Bukan Duda Biasa

Bukan Duda Biasa
Bab 37 Ketakutan Rosalina


__ADS_3

"Aku harus bagaimana? Apa aku harus keluar dan menyapa neneknya Chintya? Aaah... aku malu. Pasti dia memarahiku karena masalah tadi. Huffftttt...," ucap Rosalina sambil mengganti pakaian baby Chintya.


Sungguh bimbang hati Rosalina saat ini. Dia sangat takut menghadapi Venita, mama dari Kenzo yang sudah memergokinya tidur bersama Kenzo. Meskipun hanya saling berpelukan, itu sangat memalukan dan sangat salah menurut Rosalina.


Hufffft...


Rosalina kembali menghela nafasnya berat ketika dia sudah selesai mengganti pakaian baby Chintya.


Sepertinya sudah gak bisa mengelak lagi. Aku harus menemui mereka dan menjelaskan kejadian yang terjadi semalam pada neneknya Chintya. Ya, aku harus berani. Come on Rosa, ke mana sikap berani yang kamu miliki selama ini? Jangan hanya karena cinta, kamu bisa melempem seperti ini. Hah, cinta? Apa benar aku mencintainya? Rosalina berkata dalam hatinya, dia memberi semangat pada dirinya sendiri dan dia kaget dengan ucapannya sendiri yang mengatakan bahwa dia mencintai Kenzo.


"Rosa, apa kamu sudah selesai memandikan Chintya?" tanya bik Narmi yang kini sudah ada di dalam kamar baby Chintya.


"Eh Bibik. Sudah Bik, ini baru saja selesai. Ada apa ya Bik?" tanya Rosalina dengan gugup karena bik Narmi bertanya padanya ketika dia sedang melamun.


Bik Narmi tersenyum, kemudian dia mendekat ke arah Rosalina dan mengusap punggungnya.


"Nyonya Venita menunggumu di ruang tengah," jawab bik Narmi dengan memberikan senyumnya untuk menenangkan Rosalina yang terlihat panik dari wajahnya.


"Hufffttt... apa aku akan dipecat Bik?" tanya Rosalina pada bik Narmi dengan menghela nafasnya berat.


Bik Narmi kembali tersenyum, kemudian dia memeluk tubuh Rosalina dan berkata,


"Tenanglah, Nyonya Venita bukan tipe orang yang galak, mungkin dia tegas, tapi dia penyayang. Kamu tidak perlu khawatir, temui saja beliau dan jawab saja setiap pertanyaannya dengan jujur. Ingat Rosa, jangan sekali-kali kamu membohonginya, karena dia paling tidak suka jika dibohongi oleh seseorang, apalagi orang itu sangat dekat dengannya."


Bik Narmi melepaskan pelukannya karena baby Chintya yang berada di sebelah Rosalina menarik-narik baju Rosalina dengan tangan mungilnya itu.


"Sepertinya Chintya minta digendong," ucap bik Narmi setelah melepaskan pelukannya pada Rosalina.


Rosalina menoleh pada baby Chintya yang terkekeh melihatnya. Dengan segera Rosalina membawa tubuh baby Chintya untuk dipangkunya. Diciuminya seluruh wajah baby Chintya hingga dia tertawa kegelian.


Bik Narmi melihat Rosalina dan baby Chintya dengan tawa bahagia. Dia tidak menyangka jika baby Chintya yang terkenal sangat rewel dan susah diatasi, kini bisa tertawa bahagia dan bercanda dengan seorang gadis yang belum mempunyai anak.


Dari ruang tengah Venita dan Kenzo mendengar tawa riang baby Chintya. Tawa itu begitu jelas di telinga mereka karena memang kamar baby Chintya tidak pernah ditutup pintunya, sehingga celotehan, tangisan dan tawa baby Chintya bisa terdengar oleh semua orang yang ada dalam rumah.

__ADS_1


"Apa itu Chintya cucu Mama?" tanya Venita dengan wajah herannya pada Kenzo.


Kenzo hanya tersenyum tanpa menjawab. Dia melihat mamanya yang sepertinya heran mendengar tawa baby Chintya.


Venita beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar baby Chintya. Kenzo pun mengikuti mamanya untuk melihat reaksi apa yang akan ditunjukkan oleh mamanya ketika melihat baby Chintya yang berhasil ditaklukan oleh Rosalina.


Venita melihat dari depan pintu tanpa masuk ke dalam kamar tersebut. Dia heran, tidak menyangka jika baby Chintya, cucunya yang sangat rewel itu bisa tertawa riang bercanda dengan baby sitter yang dicintai oleh Kenzo.


"Gimana Ma?" bisik Kenzo pada telinga Venita.


"Pasti karena ini kamu menyukainya dan ingin menjadikan dia sebagai ibu dari Chintya," ucap Venita lirih di sebelah telinga Kenzo.


Kenzo menggelengkan kepalanya. Dia tidak membenarkan apa yang mamanya katakan padanya.


"Bukan karena itu, aku memang mengaguminya ketika dia dengan telatennya merawat Chintya dan bisa membuatnya seperti bayi lainnya. Hanya saja aku merasakan adanya cinta di sini," tukas Kenzo lirih setengah berbisik sambil menunjuk dadanya.


Venita menggeleng tidak percaya dengan jawaban dari anaknya yang dikenal sangat cuek, kini dia melihat putranya itu tidak seperti dulu. Bahkan terlihat sekali di wajahnya jika dia sedang bahagia merasakan jatuh cinta.


"Nyonya, Tuan Kenzo," ucap bik Narmi kaget ketika menoleh ke arah pintu melihat Venita dan Kenzo sedang berdiri di sana.


"Rosa, kita bicara di luar," ucap Venita yang kemudian berjalan meninggalkan kamar baby Chintya menuju ruang tengah.


Rosalina terkejut, matanya membola kaget dan gugup. Dia sangat takut jika dia disalahkan dan difitnah yang tidak-tidak seperti perkataan Dina dan Dino padanya.


Kenzo berjalan mendekat ke arah Rosalina yang masih memangku baby Chintya. Bik Narmi yang tahu keadaan, dia segera keluar dari kamar tersebut.


"Sayang, kita ke sana yuk. Kita temui Mama. Dari tadi Mama udah nunggu kamu," ucap Kenzo sambil mengusap pundak Rosalina dan tersenyum untuk menenangkannya.


Rosalina menoleh pada Kenzo dengan tatapan yang Kenzo ketahui jika Rosalina sangat takut saat ini.


"Kamu gak usah khawatir, ada aku yang akan menemani kamu," tutur Kenzo masih dengan senyumnya untuk menenangkan Rosalina.


"Tapi aku...,"

__ADS_1


"Kamu gak salah. Dan kita gak salah. Perasaan di antara kita juga gak salah. Jadi untuk apa kita takut?" tutur Kenzo sambil merangkul pundak Rosalina.


"Ayo kita ke sana," ucap Kenzo sambil membantu Rosalina beranjak dari duduknya.


"Aku... aku... sepertinya aku benar-benar takut," ucap Rosalina dengan nada cemas berjalan di samping Kenzo.


"Heiii... mana Rosalina yang pemberani itu?" ucap Kenzo sambil terkekeh.


"Sepertinya keberanianku hilang entah ke mana. Apa aku perlu mencarinya dulu?" Rosalina menanyakan hal yang konyol pada Kenzo.


Kenzo tertawa mendengar perkataan dari Rosalina. Dia tahu jika itu merupakan cara Rosalina untuk menenangkan dirinya saat ini.


Kenzo masih saja tertawa dan memandang Rosalina. Dalam hatinya dia berkata,


Benar-benar unik kamu Rosa, kamu memang yang terbaik untukku. Dan aku yakin itu.


Sesampainya mereka di ruang tengah, Kenzo mengajak Rosalina duduk di sebelahnya dan berhadapan dengan Venita.


Rosalina yang benar-benar gugup mencoba bersikap wajar dan mengajak baby Chintya bermain di pangkuannya.


"Nama kamu Rosa kan?" tanya Venita dengan tegas dan menatap serius Rosalina seperti sedang bertanya jawab dengannya.


"Rosalina Nyonya," jawab Rosalina dengan memaksakan senyumnya.


"Tujuan kamu untuk menjadi baby sitter di sini apa?" tanya Venita kembali dengan tegas.


"Untuk mendapatkan uang Nyonya," jawab Rosalina yang terlihat gugup.


"Dengan cara mendekati Kenzo?" tanya Venita dengan tersenyum meremehkan.


Sontak saja Rosalina membelalakkan matanya. Inilah yang sedari tadi dia takutkan. Merendahkannya karena perasaan sukanya pada Kenzo.


"Ma! Kenapa Mama bicara seper-"

__ADS_1


"Lalu apa kamu benar-benar mencintai Kenzo?" tanya Venita kembali dengan tatapan mata mengintimidasinya.


__ADS_2