
*(Jangan ucapkan selamat tinggal, jika itu akan membuatku tak pernah bisa melihatmu lagi.
Kau boleh berkata sudah tak mencintaiku, tapi aku tahu itu adalah sebuah kebohongan.)*
Semuanya kembali seperti semula. Hidupnya akan baik-baik saja, dan ia bisa menghirup udara dengan bebas tanpa ada sesuatu yang mengganggu sedikitpun. Begitulah yang ada di pikiran Hyunjin saat memutuskan bahwa mereka harus berpisah. Memutus ikatan kasihnya dengan Kyuhyun yang sudah terjalin sangat erat tersebut.
Namun ternyata semua itu jauh dari bayangannya. Nyatanya hidupnya justru semakin kacau. Kegelisahan menghampirinya nyaris setiap waktu, membawanya pada rasa sesal yang terus-menerus menggerogoti hatinya. Ia terlalu larut dalam kisahnya bersama Kyuhyun, hingga pada akhirnya mereka telah mencapai titik akhir―menyebabkan keengganan untuk melepaskan satu sama lain jadi begitu kuat.
Kini gadis itu sadar, ada sesuatu yang hilang saat Kyuhyun tak lagi mendampinginya. Ada rasa rindu yang menggelora, menciptakan perasaan tak nyaman di hatinya. Tapi di sisi lain ia juga sadar, semua itu adalah konsekuensi dari keputusannya. Ya, keputusan yang sudah dipikirkannya berulang kali. Ia tak boleh menyesalinya, itu adalah takdir yang ia pilih sendiri. Lagipula menyesal pun rasanya sudah terlambat, ia sudah tak bisa keluar dari api yang dipercikkannya sendiri.
“Apa kau sakit?”
Suara itu langsung membuat Hyunjin mendongakkan wajah, menatap orang yang duduk didepannya. Ia hanya menggelengkan kepala singkat sebagai jawaban.
“Apa makanannya tidak enak?” Siwon bertanya lagi, sadar adik perempuannya itu hampir tak makan sesuap pun. Sejak tadi ia hanya memainkan makanan di piringnya.
“Ini enak kok. Aku tak perlu meragukan kemampuan masakmu kan?” Ucap Hyunjin kemudian, memaksakan seulas senyum di bibirnya. Ia tak mau membuat kakaknya itu bertambah cemas padanya, sudah cukup semua masalah tentang orang tua mereka yang membuat Siwon pusing. Ia tak ingin menambah beban kakak laki-lakinya itu lagi.
Dengan enggan Hyunjin menyuapkan makanan ke mulutnya. Rasanya hambar―bukan karena Siwon lupa memberi garam atau apa, tapi memang lidah Hyunjin yang seolah tak bisa merasakan apa-apa.
“Bagaimana perkembangan kasus Appa?” gadis itu bertanya setelah dengan susah payah berhasil menelan makanan ke kerongkongannya.
Siwon terdiam sejenak, terlihat sedang berpikir. Tak lama kemudian ia menggeleng lemah, Hyunjin tahu itu bukan pertanda yang bagus.
“Semua bukti memberatkan Appa. Lalu, tersangka lain terus melontarkan pernyataan yang mengarah bahwa Appa lah yang menjadi otak dari penggelapan dana di perusahaan itu.”
“Aku tak akan percaya. Ayah kita bukan orang seperti itu. Dia akan lebih memilih mati kelaparan dari pada harus mengambil yag bukan haknya.” Ujar Hyunjin kemudian, terdengar sangat yakin.
__ADS_1
Siwon mengangguk setuju dengan ucapan adiknya. “Kau benar. Untuk itu lah aku akan bekerja keras agar kebenaran bisa terungkap.”
“Oppa, biar malam ini aku yang menjaga Eomma di rumah sakit. Besok hari minggu, dan aku tak ada kuliah.”
“Benar tidak apa-apa?”
“Ya, aku kasihan denganmu dan Minho. Kalian juga harus menjaga kesehatan.”
___
“Kau sudah memutuskannya, nak?” pria itu bertanya dengan penuh kewibawaan seorang ayah. Menatap penuh harap pada putra pertamanya, anak yang akan membawanya mewujudkan impian dan harapan.
Namja itu hanya terdiam membisu. Rasanya malas menjawab pertanyaan itu, terlalu riskan baginya. Bertahun-tahun mereka tak makan malam di meja yang sama seperti ini. Kenapa harus membahas hal ini disaat mereka baru saja berkumpul? Apa hanya itu yang ingin diketahui ayahnya? Apakah pria itu bahkan tak ingin tahu bagaimana kabarnya selama ini?
“Cho Kyuhyun?” pria itu memanggil namanya, tak sabar karena putranya hanya diam tanpa berniat menjawab. Hal yang sedang dibahas ini akan menentukan masa depan orang banyak, mereka tak boleh main-main.
Singkat, tak jelas. Entah apa maksud dari kalimat “terserah abonim saja” itu. Setuju kah? Atau malah sebaliknya?
Cho Taewoo perlu beberapa detik untuk mencerna ucapan Kyuhyun. Pada akhirnya pria itu mengangguk puas, tak dapat menyembunyikan senyum kegembiraan dari wajahnya. “Kau telah mengambil keputusan yang tepat. Kau memang selalu bisa membuat abonim bangga.”
Cho Kyuhyun masih diam, tetap menikmati makanannya yang entah mengapa terasa seperti batu yang sulit tertelan. Ia sudah tak peduli lagi dengan apa yang akan dilakukan ayahnya. Satu-satunya alasan yang membuat dirinya tetap keras kepala―menentang ayahnya―kini sudah menghilang. Ia tak punya sesuatu yang bisa membuatnya tetap bertahan dengan posisinya itu. Sekarang dia hanya bisa mengikuti kemana arus akan membawanya pergi.
“Aku sudah selesai.” Kyuhyun bangkit dari duduknya, hendak menyingkir dari ruang makan yang hanya di hadiri tiga anggota keluarga―termasuk dirinya―itu. Dia, ayah dan adiknya.
Sebelum kakinya terayun lebih jauh lagi, suara ayahnya sudah lebih dulu menyita perhatiannya. “Persiapkan dirimu untuk besok. Kita akan bertemu dengan keluarga Jung untuk membahas masalah pernikahanmu dan Yeoram.”
Persetan dengan semua itu! Kyuhyun sudah tak mendengar lagi suara ayahnya setelah itu, ia sudah melangkah jauh dari ruangan tersebut. Pernikahan? Tsk.. apakah ia tak berhak menentukan hidupnya sendiri? Saat ini ia bagaikan sebuah robot yang hanya patuh pada operator yang mengendalikannya. Ia tak punya kuasa apa-apa atas hidupnya. Hidupnya, bukanlah kehidupan yang dia inginkan.
__ADS_1
___
“Minho-ya, bangunlah.” Hyunjin berbisik pelan sambil menepuk pipi adiknya yang tengah tertidur di sofa ruang rawat ibunya. Namja itu bersikeras tak mau meninggalkan ibunya seharian ini―ia bahkan sampai tidak masuk sekolah sejak kemarin.
“Ngg.. Noona. Ada apa?” Minho bangun dan menggeliatkan tubuhnya. “Mengapa kau disini? Ini kan sudah malam.”
“Kau pulang saja. Biar aku yang menjaga Eomma.”
“Aku tidak mau!” Minho membantah. Hyunjin melotot, menatap tegas adik tujuh belas tahun yang bertubuh lebih tinggi darinya itu.
“Sana pulang! Kau sudah dua hari tidur di rumah sakit. Apa kau tidak merindukan kasur empukmu di rumah?”
“Aku mau bersama Eomma. Noona saja yang pulang.”
“Aishh.. bocah ini keras kepala sekali.” Hyunjin menggeram kesal. Minho terbiasa dekat dengan ibu mereka, ia tak bisa jauh-jauh dari wanita itu. “Cepat pulang! Siwon Oppa sudah menunggumu di luar.” Hyunjin menarik tubuh Minho yang masih limbung karena baru terbangun. Namja itu tak punya kekuatan lebih untuk melawan, ia benar-benar masih mengantuk.
“Ayolah.. jangan buat kami cemas padamu. Kau juga bisa sakit kalau terus begini.”
Minho akhirnya menyerah, lagipula mendengar suara Hyunjin yang terdengar menderita seperti itu, ia jadi tak tega. “Arasseo, aku akan pulang. Jangan tarik-tarik tanganku.”
“Anak Pintar, sana keluar!” Hyunjin memberi isyarat dengan tangannya menunjuk ke arah pintu. Minho menyambar jaketnya kemudian berjalan keluar, menutup pintunya secara perlahan.
Hyunjin tersenyum lega saat Minho menghilang dari balik pintu yang sudah tertutup itu. Ia menoleh ke arah ranjang, menatap ibunya yang sedang terbaring dalam tidurnya. Gadis itu berjalan mendekat, kemudian duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur.
Mata ibunya terpejam, terlihat damai dalam tidurnya. Alat-alat bantu pernapasan yang terpasang di tubuh wanita itu membuat Hyunjin hanya bisa merintih dalam batinnya. Ia jadi berpikir, jika bisa, ia mau saja menggantikan posisi ibunya saat ini. Ia tak keberatan. Mengapa harus kedua orang tuanya yang diberi cobaan seberat ini? Jika tak ada Siwon dan Minho, ia tak tahu harus bagaimana bersikap. Ia tak sanggup melalui semua ini seorang diri.
“Eomma.. Jika saja kau tidak sedang sakit, aku ingin cerita banyak padamu. Banyak hal yang sudah kulalui saat kau terbaring disini. Aku tak tahu harus bagaimana tanpa Eomma dan Appa.” Isakan kecil keluar dari bibirnya, tetapi sebisa mungkin Hyunjin berusaha agar tak membuat ibunya terbangun. Ibunya masih lemah, untuk bicara saja masih sedikit sulit. Penyakit jantung yang parah itu sudah membuat Hyunjin tak lagi bisa mendengar suara cerewet ibunya saat marah-marah. Ia rindu omelan ibunya setiap ia melakukan kesalahan―ia sangat merindukan ibunya.
__ADS_1