Bukan Dia

Bukan Dia
6


__ADS_3

“lama sekali. Aku sampai karatan menunggumu daritadi.” Ucapnya jutek sambil melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


“Oh ya?” jawabku tak kalah sinis.


“sekarang kau cuci piring! Banyak piring kotor di dapur.”


Aku mengikuti langkahnya menuju dapur. Di sini ada beberapa pegawai lainnya yang juga sedang sibuk mengerjakan tugas mereka masing-masing. aku membalas senyum mereka yang menyapaku saat bertemu. Terbukti kan, ternyata tidak semua orang di cafe ini menyeramkan. Hanya namja itu saja yang wajahnya tidak bisa senyum.


“Kerjakan itu! waktumu tidak banyak.” Ujarnya memberi komando padaku. Aku hanya menatap tumpukan piring dan peralatan makan kotor lainnya itu tak percaya. Sebanyak ini? yang benar saja.


“kenapa diam saja? Kau tak tahu caranya mencuci piring?” ucapnya ketus.


“mana mungkin? ini pekerjaanku setiap hari di rumah. Hanya saja, kenapa sebanyak ini?”


“banyak? Seperti ini saja sudah berat bagimu? Cih.. dasar manja!”


Baiklah, aku tak terima di ejek namja sepertinya. “akan ku kerjakan. Ini sih kecil. Kalau ada kau bisa menambahkannya lagi.” tantangku penuh percaya diri. Sepertinya aku tak yakin dengan kata-kataku barusan.


“Benarkah? Baiklah kalau itu maumu.” Balasnya sambil menyeringai seperti iblis. Tidak lama kemudian, datang seorang pelayan yang membawa beberapa tumpukan piring dan gelas.


“Jongwoon-sshi, taruh saja disitu. Biar gadis ini yang akan mencucinya.” Ucapnya pada orang itu. Dia benar-benar mau menantangku rupanya.


“kenapa? Kau tak sanggup?” ia melirikku tajam. Aku menggeleng. “Aku bisa. Kau tenang saja.”


“baiklah, akan ku awasi kau disini.” Ia lalu bersandar pada tembok sambil melipat kedua tangannya di depan dada, bersikap seperti bos besar yang sedang mengawasi anak buahnya. Huh.. menyebalkan.


Aku berusaha bersikap biasa. Tapi bagaimana aku bisa konsentrasi bekerja kalau sejak tadi ia memandangiku terus? Aku kan jadi gugup di perhatikan seperti itu. hah.. gugup? Kenapa juga aku harus gugup padanya?


Sambil mencuci piring, ekor mataku melirik ke arahnya yang sepertinya memang sungguh-sungguh ingin mengawasiku. Memang dia pikir aku tak bisa bekerja apa? Takut aku memecahkan piring lagi huh? Eh, tapi kalau dilihat-lihat ternyata ia tampan juga ya? sayangnya bibirnya itu tak pernah membentuk senyuman. Namja yang dingin. Tapi tiba-tiba saja aku ingat satu hal. Aku pernah bertemu dengannya, aku yakin! Tapi aku lupa kapan dan dimana. Sudah ku coba untuk mengingatnya tapi tetap tidak ingat juga.


“kenapa melirikku begitu? Kau kagum padaku?” ucapnya narsis. Aku menggeleng cepat. Demi apapun, aku tak mungkin kagum pada namja irit senyum sepertinya. Ku tarik lagi deh kata-kataku barusan, menyesal aku memujinya tampan.


“mian.. tapi aku sepertinya tidak asing pada wajahmu. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanyaku mengumpulkan keberanian untuk bertanya padanya. Syukur-syukur dia akan menjawab.

__ADS_1


“tentu saja. Kau lupa kita bertemu kemarin? Kau menabrakku dan memecahkan piring-piring yang ku bawa.” Ucapnya dingin. Pabo! Maksudku kan yang sebelumnya lagi.


“aku juga ingat kalau itu. Sebelumnya. Apa sebelum itu kita pernah bertemu? ah iya, aku belum tahu namamu.” Aku membuang jauh-jauh gengsiku untuk menanyakan namanya duluan. Tidak enak kan kalau menyapanya hanya dengan “kau” terus.


“Kyuhyun. Namaku Cho Kyuhyun.” Ujarnya singkat tanpa mengubah ekspresinya sama sekali.


“oh.. kalau aku-“


“Kau Choi Hyunjin. Benar kan?”


Jreng!! Seratus untukmu.


“Darimana kau tahu?” tanyaku kaget.


“kau tidak ingat padaku ya?” ia berjalan mendekat ke arahku.


“eh.. makanya aku tanya padamu. Aku kan lupa. “


Tiba-tiba saja ia sudah ada di sampingku, dan berbisik tepat di telingaku, “di rumah sakit. Kau ingat? kau gadis mesum yang waktu itu memelukku.”


Prang!


Gelas yang ku pegang langsung terlepas dari tanganku karena licin. Good job! Kau telah memecahkan satu gelas lagi, Choi Hyunjin. Bersiaplah menghadapi omelan namja itu.


“ini salahmu, Mr. Cho!” ucapku sengit. Hal ini tak akan terjadi jika ia tidak berbisik di telingaku tadi. Itu membuatku merinding.


“hah.. jangan menyalahkanku. Baiklah, satu gelas berarti hukumanmu di tambah satu hari. Jadi kau harus bekerja disini selama delapan hari.” Ia langsung melenggang pergi dan meninggalkanku yang sudah tidak dapat berkata-kata lagi. gelas, hanya satu gelas dan hidupku di neraka ini bertambah satu hari lagi? murah hati sekali kau Kyuhyun-sshi.


Ini benar-benar tepat dengan dugaanku. Baru hari pertama saja rasanya aku sudah ingin bunuh diri mendengar omelan dan kata-kata pedasnya. Bagaimana dengan tujuh hari ke depan? Dia itu tak banyak bicara, tapi setiap kalimat yang keluar dari mulutnya bagaikan bisa ular untukku.


“ya! kau ini jangan malas-malasan. Lihat itu meja nomor delapan sudah kotor. Seharusnya kau tahu tugasmu. Cepat bersihkan!” Aku menatap malas ke arahnya. Baru saja menyandarkan tubuhku di kursi, ia sudah berteriak memerintahku lagi. tak bisakah ia membiarkanku istirahat sebentar saja? Tidak tahu apa dia kalau aku lelah sekali. Kerjaannya sejak tadi hanya menyuruh-nyuruhku seperti budak, sepertinya ia melimpahkan semua pekerjannnya padaku. Sedangkan dia sendiri hanya mencatat pesanan pembeli. Hanya itu.


“ya! kau mengacuhkanku.” Ia kembali berteriak karena aku tak kunjung melaksanakan perintahnya.

__ADS_1


“apakah kau hanya di gaji untuk memerintahku seperti ini? aku lelah!” ku tatap ia dengan pandangan tajam, seolah ingin menelannya hidup-hidup. Dia malah tenang-tenang saja ku tatap seperti itu.


“kau lelah?”


“ne.” Aku mengangguk dengan wajah memelas. Semoga saja dia jadi merasa kasihan dan berhenti menyuruh-nyuruhku.


“kalau begitu ayo ikut aku!” tiba-tiba saja ia menarik tanganku entah kemana. Aku sudah terlalu lelah untuk berdebat dengannya, jadi kubiarkan saja dia.


_


“mau apa kau membawaku kesini?” aku memandangnya penuh tanya sambil melihat ke sekeliling. Kami sekarang ada di belakang cafѐ.


“duduk!” dia menyuruhku duduk di sebuah kursi panjang berwarna putih di bawah sebuah pohon besar. Tak ku sangka disini ada tempat teduh seperti ini. Pas sekali untuk beristirahat, hawanya sejuk dan tenang. Tanpa berkata apa-apa aku langsung saja duduk, bukan karena perintahnya, tapi karena memang aku sedang lelah.


Kyuhyun ikut duduk di sebelahku, ia bersandar pada kursi itu dan menengadahkan kepalanya ke atas. Entah apa yang sedang ia pandangi.


“disini nyaman kan?” tanyanya tiba-tiba, aku hanya mengangguk menjawabnya, “ya.. kau benar.”


Setelah itu, lama kami terdiam. Ia sama sekali tak bersuara, aku jadi khawatir ia malah tertidur. Suasananya mendukung sekali untuk membuat mata terpejam, sangat sejuk dan tenang. Jauh dari kebisingan di dalam cafѐ.


Dengan ragu aku menoleh ke arahnya. Ku dapati ia sedang memperhatikanku diam-diam. Pantas saja sejak tadi ia tak bersuara. Untuk apa ia melihatku sampai seperti itu? memangnya aku hewan langka yang hanya ada satu di dunia?


“kenapa?” tanyanya sinis. aku tak mengerti kenapa malah ia yang bertanya begitu. Yang harusnya bertanya kan aku.


“mengapa kau melihatku begitu?” tanyaku akhirnya.


“memangnya tidak boleh?”


“bukannya begitu. Tapi.. kenapa seserius itu kau menatapku. Memangnya ada apa denganku?” aku malah bertanya bodoh sambil menunjuk diriku sendiri.


Ia hanya menggeleng “memangnya kenapa? Apa kau gugup ku tatap seperti itu?” dengan santainya ia bertanya, kemudian berbalik menghadap depan lagi. benar-benar namja ini.


“waktu istirahatmu sudah habis. Cepat kembali kerja sana!” Kyuhyun bangkit dari duduknya kemudian pergi masuk ke dalam melalui pintu belakang. Mau tidak mau aku mengikutinya. Baru juga istirahat sebentar, aku kan masih lelah.

__ADS_1


_


__ADS_2