
Kyuhyun mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja, merasa bosan karena orang yang sejak tadi di tunggunya tidak kunjung muncul juga. Mengapa jadi ia yang harus menunggu seperti ini? Padahal orang itu yang punya keperluan dengannya.
Sekali lagi namja itu melirik arloji di pergelangan tangannya. Ia bertekad, satu menit lagi orang itu tak datang, pertemuan mereka batal. Ia punya banyak pekerjaan di cafe, dan terpaksa harus ditinggalkannya untuk urusan “tidak penting” ini.
“Hyung!”
Kyuhyun baru saja akan beranjak pergi saat di dengarnya suara seseorang menyeruak memanggilnya. Mau tidak mau ia memposisikan tubuhnya untuk duduk kembali.
“mianhae aku terlambat.” Ucap namja yang baru datang itu dengan nafas tersengal-sengal, terlihat sekali ia sedang burur-buru tadi.
“untung aku masih berbaik hati mau menunggumu.” sergah Kyuhyun sinis sambil melipat kedua tangannya di depan dada, bersikap seangkuh mungkin pada orang yang sudah membuatnya kesal ini.
“ah, aku hanya terlambat dua puluh menit.” Namja itu tersenyum tak berdosa, tidak menyadari Kyuhyun yang sudah berwajah masam sejak kedatangannya tadi.
“baiklah, jadi kau mau apa menemuiku?” tanya Kyuhyun langsung.
“ish, kita bahkan baru saja bertemu. Kau tidak rindu padaku hyung?” namja itu tertawa kecil sambil meninju pelan bahu Kyuhyun.
Kyuhyun ingin sekali balas tersenyum, tapi berusaha ditahannya senyum itu. Sekarang bukan saatnya untuk saling meluapkan kerinduan. Ia tahu namja di depannya ini punya niat khusus bertemu dengannya.
“katakan saja Jino-ya, apa maumu menemuiku?”
“hyung..”
“aku bukan hyungmu.” Potong Kyuhyun cepat, tapi ia bisa langsung menyadari raut wajah Jino yang sudah berubah.
“setidaknya secara hukum kita saudara kan?” Jino memaksakan dirinya untuk tertawa.
Kyuhyun sedikit menyesal menyinggung hati adik tirinya itu. Memang mereka bukanlah saudara kandung, tapi sejak kecil keduanya sudah dekat. Ia bahkan lebih dekat dengan Jino daripada dengan ayahnya sendiri. Tapi hubungan mereka semakin merenggang akibat perpecahan di keluarga mereka, ketika Kyuhyun memutuskan untuk angkat kaki dari rumah ayahnya dan menghilang bagai di telan bumi tiga tahun lalu.
“ku lihat kau semakin banyak berubah. Kau semakin kurus saja hyung.” Gurau Jino berusaha menghilangkan ketegangan di antara mereka berdua.
Mau tidak mau Kyuhyun tersenyum juga akhirnya, “aku merindukanmu.”
Jino sedikit kaget mendengar pernyataan hyungnya itu, namun seulas senyum kembali ia tampilkan. “apalagi aku. Oh, kau tak tahu saja sejak kau pergi abonim jadi semakin tegas padaku. Mungkin ia takut aku akan kabur juga sepertimu.” Lagi-lagi Jino tertawa, seolah ucapannya tadi hanya ucapan ringan biasa. Kyuhyun mentapnya iba, ia tahu sejak ia pergi pasti semua tanggung jawab yang dibebankan ayahnya padanya akan dilimpahkan sepenuhnya pada Jino.
“maaf karena pergi begitu saja waktu itu.” ucap Kyuhyun lirih.
Jino mengibaskan tangannya “sudah, tak apa-apa. Yang penting sekarang kita bertemu lagi kan?”
__ADS_1
“nde.. Ah, lalu bagaimana dengan abonim? Ia tahu kau menemuiku?”
Jino menatapnya tak percaya, kemudian mengetuk-ngetuk dahinya beberapa kali. “aigo hyung.. ia bahkan mungkin sedang mengawasi kita saat ini.”
“Mwo?”
“kau tak sadar? Ia menyebar mata-mata untuk mengintaimu, dan mungkin itu sudah berjalan beberapa bulan ini. Tapi ada satu hal yang ingin ku katakan.” Jino menampakkan wajah seriusnya.
“apa?”
Jino mendekatkan kepalanya ke arah Kyuhyun, “keselamatanmu sedang terancam, itulah sebabnya abonim menyuruh orang untuk mengawasimu. Kau dalam bahaya, hyung.” Bisiknya sepelan mungkin.
“aku tak mengerti. Kalau yang kau maksud adalah abonim yang ingin membawaku kembali, itu sudah ia lakukan. Ia sudah mengutus orang untuk membawaku kembali.”
“kau bercanda? ia bahkan tak sekalipun ‘mengusikmu’. Maksudku.. aku tahu apa yang dilakukan abonim selama ini. Ia hanya menyuruh orang untuk mengawasimu, tak lebih.”
Raut wajah Kyuhyun semakin menampakkan kebingungan. Ia belum mengerti arah pembicaraan Jino.
“Jadi, dengan kata lain.. ada orang lain yang bermaksud mencelakakanmu.” Simpul Jino yang kini bisa dimengerti sepenuhnya oleh Kyuhyun.
“Mwo? Tapi untuk apa?”
“aku juga tak yakin, abonim sama sekali tak mau memberitahukan apa-apa padaku. Tapi menurutku..” Jino mengehela nafas sejenak kemudian menyesap espresso milik Kyuhyun yang masih utuh –karena Kyuhyun belum meminumnya sama sekali- tapi sudah mulai mendingin. Kyuhyun semakin memandangnya serius, menuntut penjelasan lebih lanjut mengenai hal yang dibicarakan Jino saat ini.
“bagaimana jika aku tak akan kembali dan mengambil alih perusahaan kakekku – maksudku Tuan Kim?”
“abonim mungkin akan kehilangan perusahaan itu.”
_
Kyuhyun menendang-nendang kerikil di depannya. Ucapan Jino tadi masih menari-nari di dalam pikirannya. Ternyata bukan ayahnya yang waktu itu mengirimkan tukang pukul untuk membawanya. Ia jadi menyesal telah berpikiran buruk tentang ayahnya sendiri. Walau hubungan Kyuhyun dengan sang ayah kurang baik selama ini, tapi tak mungkin ia setega itu pada anaknya. Ia bahkan tak pernah memukul Kyuhyun seumur hidupnya, hanya satu tamparan diwajah saat Kyuhyun memutuskan pergi dari rumah. Hanya itu, dan ia tahu sekarang mengapa ayahnya mati-matian menyuruhnya tetap tinggal. Ternyata ini semua juga demi dirinya, demi perusahaan kakeknya.
Bagaimana jika ayahnya kehilangan perusahaan itu? itu adalah perusaahan yang di rintis oleh kakek dari ibunya, dan sang ayah sudah mengabdikan dirinya disana sejak beliau masih muda.
Kyuhyun bimbang. Di satu sisi ia ingin sekali membantu ayahnya, tapi disisi lain ia juga ingin mendapatkan apa yang diinginkannya selama ini. Tidak lama lagi ia sudah bisa menyelesaikan kuliah kedokterannya, ia tak mungkin melepasnya begitu saja. Hal itu sudah dipertahankannya hingga kini. Ia tak mau semuanya jadi sia-sia.
‘apa yang harus kulakukan?’ Kyuhyun mendesah frustasi sambil terus menendangi kerikil di depannya. Pikirannya terlalu kacau saat ini, sampai-sampai ia tak sadar seseorang sedang berjalan mendekatinya.
“Kyuhyun..”
__ADS_1
Langkah Kyuhyun terhenti, ia menatap ke depan dan dilihatnya Hyunjin sedang berdiri di hadapannya.
“hai..” sapa Hyunjin sambil tersenyum paksa, Kyuhyun balas tersenyum tipis.
“kau sedang apa disini?” tanya Kyuhyun tiba-tiba, Hyunjin sedikit kaget karena namja itu membalas sapaannya, bukan malah mengusirnya seperti apa yang ia takutkan di awal. Bukankah Kyuhyun sudah bilang tak ingin melihat gadis itu lagi dihadapannya? Tapi Hyunjin senang, setidaknya Kyuhyun masih mau menganggap kehadirannya.
“hanya kebetulan lewat. Kau sendiri?”
“ingin mencari udara segar.”
Sejenak keheningan kembali terjadi di antara mereka. Keduanya masih merasa canggung, mengingat hal-hal yang terjadi di antara mereka akhir-akhir ini. Padaha sebelumnya setiap bertemu pasti akan selalu di warnai dengan adu mulut, mereka tak pernah akur sekalipun. Tapi kini? Bahkan saling menyapa saja rasanya sangat canggung.
“lama tak bertemu.” ucap Hyunjin akhirnya, tak tahan dengan kesunyian di antara mereka.
“bukankah semalam kita baru bertemu?” Kyuhyun terkekeh, ada-ada saja gadis ini.
“ah, kau benar..” Hyunjin menggaruk tengkuknya salah tingkah. Sebenarnya ia hanya bicara asal saja. Paling tidak, ada hal yang bisa mereka obrolkan saat ini. Hyunjin hanya ingin lebih lama lagi bersama Kyuhyun.
“maaf Hyunjin-sshi, aku harus pergi. Sampai jumpa lain waktu.” Kyuhyun berjalan pergi, melewati Hyunjin begitu saja. Gadis itu hanya mengangguk sekali, tak sanggup hanya sekedar mengatakan “ya” sekalipun.
‘bahkan sekarang ia memanggil namaku dengan benar?’ gumam Hyunjin dalam hati.
Bagaimana perasaan Kyuhyun yang sebenarnya padanya? gadis itu masih saja bingung. Jika ia hanya mempermainkannya, tak mungkin ia masih mendiamkannya hingga sekarang. Kalau ia hanya main-main waktu itu, bukankah seharusnya hubungan mereka kembali “normal”? tapi kini Kyuhyun berubah, menganggap Hyunjin seperti orang yang baru saja dikenalnya.
Jika ungkapannya cintanya waktu itu benar-benar jujur, mengapa Kyuhyun malah berbalik bersikap seperti ini? Hyunjin berpikir, mungkin karena Kyuhyun tahu tentang perjodohannya dengan Donghae. Tapi Kyuhyun bahkan belum mendengar jawaban dari gadis itu. Mengapa ia bisa menarik keputusan secara sepihak? Tak sekalipun ia memberi kesempatan pada Hyunjin untuk menjelaskan, menjawab perasaannya pada Kyuhyun.
Tanpa sadar lagi-lagi Hyunjin meneteskan air matanya, ia menangis dalam diam. Ia jadi sangat cengeng akhir-akhir ini, dan semua ini karena Kyuhyun? Ya Tuhan.. ia bahkan belum pernah sekalipun menangis karena patah hati saat Donghae menolaknya waktu itu. Tapi kini saat Kyuhyun menghindarinya, rasanya benar-benar sakit. Sakitnya sampai menusuk ke dada, membuatnya sesak untuk bernafas.
“Noona!”
Hyunjin menoleh ke arah suara itu berasal, ternyata Minho. Buru-buru ia menghapus air mata yang mulai mengalir di pipinya.
“Ya! kau bilang hanya sebentar, kenapa lama sekali? Sedang apa noona disini?” Minho merecokinya dengan pertanyaan yang bahkan belum sempat di jawab Hyunjin satu persatu. “Omo! Kau menangis noona?”
“kau sudah selesai makan ice creamnya?” tanya Hyunjin sambil berusaha mengendalikan suaranya yang mulai terdengar tercekat akibat tangisnya tadi. Ia sama sekali tak mempedulikan pertanyaan Minho. Bagaimana mungkin ia akan bilang ia menangis karena seorang namja? Minho pasti akan menertawakannya habis-habisan.
“nde, dan aku harus membayar semuanya dengan uangku sendiri.” Minho memasang tampang kesal, sama saja bukan Hyunjin yang mentraktirnya kalau begitu.
“ah, baiklah. Kalau begitu nanti noona akan mengganti uangmu. Sekarang sebaiknya kita pulang. Kau tidak berpikir untuk makan sesuatu lagi kan?” Hyunjin menatapnya was-was, takut jika saja Minho masih merasa lapar dan minta ditraktir makanan lain.
__ADS_1
Minho menggeleng, “tidak. Nanti saja kita makan di rumah. Oemma juga pasti akan marah kalau kita tidak menghabiskan masakannya.”
“ya, kau benar. Kajja!”