Bukan Dia

Bukan Dia
62


__ADS_3

(Cinta


Masihkah ia berdiri disana untukku?


Cinta


Masih sudi kah ia menantiku hingga nanti?


Cinta


Akankah ia menyambut saat tangan ini ingin meraih, menggenggam jemarinya hingga akhir?


Bila kau jawab tidak, maka aku akan berhenti disini


Cukup berbalik dan ucapkan selamat tinggal, maka semuanya selesai)


**********


Banyak orang merasa bimbang dalam mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Kebanyakan mungkin akan menyesal di akhir, tapi sebagian lainnya menerima dengan hati puas. Keputusan yang diambil, itu lah pilihan hidup. Maka tidak heran jika butuh beberapa pertimbangan untuk menentukannya. Salah memilih, berarti salah mengambil jalan hidup.


“Apa kau percaya takdir?” tanya Hyunjin siang itu, saat ia sedang duduk menemani Jiyoo di bawah pohon apel di taman dekat kampus mereka dulu. Dimanjakan semilir angin yang menyejukkan, membuat Jiyoo tampak serius dengan novel roman di tangannya dan melupakan Hyunjin untuk sementara. Dia baru teringat kalau Hyunjin masih setia duduk di sampingnya setelah gadis itu tiba-tiba bersuara.


“Tentu saja,” Jiyoo yang sedang berkonsentrasi untuk menyelesaikan novel tersebut dengan enggan beralih pandang, menghentikan sejenak aktivitas yang sedang ditekuninya untuk menerka apa yang kira-kira akan dikatakan Hyunjin selanjutnya. Dengan sabar dia menunggu, tapi tidak terlihat tanda-tanda bahwa Hyunjin akan meneruskan perkataannya. Gadis itu kini malah sibuk menatap ke atas. Matanya menerawang dengan serius.


“Langit dan awan itu.. Mereka juga salah satu takdir Tuhan, bukan?” Tanya Hyunjin lagi, salah satu jarinya menunjuk ke arah langit biru yang berselimut awan cumulus.


Jiyoo mengernyitkan dahinya, merasa heran. Tapi toh dia akhirnya menjawab juga. “Ya,” katanya sabar.

__ADS_1


Hyunjin terus menatap ke arah langit, sesekali dia menggerak-gerakkan jarinya seolah sedang menggeser awan itu bergerak dari tempatnya. “Aku bisa mengendalikan mereka. Lihatlah, betapa mudahnya mengubah takdir,” senyumnya merekah, terpancar secercah rasa puas dari wajahnya. Bila mengubah takdir bisa semudah ini, siapapun pasti tak akan merasa kebingungan. Orang-orang yang berkeinginan tinggi tak perlu melakukan pengorbanan untuk mendapatkan sesuatu. Hidup menjadi mudah, menyenangkan bukan?


“Berhentilah bertingkah bodoh!” Jiyoo mendaratkan novel tebal di tangannya itu ke dahi Hyunjin, membuat gadis itu meringis kesakitan. Tapi Hyunjin tidak berani protes, takut akan dipukul lagi. Jiyoo melayangkan telapak tangannya ke udara, menggerakkannya seolah sedang meraih sesuatu di atas langit. Kemudian dia menurunkannya lagi setelah membuat genggaman. “Lihat!” katanya sambil menunjukkan genggaman tangannya pada Hyunjin. Jiyoo kemudian membukanya, “Tak ada apa-apa.”


Hyunjin tertawa melihat apa yang baru saja Jiyoo lakukan. Dia mencibir, “Sekarang siapa yang bertingkah bodoh, huh?”


“Takdir tak dapat diubah. Takdir murni kuasa Tuhan, dan manusia tak berdaya untuk melakukan sesuatu terhadap takdir,” ujar Jiyoo mengabaikan tawa Hyunjin. Dia melanjutkan, “Sekuat apa pun kau berusaha, awan itu tak mungkin bisa ada di dalam genggamanmu jika kau meraihnya dari tempat ini.”


“Tak bisakah manusia menentukan takdirnya sendiri?”


Jiyoo tersenyum. Kepalanya menggeleng akan pertanyaan Hyunjin. “Tapi manusia bisa mengubah nasibnya.”


“Uh?”


“Kau mungkin dapat meraih awan itu bila kau terbang ke sana. Nasib ada di tangan manusia itu sendiri, dia lah yang berhak menentukannya.”


***


Sekali lagi, Cinta


Aku bertanya padamu


Apakah aku akan bisa berdiri di sebelahnya suatu saat nanti?


Bila memang jawabannya adalah tidak, aku akan menyerah)


**********

__ADS_1


“Kenapa selalu menghindar dariku? Apa kau tidak tahu kalau aku batal―”


“Aku sudah mendengarnya. Pemberitaan tentangmu ada dimana-mana.”


“Lalu?”


Cho Kyuhyun, mahasiswa kedokteran tingkat akhir yang selalu mendapatkan beasiswa karena kecerdasannya itu kini tampak frustasi, kehilangan kendali akan kesabarannya hanya karena seseorang yang sebenarnya bukan siapa-siapa. Gadis itu sudah merenggut separuh kebahagiaannya, membawanya kabur begitu saja, dan kini menolak untuk mengembalikannya.


“Harus berapa kali kita berdebat tentang hal ini, Cho Kyuhyun? Apakah kau tidak merasa lelah sama sekali? Kita terus saja membahas hal yang sama, dan kau sudah tahu apa jawabannya,” Hyunjin menatap pemuda itu dengan pandangan sendu. Ia lelah jika terus ditekan, seolah Kyuhyun berusaha memojokkannya untuk mengubah keputusan itu. Berkali-kali ia menjelaskan, dan berkali-kali pula Kyuhyun memborbardir dirinya dengan semua ini.


“Aku butuh kejelasan.”


“Bukankah semuanya sudah jelas? Kita tak mungkin bisa bersama.”


“Memangnya kenapa? Bisakah kau berikan aku alasan yang logis, selain alasan konyol itu?” Pemuda itu menghentakkan tangannya ke atas meja. Bunyi debamam yang cukup keras tersebut setidaknya mampu membuat beberapa orang mengalihkan pandangan ke arah mereka, ingin tahu apa yang sedang diributkan pasangan muda ini.


Kyuhyun menarik tangan Hyunjin yang duduk dihadapannya, menggenggamnya dengan erat sambil menatap dalam kedua bola mata gadis itu. “Aku telah memilih jalanku, pilihanku adalah bersamamu, Hyunjin-ah.”


“Apa yang bisa membuatmu mengerti? Semua ini rumit. Mungkin kau sudah memilih itu, tapi bagaimana denganku? Memilihmu sama saja akan menyakiti ayahku.” Hyunjin menghela napasnya lelah. Kapan semua penderitaan ini bisa berakhir? Kapan dia bisa menikmati setiap detik hidupnya tanpa ada rasa sakit sedikitpun?


Hyunjin menyesal. Jika saja dia tidak bersedia menerima permintaan Kyuhyun untuk bertemu malam itu, mereka pasti tak akan pernah terlibat dalam percakapan seperti ini. Berdebat untuk sesuatu yang tidak pasti, hal ini membuatnya semakin tertekan. Mungkin memang benar Kyuhyun tak jadi menikah dengan Yeoram. Tapi kenyataannya hal itu tidak mengubah apapun. Ia masih harus bertahan dengan pendiriannya, ketetapan hatinya sudah tak bisa diubah lagi. Perseteruan orang tua mereka masih terus menyala, mereka tidak bisa menyangkal akan hal itu.


“Baiklah. Aku akan menerima ini. Tapi katakan bahwa kau tidak mencintaiku! Cukup katakan saja, maka aku akan menghilang secara perlahan dari hadapanmu.” Kyuhyun benar-benar putus asa. Mengapa gadis ini begitu keras kepala? Apakah hatinya tidak bisa luluh dengan ketulusan yang dia tunjukkan? Entah bagaimana lagi cara untuk meyakinkan Hyunjin, Kyuhyun sudah tak tahu harus melakukan apa.


Hyunjin mungkin akan mudah melakukan hal itu. Hanya mengucapkan sesuatu dari bibirnya saja, bukankah itu sebuah perkara mudah? Tapi dia tidak mungkin membohongi perasaannya. Salah besar kalau dia mengatakan hal itu.


“Apakah itu sulit untuk kau lakukan?” Kyuhyun bertanya―yang lebih terdengar seperti menantang gadis itu untuk melakukan apa yang ia syaratkan.

__ADS_1


Bibir gadis itu terkatup rapat. Dia tak ingin bicara apa-apa lagi, berdebat dengan Kyuhyun terus saja membuatnya tertekan. Dia tidak bisa lebih dari ini. Sejak awal pertemuan mereka di kafe itu, dia sudah berusaha menahan diri untuk tidak tersenyum. Ketika sosok malaikatnya hadir di hadapannya, dia mencoba sekuat tenaga untuk bersikap sebiasa mungkin, menyembunyikan rasa rindu yang membucah di dalam hatinya. Kali ini dia ingin kata ‘berakhir’ benar-benar ada di antara mereka. Walau dia sadar betul bahwa mereka sudah berakhir sejak awal.


“Mengapa kau diam? Apakah sesulit itu untuk mengatakannya? Kau―”


__ADS_2