
"Ya ampun Chintya...," seru Rosalina ketika melihat tubuh baby Chintya sudah berada di lantai dan menangis keras.
Kenzo yang melihat hal itu membuatnya sangat marah, dia menatap bengis pada Rosalina yang sedang menolong baby Chintya dan menggendongnya untuk menenangkan dan menghentikan tangisannya.
"Lihat seperti apa kerjamu! Kamu meninggalkan bayi yang kamu asuh sendirian di kamar untuk berpacaran diluar sana. Waras kamu?" ucap Kenzo yang sedang marah berapi-api dengan wajahnya yang memerah terlihat sangat marah pada Rosalina.
Rosalina meneteskan air matanya sambil menggendong baby Chintya yang masih menangis dengan kerasnya. Dia akui dia ceroboh dan tidak bertanggung jawab pada pekerjaannya.
Dia tidak bisa membantah kata-kata Kenzo karena dialah yang bersalah. Tanpa sadar air matanya menetes dan pundaknya bergetar sambil menggendong baby Chintya. Lama kelamaan terdengar suara sesenggukan dari bibir Rosalina.
Kenzo merasa bersalah mendengar tangisan Rosalina meskipun dia tidak melihatnya. Saat ini Rosalina berusaha menenangkan baby Chintya yang menangis sangat kencang dengan posisi membelakangi Kenzo.
Namun, Kenzo tidak bisa memaafkannya begitu saja karena kesalahan yang dilakukan oleh Rosalina sangat fatal. Dia telah ceroboh menjaga baby Chintya sehingga baby Chintya terjatuh.
Lama Rosalina menenangkan baby Chintya akhirnya dia bisa tenang dan kembali tertidur. Kenzo pun masih berada di dalam kamar itu untuk menunggu mereka.
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Kenzo pada Rosalina.
Rosalina tidak berani menoleh untuk menghadap Kenzo. Dia masih sangat takut dan merasa sangat bersalah.
"Ros, Rosa, apa dia baik-baik saja?" tanya Kenzo sambil berjalan mendekati Rosalina.
Rosalina hanya mengangguk, dia tidak bisa berkata-kata karena sudah bisa dipastikan jika dia membuka mulutnya, bukan kata-kata yang akan keluar, melainkan tangisan yang akan keluar dari mulutnya.
"Apa perlu dibawa ke rumah sakit?" tanya Kenzo yang kini sudah ada di depan Rosalina.
"Kamu menangis? Kenapa?" tanya Kenzo yang kini cemas melihat Rosalina mengeluarkan air matanya dengan wajah sembabnya.
__ADS_1
"Habisnya Om Kenzo marah-marah sih, aku kan jadi takut," jawab Rosalina di sela sesenggukannya.
"Itu karena keteledoranmu yang bisa membahayakan bayi ini," ucap Kenzo dengan menahan rasa amarahnya sehingga menekankan setiap katanya.
"Iya, saya tau. Saya minta maaf. Saya menyesal. Saya gak akan mengulanginya lagi," ucap Rosalina dengan penuh penyesalan.
Kenzo melihat Rosalina bersungguh-sungguh dengan ucapannya, sehingga membuat kemarahan Kenzo sedikit luntur.
"Ya sudah, sekarang kita bawa bayi ini ke rumah sakit," tukas Kenzo sambil menunjuk baby Chintya menggunakan dagunya.
Chintya hanya bisa menurut, dia tidak bisa memberitahu Kenzo jika dirinya ingin mengganti bajunya dan mencuci mukanya yang banjir dengan air mata.
Rosalina takut jika dia mengatakan keinginannya, pasti Kenzo akan memarahinya lagi. Tidak hanya itu saja, dia yakin kalau Kenzo tidak akan mau menggantikannya menggendong baby Chintya selama dia berganti baju.
Kini mereka sudah berada dalam mobil Kenzo. Baby Chintya sudah tertidur dengan nyenyak dalam gendongan Rosalina.
Merasa penampilannya sangat buruk sesudah menangis, Rosalina segera melihat wajahnya pada kaca spion mobil. Ternyata benar, wajahnya sembab sehabis menangis tadi dan jejak air matanya masih melekat di sana.
Kenzo yang sedang fokus menyetir sesekali melihat apa yang dilakukan oleh Rosalina. Bibirnya melengkung ke atas melihat tingkah Rosalina yang berusaha menghilangkan jejak air matanya sehingga tidak terlihat sembab.
Namun, dia masih sangat marah pada Rosalina. Bukan hanya karena keteledorannya, dia juga telah mengecewakan Kenzo yang tidak memperbolehkannya menemui Rendi.
Tapi memang benar Rosalina tidak bersalah karena Kenzo tidak melarangnya bertemu dengan Rendi, hanya saja Kenzo yang tidak memperbolehkan Rendi menemui Rosalina dengan cara berpesan pada penjaga keamanan agar tidak memperbolehkan Rendi menemui Rosalina.
Sebenarnya tadi Kenzo secara tidak sengaja pulang kembali ke rumah. Setelah dia berangkat kerja tadi, ternyata sebelum sampai di kantornya dia ingat jika ada file-file yang tertinggal di ruang kerjanya, sehingga dia kembali ke rumahnya saat itu juga.
Namun, pada saat dia sebelum sampai di depan rumahnya, dia menghentikan mobilnya karena melihat Rendi sedang menarik tangan Rosalina untuk masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Saat itulah Kenzo menghubungi Rosalina dan menyuruhnya kembali ke dalam rumah. Lama Kenzo menunggu, Rosalina tidak keluar dari dalam mobil Rendi sehingga membuat Kenzo bertambah kesal.
Kenzo segera melajukan mobilnya masuk ke dalam rumahnya. Setelah itu dia memarahi Pak Mail, petugas keamanan yang berjaga saat itu. Dia memberitahu perintahnya kembali agar Pak Mail tidak lagi memberi ijin Rendi untuk bertemu dengan Rosalina.
Merasa lama Rosalina tidak juga masuk, Kenzo segera menghubunginya kembali. Saat Rosalina masuk ke dalam rumah dan membawa goody bag dengan tulisan brand ternama di dunia, Kenzo merasa sangat marah. Entah kenapa dia juga tidak menyadarinya, hanya saja dia merasa ingin marah pada Rosalina dan Rendi.
Ditambah lagi dengan kejadian baby Chintya yang jatuh dari tempat tidurnya membuat Kenzo semakin marah pada Rosalina.
Kekesalan dan kemarahannya dia salurkan semua pada Rosalina hingga dia ketakutan dan menangis karena merasa sangat bersalah.
"Anak Bapak dan Ibu baik-baik saja. Dia hanya syok tadi pada saat jatuh. Saya harap ini tidak terjadi lagi karena sangat fatal akibatnya jika hal seperti ini kembali terjadi," ucap dokter setelah memeriksa baby Chintya.
"Hufffttt... syukurlah...," ucap Rosalina sambil menghela nafas lega.
Kenzo hanya mengucapkan rasa syukurnya dalam hati. Dia tidak mengekspresikannya seperti Rosalina.
"Baiklah Bu, silahkan digendong kembali. Maaf Bu, jika bisa jangan ditinggalkan sendiri bayinya agar tidak terulang lagi kejadian seperti ini. Karena usianya masih sangat rentan," dokter tersebut berpesan kembali sebelum Rosalina dan Kenzo membawa keluar baby Chintya dari ruangan periksa tersebut.
"Kenapa aku dikira Ibunya Chintya? Masa' iya tampangku kayak emak-emak?" gerutu Rosalina seiring langkahnya menuju apotek untuk menebus obat dari resep yang diberikan dokter untuk baby Chintya.
"Baru nyadar?" sahut Kenzo yang sedang berjalan di dekat Rosalina.
"Iiih mana ada? Aku masih imut gini dikatain emak-emak," protes Rosalina yang sudah tidak lagi takut pada Kenzo.
Sepertinya Rosalina sudah lupa ketakutannya pada Kenzo. Entah jika mereka sudah kembali ke rumah, Rosalina akan kembali takut atau memang dia sudah tidak takut lagi pada Kenzo.
"Imut apaan. Gak usah kepedean gitu. Ingat kata dokter, jangan biarkan bayi ini ditinggal sendiri. Apalagi ditinggal untuk pacaran. Bisa saya potong banyak gaji kamu nanti," Kenzo kembali mengancam Rosalina.
__ADS_1
Rosalina kembali menegang, dia kembali ingat jika kejadian ini adalah karenanya, kesalahannya dan keteledorannya hingga baby Chintya menjadi korbannya.
"Maaf," ucap Rosalina lirih.