Bukan Duda Biasa

Bukan Duda Biasa
Bab 10 Pernyataan Rendi


__ADS_3

"Rosalina, aku mencintaimu. Apa kamu mau jadi pacarku?"


Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Rendi. Matanya masih terpejam meskipun dia sudah mengatakan apa yang ingin dia katakan sedari tadi.


Kini dia mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakannya. Dia tidak ingin menunda-nunda kembali seperti waktu itu. Dia harus merelakan Rosalina, gadis yang sudah lama diincarnya untuk menjadi pacar temannya yang bernama Raihan Pramana.


Setelah hubungan mereka berakhir, Rendi kembali mempersiapkan dirinya untuk menyatakan cintanya pada Rosalina. Dan kini dia sudah mengatakannya. Rasanya dia tidak ingin mendengar jawaban penolakan dari Rosalina, dia sangat takut jika Rosalina menolaknya.


"Apa maksudmu Ren?" tanya Rosalina yang masih dalam keadaan terkejut mendengar pengakuan dari Rendi.


Rendi membuka matanya, dia kini menatap Rosalina yang menatap dirinya dengan tatapan penuh tanya. Bahkan baby Chintya yang sedang bergerak-gerak tidak nyaman pun diacuhkan oleh Rosalina.


"Aku ingin kita berpacaran," jawab Rendi sambil memegang kedua tangan Rosalina dan menatapnya dengan tatapan memohon.


"Kamu sehat Ren? Kamu gak sedang mengigau kan?" tanya Rosalina kembali.


Rendi tersenyum melihatnya, kemudian dia menatap mata Rosalina dengan intens dan berkata,


"Aku sangat yakin dan aku gak ingin kehilangan kesempatan untuk mendapatkanmu lagi. Bagaimana, apa kamu menerima pernyataan cintaku ini? Apa kamu mau menjadi pacarku?"


"Maaf Ren, kamu tau kan alasanku di sini untuk apa? Dan aku malu karena kamu mengetahuinya," ucap Rosalina dengan tegas sebelum dia berlalu pergi meninggalkan Rendi yang masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Rosa, aku gak peduli itu dan aku akan buktikan jika aku sangat mencintai kamu. Aku akan membelikan tas yang ingin kamu miliki itu. Ayo ikut aku sekarang dan kamu gak perlu lagi bekerja di sini," seru Rendi sambil berlari mengejar Rosalina yang sudah berada di tengah halaman rumah Kenzo.


Seruan Rendi itu didengar oleh Kenzo. Kekesalan Kenzo bertambah ketika mendengar Rendi menyatakan perasaannya pada Rosalina dan menyuruh Rosalina agar tidak bekerja lagi menjadi pengurus baby Chintya.


"Lepaskan Ren, kasihan Chintya udah ngantuk," ucap Rosalina sambil menghempaskan tangan Rendi yang memegang tangannya.


"Tapi Ros-"

__ADS_1


"Lepaskan dia dan cepat pergi dari rumah saya," seru Kenzo dengan tegas dan tatapannya menyatakan kemarahannya.


Sontak saja Rosalina dan Rendi menoleh ke arah sumber suara. Mata Rosalina terbelalak melihat Kenzo yang sepertinya terlihat marah. Sedangkan Rendi, dia mencoba menahan Rosalina tapi tidak berhasil.


Rosalina lebih memilih masuk ke dalam rumah dengan meninggalkan Rendi yang berusaha menahannya.


"Ren, tolonglah... jangan sekarang, aku harus menidurkan Chintya," tukas Rosalina dengan tatapan memohon.


Tatapan mata Rosalina yang penuh permohonan itu membuat Rendi melepaskannya untuk sekarang. Dia tidak ingin Rosalina membencinya.


"Baiklah, aku akan memberimu kesempatan untuk berpikir," ucap Rendi sambil menyingkir dari hadapan Rosalina agar bisa masuk ke dalam rumah.


Rosalina pun bergegas masuk karena dia tidak mau jika Kenzo lebih marah lagi padanya.


Kenzo memandang Rendi dengan tidak suka sebelum dia masuk ke dalam rumahnya mengikuti Rosalina dan baby Chintya.


Sedangkan Kenzo kembali duduk di kursi sambil menonton televisi. Sebenarnya dia hanya menunggu Rosalina yang datang untuk menjelaskan apa yang tadi terjadi dengannya dan Rendi.


Namun, hal itu sia-sia belaka. Hampir satu jam Kenzo menunggu Rosalina keluar kamar baby Chintya namun dia tidak keluar juga. Hingga Kenzo tertidur di sofa dengan televisi yang masih menyala.


Setelah beberapa saat Rosalina terbangun dari tidurnya. Ternyata dia tertidur pada saat menidurkan baby Chintya.


"Ehemm... kering banget nih tenggorokan. Ambil minum dulu deh," ucap Rosalina sambil beranjak keluar dari kamar.


Di saat Rosalina keluar dari kamar, entah mengapa ada yang menarik perhatian matanya. Di sana, di sofa ruang tengah, ada sosok yang dihindarinya tadi sedang tertidur.


Tanpa ragu Rosalina mendekatinya dan membenarkan kepala Kenzo yang menurut Rosalina tidak nyaman.


Merasa ada yang mengganggu tidurnya, Kenzo perlahan membuka matanya. Tapi diurungkannya, karena remang-remang dia melihat wajah Rosalina yang berada tepat di depan wajahnya serta menatapnya sambil berkata,

__ADS_1


"Om Kenzo tuh ganteng banget loh Om. Sayangnya Om tuh suka marah-marah. Rosa kan takut Om. Lebih ganteng tuh kalau Om lagi tidur kayak gini. Apalagi kalau Om bukan duda, pasti deh aku bakalan jatuh cinta sama Om. Ck, sayang sekali Om udah gak perjaka."


Kenzo menahan tawanya mendengar apa yang dikatakan oleh Rosalina. Dia benar-benar berusaha untuk tetap tenang agar Rosalina tidak bisa mengetahui jika dia hanya berpura-pura tertidur.


"Eh aku kan tadi mau ambil minum, kok malah ke sini sih? Ck, kayaknya Om Kenzo lebih menarik daripada minuman," ucap Rosalina sambil terkekeh.


Demi apapun Kenzo merasa terhibur dengan adanya Rosalina di rumahnya. Dia tidak pernah merasakan seperti itu sebelum kedatangan Rosalina di rumahnya.


Bahkan begitu banyaknya baby sitter yang dulu pernah merawat baby Chintya pun tidak ada yang mampu membuat Kenzo tersenyum, tertawa, kesal bahkan marah. Hanya Rosalina yang bisa membuatnya seperti itu.


Rosalina meninggalkan Kenzo yang masih berpura-pura tertidur. Dia berjalan menuju dapur untuk mengambil minuman.


Sedangkan Kenzo, dia benar-benar bernafas lega karena merasa dia tidak baik-baik saja ketika wajah Rosalina berada tepat di depan wajahnya.


Huffft....


Rasanya jantungku mau meledak. Mungkin karena aku takut ketahuan oleh dia, Kenzo berkata dalam hatinya sambil mengusap dadanya yang masih berdegup dengan cepat.


Dia kembali memejamkan matanya ketika Rosalina kembali mendekatinya. Ternyata Rosalina membawakannya segelas air putih dan beberapa potongan buah dalam piring yang diletakkan di meja depannya.


"Om, dimakan ya buahnya, air putihnya juga diminum, biar Om awet muda dan sehat. Biar tetep ganteng," ucap Rosalina sambil terkekeh lirih, kemudian dia meninggalkan Kenzo kembali ke dalam kamar baby Chintya.


Kenzo tidak bisa menahan tawanya. Begitu Rosalina masuk ke dalam kamar baby Chintya, tawa Kenzo meledak dengan sendirinya. Hanya saja dia masih bisa mengontrol suara tawanya.


Dalam kamar baby Chintya, Rosalina mengernyitkan dahinya ketika mendengar suara tawa Kenzo yang terdengar samar dari dalam kamar baby Chintya.


"Kayak suaranya Om Kenzo, tapi kok suaranya samar gitu. Apa suara dari TV ya? Ck, bodohnya aku... kenapa gak aku matikan tadi TV nya. Aku matikan dulu deh," Rosalina bermonolog dalam kamar setelah itu dia berjalan keluar dari kamar menuju ruang tengah.


"Om Kenzo?! Om udah bangun? Lagi ngetawain apa Om?" tanya Rosalina berturut-turut sambil menggerak-gerakkan matanya hingga bulu mata lentiknya bergerak-gerak melambai naik turun membuat Kenzo terpanah melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2