Bukan Dia

Bukan Dia
4


__ADS_3

“Mwo? Jadi namja yang dijodohkan denganmu adalah Donghae sunbae?” jerit Jiyoo saat kami duduk-duduk di bawah pohon saat sedang tidak ada jam kuliah.


Aku segera membekap mulutnya dengan kalap, “bisakah kau tidak berteriak seperti itu? bisa gawat kalau sampai ada yang dengar.” Ia mengangguk, kemudian aku melepaskan tanganku dari mulutnya. Ia langsung mengambil nafas, menghirup udara sebanyak-bayaknya. “kau mau membunuhku huh?” protesnya.


“habis kau berteriak seperti itu.”


“Bukannya harusnya kau senang ? kau suka pada Donghae sunbae kan? kau sendiri yang bilang akan sangat bahagia kalau yang di jodohkan denganmu adalah dirinya.”


“begitulah.. tapi masalahnya dia tak suka padaku.” Ratapku miris.


“Jadi, dia menolak di jodohkan denganmu?” tanyanya lagi.


Aku mengangguk, “sudah jelas sekali ia sangat tak ingin di jodohkan, apalagi denganku.”


Tiba-tiba Donghae datang, dan entah ada hal apa ia mengajakku bicara. “bisa kita bicara sebentar? Ada yang ingin kukatakan.”


“nde” aku mengangguk setuju dan mengikutinya ke tempat yang tidak terlalu banyak orang.


Donghae menghela nafas berat sebelum berbicara, sepertinya ia terlihat ragu. “aku hanya minta satu hal padamu. Kau harus menolak perjodohan ini. kurasa mereka tidak akan meneruskannya jika kita sama-sama menolaknya.”


‘Tidak! Kau salah! Aku sama sekali tidak menolaknya. Aku mencintaimu Lee Donghae!’ tolakku tapi tentu saja hanya dalam hati. Aku tidak mau perjodohan ini di batalkan. Tapi untuk apa kalau dia tidak mencintaiku? Itu sama saja cintaku bertepuk sebelah tangan.


“hei.. kau mendengarku tidak?” ia mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahku, membuatku tersadar dari lamunanku tadi.

__ADS_1


“Nde, baiklah. Aku akan bicara pada orang tuaku dan juga orang tuamu untuk membatalkan perjodohan ini. kita juga tak bisa meneruskannya jika tak saling cinta kan?” ucapku sambil tertawa garing. munafik! Ini benar-benar bukan perasaanku yang sebenarnya.


“ya.. kurasa sebaiknya begitu. Lagipula, aku juga sudah mencintai gadis lain. Dan aku yakin kau juga pasti mencintai orang lain kan?” tatapan matanya kini menjadi teduh, tidak lagi sinis seperti tadi. Dia sudah mencintai gadis lain? daebak! Berarti hanya aku saja yang terobsesi pada cintanya. Dan dia bilang apa tadi? Aku memang mencintai seseorang, tapi itu kau Lee Donghae!


“Baiklah, aku pergi dulu. ku harap kita bisa berteman setelah ini.” ia tersenyum, lagi-lagi senyuman itu yang paling kusukai darinya.


“Tentu saja.”


Ia langsung berbalik pergi. Aku bohong kalau ku bilang aku baik-baik saja. Siapa yang tak sedih jika kau ditolak bahkan sebelum menyatakan perasaanmu pada orang yang kau cintai? Aku bahkan tak tahu bagaimana perasaan mencintai seseorang sampai sedalam ini sebelum dia hadir di hidupku. salahkah jika aku mencintainya yang sama sekali tak ada perasaan apa-apa padaku?


Aku berjalan lunglai menuju tempat Jiyoo yang dengan setia masih menungguku. Ia langsung menyambutku dengan serentetan pertanyaan begitu aku duduk di sebelahnya. “apa yang dikatakannya? Apakah dia menyesal menolak perjodohan dan akhirnya setuju?” tanyanya antusias.


“sama sekali tidak.”Aku hanya menggeleng lemah, andai saja kenyataannya seperti itu.


“lalu?” gadis ini sepertinya benar-benar penasaran. Aigo.. kenapa dia yang excited sekali?


“dan kau menyetujuinya?”


“mau bagaimana lagi? aku kan tidak mungkin menikah dengannya kalau dia tidak suka padaku.” Ucapku sambil menghembuskan nafas berat. Rasanya sulit sekali untuk menghirup oksigen sekarang. “Jiyoo.. Ayo temani aku makan.”


“baiklah, ke cafe yang biasanya saja ya?” ujarnya memberi usul.


“Terserah kau saja. Aku benar-benar sedang pusing sekarang.”

__ADS_1


À


Sedari tadi aku hanya bisa diam sembari memandang ke luar jendela. Tak ku pedulikan Jiyoo yang sejak tadi berkomat-kamit mengajakku berbicara. Ia semangat sekali menceritakan tentang anak kucingnya yang baru melahirkan, padahal ia tahu aku sama sekali tak akan tertarik dengan hal itu. Ia pasti hanya ingin menghiburku agar tak terlalu sedih dengan masalahku.


“hei, lihat wanita itu. astaga.. dia sudah cukup tua tapi dandanannya seperti anak muda saja. aneh sekali wanita itu. Jiyoo terkikik geli memandangai wanita dengan dandanan mencolok yang sedang duduk berdua dengan seorang pria yang jauh lebih muda.


“hah.. pacarnya masih muda sekali. Jangan-jangan sekarang sedang trend pria muda yang pacaran dengan ahjumma-ahjumma.” Ia geleng-geleng kepala mengetahui kenyataan dunia ini yang semakin aneh.


“jiyoo-ya, aku ke toilet dulu ya?” Jiyoo hanya merespon dengan anggukan.


À


Setelah dari toilet, aku berjalan tergesa-gesa hingga tidak memperhatikan jalan. Tiba-tiba saja seorang pelayan sudah berada di depanku. ia membawa setumpuk piring di kedua tangannya. Dan tanpa bisa kucegah, aku langsung menabraknya.


“ya! apa kau tidak punya mata?” bentaknya kesal dan geram. Aku hanya bisa membungkuk berkali-kali untuk meminta maaf. “jweisonghamnida.. aku tidak sengaja.”


“Kau pikir maaf saja cukup? Memangnya piring-piring ini akan kembali utuh seperti semula dengan kata maafmu huh?” ujarnya sengit, terlihat sekali kalau ia sedang marah besar. Ku akui aku memang salah, tapi tidak sepenuhnya juga kesalahanku kan? Dia tiba-tiba saja ada di depanku.


“Jadi aku harus bagaimana untuk menebus kesalahanku?” ujarku dengan takut-takut. Namja ini menyeramkan sekali. Eh, tapi wajahnya sepertinya tidak asing. Rasanya aku pernah bertemu dengannya, tapi aku lupa kapan dan dimana.


“gajiku bisa dipotong karena hal ini.” sekarang ia melipat kedua tangannya di depan dada, dan menatapku sinis. Lagi-lagi aku hanya bisa tertunduk tak berani menatapnya. Bahkan kini beberapa orang tengah memperhatikan ke arah kami. Memalukan sekali.


“aku akan mengganti kerugiannya.” Ucapku akhirnya. Sepertinya ini satu-satunya solusi terbaik.

__ADS_1


“tentu saja. Kau memang harus mengganti kerugiannya, tapi tidak dengan uang.” Aku langsung menatapnya penuh tanya. Tidak dengan uang? Lalu apa?


To Be Continue..


__ADS_2