
Chintya berada di rumah sakit sekarang," ucap Kenzo dengan suara lemah.
Air mata Rosalina menetes dengan sendirinya. Rosalina segera mengusap air mata yang menetes itu dan berdiri serta menarik tangan Kenzo.
"Ayo kita ke sana sekarang," ucap Rosalina tanpa bertanya tentang keadaan atau apa yang terjadi pada baby Chintya.
Dipikirannya kini hanya bagaimana caranya dia harus segera berada di dekat baby Chintya.
Kenzo dan Rosalina segera berangkat menuju rumah sakit tanpa meneruskan pembicaraan tentang pernikahan mereka.
Di dalam mobil, Rosalina terus gelisah. Dia tidak bisa membayangkan baby Chintya yang masih kecil sedang dirawat di rumah sakit.
Bayangan baby Chintya yang menangis memanggil dirinya dengan sebutan mama membuat hatinya merasa teriris.
Tangan kiri Kenzo memegang tangan Rosalina dan tangan kanannya masih memegang kemudi. Dia merasa bersalah telah membiarkan Raihan membawa baby Chintya dan kini dia harus melihat Rosalina sangat khawatir ketika mendengar baby Chintya dirawat di rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Rosalina dan Kenzo segera berlari menuju ruangan yang diberitahukan oleh orang yang melapor pada Kenzo.
Brak!
Rosalina membuka pintu kamar ruang inap baby Chintya dengan kerasnya. Bahkan kekuatan tangannya pun tidak bisa dia kendalikan.
Raihan yang berada di dalam ruangan tersebut kaget mendengar suara pintu ruangan tersebut terbuka dengan kerasnya. Dia menoleh ke arah pintu dan terkejut melihat Rosalina yang datang bersama dengan Kenzo.
Rosalina segera berlari menuju bed yang terdapat baby Chintya dengan jarum dan selang infus yang menancap pada tangannya.
"Chintya… bangun Sayang… bangunlah… ini Mama," ucap Rosalina dengan air matanya yang menetes karena tak tertahankan melihat tubuh baby Chintya terbaring lemah saat ini.
Chintya tidak merespon dan itu membuat Rosalina bertambah khawatir dengan keadaannya.
Mengetahui kekhawatiran Rosalina, Kenzo segera bertanya padanya.
"Apa yang terjadi? Kenapa Chintya sampai bisa masuk rumah sakit dan kenapa dia diinfus seperti itu?"
__ADS_1
Mendapatkan tatapan tajam dari Kenzo yang seolah akan membunuhnya, Raihan pun menjelaskan apa yang terjadi.
"Chintya tidak mau diam. Bahkan aku sudah meminta bantuan pada kedua orang tua Levia, tapi jadinya seperti itu. Chintya tetap menangis dan tidak mau berhenti hingga badannya panas dan kejang," jawab Raihan dengan jujur.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Raihan, Rosalina menjadi geram. Dia berjalan mendekat ke arah Raihan.
Plak!
Tangan Rosalina mendarat di pipi Raihan dengan kerasnya. Bahkan tatapan Rosalina penuh kebencian dan kemarahan pada Raihan.
"Bodoh! Ini yang kamu sebut ayah kandung? Ayah kandung macam apa yang bisa membuat anak kandungnya merasakan jarum infus di usianya yang masih kecil itu? Kamu ayah yang tidak bisa diandalkan dan tidak bertanggung jawab. Bahkan aku saja yang bukan ibu kandungnya bisa menjaga Chintya dengan baik. Lalu, apa kamu bisa dengan percaya dirimu itu menjaga Chintya?"
Rosalina mengatakan semua kemarahannya pada Raihan. Apa yang ada di benaknya kini sudah disampaikannya.
"Tapi dia-"
Plak!
Kini tangan Rosalina kembali mendarat pada pipi Raihan yang belum mendapatkan tamparan dari tangan Rosalina.
Rosalina kembali mengeluarkan amarahnya dengan menyela perkataan Raihan. Tatapan matanya sungguh membuat Raihan takut. Selama ini dia tidak pernah melihat Rosalina yang berwajah menakutkan seperti itu.
Kenzo hanya tersenyum melihat wajah Raihan yang ketakutan mendapatkan kemarahan dari Rosalina.
"Sudah Sayang, yuk kita ke Chintya. Akan aku pastikan dia tidak bisa membawa Chintya pergi lagi," ucap Kenzo sambil merangkul pundak Rosalina dan membawanya mendekat pada baby Chintya.
Kenzo segera mengambil ponselnya dan mengutak-atiknya sebentar. Dalam hitungan detik, beberapa orang yang berbadan kekar masuk ke dalam ruangan tersebut dan membawa paksa Raihan keluar dari ruangan itu.
"Kalian mau apa? Aku ayahnya. Biarkan aku di sini dengannya," seru Raihan dengan berusaha melepaskan dirinya dari cengkeraman orang-orang tersebut.
Seruan Raihan yang tergolong keras itu mampu membuat baby Chintya terbangun dan menangis kembali.
Namun, tangisan itu segera berhenti ketika dia melihat Rosalina yang dengan segera menggendongnya.
__ADS_1
"Ma-ma…," celoteh baby Chintya lemah.
"Iya Sayang, ini Mama. Chintya cepat sembuh ya. Mama akan menemani Chintya di sini," tutur Rosalina dengan air matanya yang menetes memandang baby Chintya dalam gendongannya.
Baby Chintya tersenyum, kemudian dia beralih memandang ke samping di mana Kenzo kini yang mendekat padanya.
"Ini Papa Sayang. Cepat sembuh ya, agar kita bisa bermain lagi di rumah," ucap Kenzo dengan senyumnya pada baby Chintya.
"Pa-pa…," celoteh baby Chintya diakhiri dengan senyumnya.
Hal itu membuat Rosalina dan Kenzo menjadi senang. Senyuman dari baby Chintya mampu mengobati rasa bersalah Kenzo dan Rosalina yang telah memperbolehkan Raihan membawanya.
Setelah beberapa hari, keadaan baby Chintya semakin membaik. Dan berita kepulangan baby Chintya pun disambut dengan gembira oleh bik Narmi.
Malam hari setelah kepulangan baby Chintya, keluarga Rosalina dan Kenzo berkumpul di rumah Kenzo.
Rosalina yang tidak tahu menahu tentang pertemuan itu menjadi heran. Apalagi setelah dia mengetahui jika malam itu Kenzo sedang melaksanakan acara lamaran untuk dirinya.
Rosalina seperti sedang terpojok. Dia harus menerima lamaran dari Kenzo karena baby Chintya yang membutuhkannya dan tentu saja karena hatinya yang tidak bisa pisah dari Kenzo.
Keesokan harinya, Rosalina mulai berkuliah kembali dengan diantar oleh Kenzo dan baby Chintya. Kini baby Chintya lebih anteng daripada waktu itu. Untung saja urusan Rosalina hanya sebentar di kampus sehingga Kenzo dan baby Chintya tidak menunggu lama.
"Rendi!" Teriak Rosalina sambil berlari ketika melihat Rendi berjalan berbelok arah menghindarinya.
Dengan terpaksa Rendi menghentikan langkahnya karena kini Rosalina sedang menghentikannya dengan memegang tangannya.
"Ren, maaf. Ini tas yang kamu berikan padaku waktu itu. Aku tidak bisa menerimanya," ucap Rosalina sambil memberikan goody bag yang berisi tas branded limited edition pemberian dari Rendi waktu itu.
"Buat kamu saja Ros. Masa' aku memakai tas wanita," tukas Rendi sambil terkekeh.
"Tapi Ren, aku gak bisa menerima ini karena ini sangat mahal," ucap Rosalina dengan tangannya yang masih terulur di depan Rendi membawa goody bag yang berisi tas tersebut.
"Aku ikhlas. Buatmu saja dan pakailah. Aku akan sangat senang melihat tas ini kamu pakai," ucap Rendi sambil tersenyum getir melihat Rosalina.
__ADS_1
"Biar aku saja yang membayarnya."