
Hyunjin dan Minho sedang duduk di sofa ruang keluarga sambil menonton TV. Sejak tadi Hyunjin hanya diam saja, Minho jadi heran melihat kakaknya seperti itu. Biasanya ia sangat cerewet, sedikit-sedikit mengomelinya. Tapi sekarang gadis itu hanya diam saja tak mengeluarkan suara. Bahkan Minho sadar betul tadi itu suara Hyunjin terdengar bergetar, seperti habis menangis. Tapi Minho tak mau bertanya banyak, jika Hyunjin sedang diam seperti ini berarti ia sedang ada masalah.
“Minho-ya, apa kau pernah jatuh cinta?” Hyunjin bertanya ragu, ia sama sekali tak pernah bicara masalah percintaan dengan adiknya ini.
Minho mengangguk, “tentu saja. Aku sudah 17 tahun, itu bukan barang baru bagiku.”
“Mwo?” Hyunjin terbelalak menatap Minho, “Jadi kau sudah pernah punya yeojachingu?” tanya Hyunjin penasaran.
Lagi-lagi Minho mengangguk, “kau tak pernah remaja ya noona? Tentu saja aku sudah pernah pacaran.” Hyunjin semakin menatapnya kaget. Ia tak pernah tahu hal itu, Minho tidak pernah cerita padanya.
“lalu, jika ada dua yeoja yang suka padamu dalam waktu yang bersamaan bagaimana? yeoja yang satu menyukaimu, tapi yeoja yang satunya lagi belum tentu tulus menyukaimu tapi kau juga suka pada yeoja itu.”
Minho mengernyitkan dahinya bingung, “aku tak mengerti ucapanmu noona, jangan berbelit begitu.”
“ah, begini. Kau suka pada seorang yeoja, dia belum tentu suka juga padamu. Dan di waktu yang sama ada seorang yeoja yang menyatakan cinta padamu. Kau akan memilih yang mana?” Hyunjin menatapnya penuh harap. Siapa tahu dia akan mendapatkan solusi dari Minho.
Minho teridiam sejenak, berusaha berpikir. “aku akan memilih yeoja yang kusukai.” Jawab Minho cepat.
“kenapa begitu?”
“begini, kalau aku memilih yeoja yang suka padaku itu, mungkin akan baik karena ia juga menyukaiku. Tapi bukankah itu malah akan menyakitinya karena aku suka pada yeoja lain? aku juga akan menyakiti perasaanku sendiri.”
“woahh.. pemikiranmu dewasa sekali. Aku tak pernah menyangka Minho-ya.” Hyunjin menatap adiknya takjub. Kini ia mulai mendapat sedikit pencerahan dari adiknya itu.
“aish, kau berlebihan noona. Aku bahkan pernah berhadapan dengan masalah yang lebih rumit lagi.”
“apa?”
__ADS_1
“bukan hanya dua yeoja, tapi empat yeoja yang menyukaiku, sedangkan yeoja yang ku taksir sudah punya namjachingu. Bukankah itu sangat memusingkan?”
“Mwo? Kau mau jadi playboy apa? dasar anak kecil.”
“Ya! berhenti mengataiku anak kecil! Aku sudah pacaran lebih banyak darimu, noona. Ah, aku bahkan belum pernah sekalipun mengetahui kau punya pacar. Apa kau menerima perjodohan karena kau tidak laku?” Minho langsung berlari ke dalam kamarnya setelah mengatakan kata-kata itu. Ia tak mau menjadi korban amukan sang kakak.
“AWAS KAU CHOI MINHO!”
Diam-diam Hyunjin tersenyum, ia sudah tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Ia harus mengambil tindakan sendiri, masalah tak akan selesai jika ia hanya diam saja dan menerima keadaan.
_
Hyunjin berjalan sedikit ragu masuk ke dalam cafe yang sudah beberapa hari ini tidak dikunjunginya. Ia jadi merasa canggung, seolah asing dengan tempat ini.
“kau datang? aku kira kau sudah tak akan kesini lagi.” seseorang menepuk bahunya dari belakang.
“hahaha.. sedang apa disini? sebagai pelanggan atau karyawan?” tanya Jongwoon berusaha menggoda.
“seragamku masih ada kan?” tanya Hyunjin ragu.
Jongwoon langsung mengangguk sambil tersenyum, “Tentu saja.”
Hyunjin segera berganti baju. Dilihatnya keadaan sekitar, Kyuhyun tak ada dimana-mana. ‘Pasti ia belum datang’ pikir gadis itu.
Hyunjin segera melaksanakan tugasnya seperti biasa. Tapi kali ini berbeda, karena ia melakukannya dengan senang hati, bukannya terpaksa dan bersungut-sungut mengeluh seperti biasanya.
“Ryeowook-ah, tiramissue untuk meja nomor 3. Apakah bisa cepat?” Hyunjin langsung menengok begitu mendengar suara itu, matanya membulat kaget. Dia datang, akhirnya dia datang juga. Mengapa Hyunjin tak tahu sejak tadi?
__ADS_1
“Hyunjin..” Kyuhyun terlihat kaget melihat Hyunjin sedang berdiri di dapur.
“Ryeowook sedang belanja, aku akan menyiapkannya. Kau tunggu saja dulu.” Hyunjin dengan cekatan segera menyiapkan cake tiramissue pesanan yang diminta Kyuhyun. Kyuhyun hanya bisa terdiam mengamati gerak-gerik Hyunjin. Ia tersenyum diam-diam, merasa senang akhirnya bisa juga melihat gadis itu lagi di tempat ini. Bukankah itu artinya ia bisa punya banyak waktu bersama Hyunjin?
“ini..”Hyunjin menyerahkan nampan berisi dua piring kecil cake itu, Kyuhyun malah diam tak bergeming.
“Kyu.. ini.”
“oh, maaf. Baiklah, terima kasih.” Kyuhyun menerimanya kikuk kemudian berjalan pergi.
Hyunjin hanya bisa memandangnya bingung, ‘ada apa dengan namja itu? ia seperti habis melihat hantu saja. Apa karena melihatku? tapi aku kan bukan hantu.’
_
“kenapa kau bisa disini? bukankah..”
Belum sempat Kyuhyun menyelesaikan omongannya, Hyunjin segera memotong. “dalam perjanjian, masih ada tiga hari aku harus bekerja disini.”
“kau bisa menganggap perjanjian itu batal kalau kau mau.” ucap Kyuhyun sambil duduk di kursi. Sekarang sedang jam istirahat, dan kebetulan tak ada pengunjung yang datang.
“perjanjian kita tak pernah batal.”
“kau menyiksa dirimu sendiri.”
“aku melakukan ini agar bisa bertemu denganmu.”
“Mwo?”
__ADS_1