Bukan Dia

Bukan Dia
52


__ADS_3

“Han Joowon ditangkap di bandara Incheon, saat akan terbang menuju New York dengan semua uang hasil penggelapannya.” Park Jungsoo, jaksa muda itu menceritakan kronologi penangkapan salah satu tersangka kasus penggelapan dana perusahaan Namsoong Group pada Siwon saat bertemu di kantor kejaksaan Seoul. Park Jungsoo adalah sahabat Siwon sewaktu kuliah, dan pria itu sudah berjanji akan memberitahukan setiap perkembangan dari kasus ini―kasus yang juga ikut menyeret ayah Siwon.


“Benarkah? Tapi apa pihak kejaksaan sudah bisa mengungkap kalau ayahku tidak terlibat?”


“Untuk saat ini masih belum. Yang terpenting adalah sudah menemukan salah satu pelaku utama, itu akan mempermudah kami untuk mengorek informasi lebih dalam lagi. Aku berjanji, perlahan tapi pasti semuanya akan terungkap. Ayahmu akan bebas kalau memang ia tak bersalah.”


Siwon tersenyum tulus, setidaknya hal ini bisa sedikit menenangkannya. “Terima kasih, Jungsoo. Kau memang temanku yang paling baik.”


***


“Apa kau tak bisa menghentikan semua ini?” pemuda itu membanting kasar map berisi data keuangan perusahaan dalam dua bulan terakhir―yang baru di dapatkannya beberapa menit lalu―ke atas meja, tepat di depan seorang pria berusia di atas lima puluhan. Namun pria itu tetap tenang, menatapnya sebentar kemudian kembali sibuk dengan laptopnya.


“Sampai kapan kau akan terus melakukan hal ini?” masih dengan emosi, ia kembali meneriaki pria yang jauh lebih tua darinya itu.


“Kau ini bicara apa?” pria itu bertanya santai, tak sadar orang di depannya sudah menatapnya marah, benar-benar terlihat emosi.


“Kau sudah tua. Jangan menambah dosa lagi dengan melakukan hal-hal kotor semacam ini. Sebaiknya kau cepat-cepat bertaubat, karena cepat atau lambat perbuatanmu pasti akan terbongkar, aku bisa jamin itu.”


“Apa kau sedang menyumpahi ayahmu sendiri, uh?” pria itu mendongak, menatap puteranya dengan pandangan tak percaya. Anak yang dibesarkannya bertahun-tahun kini bahkan menyerang dirinya.


Kim Jonghyun mencebikkan bibirnya, “Aku bahkan malu untuk mengakuimu sebagai ayah. Akibat perbuatanmu ini tuan Choi yang harus menanggungnya, padahal dia tidak bersalah sama sekali. Dimana sisi kemanusiaanmu?”


“Dia pantas mendapatkan itu. Orang yang terlalu sok suci tak pantas berada di dunia kita.”


“Duniamu? Apa dunia penuh dosa yang kau maksud? Dengar, aku diam karena aku masih menghargaimu sebagai seorang ayah. Sungguh, jika tak ada pertalian darah di antara kita, kau sudah habis sekarang.”


“Anak sialan! Beraninya kau berkata seperti itu pada ayahmu sendiri.”


Kim Jonghyun tak mempedulikan lagi ucapan ayahnya, ia keluar dengan penuh kekesalan. Sebagai anak, ia tentu malu mengetahui perbuatan ayahnya. Ayahnya, Kim Jongmin, sudah terlalu banyak berbuat kotor di perusahaan itu. Menggelapkan dana, merekayasa laporan keuangan, dan masih banyak lagi hal busuk lainnya yang ia lakukan. Dan ia tahu, sang ayah pernah melakukan hal licik untuk mendapatkan kepemilikan perusahaan itu, dengan menyuruh orang untuk melukai sepupunya, pewaris perusahaan peninggalan kakeknya. Perbuatannya benar-benar seperti bukan manusia.


***


Pintu ruangan di ketuk dari luar. Pria yang duduk di balik meja di ujung ruangan itu mempersilakan orang di luar untuk masuk, lalu seorang pria dengan stelan jas formal muncul dari balik pintu. Pemilik ruangan itu mempersilakaannya untuk duduk di sofa.

__ADS_1


“Ada apa tiba-tiba menemuiku?”


Raut wajah pria itu terlihat cemas, menggambarkan jika dirinya sedang berada dalam ketakutan saat ini. “Apa kau sudah mendengar kabar itu, Tuan Kim?”


Pria yang dipanggil Tuan Kim mengangkat alisnya bingung, tak mengerti maksud pria itu. “Tahu tentang apa?”


Pria tersebut menarik napasnya perlahan, menyiapkan diri sebelum menyampaikan berita ini pada orang di depannya. “Han Joowon tertangkap saat akan terbang ke New York. Ini gawat, dia bisa jadi ancaman untuk kita.”


“Apa?” pria itu, Kim Jongmin memekik terkejut. “Sudah kubilang padanya agar tak terlalu mencolok. Mereka pasti curiga karena aliran dana yang sangat besar tiba-tiba ada di rekeningnya. Ini tidak bisa dibiarkan.” Kim Jongmin meremas tangannya yang mulai berkeringat dingin. Ia sedang memikirkan sebuah rencana untuk bisa menyelamatkan dirinya.


“Lalu bagaimana sekarang?”


“Kita harus menyingkirkannya. Secepat mungkin.”


***


Kyuhyun duduk dengan risih, merasa tak nyaman ditatap tiga pasang mata yang terus melihat tajam ke arahnya. Orang-orang itu berdiri mengelilinginya, seperti kerumunan semut yang baru saja menemukan tumpukan gula.


“Kau menghilang kemana saja selama ini?”


“Kenapa kau tak muncul di cafe ataupun di kampus?”


“Kyuhyun-ah. Kau tak sedang menjadi buronan polisi kan?”


Ryeowook, Kibum, dan Jongwoon melontarkan pertanyaan mereka secara bergantian, tanpa sempat satu pertanyaan pun dijawab oleh Kyuhyun. Pria itu mendengus kesal, apalagi mendengar pertanyaan tak masuk akal dari Jongwoon. Buronan? Yang benar saja! Memangnya dia seorang ***?


“YA! kenapa kau diam saja?” Kibum menatapnya tak sabar. Ia sangat penasaran kemana Kyuhyun menghilang selama beberapa hari ini. Kyuhyun tak masuk kerja, di kampus pun ia tak bisa menemukannya―Kyuhyun dan Kibum kuliah di universitas dan fakultas yang sama.


“Ish. Sepertinya dia mengacuhkan kita.” Ryeowook mendelik jengkel pada Kyuhyun. Tapi pria itu masih tenang-tenang saja sambil menyantap pastanya. Ia tampak sangat menikmati makanannya. Memang selama di rumah ayahnya, ia tak punya selera makan―bahkan selera hidup. Berada di rumah itu seperti jadi tawanan, tak punya kebebasan.


“Aku mau berhenti kerja dari sini.” Ucap Kyuhyun tiba-tiba, sebelum meraih gelas air minum dan meneguknya secara perlahan.


“APA?”

__ADS_1


Hampir saja air yang sedang diminumnya menyembur keluar karena kaget. Kyuhyun terkejut begitu mendengar jeritan kompak ketiga orang itu. Kenapa reaksi mereka berlebihan sekali sih?


“Memangnya kenapa?” sahut Ryeowook. Kyuhyun dapat mendengar ada nada kekecewaan dari suaranya. Di tempat ini Kyuhyun menemukan teman-teman yang baik. Mereka sudah seperti keluarga baginya, dan itu masih akan terus berlangsung sampai kapanpun. Tapi ia harus berhenti dari pekerjaan ini. Kyuhyun akan menjalani kehidupan baru―ia tak ingin ada bayang-bayang masa lalunya lagi. Di tempat ini ia pernah punya kenangan bersama gadis itu, ia tak akan sanggup melupakannya jika tetap berada di tempat ini.


“Aku akan menikah―mungkin.”


Tiga pasang mata itu melotot lebar mendengarnya. Benarkah? Benarkah? Mereka masih belum bisa mempercayainya.


“Kau dan Hyunjin? Aigo.. secepat itu kah kalian memutuskannya?” Jongwoon bertanya kaget sekaligus senang. Ia ikut bahagia jika memang kedua orang itu akan menikah. Tapi kenyataannya, Jongwoon tak mengetahui sama sekali masalah yang sedang terjadi pada Kyuhyun dan Hyunjin.


“Bukan.”


Lagi-lagi mereka dibuat terkejut oleh ucapan Kyuhyun. Kibum baru saja akan bertanya, sebelum Kyuhyun menyerahkan tiga lembar kartu undangan pada mereka. Yang tertera disana bukanlah nama Cho Kyuhyun dan Choi Hyunjin, melainkan Kyuhyun dan gadis lain. Sebuah nama asing yang tak pernah mereka dengar dari Kyuhyun sebelumnya.


“Apa maksudnya ini?”


“Aku tak berharap kalian datang. Tapi mungkin sebaiknya kalian datang saja.” Kyuhyun bangkit dari duduknya.


“Kyu.. Ada apa sebenarnya?” Jongwoon menatap penuh tanya, ingin tahu lebih jelas lagi. Ia masih belum mengerti. Mengapa Kyuhyun bisa menikah dengan gadis lain? Lalu bagaimana dengan Hyunjin? Setahunya hubungan mereka masih baik-baik saja―


―oh, tidak. Jongwoon ingat beberapa hari lalu Hyunjin dan Kyuhyun datang ke cafe ini, membicarakan sesuatu dan akhirnya Hyunjin pulang dengan mata yang basah. Apakah..


“Kalian berpisah?”


“Terima kasih atas bantuan kalian selama ini. Kalian adalah teman-teman yang baik.” ucapnya mengabaikan pertanyaan Jongwoon. Kyuhyun tersenyum lalu membungkuk di hadapan mereka―sesuatu yang tidak biasa terjadi. Kyuhyun kemudian berjalan menuju ruangan manager Park, ia akan menyampaikan pengunduran dirinya.


“Apa kepalanya habis terbentur sesuatu? Jangan-jangan dia keracunan pasta buatanmu, Wookie.” Seloroh Kibum yang langsung membuatnya mendapat tatapan tajam dari Ryeowook.


“Enak saja!”


Jongwoon masih memandang punggung Kyuhyun dari belakang. Ia tahu wajah Kyuhyun tak bahagia saat menyampaikan kabar itu, kabar pernikahannya.


***

__ADS_1


__ADS_2