Bukan Duda Biasa

Bukan Duda Biasa
Bab 51 Tes


__ADS_3

Kenzo yang masih dalam posisi menggandeng tangan Rosalina, menatap ke arah mamanya dengan mengeluarkan smirk nya ketika mendengar pertanyaan dari mamanya. Kemudian dia berkata,


"Sebaiknya Mama ikut bersama kami dan Chintya."


Merasa Rendi ikut beranjak, Kenzo pun menoleh ke arahnya.


"Kamu pulang saja, gak usah ikuti kami. Toh kamu bukan siapa-siapanya Rosa," tukas Kenzo sambil tersenyum merendahkan pada Rendi.


"Ken, dia itu-"


"Sayang, apa dia pacarmu?" tanya Kenzo pada Rosalina dengan menatapnya penuh cinta menyela ucapan mamanya.


Dengan cepatnya Rosalina menggelengkan kepalanya dan menjawabnya,


"Bukan, dia hanya temanku."


Kenzo tersenyum sinis pada Rendi dan menggandeng tangan Rosalina, membawanya berjalan menuju kamar baby Chintya.


Venita menatap tajam ke arah Rendi, dan dia memberi tanda agar menahan Rendi untuk sementara berada di tempat itu.


Dia tidak mau ketinggalan apa yang akan dijadikan bukti oleh Kenzo. Langkahnya dipercepat agar bisa menyusul Kenzo dan Rosalina yang tidak diketahuinya akan pergi ke mana.


"Bik, cepat siapkan keperluan Chintya dan bawa dia bersama dengan kami," perintah Kenzo pada bik Narmi yang sedang menunggui Chintya belajar merangkak.


Bik Narmi kaget mendengar suara Kenzo yang tiba-tiba datang dan memerintahnya. Dia memandang Rosalina dengan penuh tanda tanya, sedangkan Rosalina hanya berwajah sedih dan penuh dengan tekanan.


Tanpa banyak bertanya, Bik Narmi segera mengemasi keperluan baby Chintya karena melihat kehadiran Venita di sana.


Tangan baby Chintya mengarah pada Rosalina dengan berceloteh seolah dia meminta agar Rosalina menggendongnya.


Rosalina melepaskan tangan Kenzo yang menggandengnya. Dia segera meraih tubuh baby Chintya dan membawanya dalam gendongannya.


Tawa baby Chintya memperlihatkan kebahagiaannya dalam gendongan Rosalina. tangannya memegang bagian wajah Rosalina untuk dimainkannya.

__ADS_1


Melihat hal itu, Kenzo tersenyum bahagia layaknya seorang ayah yang melihat istri dan anaknya bermain bersama.


Sedangkan Venita terdiam, ada rasa kagum dalam hatinya pada Rosalina yang tentunya sangat telaten dan bisa diandalkan dalam merawat bayi serta terlihat pancaran kasih sayangnya pada baby Chintya.


"Ayo kita berangkat sekarang," ucap Kenzo sambil meraih pundak Rosalina dan membimbingnya untuk berjalan bersamanya.


Rosalina tidak bisa mundur lagi, dia sudah terjebak dalam rencananya sendiri. Kini dia hanya bisa menuruti saja apa yang menjadi perintah dari Kenzo.


Mobil Kenzo dinaiki oleh Kenzo yang mengemudikan mobilnya, Rosalina yang memangku baby Chintya di samping Kenzo, dan bik Narmi yang duduk di kursi belakang dengan membawa tas perlengkapan baby Chintya.


Sedangkan Venita, dia berada dalam mobilnya sendiri bersama dengan bodyguard lainnya yang mengemudikan mobilnya. Dan Rendi masih tetap berada di rumah Kenzo dengan pengawalan ketat dari bodyguard Venita.


Mobil Kenzo berhenti di parkiran sebuah fasilitas umum. Mobil Venita pun ikut berbelok dan berhenti tepat di sebelah mobil milik Kenzo.


"Sudah sampai. Ayo kita turun," tutur Kenzo sambil melepas sabuk pengaman yang terpasang pada badannya.


Rosalina mengedarkan pandangannya ke arah luar mobil. Sedari tadi dia memang hanya menyibukkan dirinya bermain bersama dengan baby Chintya yang berada dalam pangkuannya agar tidak diajak Kenzo berbicara. Dan kini dia terperangah ketika mengetahui sedang berada di mana mereka sekarang ini.


"Rumah Sakit?" celetuk Rosalina ketika membaca tulisan yang berada di atas bangunan yang ada di hadapannya.


Kenzo tersenyum penuh arti. Kemudian dia mendekatkan dirinya ke arah Rosalina yang tiba-tiba kaku dihadapannya.


Dia mematung ketika Kenzo berada terlalu dekat di hadapannya. Entah apa yang dipikirkan oleh Rosalina hingga dia tidak bergerak dan hanya mengedipkan kedua matanya sebagai tanda dia masih hidup.


Ctik!


Rupanya Kenzo hanya membantunya untuk membukakan sabuk pengamannya saja tanpa melakukan hal lainnya.


Sebenarnya sangat naif sekali jika Kenzo tidak tergoda dengan bibir pink alami milik Rosalina. Hanya saja dia sadar waktunya sangat tidka tepat untuk saat ini. Dan yang terpenting, ada bik Narmi di antara mereka.


Bik Narmi sangat tahu situasi. Dia segera keluar dari mobil dengan membawa tas perlengkapan milik baby Chintya.


Brak!

__ADS_1


Rosalina tersadar ketika mendengar Bik Narmi menutup pintu mobilnya. Dia salah tingkah ketika menyadari wajah Kenzo masih berada tepat di hadapan wajahnya.


Hingga Kenzo tersadar ketika tangan baby Chintya yang memukul-mukul dada bidang Kenzo. Mungkin baby Chintya gerah berada di tangah-tengah antara Rosalina dan Kenzo. Dan mungkin juga dia merasa tidak nyaman karena terjepit di antara mereka berdua.


"Mmm... maaf, aku akan turun sekarang," ucap Rosalina dengan gugupnya.


Kenzo memundurkan sedikit badannya dan tersenyum pada Rosalina. Kemudian dia lebih dulu keluar dari mobilnya dan berjalan memutar untuk membukakan pintu mobil Rosalina.


Kenzo melingkarkan tangannya pada pundak Rosalina dan membimbing jalannya masuk ke dalam rumah sakit tersebut menuju tempat yang dimaksud oleh Kenzo.


"Selamat sore Pak Kenzo. Mari ikut bersama dengan saya, akan kita lakukan tesnya sekarang juga," ucap seorang perempuan yang memakai jas putih dan beridentitas sebagai dokter di rumah sakit tersebut.


"Tes? Tes apa yang dokter maksud?" tanya Rosalina dengan menampakkan wajah bingungnya.


Venita, bik Narmi dan bodyguard yang sedari tadi berjalan di belakang mereka, kini menyimak pembicaraan mereka dengan seksama.


"Tes keperawanan untuk kamu dan tes DNA untuk Chintya," jawab Kenzo dengan tersenyum pada Rosalina.


Sontak saja mata Rosalina membelalak, dia tidak menyangka jika keperawanannya akan dipertanyakan dan di tes secara medis untuk membuktikannya.


Tidak hanya Rosalina saja yang kaget, bik Narmi pun tidak mengira jika Rosalina akan melakukan semua ini untuk keluarga majikannya. Dia merasa iba pada Rosalina.


Sedangkan Venita, awalnya dia kaget, tapi setelah itu senyumnya merekah mendengar ucapan Kenzo. Dia mengakui kecerdasan Kenzo yang sama sekali tidak terpikirkan oleh Venita.


"Apa? A-aku...," Rosalina benar-benar kaget dan syok, dia tidak bisa meneruskan ucapannya.


"Tenang saja Sayang, tidak akan ada hal yang aneh. Dan tenang saja, hasilnya pasti sesuai dengan apa yang kamu katakan. Buktikan pada Mamaku yang terhormat jika apa yang mereka pikirkan benar-benar salah. Sedangkan untuk tas DNA Chintya, aku hanya ingin membuktikan bahwa Chintya bukan anakku, itu saja," tutur Kenzo dengan tersenyum menenangkan pada Rosalina yang masih terlihat syok.


Kenzo mendekatkan wajahnya pada telinga Rosalina, kemudian dia berbisik,


"Maaf, soal keperjakaanku tidak bisa dibuktikan. Tapi kamu bisa mencari tahu pada siapa saja jika aku tidak pernah berdekatan dengan perempuan lain seperti kedekatan kita. Bahkan dengan ibunya Chintya pun aku tidak sedekat itu. Kamu bisa pegang kata-kataku."


"Mari kita lakukan pemeriksaannya sekarang. Mari ikuti saya," ucap dokter tersebut sebelum berjalan menuju ruangan yang telah dipersiapkan untuk mereka.

__ADS_1


__ADS_2