
Hyunjin menghadapkan wajahnya ke jendela, memandang jalanan yang seolah terlihat bergerak cepat. Dia melarikan diri. Dia tahu hal ini benar-benar menunjukkan kalau dia memanglah seorang pengecut. Dia tidak berani datang ke tempat itu, dia takut untuk menyaksikan upacara sakral pernikahan Kyuhyun dengan gadis lain. Dia tak mau menjadi salah satu saksi momen itu. Dia takut dia akan menangis saat itu, dan mengacaukan semuanya.
“Masih belum terlambat, masih ada kesempatan untuk mengubah semuanya. Kita bisa pergi jauh dan hidup berdua, tanpa ada yang mengganggu.”
Hyunjin masih ingat perkataan Kyuhyun waktu itu. Andai dia bisa, andai dia mampu―dia mungkin akan menyambutnya dengan senang hati.
Tapi dia pengecut, dia tak berani mengambil risiko yang besar bagi hidup mereka.
“Nona, sebenarnya kau mau kemana? Kita tidak bisa hanya berputar-putar tanpa arah seperti ini,” panggilan dari sang sopir bahkan tak sanggup membuatnya mengalihkan pandangan dari jendela. Dia bahkan tak sadar taxi itu sudah berjalan entah sampai dimana, dia terlalu banyak melamun.
“Nona, kau mendengarku?”
“Ah, ya! Ada apa Ahjussi?” gadis itu tersentak kaget.
“Sudah kau putuskan akan kemana?” pria itu bicara sambil tetap mengemudikan taxi. Dia sudah lelah karena penumpangnya itu tidak kunjung memberitahukan tujuannya. Saat akan naik tadi, gadis itu bilang ingin ke sebuah gereja, salah satu gereja terbesar di Seoul―lebih tepatnya ke tempat salah satu putra keluarga Cho akan melangsungkan pernikahannya. Tapi sesampainya disana dia malah meminta untuk pergi lagi. Dia tidak mengatakan ingin kemana, dia hanya bilang, “Kita pergi saja dari sini,” dan hasilnya, sopir taxi itu hanya mengemudi tanpa tahu akan kemana.
“Er― baiklah, turun disini saja.”
__ADS_1
Sopir taxi itu mengangguk, dia segera menepikan taxi itu ke pinggir jalan. Hyunjin keluar setelah membayar, dan taxi itu segera melesat meninggalkannya.
Dia berjalan ke sebuah halte bus, tak jauh dari tempatnya turun tadi. Gadis itu hanya diam saja, mengamati orang-orang disekitarnya. Sampai ada sebuah bus yang datang, dia ikut naik bersama beberapa penumpang lain. Hyunjin menumpang bus itu tanpa tahu dia ingin kemana, dia tak punya tujuan.
Gadis itu memejamkan mata. Rasa kantuk sedikit demi sedikit mulai mengalahkannya. Dia lelah. Dia ingin tertidur dan melupakan semuanya. Semua tentang Kyuhyun. Tapi semakin ingin dilupakan, dia malah semakin mengingatnya.
*
Mobil itu akhirnya sampai di depan sebuah gereja yang sudah di dekor sedemikian rupa untuk upacara pernikahan, terlihat sangat megah dan mewah. Pintu dibukakan oleh seseorang dari luar mobil, tapi mereka berdua tidak kunjung keluar.
Kyuhyun menggelengkan kepalanya kuat-kuat, tak terima begitu saja dengan usul Jino, “Jangan jadi laki-laki pengecut!”
“Tapi―”
“Ini, ambil lah!” Kyuhyun menyodorkan sebuah kotak beludru lembut berwarna merah. Jino menatapnya ngeri, namun sedetik kemudian dia menerima kotak itu. “Aku tak yakin akan keluar hidup-hidup dari sana. Bagaimana kalau Abonim langsung membunuhku saat itu juga? Atau malah Yeoram yang akan mencekikku sampai mati?”
“Kau tak akan dibunuh, aku akan ada di belakang dan mendukungmu,” Kyuhyun tersenyum, tapi senyum itu sama sekali tidak membantu. Dia masih takut, ide Kyuhyun benar-benar tidak masuk akal.
__ADS_1
“Kau tak akan pernah tahu jika tak mencoba,” sekali lagi Kyuhyun berusaha meyakinkan Jino.
“Tapi aku sudah tahu apa yang akan terjadi nanti,” Jino tetap membantah.
“Ayo cepat! Jangan paksa aku untuk menyeretmu keluar mobil.”
Dengan penuh keraguan, akhirnya Jino turun dari mobil. Dia berjalan di belakang Kyuhyun yang sudah lebih dulu memasuki gereja besar itu. Langkah kaki mereka saat memasuki gedung itu sanggup menyita perhatian orang-orang yang ada di dalamnya.
Kyuhyun sedikit melirik ke kursi tamu undangan, dia melihat Jongwoon dan juga beberapa teman-temannya yang lain, tapi dia tak melihat Hyunjin dimanapun. Awalnya dia memang tidak ingin gadis itu datang, tapi sekarang justru dia sangat menginginkan kehadiran Hyunjin disana. Dia ingin Hyunjin menyaksikan apa yang akan terjadi di tempat itu nanti.
Cho Taewoo, ayah mereka berdua, berbisik pelan di telinga Kyuhyun ketika mereka mendekat, “Mengapa kalian lama sekali?”
Kyuhyun tersenyum simpul, “Tadi ada sedikit masalah kecil.”
Cho Taewoo mengangguk dan kembali duduk sambil menghela napas lega. Dia sudah takut jika Kyuhyun akan kabur dari pernikahan ini. Entah dimana dia harus menyembunyikan wajahnya jika hal itu sampai terjadi. Dari semua yang hadir, kebanyakan adalah relasi bisnisnya, pemegang posisi dan jabatan penting dari berbagai perusahaan terkemuka di Korea, orang-orang dari kalangan atas. Apalagi disana juga hadir keluarga besar Kim, para saudara dari mendiang istrinya, orang-orang yang menyimpan dendam kepadanya. Tak bisa dibayangkan seberapa terbahaknya mereka akan tertawa jika Kyuhyun benar-benar kabur dari pernikahan ini.
*
__ADS_1