Bukan Dia

Bukan Dia
43


__ADS_3

***Jika kau diberi pilihan, mana yang akan kau pilih?


Mempertahankan orang yang kau cintai tetap disisimu, atau melepaskannya jika itu bisa membuatnya lebih bahagia?***


___


Hyunjin memandang ragu pintu gerbang tinggi di depannya, hatinya masih ragu untuk melangkah lebih jauh lagi. Ia ingin masuk ke dalam sana, tapi masih ada perasaan takut yang menghinggapinya. Gadis itu hampir saja menyerah dan berbalik pergi, tapi sisi lain dari dirinya memaksanya untuk tetap tinggal. Banyak hal yang sudah ia lakukan untuk sampai di depan rumah mewah itu, ia bahkan membohongi ayahnya dengan mengatakan ingin pergi ke toko buku, padahal ia justru ada di depan kediaman keluarga Cho saat ini. Dengan susah payah Hyunjin memaksa polisi yang menangani laporannya kemarin untuk memberikan alamat Kyuhyun padanya, dan akhirnya berhasil. Ia sudah sejauh ini, rasanya apa yang dilakukannya akan menjadi sia-sia jika menyerah hanya sampai disini.


Masih dengan perasaan ragu, Hyunjin menekan bel di pintu gerbang. Suara seseorang dari intercome bertanya padanya, “Siapa?”


Hyunjin hanya diam, masih merasa ragu untuk menjawab.


Orang di seberang bergumam pelan, “Hyunjin-sshi?”


Selang beberapa menit, pintu gerbang terbuka dan menampakkan sosok seorang pria yang sudah Hyunjin kenal belakangan ini. Ia tersenyum ramah pada gadis itu, “bagaimana kau bisa ada disini?”


Hyunjin menggaruk tengkuknya ragu, mana mungkin ia akan bilang datang kesini untuk memastikan bahwa Kyuhyun tak benar-benar di culik? Kini ia tahu―dan sudah yakin―disini benar-benar tempat tinggal Kyuhyun. Jadi apa yang harus ia takutkan? Bukankah seharusnya Kyuhyun aman berada disini?


“aku hanya kebetulan lewat, dan―“


“pasti kau ingin bertemu Kyuhyun hyung ‘kan?” Jino menyipitkan matanya, mencoba menebak. Hyunjin hanya menganggukkan kepalanya, memang itu lah tujuannya datang kemari.


“apa dia baik-baik saja? dia sehat ‘kan?” tanya Hyunjin bertubi-tubi, terlihat sekali betapa khawatirnya ia pada Kyuhyun.


Jino tak langsung menjawab, entah dia harus mengatakan apa. Kyuhyun memang baik-baik saja secara fisik, tapi tidak secara jiwa. Sudah seharian sejak bangun dari pingsannya, Kyuhyun terus-terusan berteriak dan melempar barang-barang. Ia memaksa ingin keluar dari “penjaranya” di rumah itu.


“masuklah, dia ada di dalam rumah.” Jino membuka pintu gerbang lebih lebar, dan mempersilakan Hyunjin untuk masuk.


Hyunjin sedikit tercengang saat memasuki rumah mewah itu, melihat perabotan dan arsitekturnya yang sangat glamour. Ia tak pernah menyangka, keluarga Kyuhyun begitu kaya raya, megingat kehidupan Kyuhyun―yang diketahuinya―selama ini sangat sederhana. Namja itu bahkan harus bekerja paruh waktu untuk membiayai kuliahnya sendiri. Diam-diam ia merasa bangga, kekasihnya bukan orang yang mengandalkan kekayaan keluarganya.


“kau tunggu saja dulu, aku akan memanggilnya.” Jino memberi isyarat pada Hyunjin untuk duduk di sofa. Ia kemudian naik ke lantai atas, untuk mengatakan pada Kyuhyun bahwa Hyunjin ada di rumah itu, mencarinya.


Jino baru saja akan membuka handel pintu, saat tiba-tiba salah satu dari dua orang yang berjaga di depan ruangan itu mencegah tangannya. “kau tak boleh masuk.”


“aku ingin bicara pada hyung, bisakah kalian minggir?” Jino berkata ketus, tapi dua orang itu masih tetap menghalanginya untuk masuk. Mereka adalah pengawal yang ditugaskan untuk menjaga Kyuhyun agar tidak kabur, tentu saja atas perintah Tuan Cho―ayah Kyuhyun.


“maaf tuan muda, kami hanya melaksanakan tugas dari Tuan Cho.”


“aish.. baiklah.” Jino menyerah, ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia tahu kehendak ayahnya sangat sulit untuk di tentang. Kini yang ada di pikiran Jino hanyalah mencari alasan untuk mengatakan pada Hyunjin kalau Kyuhyun tak bisa di temui, tentu saja ia tak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya.


___

__ADS_1


“sekali lagi maaf, aku lupa kalau dia sedang pergi. Tapi nanti aku pasti akan bilang padanya jika kau kemari.” Jino membungkuk untuk kesekian kalinya pada Hyunjin, merasa tak enak karena tak bisa mempertemukan mereka berdua.


Hyunjin lebih merasa tak enak, permintaan maaf Jino ia rasa terlalu berlebihan, mengingat itu bukanlah kesalahannya. “sungguh, tak apa-apa. Dengan mengetahui keadaannya baik-baik saja sudah cukup bagiku.”


“Hyunjin-sshi..” panggil Jino pelan, terdengar ragu-ragu.


“Ye?” gadis itu menyahut, masih merasa sungkan jika saja Jino akan mengucapkan kata maafnya lagi. Sepertinya ia harus mencatat berapa kali Jino mengucapkan kata “maaf” untuknya hari ini.


“hyung tak pernah menceritakan apa-apa padamu?”


“eh, tentang apa?”


Jino menggeleng cepat, “ah, tidak. Lupakan saja.”


“baiklah, kalau begitu aku pergi. Salam untuknya jika dia sudah kembali.”


“nde, pasti akan ku sampaikan.”


“terima kasih Jino-sshi.” Hyunjin tersenyum, kemudian membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi. Ia segera memberhentikan taxi yang kebetulan lewat.


Jino tersenyum miris, “sepertinya dia memang tidak tahu apa-apa.”


___


Tanpa banyak bicara, salah satu dari mereka segera mengeluarkan kunci dari dalam sakunya, kemudian membukakan pintu itu. Jino segera masuk, dengan membawa nampan berisi makan malam untuk Kyuhyun.


Saat Jino masuk, keadaan di ruangan itu begitu gelap. Ia segera mencari saklar lampu untuk memberi penerangan. Dan ketika lampu menyala, ia begitu terkejut mendapati keadaan di dalam yang sangat kacau. Barang-barang berserakan tidak pada tempatnya, sepertinya Kyuhyun benar-benar mengamuk seharian ini. Makanan yang di berikan sebelumnya pun sudah berakhir mengenaskan di lantai, tanpa di makan sedikitpun. Jino buru-buru meletakkan nampan yang di bawanya ke atas meja. Ia segera menghampiri Kyuhyun yang terduduk dengan tatapan kosong di sudut ruangan.


Jino menatap nanar kakak tirinya itu. Tangan Kyuhyun berdarah, dan kaca besar di kamar itu sudah hancur berkeping-keping. Jino tak perlu berpikir ulang untuk menebak dari mana asal luka di tangan Kyuhyun.


Jino duduk di samping Kyuhyun, bersandar pada tembok yang sama. “hyung, kau tak mau makan dulu? bukankah sudah sejak kemarin kau belum makan apa-apa? Bagaimana kalau kau mati kelaparan? Hyunjin pasti akan memarahiku.” Jino terkekeh, masih mencoba bercanda untuk membuat suasana mencair, walau ia tahu ini bukanlah saat yang tepat untuk melontarkan candaan.


“aku tahu abonim keterlaluan dengan mengurungmu seperti ini, tapi dia pasti punya rencana yang terbaik untukmu.”


“Hyung, kau sudah di rumah, apa kau tidak kangen suasana rumah ini? Bukankah sudah cukup lama kau pergi?”Jino terus bicara, namun Kyuhyun hanya diam, menatap dengan pandangan kosong ke hadapannya.


“tadi Hyunjin datang kesini.” Jino diam sebentar, menunggu reaksi Kyuhyun atas hal yang baru saja di katakannya. Dan benar saja, Kyuhyun langsung memalingkan wajahnya ke arah Jino.


“Ia mencarimu. Aku tak bilang kau sedang di kurung. Aku bilang kau sedang pergi, dan dia mengerti, lalu pulang.”


“untuk apa? lalu dari mana dia tahu alamat rumah ini?”

__ADS_1


Jino tersenyum, akhirnya Kyuhyun mau juga merespon ucapannya, sejak tadi ia seperti bicara dengan batu. “aku tak tahu. Oh ya, dia bilang dia senang tahu kalau kau baik-baik saja. Yah, walaupun aku menyesal telah membohonginya. Menurutku dia sangat mencemaskanmu. Apa aku salah tak mengatakan keadaanmu yang sebenarnya?”


Kyuhyun menggeleng, “tidak, lebih baik dia tak tahu.”


___


Hyunjin turun dari taxi, dan sedikit terkejut melihat ada mobil seseorang terparkir di halaman rumahnya. Dengan berlari kecil, gadis itu buru-buru memasuki rumah. Di dalam, ia melihat Minho yang sedang duduk melamun di sebelah jendela.


“Minho-ya, oppa pulang?” tanyanya pada namja itu, Minho hanya merespon dengan sekali anggukkan kecil, wajahnya terlihat lesu sekali. Hyunjin tersenyum lebar, kemudian berlari lagi memasuki ruangan lain.


Langkah gadis itu berhenti tatkala berhadapan dengan orang yang dicarinya. Ia segera berlari, memeluk orang tersebut. “bogoshippo Siwon oppa..”


“ya! Choi Hyunjin, jangan seperti anak kecil.”


Hyunjin segera melepaskan pelukannya setelah diteriaki seperti itu. “ada angin apa sampai kau pulang? eh, mau kemana lagi dengan tas itu?”


Orang itu melirik tas besar yang ada di tangannya, “ini baju-baju oemma, dia ada di rumah sakit sekarang.”


“MWO? Bagaimana bisa?” Hyunjin terpekik, kaget dengan hal tiba-tiba ini. Padahal baru tadi sore ia pamit untuk pergi ke toko buku―yang sesungguhnya pergi ke rumah Kyuhyun. Apa karena ia berbohong, makanya ibunya sampai jatuh sakit? Gadis itu tak dapat membayangkannya.


“kau sudah makan? Lebih baik kau makan dulu, lalu susul kami ke rumah sakit. Oppa dan Minho akan duluan kesana.”


Hyunjin mengangguk mengerti.


“Minho-ya, kajja!” panggil Siwon pada Minho. Minho bangkit dari duduknya, kemudian mengikuti kakak laki-lakinya itu dari belakang.


Hyunjin langsung masuk ke kamarnya begitu kakak dan adiknya itu sudah pergi. Ia lantas berbaring di ranjangnya, lagi-lagi melamun. Pikiran gadis itu mulai gelisah, memikirkan ibunya. Kakak laki-lakinya itu, Choi Siwon, bekerja sebagai pengacara di Daegu, dan ia jarang sekali pulang, biasanya hanya jika liburan akhir tahun saja. Memangnya eomma sakit apa sampai oppa pulang ke Seoul? Seserius itu kah? Gumam gadis itu dalam hati.


Ponsel di tasnya berdering, gadis itu segera mengeluarkannya. “yobosseo, ada apa Jiyoo-ya?”


“Kau tak apa-apa? dimana kau sekarang?”


“aku ada di rumah. Memangnya kenapa?” Hyunjin bertanya bingung, apa temannya ini salah makan obat hingga mencemaskannya seperti itu? tak biasanya.


“Hyunjin-ah, aku dengar ayahmu di tahan. Kau harus kuat ya, aku tak tahu apa yang sedang terjadi, tapi aku yakin ahjussi orang yang baik, ia tak mungkin―”


“Mwo? Di tahan? Maksudmu..”


“k―kau tak tahu?”


Dengan segera Hyunjin mematikan sambungan teleponnya dengan Jiyoo. Gadis itu bergegas keluar kamar.

__ADS_1


___


__ADS_2