Bukan Dia

Bukan Dia
16


__ADS_3

-Author’s POV-


Hankyung sampai di apartemennya. Ia segera merebahkan diri di sofa untuk megistirahatkan tubuhnya sejenak. Hari ini ia hanya berputar-putar di sepanjang kota Seoul untuk menghabiskan waktu. Seharusnya tugasnya kali ini adalah mengawasi Kyuhyun, tapi ia sudah bertekad untuk merahasiakan keberadaan Kyuhyun dari ayahnya. Paling tidak itu lebih baik untuk saat ini.


“kau sudah pulang oppa?”


Baru sebentar ia memejamkan mata, suara seorang wanita membuatnya langsung terbangun. Hankyung mencari arah suara itu, dan betapa terkejutnya ia melihat seorang gadis sedang berdiri sambil memegang sebuah cangkir berisi kopi. Ia yakin gadis itu sudah ada di apartemennya sebelum ia datang tadi.


“bagaimana kau bisa masuk?” tanya Hankyung masih kaget.


Gadis itu meneguk kopi di cangkir yang di bawanya, “mudah saja, aku bisa minta kunci cadangan. Dan tara.. aku disini sekarang.” ia berjalan mendekat ke arah Hankyung, kemudian meletakkan cangkirnya dia atas meja.


Ia mendudukkan diri di atas sofa, ikut duduk di sebelah Hankyung yang masih menatapnya was-was.


“mau apa kau kesini?”


“santai saja oppa. Aku hanya ingin mampir sebentar kok.” gadis itu tersenyum, bersikap sesantai mungkin.


“aku yakin kau punya niat tertentu, Jung Yeoram.” Dengus Hankyung menebak-nebak. Hankyung tahu, pasti gadis itu punya tujuan sehingga tiba-tiba ada di apartemennya ini.


“good. Kau memang cerdas, oppa. Kalau begitu tidak usah berbasa-basi. Aku hanya ingin bertanya, kau pasti tahu kan dimana Kyuhyun oppa?”


“hahaha.. bagaimana mungkin kau bisa menanyakan hal itu padaku? Bukankah kau sendiri juga tahu sudah beberapa tahun ini aku mencarinya?” Hankyung berusaha mencari alasan untuk mengecoh Yeoram. “kalau aku menemukannya tentu sudah ku bawa ia pulang ke rumah.”


“ya, aku tahu itu. tapi kemarin aku bertemu dengannya. Aku yakin oppa pasti sudah tahu keberadaannya sekarang.”


“ya! sudah ku bilang aku tak tahu dia ada dimana.” Kilah Hankyung lagi mulai panik.


“bohong. Aku akan melaporkannya ke Cho ahjussi.” Yeoram mulai mengeluarkan gertakannya. “Bagaimana ya jika dia sampai tahu kau menyembunyikan keberadaan Kyuhyun oppa? ah, dia pasti akan langsung menendangmu ke jalanan.” Yeoram mengancamnya sambil tersenyum.


“michyeoseo! Kau tidak punya bukti apapun.”


“coba oppa pikir, bagaimana kalau Cho Ahjussi menemukannya duluan lalu ia tahu kau mencoba merahasiakan hal itu darinya. Kau tahu kan apa reaksinya nanti? Hm.” Gadis itu tersenyum licik, mencoba menyudutkan Hankyung.


Akhirnya Hankyung menyerah, kalau dipikir-pikir benar juga apa yang dikatakan gadis itu. ”baiklah, akan kukatakan dimana ia berada. Tapi berjanjilah jangan sampaikan ini pada siapapun.”


“ya, itu bukan masalah.” Yeoram tersenyum penuh kemenangan. Ternyata sama sekali tidak sulit untuk membuat orang kepercayaan ayah Kyuhyun itu membuka mulut.


“jadi, dimana Kyuhyun oppa berada?”


“dia masih tinggal di Seoul-“

__ADS_1


“aku tahu itu. Katakan saja alamatnya!” Sela Yeoram tidak sabaran.


Hankyung menarik nafas kesal, gadis itu benar-benar pemaksa. “sebaiknya kau langsung saja ke cafe tempat ia bekerja. Ia akan ada disana sepanjang siang hingga malam hari.”


“cafe apa?”


_


“Ah, ini sudah hari keempat. Empat hari lagi nerakaku akan berakhir. Hwaiting!” Dengan langkah riang Hyunjin berjalan menuju cafe. Entah mengapa hari ini dia terlihat lebih bersemangat, tidak seperti hari-hari sebelumnya ia hanya bersungut-sungut dan mengeluh.


Tapi tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara decitan mobil. Hyunjin langsung saja mengarahkan pandangannya ke arah jalan raya.


“YA! NENEK HATI-HATI KALAU MENYEBERANG. APA KAU MAU MATI HUH?” seorang pengendara mobil marah-marah pada seorang nenek yang di tabraknya tadi, tidak sadar bahwa dia telah mencelakakan wanita tua itu. Nenek tersebut sudah terjatuh di aspal, kakinya terluka dan sedikit mengeluarkan darah.


Orang-orang mulai berdatangan melihat kondisi nenek itu, dan sang pengendara mobil langsung kabur melarikan diri. Hyunjin yang penasaran ikut mendekat. Ia terkejut melihat nenek itu yang merintih kesakitan, tapi orang-orang disekitarnya malah hanya diam menonton tanpa ada yang berinisiatif melakukan sesuatu.


“Ya! mengapa tak ada yang mau menolongnya? Cepat bantu aku memapah nenek!” Hyunjin menyuruh orang di dekatnya, kemudian ia memberhentikan sebuah taxi yang kebetulan lewat. Dua orang pemuda membantu memapah sang nenek ke dalam taxi.


“ke rumah sakit terdekat, ahjussi!” ucap Hyunjin pada sang sopir. Taxi itu segera melaju ke rumah sakit terdekat.


_


Seorang pemuda berlari tergopoh-gopoh di sepanjang koridor rumah sakit. Rasa cemas dan khawatir terus saja menghantuinya. Tadi ada seorang wanita yang menghubunginya dan memberitahu jika neneknya mengalami kecelakaan dan sekarang ada di rumah sakit itu.


“oh, nenek yang menjadi korban tabrakan tadi? beliau ada di Emergency Room.”ujar sang perawat sambil menunjukkan arah.


Pemuda itu segera menuju ke tempat yang dikatakan tadi. Sampai di depan ruangan, ia melihat Hyunjin duduk dengan cemas di bangku tunggu.


“maaf, apakah anda tahu nenek yang baru dibawa kesini?” tanyanya pada Hyunjin.


“Oh, kau keluarganya? Aku yang meneleponmu tadi. Nenek sekarang ada di dalam.”


“bagaimana keadaannya?” tanya pemuda itu panik.


“sebenarnya lukanya tidak parah, tapi entah mengapa tiba-tiba ia pingsan saat dalam perjalanan menuju kemari.” Jelas Hyunjin lagi, tampaknya ia juga merasa cemas dengan keadaan nenek itu. Sudah hampir lima belas menit lalu dokter mulai memeriksa nenek yang di tolongnya tadi. Yang membuat Hyunjin cemas, nenek itu tiba-tiba pingsan saat di taxi.


“oh ya, ini tas beliau. Maaf tadi aku lancang membukanya untuk mencari identitasnya. Dan aku meneleponmu dari panggilan terakhir di ponselnya.” Hyunjin menyerahkan tas milik nenek kepada pemuda itu.


“kamsahamnida. Aku sangat berterima kasih padamu karena sudah menolong nenekku. Maaf merepotkanmu.” Pemuda itu membungkuk pada Hyunjin, Hyunjin jadi sungkan ia bersikap seperti itu.


“cheonmaneyo. Tak usah seperti itu. Aku senang bisa menolong nenekmu.”

__ADS_1


“apa yang bisa kulakukan untuk membalasmu?” pemuda itu kini duduk di samping Hyunjin.


“aku tulus, sungguh. Kau tak perlu membalas apapun.” Hyunjin semakin merasa tak enak, ia pikir menolong nenek itu hanya sebuah jasa kecil, tak perlu di balas apapun.


“apakah kalian keluarga pasien?” seorang dokter keluar dari ruangan itu. Hyunjin dan pemuda itu langsung berdiri dari duduknya.


“saya cucunya.” Jawab pemuda itu.


“bagaimana keondisinya Dok?” tanya Hyunjin ikut khawatir.


“beliau baik-baik saja, hanya mengalami sedikit luka.” Dokter itu tersenyum, mengisyaratkan sang nenek dalam keadaan baik.


“lalu mengapa ia pingsan tadi?” tanya Hyunjin penasaran.


“ia hanya sedikit kaget saja. Beliau sudah terlalu tua, jadi kondisi jantungnya lemah.” Jelas Dokter itu lagi.


“apakah kami bisa masuk dan melihat kondisinya?” pemuda yang merupakan cucu nenek itu bertanya, dokter mengangguk mempersilakan.


“mm.. maaf aku tak bisa lebih lama lagi disini. Ada urusan tiba-tiba. Tak apa kan?” suara Hyunjin dari belakang menghentikan langkah pemuda itu. Ia baru saja akan masuk tapi kemudian berbalik lagi mendengar panggilan Hyunjin.


“tak apa-apa. Begini saja sudah cukup. Sekali lagi terima kasih atas pertolonganmu.” Pemuda itu tersenyum ramah. Hyunjin balas tersenyum kemudian pamit pergi.


Pemuda itu masuk ke dalam ruangan, disana sudah ada seorang nenek yang sedang duduk bersandar di kepala tempat tidur.


Pemuda itu menghela nafas lega setelah melihat keadaan neneknya yang sepertinya baik-baik saja. “syukurlah halmeoni baik-baik saja. Aku sudah sangat khawatir tadi.” ia langsung memeluk neneknya erat-erat. “mengapa halmeoni tiba-tiba pergi sendirian? kan bisa pergi dengan sopir. Atau kalau perlu halmeonni bisa menyuruhku mengantar.”


Pletak!


Nenek itu memukul kepala cucunya. “aku belum mati, tidak usah se-khawatir itu.”


“ya! tapi halmeoni hampir mati kan tadi?”


“aku tidak apa-apa, anak bodoh!” nenek itu tersenyum.


“untung saja ada gadis itu.” gumam pemuda itu pelan.


“oh ya, Jino. Dimana gadis yang menolongku tadi? aku belum sempat berterima kasih padanya.”


Pemuda yang bernama Jino itu menggaruk belakang kepalanya, sedikit ragu untuk mengatakannya. Pasti neneknya akan marah jika tahu gadis itu sudah pergi. “ia pergi tadi. katanya ada urusan mendadak.”


Pletak!

__ADS_1


Lagi-lagi kepala Jino menjadi sasaran pukulan neneknya. “kenapa kau biarkan dia pergi?”


__ADS_2