
**maaf ya telat. hari ini kerjaan byk bgt**
#(Mengapa melepasmu terasa begitu berat? Ini bahkan lebih sulit dibanding ketika aku mencoba meraihmu.
Kau sudah jadi bagian dari napasku. Apa kau pikir, aku bisa tetap bertahan tanpamu?
Mengapa Tuhan harus mempertemukan kita berdua, kalau pada akhirnya kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama?)#
“Apa karena ini kau meninggalkanku? Karena Lee Donghae?”
“Ya, benar, karena dia.” Suara Hyunjin tertahan saat mengucapkan itu. Kalau dengan ini bisa membuat Kyuhyun melepaskannya, mengapa tidak ia akui saja?
“Tak mungkin..” Kyuhyun menggeleng. Pandangannya semakin tajam, matanya mulai memerah memendam amarah. Ia menyesal telah membentak Hyunjin, tapi jawaban yang dilontarkan gadis itu benar-benar membuatnya tak percaya. Ia tak percaya, benar-benar tak bisa mempercayai ini. Sebelumnya Hyunjin telah menolak Donghae karena dirinya. Apa masuk akal jika gadis itu berpaling darinya dan kembali pada Donghae? Hal itu merupakan sesuatu yang terus disangkalnya. Hyunjin pasti berbohong, Kyuhyun tahu itu. Apa tidak bisa ia mencari alasan yang lebih masuk akal dari pada ini?
“Apanya yang tak mungkin? Bukankah orang bisa berubah? Termasuk perasaanku padamu.”
“Jangan bicara lagi! Jangan bohongi aku. Aku tahu kenyataannya tak seperti itu!” nada suara Kyuhyun mulai melemah, ada kegetiran dalam setiap kata yang diucapkannya.
“Bisa kita selesaikan ini di tempat lain? Aku tak ingin orang-orang menonton pertengkaran kita.” Ujar Hyunjin saat sadar beberapa pasang mata tertuju pada mereka. Biar bagaimanapun ini bukanlah hal yang pantas dilakukan di tempat umum. Mereka masih berada di pelataran rumah sakit saat ini.
“Ikut aku!” Kyuhyun menarik tangan gadis itu, dan Hyunjin hanya menurut saja.
Hyunjin sadar akan sesuatu, ia menghentikan langkahnya dan berbalik ke belakang, menatap sahabatnya yang hanya diam memperhatikan mereka sejak tadi. “Jiyoo-ya, kalau ada yang menanyakanku―”
“―kau pergi ke toko buku.” Sambar gadis itu cepat.
“Gomawo.” Hyunjin tersenyum, sahabatnya itu memang selalu bisa diandalkan.
Seiring kepergian Hyunjin dan Kyuhyun dari hadapannya, Jiyoo langsung masuk ke dalam rumah sakit. Ia tahu, sekarang bukan saatnya untuk bertanya macam-macam pada Hyunjin, meskipun sebenarnya ia memang sangat penasaran. Hyunjin lebih banyak diam akhir-akhir ini. Tapi ia percaya, gadis itu pasti akan memberitahukan masalahnya bila ia sudah siap. Jiyoo bisa bersabar, yang terpenting sekarang adalah ia ada saat gadis itu membutuhkannya. Ia tahu Hyunjin sedang dihadapkan dengan banyak masalah.
___
Bagaikan kesetanan, Kyuhyun melajukan motornya dengan kecepatan yang sangat tinggi, membuat Hyunjin harus menahan jantungnya agar tidak melompat keluar. Mati-matian ia menahan tubuhnya agar tak memeluk namja itu. Ketakutannya saat ini adalah ia tak mampu menahan perasaannya untuk melepaskan Kyuhyun. Entah sejak kapan, tapi kini gadis itu mulai sadar bahwa Kyuhyun telah menjadi bagian terpenting dari hidupnya.
Sejak tadi Hyunjin ingin menangis, tapi ia tak mau menunjukkan kelemahannya pada Kyuhyun. Ia ingin mengakhiri ini semua―sebuah kesalahan yang telah menyeret mereka pada kepahitan. Andai ia tahu ini akan terjadi, mungkin seharusnya ia tak pernah jatuh cinta pada namja itu.
“Peluk aku kalau kau takut!” kata Kyuhyun sambil menarik lengan Hyunjin dengan tangan kirinya yang bebas, membimbing gadis itu agar mau memeluk pinggangnya. Tapi Hyunjin tak melakukannya, ia hanya memegang erat kaos Kyuhyun, meremasnya hingga sekuat yang ia bisa.
Kyuhyun membawanya ke sebuah pantai. Hyunjin ingat, itu adalah pantai yang sama ketika ia mengajaknya waktu itu. Kenapa harus ke tempat ini? Hyunjin tak suka, ini akan mengingatkan kembali kenangan manisnya bersama namja itu. Sebuah kenangan singkat yang membuatnya menyadari betapa ia sangat mencintai namja itu, Cho Kyuhyun.
___
Aku langsung menepis tangannya, saat Kyuhyun mencoba menggenggam tanganku. Tak tahu kah ia? Sampai saat ini pun jantungku masih selalu berdebar-debar ketika bersentuhan langsung dengannya. Genggaman hangat dari tangan dinginnya itu, membuat aliran darahku berdesir aneh. Ia tak mungkin tahu, ia tak mungkin merasakan hal yang sama sepertiku.
“Mengapa kita ke tempat ini?” aku bertanya, dengan nada dingin yang mungkin membuatnya merasa tak nyaman.
“Tak ada alasan khusus. Aku suka tempat ini.” balasnya, tentu saja tidak dengan cara bicara sepertiku.
“Apa yang ingin kau katakan lagi, sebelum semua ini benar-benar berakhir?”
Ia menoleh, memandangku dengan wajah putus asa. “Tak ada yang harus diakhiri.”
__ADS_1
“Bisa kau beri satu alasan mengapa kita harus tetap bersama?”
Kyuhyun tersenyum meremehkan, seolah sedang mengejekku karena pertanyaan yang baru saja ku lontarkan padanya adalah sebuah hal konyol. Ia melangkah maju, memperpendek jarak diantara kami. “Aku bahkan punya lebih dari satu alasan. Aku mencintaimu, dan kau pun begitu.”
Aku terhenyak dibuatnya. Dengan perasaan getir menggigit bibir bawahku, menahan rasa sesak yang tiba-tiba datang lagi. Jika ia terus seperti ini, aku akan semakin kesulitan. Itu adalah kata-kata umum yang selalu digunakan oleh setiap pasangan kekasih. Tapi kali ini, kata-kata itu terdengar seperti racun bagiku. Mengapa hatiku malah terasa sakit mendengarnya?
“Kenapa kau bisa begitu yakin? Kau bahkan baru mengenalku tak lebih dari sebulan.” Sebisa mungkin aku menghindari tatapan matanya yang terus mengintimidasiku.
“Itulah alasannya.”
Aku memandangnya penuh kebingungan, semakin tak mengerti akan maksud perkataannya.
Kyuhyun melanjutkan, “Aku baru mengenalmu, tapi seolah jiwaku sudah terikat denganmu.”
Napasku tercekat saat ini. Entah dia bicara jujur atau tidak, tapi aku bisa melihat kesungguhan dari matanya itu. Pandangannya melembut, sesuatu yang bisa membuatku merasa damai. Mungkinkah ini juga salah satu alasan mengapa aku bisa mencintainya? Di balik sikap dinginnya, ia begitu lembut dan hangat.
“Kyuhyun, mengapa kau tak bisa mengerti juga? Posisi kita saat ini cukup sulit. Ini tak akan bertahan lama.”
“Kau yang membuat ini semakin sulit. Bukankah sebelumnya kita baik-baik saja? Kau yang meruntuhkan segalanya, dengan ketakutanmu sendiri.” ia kembali mendebatku, dengan argumennya yang tak bisa ku terima begitu saja.
“Aku hanya berpikir logis. Kita tak akan bisa bertahan hanya dengan cinta. Dunia ini bukan berjalan hanya dengan cinta.”
“Lihat! Kau juga masih mencintaiku bukan?”
Skakmat. Aku memang tak pernah bisa menang adu mulut denganmu, Tuan Cho. Kau menang sekarang.
“Kau hanya terlalu kalut, padahal sebenarnya kita bisa menghadapi ini bersama. Aku ada disisimu, kau tak perlu takut.” Kyuhyun mencoba memelukku, tapi lagi-lagi aku menghindar darinya.
“Kumohon, jangan berkata seperti itu.” ia menatapku sendu. Kyuhyun mungkin sudah lelah meyakinkanku, tapi aku tak akan menyerah untuk meyakinkannya bahwa kami berdua memang harus saling menjauh. Sesuatu yang tak pernah ku sangka, ternyata akan serumit ini hubungan kami. Ia benar, aku memang telah melemparkan kerikil ke dalam air yang tenang. Tetapi berpikirlah sekali lagi, semua hal yang terjadi telah memberikan isyarat untuk mengarahkan kami pada keputusanku ini.
“Kita tak ditakdirkan bersama, aku sangat yakin dengan itu. Aku memang mencintaimu. Tapi itu sekalipun tak akan cukup menjadikan alasan untuk tetap bertahan. Kita tak bisa apa-apa. Kita tak berdaya menghadapi ini, Kyu.” Aku menyerah, sekuat apapun aku mencoba untuk bertahan, pada akhirnya kami akan jatuh juga. Permusuhan kedua ayah kami, masa depan Kyuhyun yang dipertaruhkan, itu semua bukanlah hal yang bisa disepelekan. Berpisah adalah solusi terbaik. Mungkin hanya itu yang bisa menyelesaikan semua masalah ini.
“Jika berpisah adalah jalan terbaik untuk mengakhiri ini, kenapa tidak kita lakukan saja? Hidup kita akan baik-baik saja tanpa satu sama lain. Bukankah sebelumnya juga seperti itu? Aku masih bisa hidup tanpamu, begitu pun sebaliknya.”
“Tidak!” Kyuhyun membantah. Aku tak tahu mengapa ia begitu keras kepala. Masih kurang kah alasan yang ku berikan untuk meyakinkannya bahwa kami memang tak bisa bersama?
“Sebelumnya hidupku tak pernah baik-baik saja, semuanya terasa begitu hampa. Kau tahu? Aku merasa hidupku begitu redup, tak berarti. Tapi semua anggapan itu lenyap setelah kau hadir. Kau sudah jadi bagian dari napasku. Apa kau pikir, aku akan bisa tetap bertahan tanpamu?”
“Hentikan, Kyu!” aku membentaknya, dengan suara serak menahan tangis. “Jangan membuat ini semakin sulit, aku sudah memikirkan semuanya matang-matang.”
Dia diam, mengalihkan pandangannya dariku. Matanya terlihat begitu sendu. Aku senang mengetahui cintanya begitu besar padaku, tapi itu tak ada artinya lagi sekarang. Aku juga mencintainya, tentu saja. Tapi memangnya aku bisa apa?
Perlahan ku dekati dia, meraih wajahnya dan memaksa matanya bertemu dengan mataku. Aku menatapnya dalam, “Jika kau mencintaiku, kumohon.. lepaskan aku. Kita bisa memulai hidup yang lebih baik lagi ke depannya, tanpa harus terikat satu sama lain. Mungkin ini memang jalan terbaik untuk kita.”
“Kau akan lebih bahagia dengan ini?”
Aku tersentak, tak tahu jawaban apa yang harus ku berikan. Sesungguhnya ini sama sekali bukan hal yang kuinginkan, tapi aku tak punya pilihan lain. Dengan sendirinya kepalaku mengangguk, tepat saat itu ku lihat kekecewaan yang sangat besar tersirat dari matanya. Maafkan aku, Kyuhyun.
“Aku tak pernah bilang setuju, ini hanya keputusanmu secara sepihak. Jika kau berubah pikiran, aku masih menunggumu.” dia berkata lagi, seolah begitu putus asa. Seolah hanya aku sumber oksigen terakhirnya yang tersisa, dan ia harus rela kehilangannya.
Entah sudah berapa banyak air mataku jatuh karena mendengar ucapannya. Aku ingin dia marah dan membenciku. Tapi kenapa malah seperti ini? Dia membuatku semakin bimbang akan keputusanku sendiri. Perasaanku bertambah ragu, dia telah mengacaukannya.
__ADS_1
“Mungkin ini terakhir kalinya kita bisa bertatap muka seperti ini. Tapi jika suatu hari nanti kita bertemu kembali, aku yakin perasaan kita sudah berubah satu sama lain.” aku yakin jika saat itu tiba, ia akan sadar betapa jahatnya aku, aku bukan gadis yang baik untuknya.
“Perasaanku tak akan berubah padamu, sampai kapan pun.”
Aku tersenyum getir. Dia mengatakan itu tanpa keraguan sedikitpun, aku bisa melihat ketulusan di matanya. Tapi itu untuk hari ini, esoknya siapa yang tahu? Mungkin Jung Yeoram lebih baik dariku, aku yakin Kyuhyun lebih pantas bersanding dengannya.
“Setelah ini, anggap saja kita tak pernah bertemu sebelumnya―apalagi saling mengenal. Mungkin itu akan lebih baik agar tak menyakiti perasaan kita masing-masing. Aku ingin melupakan masa-masa ini, melupakanmu untuk waktu yang sangat lama.” aku tersenyum penuh kepahitan. Rasanya sakit saat mengatakan itu.
Kyuhyun tiba-tiba menarikku dalam pelukannya. Ia mendekapku erat, seolah takut aku akan lari menjauh darinya. Aku diam, menikmati perlakuannya. Aku tak mungkin menghindarinya lagi.
Ku balas pelukannya, menikmati sisa-sisa terakhirku bersamanya. Tangisanku semakin menjadi, bahunya kini basah karena air mataku. Mengapa aku tak bisa bersikap egois? Jika hanya memikirkan perasaanku, aku bisa saja memilih tetap bertahan dengan hubungan kami. Tapi aku tak mampu―tidak jika itu akan menyakiti banyak pihak. Biarlah aku yang merasakan sakit ini, mungkin hanya untuk sementara. Setelah itu semuanya akan baik-baik saja. Pasti.
“Terima kasih karena telah hadir dalam hidupku, bisa mengenalmu memberikan kenangan yang sangat berarti untukku.” Aku bicara disela-sela pelukan kami, masih dengan air mata yang tak mampu ku bendung.
“Apa setelah ini kau akan melupakan semuanya―melupakanku?”
“Aku tak mau, tapi itu harus.”
“Mengapa melepasmu terasa begitu berat? Ini bahkan lebih sulit dibanding ketika aku mencoba meraihmu.”
“Jangan bicara tentang “kita” lagi. Setelah ini hanya tinggal cerita tentang aku atau dirimu sendiri, kita akan merangkai hidup masing-masing―tentu saja dengan kisah yang berbeda. ”
Kami saling diam untuk beberapa saat. Lagi-lagi hanya keheningan yang mengalir di sini.
Entah bagaimana semuanya terjadi, waktu seolah berputar begitu cepat. Tanpa ku sadari bibirnya sudah mencapai bibirku. Aku tak bisa bergerak ataupun menolaknya, seolah tubuhku tiba-tiba berubah menjadi batu. Otakku tak dapat berpikir apa-apa, sangat terkejut dengan apa yang sedang dilakukannya. Aku bisa merasakan napasnya begitu dekat di kulitku. Kami berciuman―entah ini ciuman cinta atau malah ciuman perpisahan, yang jelas ini bukanlah ciuman kebahagiaan―untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Perpisahan yang manis, mungkin. Ku harap begitu.
Kyuhyun bergetar, aku tahu dia juga menangis.
Menangis? Untuk pertama kalinya aku melihat dia begitu tersiksa.
Mengapa perpisahan selalu terasa menyakitkan? Terkadang aku berpikir, takdir memang kejam. Mengapa Tuhan harus mempertemukan kami berdua, kalau pada akhirnya kami memang tidak ditakdirkan untuk bersama? Jika hanya kepedihan dan kesakitan yang akan kami dapat, mengapa Tuhan masih memberikan jalan agar kami dapat bersatu sebelumnya? Hidup ini tak pernah bisa di tebak. Nasib seolah sedang mempermainkan kami berdua.
####Aku tak ingin waktu berlalu begitu cepat###
Hyunjin berharap ada tombol pause yang bisa ia gunakan untuk menghentikan sang waktu. Untuk terakhir kalinya, biarkanlah seperti ini. Sebelum semuanya berakhir. Biarkan mereka merasakan cinta satu sama lain, menuju detik-detik bom waktu yang sebentar lagi akan meledak.
Gerimis mulai turun membasahi bumi. Dua anak manusia itu melepaskan diri satu sama lain―meski enggan. Mereka tak boleh larut dalam cinta sesaat ini. Tak ada yang bisa mereka harapkan lebih jauh lagi. Cukup hentikan saja sampai disini, kisah konyol ini.
Berharap takdir akan berubah dan kembali menyatukan mereka, uh? Mustahil. Sang nasib tak berpihak pada mereka, dia terlalu senang untuk bermain-main dengan kemelut dua sejoli itu.
Seorang gadis yang patah hati karena cinta, bukankah itu hal biasa untuk gadis sepertinya? Tapi Hyunjin tahu, ini bukanlah sekedar cinta masa muda. Ini adalah sebuah ujian yang mungkin bisa mendewasakannya―menuntutnya untuk berpikir realistis akan jurang pemisah di antara mereka berdua.
Kesedihan mereka melebur menjadi satu dengan tetesan hujan yang kian lama kian deras berjatuhan dari langit. Apakah langit juga sedang menangis, ikut mengiringi kepedihan mereka?
Di detik berikutnya lah semua berakhir. Ya, benar-benar berakhir. Tak ada lagi lembaran-lembaran cerita cinta tentang Cho Kyuhyun dan Choi Hyunjin. Yang tersisa hanyalah bekas-bekas luka yang melintang lebar di hati keduanya. Entah butuh berapa lama untuk menyembuhkan luka itu. Setahun? Sehari? Atau bahkan hanya sedetik saja?
Tidak. Sangat sulit. Itu bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan semudah membalikkan telapak tangan. Semuanya butuh proses. Mereka perlu cukup waktu untuk menetralkan kembali kehidupan yang telah kacau balau akibat kemelut kisah bodoh ini.
Terlalu banyak versi kehidupan yang merefleksikan kisah cinta Romeo-Julliet di dunia ini. Yang tentunya selalu berakhir dengan kepahitan dan nestapa. Demi Tuhan! Cinta memang selalu membutakan manusia. Mengapa manusia harus memilih untuk jatuh cinta, kalau mereka tahu ujung-ujungnya akan tersiksa? Apakah itu sesuatu yang menyenangkan?
Dan Hyunjin tahu, dia adalah salah satu di antara sekian banyak manusia bodoh itu―yang memilih tersiksa oleh cinta. Jika bisa memilih, ia tak ingin takdir mempertemukannya dengan Kyuhyun. Keberadaan Kyuhyun menjadi anugrah sekaligus kutukan baginya. Tapi begitulah garis kehidupan, tak ada yang bisa menebak bagaimana alurnya. Semua berjalan secara rahasia. Mungkin Tuhan telah menetapkan sesuatu yang baik untuk mereka. Mungkin tidak sekarang―suatu saat nanti, dan dengan orang-orang yang berbeda. Mungkin.
__ADS_1