
“Mengapa kau diam? Apakah sesulit itu untuk mengatakannya? Kau―”
“Aku tidak mencintaimu! Walaupun hanya tinggal kau satu-satunya laki-laki di bumi ini, aku tak akan mau memilihmu.” Airmata Hyunjin menetes bersamaan dengan itu. Dia berdiri, menyambar tasnya di atas meja, kemudian berjalan meninggalkankan Kyuhyun.
*
(Cinta
Kalau bukan dia, apakah ada seseorang yang lain untukku?
Apakah orang itu sebaik dia?
Cinta
Tak bisa kah kau yakinkan dia kalau aku mampu menjaganya?
Aku rela melakukan apapun agar dia tersenyum
Cinta
Bisa kah buat dia menyadari betapa aku sangat membutuhkannya?)
***
Mungkin memang benar nasib bisa diubah. Tapi apakah manusia tahu apa pilihan yang tepat untuk mengubah nasibnya? Bagaimana jika dia salah mengambil keputusan? Penyesalan pasti lah yang akan terjadi.
“Oh, astaga! Sudah jam berapa ini?” Hyunjin memekik kaget ketika matanya menangkap jam tangan milik Jiyoo yang menunjukkan pukul dua siang. Ini jelas sudah melebihi jam istirahat makan siangnya. Atasannya bisa ngomel-ngomel kalau dia terlambat. Pria tua beruban yang pemarah itu paling senang kalau Hyunjin melakukan kesalahan sekecil apapun, sehingga dia punya alasan untuk memarahinya.
“Gawat. Gawat!” dengan panik Hyunjin merapikan penampilannya. “Kenapa tidak bilang kalau sudah jam segini?”
Jiyoo tidak menjawab, dia hanya menggeleng-gelengkan kepala dan diam saja melihat sahabatnya. Sudah dua tahun, tapi Hyunjin tetap saja tidak berubah; masih pelupa dan selalu ceroboh. Jiyoo meletakkan novelnya di atas rumput, kemudian sambil terkekeh pelan dia berdiri dan membantu Hyunjin merapikan pakaiannya yang kusut di sana-sini. Hampir dua jam mereka duduk di bawah pohon apel di taman itu, menghabiskan waktu bersama untuk melepas rindu karena sekarang mereka mulai jarang bertemu. Mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing, apalagi Jiyoo kini tengah mempersiapkan pernikahannya.
“Baiklah, aku duluan ya. Sampaikan salamku pada Heechul!” Hyunjin tersenyum lalu berlalu sambil melambaikan tangannya. Jiyoo balas melambaikan tangan, sampai Hyunjin menghilang di balik kerumunan orang yang lalu lalang di taman itu.
***
__ADS_1
Hyunjin mendecak kesal saat mendapati dirinya terjebak di balik hujan deras. Dia hanya bisa berdiri kaku di bawah atap teras gedung kantornya, sambil mengusap-usapkan tangannya yang mulai membeku kedinginan. Padahal ibunya sudah mengingatkan untuk membawa payung tadi pagi, tapi dia menolak dengan alasan hari ini pasti akan cerah. Dia bukan peramal cuaca, jadi perkiraannya bisa saja meleset, kan?
Dengan ragu, kaki gadis itu akhirnya bergerak melangkah. Masa bodoh jika dia akan pulang dengan basah kuyup. Tidak peduli jika kena flu. Sekali-sekali tidak masuk kerja boleh juga kan? Dia bosan melihat tampang atasannya yang galak itu. Oh, betapa bahagianya jika beberapa hari saja tidak melihat wajah keriput itu.
Tapi bagaimana kalau gajinya dipotong karena tidak masuk kerja? Atasannya itu kan pelit dan sangat perhitungan, tidak mempedulikan hak dan asas karyawannya. Kaki Hyunjin berhenti melangkah, padahal dia sudah berjalan sepuluh meter dari gedung kantornya. Ada pemikiran untuk berbalik dan meminjam payung dari siapa saja, atau memanggil taksi untuk menjemputnya. Ah, pemikiran yang kedua itu sepertinya bagus juga. Tapi seharusnya dia melakukannya sejak awal. Kini hampir seluruh tubuhnya sudah basah kuyup, pasti taksi manapun tidak akan mau mengangkutnya.
Tiba-tiba Hyunjin tak lagi merasakan tetesan air menerpa tubuhnya, seperti ada sesuatu yang melindungi di atas kepalanya. Gadis itu mendongakkan kepala ke atas dan melihat sebuah payung berwarna kuning menjadi batas antara dirinya dan hujan.
“Jangan hujan-hujanan seperti anak kecil. Kau bisa sakit, bodoh.”
Mendengar suara itu, ia lantas berbalik ke belakang dan mendapati seseorang tengah memegang gagang payung yang melindunginya. Hyunjin tersenyum penuh terima kasih pada malaikat yang datang menjemputnya itu. Dia datang di saat yang tepat, meskipun sedikit terlambat.
“Kenapa kau bisa ada disini, dr. Cho?”
**
Kyuhyun muak dia hanya bisa terdiam saat gadis itu perlahan pergi dari pandangannya. Ini bukan yang pertama kali terjadi. Dia sudah terlalu sering membiarkan Hyunjin menghilang darinya. Seharusnya dia bisa membuat Hyunjin tetap berada di dekatnya, tapi dia selalu saja melepaskan gadis itu.
Kyuhyun tahu bahwa bukan seperti ini yang Hyunjin inginkan. Gadis itu kesulitan untuk mengatakan bahwa dia tidak membutuhkan Kyuhyun, dan Kyuhyun tahu betul apa artinya itu―Hyunjin mencintainya, sama besar dengan rasa cintanya pada gadis itu. Kalau ini benar-benar yang terakhir, dia tidak ingin mengulangi kebodohannya lagi. Maka, saat sosok gadis itu mulai menghilang di balik dinding, Kyuhyun berusaha bangkit dan mengejarnya. Dia sudah pernah kehilangan, kini dia tidak boleh mengalaminya lagi.
***
“Tolong dengarkan aku. Mengapa kau tak memberikanku kesempatan?” Kyuhyun semakin mengeratkan pelukannya. Hyunjin berhenti memberontak. Bahunya bergetar hebat karena tangisannya. Tapi dia terlalu takut untuk berbalik dan menatap Kyuhyun.
“Aku mungkin masih bisa hidup tanpamu, tapi hidupku tak akan berarti. Aku hanya ingin kau yang kelak menjadi pendampingku. Bukankah kau juga pernah bilang ingin berada di altar pernikahan bersamaku?”
Badannya melemas. Dia sudah tak punya kekuatan lagi untuk berpijak pada bumi. Runtuh sudah semua dinding kokoh yang ia ciptakan demi menghalau perasaannya. Choi Hyunjin luluh, batas keegoisan itu perlahan mulai memupus. Kyuhyun terlalu berusaha sehingga membuat Hyunjin tidak bisa menutup mata untuk tidak melihat ketulusannya. Betapa besar pemuda itu mencintainya. Sesuatu yang mungkin tidak akan pernah dia temui lagi dalam hidupnya, selain dari seseorang bernama Cho Kyuhyun.
Dia berbalik dan balas memeluk pemuda itu. Menenggelamkan wajahnya di dada Kyuhyun, Hyunjin terisak sejadi-jadinya. “Maafkan aku. Maafkan aku..”
Malam begitu dingin. Hening. Yang terdengar hanya suara-suara bising dari binatang malam di sekitar mereka. Isak tangis gadis itu tenggelam di dada sang pemuda. Kyuhyun tersenyum dan membelai lembut rambut gadis itu. “Apakah ini berarti kau tidak akan pergi lagi dariku?”
Hyunjin mengangguk berkali-kali. Dia tidak mampu mengeluarkan suara karena tenggorokannya tercekat. Kata-kata tidaklah penting sekarang, yang penting Kyuhyun tahu, bahwa ia tidak bisa pergi lagi darinya. Kini mereka akan melangkah bersama. Tidak peduli apapun tang terjadi, apapun yang menghalangi―selama mereka bersama, semua pasti akan bisa dilalui.
Untuk hari ini, esok, dan seterusnya, jangan pernah lari lagi dariku. Tetaplah di sisiku, bersamaku.
__ADS_1
***
“Sudah ku bilang, kan, agar tidak kemana-mana sebelum aku datang?” Kyuhyun menatap Hyunjin dengan kesal. “Lihatlah! Bajumu basah semua, bagaimana kalau nanti kau sakit? Kau pikir kesehatan itu tidak penting?” Mentang-mentang dokter, selalu saja bicara begini-begitu tentang kesehatannya. Tidak bisa kah sekali saja pria itu tidak cerewet?
“Aku tidak akan sakit, Pak Dokter. Lagipula kapan kau bilang akan menjemputku?”
“Apa kau tidak membaca pesanku?”
“Pesan yang mana?” tanya Hyunjin bingung. Dia sama sekali tidak ingat pesan dari Kyuhyun yang mengatakan kalau Kyuhyun akan menjemputnya. Mendengar itu Kyuhyun langsung melotot lebar. Jika boleh, dia ingin sekali melempar gadis ini ke sungai Amazon. Padahal jelas-jelas Hyunjin sudah membalasnya dengan ‘Ya’ setengah jam yang lalu tadi.
Gadis itu mencoba mengingat-ingat lagi. “Ah, yang itu.. Maaf, aku benar-benar lupa,” dia nyengir tidak berdosa, sekali lagi Kyuhyun berusaha menahan diri untuk tidak mencubit gemas pipi kekasihnya itu.
“Ya sudah lah. Ayo kita pergi!” Hyunjin menggandeng tangan Kyuhyun yang tidak memegang payung, sehingga kini gadis itu bisa berdiri di sebelahnya. Mereka melangkah bersama, di bawah hujan yang masih turun dengan deras. “Bisa kah kita mampir dulu di kedai dekat kantor pos untuk minum kopi? Aku benar-benar kedinginan,” katanya lagi sambil menoleh, meminta persetujuan pada pria di sebelahnya.
Kyuhyun menggeleng tegas, “Tidak. Kau harus cepat sampai di rumah jika tidak ingin sakit.”
“Tapi aku kedinginan.”
Tanpa bicara apa-apa Kyuhyun langsung membuka mantel coklat yang dikenakannya, kemudian memakaikannya kepada Hyunjin. “Masih dingin?” tanya Kyuhyun. Hyunjin menganggukkan kepalanya.
“Genggam tanganku, maka kau tak akan kedinginan lagi,” Kyuhyun tersenyum dan mengeratkan genggaman tangannya pada Hyunjin. Mereka melanjutkan langkah bersama. Di bawah atap sebuah payung, berlindung dari hujan yang turun semakin deras.
***
Cinta
Aku ingin meminta satu hal lagi padamu
Bisa kah kau tetap ada di antara kami,
Untuk hari ini, esok, dan seterusnya?
Tetap yakinkan aku
Bahwa dia memang takdir yang dipilihkan Tuhan untukku
__ADS_1
The End