Bukan Dia

Bukan Dia
45


__ADS_3

“aku sudah menentukan pilihan. Mempertahankanmu tetap disisiku, itu terlalu egois. Padahal aku tahu kau bisa mendapatkan mimpimu tanpaku. Kau pantas bahagia, kau pantas mendapatkan apa yang kau inginkan. Aku hanya akan menjadi penghalangmu saja.”


“berhenti bicara seolah-olah kau adalah penghancur hidupku!” Kyuhyun membentak Hyunjin, ia sudah pada batas kesabarannya. Tak bisakah Hyunjin mendengarkannya? Ia juga punya pilihan, dan pilihan itu sudah ia tentukan, meskipun sulit. Tapi apa yang ia dapatkan kini? Gadis yang ia harapkan tetap mendukungnya, kini berbalik pergi, meninggalkannya.


“aku memang penghancur hidupmu, begitu pun sebaliknya!” Hyunjin ikut meneriaki Kyuhyun, air matanya lolos begitu saja. Ia tak bisa terus berpura-pura kuat, padahal kenyataannya ia begitu tertekan. Masalahnya sekarang bukan hanya hubungannya dengan Kyuhyun, tapi keluarganya yang kini sedang menghadapi masalah besar. Ia seharusnya ada di rumah sakit sekarang, menjaga ibunya yang sangat butuh untuk disemangati disaat sulit seperti ini. Tapi apa yang ia lakukan? Ia malah datang ke tempat ini, berdebat tak penting dengan kekasihnya. Semua ini membuat pertahanannya runtuh. Ia tak bisa setegar biasanya. Mengapa ia jadi sering sekali menangis setelah mengenal Kyuhyun? Bukanah seharusnya cinta itu membawa kebahagiaan? Tapi hanya kepahitan dan rasa sakit di hatinya yang ia dapatkan, dari mencintai Kyuhyun.


“aku tak meminta persetujuanmu. Aku hanya menyampaikan keinginanku.”


“jadi ini yang kau inginkan?” Kyuhyun menatapnya tak percaya. Satu-satunya orang yang menjadi lilinnnya dalam gelap, kini sudah memadamkan sinar untuknya.


“bagaimana aku bisa tetap bersamamu, padahal ayahmu sudah menjebloskan ayahku ke penjara? Kau pikir aku anak macam apa? aku adalah putri ayahku, aku takut untuk mengkhianatinya.” Hyunjin berusaha menahan isakannya. Terlalu berat untuk mengatakan ini, tapi itu lah yang harus ia katakan.


“Kyu, kau sadar tidak? kita tak pernah bisa bersama, ini terlalu sulit. Terlalu banyak hal yang menjadi batu penghalang untuk kau dan aku. Berpisah, satu-satunya kebaikan untuk kita berdua. Aku harap kau bisa mengerti.” Hyunjin bangkit dari duduknya, pergi bersama linangan air mata tanpa mau mendengar jawaban dari Kyuhyun. Ia tak sanggup berada terlalu lama di dekat Kyuhyun, itu membuatnya semakin tersiksa.


Kyuhyun hanya diam, tak bergerak sedikitpun untuk mengejar gadis itu. Jadi begitukah? Mungkin sekarang Hyunjin sudah benar-benar membencinya, akibat perbuatan ayahnya. Jika memang itu yang terbaik bagi Hyunjin, ia tak bisa berbuat apa-apa.


“tapi kau tahu, Hyunjin-ah? Berpisah darimu adalah ketakutan terbesar yang sekali lagi kurasakan dalam hidupku.”


___


Hyunjin berjalan gontai menuju rumah sakit. Perasaannya masih kacau, tapi ia tak boleh terlihat habis menangis di depan keluarganya. Sebisa mungkin gadis itu melatih dirinya untuk tersenyum, mencoba terlihat baik-baik saja di depan orang lain.


Hyunjin sampai di depan pintu ruangan tempat ibunya dirawat, tapi tiba-tiba seseorang keluar dari balik pintu. Hyunjin sedikit kaget, namun langsung bisa menyesuaikan dirinya kembali.


“oppa mau pulang?” tanyanya pada orang itu, Donghae.


Donghae menggelengkan kepalanya, “hanya ingin ke toilet. Kau dari mana saja?”


“tadi ada sesuatu yang harus ku urus.”


“begitu? Masuklah, ibumu sudah siuman. Dia mencarimu sejak tadi.” Donghae kembali melangkah, mulai menjauh.


Hyunjin menggigit bibir bawahnya, air mata gadis itu kembali berderai. Wajah baik―baik―saja― itu lenyap, berganti dengan mimik seseorang yang begitu putus asa. Tangan Hyunjin bergerak tanpa perintah otaknya, menarik baju Donghae yang berjalan belum terlalu jauh darinya.


Donghae menoleh heran, tapi begitu terkejut melihat gadis yang pernah dicintainya itu tiba-tiba sudah menangis hebat. “eh, kau kenapa?”


“aku tolol, benar-benar tolol.” Isaknya kemudian. Donghae tentu bingung dengan situasi ini, membuatnya jadi panik sendiri.


___


Hari sudah malam, dan udara di luar begitu dingin, tapi gadis itu seakan tak merasakan apa-apa. Ia berharap bisa mati secepatnya, dengan semua hal yang kini menimpanya. Ia masih menangis, berharap kesedihannya akan sedikit berkurang bersama dengan air matanya yang terus menetes keluar.


“aku tak sanggup menghadapinya, ini terlalu sulit bagiku.” Hyunjin masih terisak, sambil membenamkan wajahnya di bahu Donghae, membuat baju Donghae basah karena air matanya.


“kalau kau sedih, menangis saja. Bukankah aku sudah bilang akan selalu jadi sandaranmu di saat kau bersedih?” namja itu mengusap lembut kepala Hyunjin, mencoba menenangkannya.


“oppa, kenapa kau begitu baik? Seharusnya kau memakiku, membenciku. Aku sudah menyakitimu.” Hyunjin memukul pelan dada Donghae. Ia benci namja itu, mengapa Donghae selalu ada disaat ia membutuhkan seseorang untuk berbagi kesedihan? itu membuatnya merasa seperti gadis kejam, membuang orang sebaik Donghae.


“apa yang membuatmu seperti ini? apa karena ayah dan ibumu?”

__ADS_1


“bukan hanya itu.” Hyunjin melepas bahu Donghae, sedikit demi sedikit menyeka air matanya. Hyunjin langsung terdiam, saat tiba-tiba Donghae mengusap perlahan wajahnya dengan sapu tangan, mengelap air mata yang sudah membasahi hampir seluruh wajahnya. Namja itu, kenapa semakin lama ia semakin terlihat seperti malaikat?


“ceritakan pelan-pelan, aku akan mendengarkannya.” Donghae tersenyum tulus, senyuman itu selalu bisa membuat Hyunjin merasa damai.


___


Jino berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar Kyuhyun, sesekali melirik jam tangannya dan bergumam pelan. Ia benar-benar khawatir kalau Kyuhyun tidak kembali secepatnya. Kyuhyun bisa keluar dari rumah itu? Tentu saja itu tidak mungkin. Tapi berkat Jino, para penjaga itu tumbang setelah diberikan obat tidur pada minuman mereka. Sebentar lagi pasti efek obat tidur itu akan hilang, dan ini akan jadi akhir dunianya jika hyungnya itu tidak segera kembali.


“aigo hyung.. kau kemana sih?” Jino benar-benar panik saat itu. Kyuhyun tak bisa dihubungi karena tak membawa ponsel. Ponselnya sudah disita agar ia tidak bisa menghubungi Hyunjin lagi.


Jino melirik dua penjaga yang masih tertidur lelap tak jauh darinya. “jika mereka bangun, habislah aku.”


Namun sesaat wajahnya langsung berubah cerah saat dilihatnya Kyuhyun sudah berdiri tak jauh dari hadapannya. Kyuhyun berjalan lunglai, dengan wajah yang benar-benar tak enak untuk dilihat. Wajah tampannya itu seakan sirna oleh aura kegelapan yang menyelimutinya. Dilihat saja Jino sudah bisa menebak, pasti sudah terjadi hal yang tidak bagus antara Kyuhyun dan Hyunjin.


“hyung, syukurlah kau sudah datang. Cepat masuk, sebelum mereka bangun dan memergokimu ada di luar kamar.”


“mengapa aku begitu bodoh? aku bisa saja mencegahnya pergi, tapi aku tak mampu.” Kyuhyun tiba-tiba memeluk Jino, air matanya menetes begitu saja. Untuk kedua kali dalam hidupnya, Jino melihat hyungnya itu menangis.


“hyung..”


___


Sinar matahari masuk lewat celah-celah jendela yang dibuka. Kyuhyun langsung terbangun, menatap silau pantulan sinar dari jendela kamarnya.


Seorang wanita berumur enam puluhan berbalik, dan tersenyum ramah padanya. “kau sudah bangun tuan muda? Segeralah bersiap-siap, tuan besar sedang menunggu di bawah.”


Kyuhyun baru akan bertanya, tapi suara ketukan di pintu langsung membuatnya mengalihkan kepalanya ke arah itu.


Kyuhyun menatap gadis itu malas, entah mengapa kekesalannya kembali lagi setelah melihat gadis itu di hadapannya. “sedang apa kau disini?” Kyuhyun bertanya ketus.


“hanya mampir. Memangnya aku tak boleh menemui calon suamiku?”


“mimpi saja kau. Berapa kali harus kubilang? Aku hanya menganggapmu adik, tak lebih.”


Gadis itu, Jung Yeoram, tersenyum miris. Ia sudah sering mendapat penolakan dari oppa yang dicintainya itu, tapi baru kali ini sikapnya padanya jadi sedingin itu. Ia lantas berjalan mendekati Kyuhyun yang masih terduduk di atas ranjang.


“apa oppa menolakku karena gadis itu? Tapi kenapa? Bukankah kau bahkan belum lama mengenalnya? kenapa kau tak pernah bisa mengerti perasaanku, oppa? aku mencintaimu, lebih dari siapapun.”


“jangan terjebak dengan perasaan masa kecilmu itu. Kau sudah tahu, aku tak mencintaimu sebagaimana yang kau harapkan.” Kyuhyun memalingkan wajahnya, tak tega melihat gadis yang tersakiti olehnya itu.


“kita lihat, apa kau masih tetap mencintainya setelah mengetahui dirinya yang sebenarnya?” Yeoram tersenyum licik.


“apa?”


“ini. Aku harap kau bisa membuka matamu lebar-lebar, kau sudah dibohongi olehnya.” Yeoram melemparkan sebuah bungkusan tipis berwarna coklat, gadis itu kemudian keluar dari kamar Kyuhyun.


Kyuhyun tak peduli sama sekali dengan benda itu, tapi dalam hati ia juga merasa penasaran. Akhirnya tangan Kyuhyun bergerak meraih bungkusan tersebut. Terasa ringan, sepertinya didalam berisi kertas. Kyuhyun membukanya dan mengeluarkan isinya. Diperhatikannya benda itu, dan betapa terkejutnya ia saat melihat foto-foto itu.


“Hyunjin?”

__ADS_1


___


Kyuhyun buru-buru menuruni tangga. Sudah tak ada lagi penjaga yang berdiri di luar kamarnya, jadi ia bisa semudah itu keluar kamar. Namja itu menuju ruang makan, tempat dimana keluarga Cho berkumpul untuk menikmati sarapan pagi mereka.


“dari mana kau dapatkan ini?” Dengan emosi yang memuncak, Kyuhyun membanting bungkusan berisi foto-foto itu tepat di hadapan Yeoram, membuat gadis itu terhenyak dan menghentikan acara mengoles―roti―dengan―selai―nya untuk sementara.


Yeoram tersenyum puas, reaksi Kyuhyun saat ini memanglah yang ia harapkan. Kyuhyun marah? Tentu saja, itu pasti. Pria mana yang tak akan marah mengetahui kekasihnya berpelukan dengan namja lain? Selain itu Kyuhyun tahu betul, namja itu menyukai kekasihnya.


“bagaimana? apa kau mau tetap berharap padanya? Sadarlah oppa, dia hanya mempermainkanmu.” Yeoram meneguk segelas susu di hadapannya. Bersikap santai, mengacuhkan Kyuhyun yang sudah naik darah karena ulahnya ini.


“aku tanya, dari siapa kau mendapatkan ini?”


“tak penting dari siapa. Bukankah yang penting kau tahu kenyataannya?”


“sial!” Kyuhyun meninju dinding di sebelahnya, membuat semua orang diam seketika. Bahkan ayah Kyuhyun sendiri hanya bisa terdiam melihat anaknya seperti itu. Kyuhyun keluar, setelah sebelumnya menyambar kunci motornya yang kebetulan diletakkan di atas meja―Jino yang membawanya beberapa hari lalu.


___


Setelah dari kampus, Hyunjin langsung pergi ke rumah sakit. Ia ingin menggantikan Siwon menjaga ibunya. Sejak kemarin Siwon terus berada di sana untuk menjaga ibunya, dan Hyunjin tahu betul kakaknya itu tak istirahat sedikitpun, di tambah lagi ia harus mengurusi kasus ayahnya.


Hari ini Hyunjin datang bersama Jiyoo, gadis itu terus memaksa ingin ikut menjenguk ibu Hyunjin. Mereka baru sampai di depan pintu masuk, tapi tiba-tiba seseorang menarik tangan Hyunjin kasar.


“kita harus bicara!”


“Tak ada yang harus dibicarakan!” Hyunjin melepas paksa tangannya, dari orang yang ia ketahui ternyata adalah Kyuhyun.


“baiklah, kalau begitu kita bicara saja disini. Apa maksudnya ini?” Kyuhyun mengibaskan bungkusan coklat itu di depan wajah Hyunjin.


“apa?” Hyunjin bertanya dingin.


“lihat saja sendiri!” Kyuhyun memberikannya kasar. Hyunjin membukanya, dan betapa terkejutnya gadis itu menemukan foto-fotonya―yang terlihat seperti sedang bermesraan―dengan Donghae. Walau pada kenyataannya tak seperti itu. Mereka memang duduk berdua, dan Hyunjin hanya meminjam bahu namja itu untuk menangis, tak lebih.


Bukankah ini tadi malam, saat aku bersama Donghae oppa? gadis itu tak habis pikir, dari mana Kyuhyun mendapatkan foto-foto ini?


“bisa kau jelaskan apa maksudnya itu?”


“tak ada yang perlu dijelaskan. Kau hanya membuang-buang waktuku.” Hyunjin akan pergi, tapi Kyuhyun lagi-lagi menahan tangannya agar tak pergi begitu saja.


“apa karena ini kau meninggalkanku? Karena Lee Donghae?”


“benar, karena dia.”


To Be Continue


biasanya Minggu ga bisa up. jd aku ajuin naskah lumayan byk. .


aku adik dr Choi Siwon dan istri dari Cho Kyuhyun meminta maaf kalau byk kata dan cerita yg kurang berkenan. dan terima kasih buat pembaca


buat pembaca yang meninggal kan jejak aku ucapkan banyak" terima kasih.

__ADS_1


buat silent reader jg trima kasih sudah meninggal kan view' nya.


sampai jumpa hari Senin. bye byee


__ADS_2