
“Selamat datang kembali, Choi Minhwa-sshi. Kau terlihat sangat sehat hari ini,” Cho Taewoo tersenyum sinis, menyambut seorang pria yang baru saja ikut masuk ke dalam lift bersamanya.
“Lebih sehat dari yang kau bayangkan, Cho Taewoo-sshi,” Balas Choi Minhwa tak kalah sinisnya.
“Oh, ya? Aku ikut senang mendengarnya,” Katanya tidak tulus. Pria satunya memutar bola mata kesal, dia ingin sekali cepat-cepat keluar dari lift ini, dia tak ingin berlama-lama dengan orang itu.
“Sepertinya kau menyewa pengacara yang hebat, Choi Minhwa-sshi,” Katanya lagi, memecah suasana yang baru saja mulai terasa hening diantara mereka. Menyulut bara api yang masih setengah menyala.
“Tentu saja. Dia pengacara terhebat yang pernah ku kenal. Memangnya kenapa? Kau kaget melihatku bisa ada di hadapanmu sekarang?”
Cho Taewoo tertawa, “Walaupun kau sudah bebas, itu tidak membuktikan sepenuhnya jika kau bukan orang licik. Anggap saja kau sedang beruntung kali ini.”
“Licik? Setidaknya aku tak pernah menusuk seseorang dari belakang.”
Cho Taewoo terdiam sesaat, dia merasa sedikit tersinggung dengan perkataan Choi Minhwa tadi. Namun seulas senyum sinis kembali ditunjukkannya, menutupi perasaan telah direndahkan. Cho Taewoo tidak pernah kalah. Tidak oleh siapapun, apalagi oleh seorang Choi Minhwa.
“Apa kau mau mengenang masa lalu?” pria itu mengangkat sebelah sudut bibirnya, membentuk senyuman sinis yang sangat tidak bersahabat.
Choi Minhwa balas tersenyum sinis, “Jika kau tidak keberatan―mantan sahabat, huh?”
Lift berhenti di lantai 18, Choi Minhwa segera keluar tanpa memberi salam terlebih dahulu pada rivalnya. Sementara itu, masih di tempatnya berdiri, Cho Taewoo mengepalkan tangannya erat-erat, mencoba meredam emosinya yang mungkin tidak bisa tersalurkan langsung. Dia adalah CEO di perusahaan itu, seorang pemimpin, dia tidak mungkin berbuat konyol dengan meninju wajah pria itu. Tidak! Dia harus menjaga wibawanya―walau rasa kesal luar biasa itu masih terasa di hatinya.
*
“Upacara pernikahan akan dimulai sekitar satu jam lagi. Apa anda akan berangkat sekarang, Sajangnim? ”
“Sajangnim!” wanita berumur sekitar tiga puluhan itu memanggil atasannya berulang-ulang, tapi pria itu tidak kunjung menjawab. Matanya masih terpaku melihat ke arah jendela, padahal rasanya tak ada pemandangan yang menarik untuk dilihat dari sana.
“Sajangnim!” dia mencoba sekali lagi, dan pria itu akhirnya menoleh. “Apa Anda akan berangkat sekarang?” tanya wanita itu lagi, masih dengan sabar.
“Apa masih ada rapat atau pertemuan?”
“Ya, ada rapat dengan para staff, dua puluh menit lagi.”
“Kalau begitu minta Tuan Jang untuk menggantikanku di rapat itu. Siapkan mobil sekarang, aku tak ingin terlambat tiba di acara pernikahan putraku.”
“Baik, Sajangnim.Shillye Hamnida,” Wanita itu membungkuk hormat kemudian bergegas keluar ruangan.
__ADS_1
*
Sekali lagi dia memandang cermin besar di hadapannya, meneliti kembali apakah ada yang kurang dengan penampilannya atau tidak. Sempurna―dia terlihat sangat tampan saat ini. Tapi apa gunanya jika dia tampil sempurna untuk menikah dengan orang yang tidak dia cintai sama sekali?
Pintu menjeblak terbuka, Jino masuk dengan tak sabar dan langsung menggerutu melihat kakaknya masih saja mematung seperti orang kebingungan di depan cermin. Seperti tidak pernah melihat cermin saja, gerutunya.
“Hyung!” panggil Jino pelan. Kyuhyun tak berbalik, tak menyahut, seolah Jino tak ada disana dan memanggilnya barusan.
Jino mengacak rambutnya kesal, kembali menggerutu. Dia―sebagai pendamping pria―sudah sangat siap untuk berangkat, tapi mengapa calon pengantin prianya malah terlihat seperti orang ling lung disini? Apa Kyuhyun tak sadar kalau upacara pernikahan akan dimulai tiga puluh menit lagi? Di gereja tempatnya akan melangsungkan pernikahan mungkin para tamu undangan sudah berdatangan, tapi dia masih di rumah dan bersikap santai. Bahkan disaat orang-orang sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya, dia malah bersikap tak peduli.
“Hyung, kita akan terlambat kalau kau tak segera cepat!” Jino memandang jam tangan yang dikenakannya dengan tak sabar.
Kyuhyun menoleh, memandang Jino seperti minta pertolongan. Seolah dia akan menghadapi sesuatu yang mengerikan.
Jino mengabaikan tatapan itu, “Cepatlah! Kau tak mungkin memaksa sopir untuk ngebut, itu berbahaya. Lagipula aku tidak mau mati di hari pernikahan kakakku dengan―”
“Gadis yang kau cintai?”
Jino berusaha menenangkan jantungnya yang terasa seperti tertikam pisau. “―sahabatku.”
Kyuhyun tertawa keras. Terlalu keras untuk menertawai sesuatu yang bahkan tidak lucu sama sekali. Mungkin jika orang lain yang melihat, dia akan menganggap Kyuhyun tidak waras. Tetapi Jino tidak, dia tidak menganggap kakak tirinya itu gila karena tertawa seperti itu. Dia sadar, memang dia pantas untuk ditertawakan. Seolah itu adalah hal yang lumrah.
Kyuhyun belum berhenti, masih tertawa seakan Jino adalah hal paling lucu yang pernah dilihatnya. Lama-kelamaan tawa itu terdengar semakin menyedihkan, tawa seseorang yang putus asa.
“Puas Hyung?” Jino mendengus sinis. Percayalah, melihat orang pendiam seperti Kyuhyun tiba-tiba tertawa seperti orang kesetanan, benar-benar mengerikan.
“Apa kau puas?” Kyuhyun balik bertanya, mengulang pertanyaan yang diberikan Jino padanya. “Pertanyaan macam apa itu?”
“Kau membuang-buang waktu kita, Hyung.”
“Tak bisakah kau jujur pada hatimu sendiri? Apa kau rela gadis itu menikah dengan saudaramu ini? Apa kau rela melihatnya tidak bahagia kelak?”
“Kau mengatakan itu seolah kau memang berniat membuatnya tidak bahagia.”
Kyuhyun bicara lagi, mengabaikan pernyataan Jino, “Dan apakah kau akan menyalahkan takdir atas semua yang terjadi?”
“Aku akan menyalahkanmu jika itu sampai terjadi. Kau harus membahagiakannya, hanya kau yang bisa.”
__ADS_1
Kyuhyun tertawa lagi. “Dari mana kau tahu hanya aku yang bisa? Kau bukan Tuhan, dan kau tak bisa membaca masa depan.”
“Tapi aku bisa membaca hatinya.”
Lagi-lagi kyuhyun tertawa. Oke, ini semakin terlihat mengerikan.
“Bukankah sebelumnya kau bilang padaku untuk mempertimbangkan hal ini lagi? Kau menyuruhku untuk memikirkan baik-baik keputusan ini. Lalu mengapa sekarang kau semangat sekali mendorongku untuk segera menikah dengannya? Secepat itu kah kau berubah pikiran?”
Jino diam, masih mendengarkan Kyuhyun menyelesaikan kalimatnya.
“Kau mencintainya, tapi kau tak pernah berusaha merebut hatinya. Sejak dulu, Jino! Sejak dulu kau hanya diam-diam memperhatikannya. Apa kau tak lelah dengan semua ini?”
Kata-kata Kyuhyun itu terasa seperti tamparan baginya. Dadanya benar-benar seperti tertikam saat ini. Bukan hanya satu, melainkan tertancap berpuluh-puluh belati. Sakit, sangat sakit sampai rasanya dia ingin segera mati agar rasa sakit itu menghilang.
Bahunya bergetar. Ia kuat, tapi tak sekuat karang yang akan tetap kokoh saat terhempas ombak. Ia hanya sebuah dinding batu yang kini mulai rapuh karena terpaan panas dan hujan, terkikis sedikit demi sedikit dan pada akhirnya akan rubuh.
“Memangnya apa lagi yang bisa ku perbuat? Dia hanya mencintaimu. Dia tak pernah mau melihatku sedikitpun. Yang ada di kepalanya hanya kau. Cho Kyuhyun, Cho Kyuhyun, dan Cho Kyuhyun. Tak pernah ada nama Cho Jino sedikitpun di hatinya. Biar sekeras apapun aku mencoba, kau tetap menjadi pilihannya.”
“Kau tak pernah memperjuangkannya. Kau tak pernah berusaha.”
“Itu karena aku mencintainya! Aku memilih diam dan melihatnya bahagia. Bagiku itu saja sudah cukup.”
“Kau bodoh, Jino! Benar-benar bodoh! Aku tak percaya kau masih berpegang teguh dengan prinsip itu sampai sekarang. Bagaimana dia bisa melihatmu kalau kau tak pernah menunjukkan perasaanmu? Bagaimana dia bisa sadar?”
“Kau tak mengerti, Hyung.”
“Apa yang tak ku mengerti? Tentang kau yang bersedia menderita demi kebahagiaannya? Aku tak percaya ada orang-orang seperti kalian, yang mengorbankan perasaan di balik nama cinta. Apa kalian tak sadar itu sangat egois? Lalu bagaimana dengan orang yang kau ‘bahagiakan’ itu? Kau pikir dia benar-benar akan bahagia?” Kyuhyun membentaknya, terdengar sangat marah.
Dia menyebut “kalian”― tidakkah itu mengarah pada seseorang yang lain?
“Apa yang harus ku perjuangkan? Aku sudah tak punya kesempatan lagi. Dia tak akan ku miliki, bahkan sedikit perhatian darinya pun tak akan pernah bisa.”
“Kau masih punya kesempatan.”
“Kesempatanku sudah hilang.”
“Sekarang, atau tidak sama sekali.”
__ADS_1
*