
Choi Hyunjin duduk termenung di serambi depan rumahnya, memandang hampa pada rerumputan hijau yang terhampar di hadapannya. Ayahnya adalah seorang pecinta tanaman, maka tidak heran jika bermacam-macam tanaman hias tersusun rapi memenuhi halaman rumah keluarga Choi tersebut.
Tangannya sesekali bergerak melemparkan kerikil kecil ke arah kolam ikan yang berada tak jauh dari tempatnya duduk sekarang. Bunyi gemericik yang timbul akibat kerikil yang memercik air adalah satu-satunya suara yang terdengar di telinganya. Suasana saat itu benar-benar terasa hening.
“Kau sedang apa disini, Hyunjin-ah?” Gadis itu menoleh, ayahnya tiba-tiba sudah duduk disampingnya. Hyunjin menggeleng pelan dan kembali melemparkan beberapa kerikil ke arah kolam ikan koi itu. “Tidak sedang apa-apa,” jawabnya.
“Ada yang sedang mengganggu pikiranmu, hm?”
“Tidak.”
“Apa kau ingin menceritakan sesuatu pada Appa?” tanya pria itu lagi, masih mencoba mendesaknya.
Hyunjin memandang ayahnya ragu. Biar dia bilang tidak sekalipun, ayahnya pasti akan tetap tahu ia sedang punya masalah. Ia tak bisa berbohong kali ini, raut wajahnya pasti terlalu mudah untuk ditebak. Ayahnya sudah bebas sejak kemarin, seharusnya dia senang. Tapi gadis itu tidak menunjukkan wajah gembiranya sedikitpun. Dia hanya duduk termenung dan menekuk wajah seharian ini. Bukannya tidak gembira, ia tentu saja sangat senang ayahnya dapat berkumpul kembali bersamanya. Tapi ada sesuatu yang membuat hatinya tak tenang, sesuatu yang terus menghantui malamnya sehingga dia tak bisa tidur dengan nyenyak.
“Apa kau akan datang ke pernikahannya?”
Hyunjin tertegun, apakah ayahnya benar-benar bisa membaca pikirannya? Gadis itu menoleh dengan wajah penuh tanya, seolah mengatakan, ‘Bagaimana Appa bisa tahu?’.
“Appa melihat undangan itu di meja belajarmu,” Jawab ayahnya, menebak arti raut penasaran Hyunjin.
Gadis itu menundukkan wajahnya. Sebegitu mudahnya kah perasaannya terbaca?
Besok memang pernikahan Kyuhyun. Dia tak tahu harus datang atau tidak, dia bingung. Kalau tidak datang, mungkin dia akan merasa tidak enak. Bukankah Kyuhyun sendiri yang mengantarkan undangan itu padanya? Tapi―apakah dia masih bisa menguatkan hati untuk menghadiri pernikahan orang yang dicintainya? Itu sama saja dengan bunuh diri rasanya.
“Apa kau masih mencintainya?” Belum satu pertanyaan dijawabnya, sang ayah sudah melontarkan pertanyaan lain lagi, dan kali ini lebih tepat menusuk ke hatinya.
__ADS_1
Hyunjin tersenyum pahit, “Kalau pun masih, itu sudah tak ada artinya lagi sekarang. Appa juga tak akan mungkin menyetujui hubunganku dengannya ‘kan?”
“Appa mengerti perasaanmu.”
“Tapi Appa tidak tahu ‘kan, bagaimana rasanya mendapat undangan pernikahan dari orang yang sangat Appa cintai?”
“Appa tahu, dan Appa juga pernah merasakannya.”
“Appa tak perlu mengatakan hal seperti itu, kalau itu hanyalah perasaan bersalah padaku.”
“Kau mungkin tidak percaya, tapi ini memang benar.”
Hyunjin memandang ayahnya. Matanya memancarkan rasa ketidakpercayaan. Awalnya dia mengira bahwa ayahnya hanya ingin bergurau saja, tapi pria itu sama sekali tidak terlihat sedang bercanda.
“Kau mau dengar sebuah kisah?”
“Ini tentang seorang pria bodoh yang menganggung-agungkan persahabatan di atas segalanya.”
“Pria bodoh itu―Appa?” tanya gadis itu menebak.
Sang ayah tersenyum, “Kau bisa menebaknya sesuka hati.” Ia melanjutkan, “Dia terlalu percaya pada sahabatnya, berbagi semua yang ia punya. Sampai suatu hari, kebahagiaan terbesarnya pun terenggut dari tangannya. Dia harus melepaskan orang yang begitu dicintainya kepada sahabatnya sendiri.”
“Mengapa dia melakukan itu? Mengapa dia melepaskannya begitu saja?” tanya Hyunjin begitu penasaran. Dia lebih memilih menyebut orang dalam cerita ayahnya dengan “dia” daripada menyebut sang ayah langsung.
“Karena dia terpaksa. Dia pikir dengan merelakannya bersama pria itu, sang gadis akan lebih bahagia.”
__ADS_1
“Dan gadis itu bahagia?”
“Tidak begitu bahagia. Tidak sebahagia dengan apa yang dia bayangkan.”
“Dan pria itu menyesal?”
“Ya, bisa di bilang begitu,” kata Choi Minhwa sambil tersenyum getir. “Dia menyesali keputusannya, tapi dia tidak pernah menyesal dengan kehidupan yang telah dijalaninya.”
“Apakah Appa bahagia dengan kehidupan Appa sekarang?”
“Sangat bahagia.”
Hyunjin tersenyum, “Aku mungkin tak akan pernah ada jika Appa tetap memilih gadis itu di sisi Appa.”
“Hei, Appa ‘kan tidak bilang kalau pria itu adalah Appa!”
Hyunjin tertawa, ia tahu orang itu memang ayahnya, meskipun pria itu mengelak. “Lalu bagaimana hubungannya dengan gadis itu sekarang?”
“Setelah kejadian itu, tak ada hubungan apa-apa lagi di antara keduanya. Mereka benar-benar putus hubungan, bahkan jika bertemu pun tak mau untuk saling menatap, bersikap seperti orang yang tidak pernah saling mengenal. Sampai di sisa waktu terakhir sang gadis―tentu saja gadis itu sudah menjadi seorang wanita―pria itu datang dan meminta maaf atas semuanya. Wanita itu memberikan senyum terakhir untuknya, mengatakan kalau dia telah merelakan semua yang terjadi.” Choi Minhwa menghentikan ceritanya, ketika disadarinya Hyunjin mulai meneteskan air mata. “Kenapa kau menangis?”
“Aku tak pernah tahu kalau Appa pernah mengalami hal semenyedihkan itu,” gadis itu menyeka titik-titik air di sudut matanya.
Pria itu tersenyum hambar, “Hidup tak mungkin benar-benar sesuai dengan apa yang kita harapkan. Tuhan selalu memberikan manusia pilihan, tinggal kau sendiri lah yang harus menentukan jalan mana yang akan kau ambil. Pilihanmu mungkin akan membawamu kepada sesuatu yang tidak kau inginkan. Tapi percayalah, tidak sepenuhnya itu buruk. Pasti ada sesuatu yang baik di setiap pilihanmu.”
Hyunjin mengangguk-angguk paham. Kisah mereka tidak terlalu jauh berbeda, jadi dia bisa merasakan bagaimana perasaan ayahnya kala itu. Ya, dia tahu betul bagaimana rasanya ketika meninggalkan seseorang, jika dia masih sangat mencintainya. Memaksa untuk berpisah padahal hatinya sangat berat untuk melakukan itu.
__ADS_1
*