
Hyunjin duduk dengan gugup, ia merasa sangat cemas. Bagaimana jika Kyuhyun tidak datang? Bagaimana jika namja itu memilih untuk kabur karena tak berani muncul di hadapan ayahnya? Bagaimana jika-
Suara bel di pintu depan segera membuyarkan segala pemikiran buruknya. Hyunjin berjalan ke arah pintu, dengan was-was ia melihat ke intercom. Gadis itu langsung bernafas lega saat dilihatnya ternyata Kyuhyunlah yang ada di sana.
Dengan tangan yang sudah berkeringat dingin, Hyunjin membuka pintu. Ia sedikit tertegun melihat penampilan Kyuhyun yang terlihat lebih formal dari biasanya. Namja itu bukannya memakai pakaian yang mencolok, hanya kemeja yang lengannya digulung hingga siku, tapi sudah bisa membuatnya terlihat sangat tampan. Entah mengapa hari ini Hyunjin tak henti-hentinya terus memuji ketampanan Kyuhyun –meskipun hanya dalam hati.
“Kau datang?”
“kenapa reaksimu begitu? Kau tak senang?”
Hyunjin menggeleng, “mana mungkin? masuklah! Aku tahu di luar sangat dingin.”
Kyuhyun mengikuti Hyunjin masuk ke dalam rumah, setelah menyerahkan sebuah bingkisan padanya.
“apa dia sudah datang, sayang?” ibu Hyunjin keluar dari dapur, tak sabar dengan kedatangan Kyuhyun. Hyunjin sudah memberitahu kedua orang tuanya jika Kyuhyun akan datang malam ini, dan hal itu disambut baik oleh ibunya. Wanita itu bahkan sampai menyuruh Hyunjin berbelanja banyak untuk memasak hidangan spesial untuk makan malam. Tapi ayah Hyunjin hanya mengangguk saja saat Hyunjin menyampaikan bahwa Kyuhyun akan datang. Ia jadi cemas jika saja ayahnya tak menyukai Kyuhyun nanti. Bagaimana jika mereka tak di restui? Apakah mereka harus memilih untuk kabur dan hidup bahagia jauh dari orang tuanya?
‘YA! pikiranmu terlalu jauh, bodoh!’ Hyunjin tersadar dari lamunan anehnya.
“annyeong ahjumma.” Kyuhyun tersenyum sambil membungkuk sopan. Ibu Hyunjin ikut tersenyum menyambutnya.
“oemma..” Hyunjin mengedikkan kepalanya ke arah sang ibu, memberi isyarat. Wanita itu masih memakai celemeknya sehabis dari dapur.
“ah, maaf. Oemma hanya terlalu senang Kyungjun akan datang, oemma sudah tak sabar ingin bertemu dengan calon menantu.”
“namanya Kyuhyun, oemma.. bukan Kyungjun.” Hyunjin ingin sekali menyembunyikan wajahnya di lemari. Bukan karena ibunya yang lupa melepas celemeknya, tapi dua kata terakhir yang di ucapkan ibunya tadi benar-benar membuatnya malu pada Kyuhyun. ‘oemma, kenapa kau bicara seperti itu?’
“oh? Haha.. maaf, oemma lupa.” Ibu Hyunjin tertawa, sambil menutup mulutnya dengan tangan. “Makan malam sudah siap, cepatlah ke meja makan.”
___
“jadi, siapa namamu?” pria paruh baya itu memandang Kyuhyun tajam, membuat Kyuhyun jadi merasa sedikit gugup berhadapan dengannya. Mereka hanya bicara berdua setelah selesai makan malam tadi.
“Cho Kyuhyun, ahjussi.” Jawab Kyuhyun berusaha tenang.
“kau masih kuliah atau sudah bekerja?”
“saya masih kuliah.. di jurusan kedokteran.”
“oh, begitu?”
“nde..”
Hyunjin mengintip mereka dari dapur, sedikit cemas melihat Kyuhyun yang sepertinya terlihat gugup dengan ayahnya.
“sedang apa kau disitu Hyunjin-ah? Cepat bantu oemma mencuci piring!” ibu Hyunjin yang sedang membereskan meja makan memanggilnya galak. Gadis itu di suruh mencuci piring, malah diam-diam mengintip dari balik tembok.
__ADS_1
“nde oemma!”
Kyuhyun masih diam, menunggu pria di hadapannya melontarkan pertanyaan lagi. Ia tak tahu harus bicara apa jika tidak di tanya. Ini pertama kalinya ia berhadapan dengan ayah kekasihnya.
“lalu bagaimana dengan orang tuamu?”
Kyuhyun terdiam sejenak, berpikir jawaban seperti apa yang akan ia berikan. Ia tidak mungkin mengatakan masalah keluarganya pada ayah Hyunjin, setidaknya sekarang bukanlah waktu yang tepat.
“sudah tiga tahun ini saya tidak tinggal dengan mereka lagi. Tapi secepatnya mungkin saya akan memberitahu hubungan saya dengan Hyunjin pada mereka.” Kyuhyun tersenyum getir, apa ayahnya masih akan peduli dengan kehidupan pribadinya nanti? Ah, iya sama sekali tak sanggup memikirkan hal itu.
“Apa kau sungguh-sungguh mencintai Hyunjin?” tanya pria itu lagi, membuat Kyuhyun menggerakkan kepalanya menghadap pria itu. Tatapannya terlihat sangar, sejak tadi Kyuhyun tak berani menatapnya langsung.
Kyuhyun menganggukkan kepalanya, “tentu saja. Saya sungguh-sungguh, saya tak mungkin hanya mempermainkannya.”
“kalau begitu jaga ia baik-baik, jangan sakiti Hyunjin. Dia mungkin terlihat kuat dari luar, tapi percayalah, hatinya itu sangat rapuh. Ahjussi harap kau bisa mencintainya dengan tulus.” tatapan Tuan Choi berubah teduh, bibirnya tergerak membentuk senyuman.
Kyuhyun balas tersenyum, wajahnya langsung berubah cerah, “tentu saja, ahjussi.”
___
“hei, tadi ayahku bicara apa saja denganmu?” Hyunjin menyenggol lengan Kyuhyun, raut wajahnya terlihat sangat penasaran. Mereka kini sedang di depan rumah, Hyunjin mengantar Kyuhyun yang akan pulang.
“mm.. itu rahasia. Kau tak boleh tahu.” Kyuhyun tersenyum misterius, membuat Hyunjin langsung meninju lengannya.
“pelit!”
“appa tidak bicara apa-apa tentangku kan? misalnya tentang sesuatu yang buruk?” Hyunjin memandang Kyuhyun ragu.
“ah, dia bilang kalau kau suka mendengkur waktu tidur, kau biasanya menangis kalau permintaanmu tidak di turuti.”
“Ya! bohong! Aku tak seperti itu. Kau hanya mengarang saja kan?”
“hahaha..” Kyuhyun tertawa puas, “Tentu saja tidak. Appamu bilang, aku harus menjagamu baik-baik.” Hyunjin mengerucutkan bibirnya, merasa kesal dengan Kyuhyun. Namja itu suka sekali mengerjainya.
“baiklah, aku pulang dulu.”
Hyunjin mengangguk, lalu matanya terarah pada sebuah motor sport yang terparkir di depan, “Kau bawa motor?”
“Ya. Sampai jumpa..” Kyuhyun tersenyum, Hyunjin hanya mengangguk.
Motor Kyuhyun melaju meninggalkan halaman rumah Hyunjin. Hyunjin terus memandangi kepergiannya hingga Kyuhyun tak terlihat lagi. Ia tersenyum senang, ternyata semua berjalan lancar lebih dari yang ia harapkan. Sepertinya ayahnya setuju dengan hubungan mereka. Dengan begini, apa lagi yang bisa menjadi rintangan untuk hubungan mereka? Sepertinya sudah tak ada.
___
Kyuhyun baru saja menghempaskan tubuhnya untuk tidur di ranjang, ketika suara bel di pintu apartemennya berbunyi. Siapa tamu yang datang malam-malam begini? Benar-benar mengusik waktu tidurnya.
__ADS_1
Dengan malas-malasan Kyuhyun berjalan ke arah depan. Kalau orang itu tak punya urusan yang benar-benar penting, Kyuhyun berniat akan langsung mengusirnya nanti. Ia langsung saja membuka pintu, tanpa melihat dulu siapa yang datang. Ia benar-benar sedang tidak ingin meladeni tamu saat ini, biar siapapun itu.
“annyeong..” orang di luar tersenyum ramah, mengangkat satu tangannya ke atas sebagai salam pertemuan. Kyuhyun terdiam, sedang berfikir akan mempersilakan pria di depannya itu untuk masuk atau tidak. Kyuhyun mengurungkan niatnya untuk mengusir tamu itu.
“kau tak akan membiarkanku terus berdiri disini kan?” tanya pria di depannya sambil masih tersenyum, membuat Kyuhyun langsung tersadar ia terlalu lama memberikan respon sejak mendapati Hangeng berdiri di depan pintu apartemennya.
“masuklah hyung.” Perintah Kyuhyun sopan. Ia memberi ruang agar Hangeng bisa masuk, lalu menutup pintu setelahnya. Pria itu segera duduk di sofa setelah Kyuhyun mempersilakannya.
Sambil menunggu Kyuhyun yang sedang mengambilkan minuman di dapur, Hangeng mengedarkan pandangannya ke sekeliling, melihat-lihat isi tempat tinggal yang sudah didiami Kyuhyun selama tiga tahun ini. Apartemen yang sangat sederhana –bahkan terlalu sederhana untuk di tempati seorang anak dari pengusaha kaya seperti Kyuhyun.
“jadi, kau hanya sekedar mampir.. atau..“ Kyuhyun langsung menembaknya dengan sebuah pertanyaan begitu datang membawakan minuman. Hangeng menoleh cepat, mendapati Kyuhyun sudah duduk di sampingnya.
“hanya membawa kabar dari ayahmu.” Ucap Hangeng singkat, Kyuhyun hanya membulatkan mulutnya sambil mengangguk kecil. Tapi di wajahnya langsung tergambar jelas raut ingin tahu.
“apa kau masih berpikir hidupmu yang sekarang jauh lebih baik?”
Kyuhyun menaikkan sebelah alisnya mendengar pertanyaan Hangeng, lalu ia diam sejenak memikirkan jawabanya. “kira-kira begitulah.” Jawabnya sambil mengedikkan bahu.
“kau tahu kan, kau tak punya pilihan? Hidupmu sudah di tentukan, bahkan sejak kau masih ada di rahim ibumu.”
Kyuhyun mendengus kecil, ia tahu kemana arah pembicaraan Hangeng kali ini. “bukankah kita sudah membahas ini sebelumnya, hyung?”
“ayahmu sudah tahu, ia tahu dimana keberadaanmu sekarang.” Hangeng menatap intens pada Kyuhyun, menampakkan raut menyesal pada Kyuhyun.
“ya, aku sudah tahu. Jino yang memberitahuku.”
“benarkah?” Hangeng terpekik, merasa terkejut. Lalu jika sudah tahu, kenapa Kyuhyun masih bisa tenang-tenang saja seperti ini?
“katanya ia hanya mengawasiku saja. Bukankah itu berarti aku kembali atau tidak, semuanya akan sama saja? ia tak memaksaku untuk kembali.” Kyuhyun mengeluarkan argumennya, terlihat sangat yakin. Tapi Hangeng langsung menggeleng kuat, Kyuhyun salah jika mengira ayahnya sudah menyerah dan menyatakan ‘damai.’ Justru tindakan yang sebenarnya baru saja ingin ia mulai.
“Ia tetap menginginkanmu kembali.”
“seberapa kerasnya kalian memaksaku, aku tak akan mau.” ungkap Kyuhyun kekeuh. Ia sudah bosan dengan ini semua. Mengapa mereka tak bisa mendengarkan keinginannya? Ia memang sempat berpikir untuk kembali, mengingat perusahaan milik kakeknya yang sedang dipimpin ayahnya sekarang ini akan terancam di ambil alih orang lain jika ia tak kembali. Tapi untuk apa semua itu? ia tahu ayahnya orang yang ambisius, ayahnya pasti akan berusaha untuk mempertahankan perusahaan itu. Lagipula ayahnya punya kekuasaan yang sangat kuat di sana, tak mungkin semudah itu ia dikalahkan.
Hangeng menarik nafasnya perlahan, mencoba merilekskan dirinya. Kyuhyun terlalu santai, ia bahkan sama sekali tak menganggap serius permasalahan ini. “ia memberikan pilihan.” Ungkap Hangeng akhirnya.
“Mwo?” Dahi Kyuhyun mengerut, apa lagi kali ini?
“kau kembali dan meneruskan keinginannya untuk belajar memimpin perusahaan-“ ia menatap Kyuhyun, dan pemuda itu langsung mendecak sambil menggelengkan kepalanya. Seharusnya Hangeng sudah tahu jelas itu tak mungkin.
Hangeng melanjutkan, “-atau tetap menjadi yang kau inginkan, tapi kau harus menikah dengan Jung Yeoram.”
“MWO?” kali ini keterkejutan di wajah Kyuhyun benar-benar terlihat jelas. Matanya membulat besar mendengar hal barusan. “apakah abonim pikir hidupku ini sebuah permainan?”
“tenang dulu Kyu. Aku tahu kau pasti tak akan mau. Tapi pikirkanlah, itu jauh lebih baik daripada kau terus hidup seperti ini. Kau hidup dalam pelarian, pelarian dari kenyataan hidupmu, dan tentunya kau tak mau selamanya seperti ini kan? belum lagi banyak orang yang ingin menyingkirkanmu.”
__ADS_1
“tapi-“
“pikirkanlah apa yang terbaik untuk hidupmu.”