Bukan Dia

Bukan Dia
11


__ADS_3

Aku keluar dapur dan mencari Kyuhyun. Bisa-bisanya ia mengerjaiku seperti itu. Ya! dimana dia?


“mencari Kyuhyun?” tanya sebuah suara yang tiba-tiba muncul. Aigo, dia ini senang sekali muncul tiba-tiba dan mengagetkanku.


“ne, kau melihatnya Jongwoon-ssi?”


“Dia sedang membersihkan meja. Itu, disana!” Jongwoon menunjuk ke arah Kyuhyun yang sedang mengelap meja. Ah disana dia rupanya.


“kau membohongiku kan?” tuduhku begitu aku berada tepat di depannya.


“Kapan aku membohongimu?” ucapnya tak peduli. Sepertinya baginya mengelap meja jauh lebih menyenangkan dari pada menggubrisku.


“tadi kau bilang Ryeowook sedang sibuk di dapur dan butuh bantuan. Tapi ternyata dia sama sekali tidak sedang sibuk.”


“kalau tak begitu pasti kau akan terus ribut dengan cucu Lee sajangnim. Apa kau mau di pecat olehnya?” tanyanya masih sambil mengelap meja.


“dipecat? Aku mau-mau saja.”


“bodoh!” Ia memukulkan serbet di kepalaku, dan kemudian pergi begitu saja.


“YA! itu menjijikkan Kyuhyun-ssi. Serbetnya kan kotor T.T”


_


Seperti kemarin, aku menunggu Kyuhyun saat akan pulang. Sebenarnya aku ingin dia menemaniku menunggu bus seperti kemarin lagi. Aku tak mau menunggu sendirian.


“Lee sajangnim hanya datang sebulan sekali kan?” tanyaku saat kami sedang dalam perjalanan menuju halte bus.


“ya, biasanya sih begitu.”


“apa cucunya itu sering ikut dia ke cafe?” tanyaku lagi masih penasaran. Aku harus mengantisipasi jika saja Donghae datang lagi dan menemukanku disana. Aku tak mau cari ribut lagi dengannya.


“setahuku, ini pertama kalinya ia datang sejak sekian lama. Kau dengar sendiri kan, Manager Park bilang terakhir melihatnya saat ia masih pakai seragam SMU? Berarti itu sudah cukup lama.” jelasnya penuh analisis. Bahkan obrolan kecil seperti itu pun masih diingatnya, aku saja tidak kepikiran sama sekali. Cerdas sekali dia.


“untuk apa kau tanyakan itu? apa kau menyukainya?” ia tiba-tiba bertanya, membuatku langsung terdiam. Mau ku jawab apa? aku memang mulai kesal padanya. Tapi bohong jika ku bilang aku tak menyukainya. Paling tidak rasa suka itu masih tetap ada, walaupun hanya tersisa sedikit.


“kenapa diam? Kau benar-benar suka padanya?” Kyuhyun mendadak berjalan lebih cepat. Astaga, aku bisa tertinggal olehnya kalau dia jalan secepat itu.


“ya! tunggu!” aku berlari menyusulnya, dan langsung menarik tangannya agar berhenti. Ia tetap saja jalan lebih cepat.

__ADS_1


“kenapa? Jangan tarik-tarik aku begitu!” ia menghempaskan tangannya dan kembali berjalan dengan langkah yang sangat cepat. Wajahnya seperti sedang kesal. Kenapa dia ini? padahal tadi ia baik-baik saja. Apa dia kesambet sesuatu?


_


Kami duduk di halte bus, kali ini suasananya lebih suram dari yang kemarin. Bukan karena tempatnya yang gelap atau karena udara dingin, tapi karena kami sama-sama diam. Ia bahkan tak mengucapkan sepatah kata pun sejak tadi. Padahal kemarin kami masih bisa saling menghina. Aku jadi merasa aneh kalau suasananya jadi seperti ini.


“Kyu, tak apa-apa kan kalau mantelmu ku kembalikan kapan-kapan? aku sedang malas mencucinya.” Tanyaku memecah kesunyian ini. Lagipula aku harus cari waktu yang tepat untuk mencucinya, bisa gawat kalau oemma menemukan mantel itu di jemuran. Waktu itu aku masih bisa selamat karena oemma sedang mengantuk. Kalau dia 100% sadar pasti ia akan tanya macam-macam.


“ya! kenapa kau diam saja? apa bibirmu sedang sakit?” aku berteriak kesal padanya. Ia melipat kedua tangannya di depan dada –sepertinya sih menahan dingin- dan menutupi kepalanya dengan tudung jaket. Ia menundukkan kepala.


“Kyuhyun!” lagi-lagi ia tak menjawabku. Aku lantas bergeser sampai tepat di sampingnya. Baru kusadari ada sebuah benda yang menempel di telinganya. Pantas saja dia tak dengar biarpun aku teriak sampai capek. Ia memasang earphone di telinganya. Aku lalu melepas benda itu dari telinganya, namun ia tetap tak menggubrisku.


Karena kesal, aku kemudian mendorong-dorong pelan bahunya. Bocah ini malah merentangkan tangannya dan menguap lebar seperti kuda nil. Rupanya dia tertidur tadi. Ya! sungguh, apa ini tempat yang nyaman untuk tidur? Ada-ada saja dia.


“apa ini sudah pagi? Dimana aku?” tanyanya seperti orang amnesia. Baru saja beberapa menit tertidur dia sudah jadi linglung begini.


“kau sekarang ada di dunia lain. Kyuhyun in Wonderland!” ucapku bersorak.


Pletak!


Dengan sadisnya ia menggetok kepalaku. “jangan bercanda!”


“belum. Dan aku tak ingin dengar. Simpan saja ceritamu untuk adik kecilmu di rumah.”


“aku tak punya adik kecil. Adikku sudah SMU.”


“baiklah, untuk keponakanmu mungkin?”


“aku tak punya keponakan.”


“kalau begitu untuk tetanggamu. Pasti ada yang punya anak kecil.”


“ku rasa tetangga sebelah rumahku punya seorang balita.”


“ya sudah, cerita saja padanya.”


“tapi ku rasa balita belum bisa mengerti. mungkin anak seusia lima tahun baru bisa.”


“bukankah anak lima tahun itu termasuk balita?”

__ADS_1


“benarkah? Aku tak tahu itu.”


“itu karena kau bodoh.”


“mwo? Memangnya kau pintar? Jangan seenaknya mengatai orang.” Aku kembali memandang kesal padanya. Ia sama sekali tak peduli dan malah memasang earphonenya lagi. Entah mengapa bisa terjadi dialog tak jelas ini. hah, tapi aku juga sudah biasa adu mulut tak jelas dengannya.


Aku melihatnya terdiam seperti tadi. Jangan-janagn ia ketiduran lagi.


“Kyuhyun! Aku tak akan membangunkanmu kalau kau sampai tertidur.” Aku mengancamnya. Entah dia dengar atau tidak.


“aku tak sedang tidur.” Ia membuka matanya dan menoleh padaku. Wajahnya dekat sekali, aku baru sadar aku masih di sampingnya sekarang. Sejak tadi aku belum bergeser sama sekali. Tanpa menunggu apa-apa aku langsung saja bergeser menjauh.


Ia tertawa, dan itu membuatku hanya terbengong-bengong. Ini kedua kalinya aku melihatnya tertawa seperti orang gila begitu. Sama seperti saat di rumah sakit waktu itu.


“kau kenapa? Aneh sekali.” Aku mencibir, ia semakin keras tertawa. Jangan-jangan memang benar perkiraanku waktu itu, Kyuhyun pasien rumah sakit jiwa yang lepas.


“kenapa wajahmu seperti itu? terlihat aneh. Kau gugup duduk di dekatku?” ujarnya percaya diri sambil berusaha menghentikan tawanya itu. Mungkin kalau ada orang yang lewat di dekat sini ia akan menyangka ada makhluk halus yang sedang tertawa.


“buat apa aku gugup?”


“wajahmu memerah. Lihat saja di cermin.” Tunjuknya pada wajahku.


“benarkah? Apa kau bawa cermin?”


“untuk apa aku bawa cermin?”


“siapa tahu diam-diam kau suka berdandan?” Kyuhyun langsung melemparkan tatapan mautnya begitu aku berkata seperti itu. hahaha.. sekarang gantian aku yang membuatnya kesal. Menyenangkan sekali.


Suara deru mesin perlahan-lahan datang mendekat busnya sudah datang. Akhirnya pertemuan kami hanya sampai sini.


“busmu datang. Sana pulang!” ia mengusirku dengan sangat tidak ramah. “besok Lee sajangnim sudah tak datang lagi. Aku akan menyiksamu lebih kejam dari biasanya. habislah kau!” ancamnya padaku.


“benarkah? Akan ku tunggu besok.” Aku menjawabnya enteng. Aku harus persiapkan mentalku untuk besok. Entah siksaan apa lagi yang akan di berikannya padaku. “aku pulang duluan. Sampai jumpa.. Kyuhyun in Wonderland!”


“YA!”


Aku tertawa keras melihat wajahnya. Cepat-cepat aku masuk ke dalam bus. Aku duduk di tempat duduk di samping jendela. Aku tak mau melihatnya dari belakang seperti kemarin lagi. Bisa-bisa aku jadi merasa gila karena salah melihatnya tersenyum. Ia kan tak mungkin tersenyum-senyum sendiri pada bus.


To Be Continue..

__ADS_1


__ADS_2