tersenyum-senyum sendiri.
“oemma!” Hyunjin berteriak kesal saat ibunya sudah berjalan jauh.
___
Hyunjin merasa sangat gugup, berkali-kali ia menggigit kukunya dan menatap cemas pada wajah-wajah para orang tua yang tampak berseri-seri itu. Sebentar lagi, apakah ia akan menghancurkan kebahagiaan mereka? Ah, ia jadi merasa serba salah.
“tenanglah..” Donghae yang duduk di sebelahnya tiba-tiba saja sudah menggenggam tangan Hyunjin.
“kau tak sendiri, ada aku disini. Aku yang akan mengatakan pada mereka.” Donghae tersenyum menenangkannya. Hyunjin mengangguk, dan balas tersenyum. Sekarang Hyunjin bisa sedikit lebih tenang, perasaannya memang selalu nyaman saat berada di dekat Donghae.
“aih, kalian berdua ini tak bisakah jangan memamerkan kemesraan di depan para orang tua? Kalian membuat kami semua iri.” Ucap ibu Donghae tiba-tiba. Hyunjin dan Donghae segera melepaskan genggaman mereka, saling berpaling gugup.
“Bukankah kita juga tak kalah mesra dari anak-anak muda itu yeobo?” ayah Donghae merangkul bahu istrinya mesra. Donghae langsung menampakkan reaksi ingin muntah, Hyunjin hanya terkikik geli melihatnya.
__ADS_1
Mereka saat ini sedang makan malam di sebuah restoran Jepang, sekaligus ingin membicarakan sesuatu atas permintaan Donghae dan Hyunjin. Para orang tua tampak senang, mereka pikir dua anak muda itu sudah tak sabar ingin pertunangan di percepat, atau bahkan segera melangsungkan pernikahan.
“begini, aku dan Hyunjin ingin mengatakan sesuatu.” ucap Donghae mengalihkan perhatian mereka. Kini semua pasang mata di meja itu memandang serius ke arahnya.
Donghae diam, terlihat ragu akan mengatakannya. Donghae melirik Hyunjin sekilas, gadis itu menggeleng takut. Mulutnya bicara tanpa suara, mengatakan, ‘biar aku saja.’ tapi Donghae tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya. Ia kembali melanjutkan apa yang mau ia katakan tadi. “kami sudah memutuskan, kami sudah tak bisa melanjutkan hubungan ini lagi.”
Semua terdiam, wajah mereka terlihat kaget. Hyunjin menundukkan wajahnya dalam-dalam. Ia terlalu takut untuk melihat reaksi kekagetan mereka.
“memangnya kenapa? Oemma pikir hubungan kalian baik-baik saja.” ujar ibu Donghae merasa bersedih. Apa yang terjadi pada mereka berdua? Bukankah mereka sudah saling cocok? Pikir wanita itu.
“oemma, kami tak saling mencintai.” Ucap Donghae memberi alasan. Dadanya sedikit tertohok saat mengatakan itu. Tidak, itu bukan isi hatinya yang sesungguhnya.
“tapi bukankah kalian bilang kalian setuju dengan perjodohan ini?” tanya ibu Donghae lagi, mengeluarkan kebingungannya.
Donghae menggeleng pelan, ia sedang berpikir untuk mencari alasan yang terbaik –setidaknya itu tidak akan membuat Hyunjin merasa sebagai orang yang paling bersalah.
“awalnya kami berkomitmen untuk mencobanya, tapi ternyata kami memang tak saling cocok. Lagipula kami sudah memiliki pasangan masing-masing. Kami tak bisa memaksakan diri.” Ucap Donghae akhirnya. Ia tak menyesal telah berbohong. Asalkan itu untuk kebahagiaan Hyunjin, baginya itu sebuah hal yang benar.
Hyunjin membelalak saat Donghae mengatakan, ‘Lagipula kami sudah memiliki pasangan masing-masing.’ ia melirik ke arah kedua orang tuanya, yang ternyata sudah memandangnya penuh intimidasi. Ia tahu, mereka pasti akan marah karena Hyunjin tak pernah bilang apa-apa soal itu.
Semua masih diam, sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Donghae dan Hyunjin menatap orang tertua di antara mereka, pria itu hanya diam tak mengatakan apapun.
“haraboji, kumohon katakanlah sesuatu.” Donghae mendesaknya. Ia jadi merasa bersalah jika pria itu hanya diam saja.
“aku tak bisa apa-apa, jika itu memang keputusan kalian berdua. Maafkan haraboji juga karena memaksa kalian. Seharusnya aku tahu sejak awal jika kalian memang tidak menginginkan perjodohan ini. Kalian menyetujui ini karena haraboji bukan?” ia memandang Hyunjin dan Donghae penuh penyesalan, dua anak muda itu hanya mengangguk singkat.
“setelah ini, ikatan keluarga kita masih akan terjalin bukan? Tanpa adanya perjodohan pun kita masih bisa seperti keluarga. Pertalian ini tak akan berakhir begitu saja.” ucap kakek Donghae bijak. Semua mengangguk setuju.
“ahjussi benar, kita masih tetap bisa menjalin hubungan yang baik tanpa adanya perjodohan anak-anak kita. Kita bisa melanjutkannya di generasi berikutnya. Mungkin cucu dari anak-anak kita kelak?” Ayah Hyunjin berusaha mencairkan suasana, membuat mereka tergelak dalam tawa bersama.
“gomawo oppa..” bisik Hyunjin lirih pada Donghae di sebelahnya. Donghae hanya tersenyum sembari mengangguk kecil.
___
Hyunjin meremas telapak tangannya kuat-kuat. Udara malam ini begitu dingin, tapi entah mengapa tangannya terus berkeringat. Ia memandang takut-takut ke hadapannya, disana sudah duduk ayahnya yang memandangnya tajam. Seumur-umur jarang sekali Hyunjin melihat ayahnya semarah itu.
Ia jadi teringat kejadian dulu, saat Hyunjin masih sekolah dasar ayahnya pernah dipanggil pihak sekolah karena Hyunjin ketahuan memukul temannya, hanya karena temannya itu merobek buku gambar miliknya. Hyunjin sudah terbiasa dimanjakan oleh ayahnya, tapi saat itu ia seperti melihat orang lain dalam diri ayahnya, seperti bukan ayahnya saja. Dan kini, tatapan itu kembali lagi, ia kembali melihat sosok ayahnya yang menakutkan.
‘kau berhutang penjelasan pada appa. Kita selesaikan ini di rumah.’ Hanya kalimat itu yang diucapkan ayahnya begitu keluar dari restoran. Ia tahu ayahnya pasti marah dan kecewa padanya. Tapi Hyunjin sudah siap akan akibat yang sudah menantinya.
__ADS_1
Pria itu tak bicara apa-apa padanya sejak kejadian mengagetkan tadi –saat Donghae menyampaikan pengakuan mencengangkan itu pada mereka semua. Ayahnya memang hanya diam selama perjalanan pulang hingga sampai di rumah, tapi itu justru membuatnya semakin yakin kalau ayahnya memang benar-benar marah..
“kau bisa menjelaskan sesuatu Hyunjin-ah?” tanya ayahnya tiba-tiba, tatapannya begitu tajam membuat Hyunjin menciut untuk sekedar menatap balik kepadanya.
“tentang apa appa?” gadis itu bertanya masih sambil menunduk, tak berani menatap mata lawan bicaranya.
“Donghae bilang tadi kalian sudah punya pasangan masing-masing. Apa itu benar?”
Hyunjin mengangguk pelan, “nde, itu memang benar.”
“lalu kenapa kau tak pernah mengenalkannya pada kami? Kau mau mencoba menyembunyikannya?”
“bukan begitu appa, kami juga belum lama berhubungan. Aku pikir sekarang bukan saat yang tepat.”
“kalau begitu suruh pemuda itu datang kesini! Appa ingin bicara dengannya.”
“Ye?” Hyunjin membelalak kaget mendengarnya.
___
“jadi anda sebenarnya sudah tahu keberadaan Kyuhyun?” Hangeng menatap pria dihadapannya tak percaya. Lalu selama ini untuk apa pria itu menyuruhnya mencari keberadaan Kyuhyun kalau ia sudah tahu?
“Aku sebenarnya sudah tahu sejak kau menemukannya. Aku tahu kau tak bisa di percaya, kau selalu melindunginya. Maka kuputuskan untuk membiarkanmu saja. Dan ternyata benar kan? kau belum melaporkannya padaku. Tapi tak ku sangka ternyata kau baru menemuinya belakangan ini.” Tuan Cho menautkan jemarinya, menumpukan kedua sikunya pada meja. Gaya angkuh itu, sekarang Hangeng benar-benar yakin sifat angkuh Kyuhyun diturunkan dari ayahnya.
“kalau masalah itu.. aku sebenarnya bukan tak mau melapor pada anda, aku hanya kasihan pada Kyuhyun. Dia sepertinya bahagia dengan kehidupannya sekarang.” Hangeng menunduk menatap lantai. Ia tak sanggup melihat wajah Tuan Cho yang mungkin akan sangat murka mendengar ucapannya tadi.
Tapi ternyata tidak, pria itu hanya tersenyum meremehkan. “bahagia? Ia akan lebih bahagia jika kembali ke kehidupan lamanya. Disini ia tak mungkin menderita.”
Hangeng mengangkat wajahnya, hanya bisa tersenyum samar. Tidak, Kyuhyun tak mungkin bahagia. Kebahagiaan bagaimana yang di maksud? Apakah karena harta? Kyuhyun memang bisa mendapat apa saja jika ia menjadi pewaris kekayaan keluarganya, tapi apakah itu akan membuatnya bahagia? Hangeng tahu betul apa yang diinginkan Kyuhyun, namja itu sudah seperti adik bagi Hangeng. Kyuhyun tak mungkin bahagia jika di kekang, ia selalu ingin bebas menentukan hidupnya sendiri.
“akan ku beri kau kesempatan untuk menebus kesalahanmu tentang ini.” Tuan Cho bangkit dari duduknya, kemudian berjalan ke arah jendela. Pria itu menyingkap sedikit tirai yang menutupi jendela. Ia berbalik menatap Hangeng yang masih memandangnya penuh tanya akan hal apa yang kira-kira akan diperintahkannya. Oh, semoga bukan hal gila. Jangan katakan ia ingin Hangeng menyeret Kyuhyun sampai ke rumah. Buru-buru Hangeng menepis itu semua dari pikirannya.
“bawa Kyuhyun ke rumah ini.” Hangeng langsung tersentak kaget, bagaimana caranya? Ia tak mungkin bisa memaksa Kyuhyun untuk kembali.
Tuan Cho melanjutkan, “katakan padanya, mungkin ia bisa tetap menjadi dokter-“ belum sempat pria itu melanjutkan, Hangeng sudah membelakakkan mata tak percaya.
“-jika menikah dengan putri Tuan Jung. Ia tak perlu mengambil alih perusahaan, asalkan ia menikah dengan Yeoram, itu akan membuat perusahaan kita semakin kuat. Aku tak perlu khawatir lagi dengan para pemegang saham yang mengincar perusahaan. Kau mengerti Hangeng-sshi?” lanjut Tuan Cho lagi.
Hangeng mengangguk ragu. Apakah mungkin Kyuhyun mau? tapi sepertinya ini adalah pilihan yang sulit.
__ADS_1
“akan ku usahakan, sajangnim.”
To Be Continue