
Bik Narmi yang sudah kelelahan selama tadi menenangkan baby Chintya kini sedang merebahkan badannya di sebelah baby Chintya. Sungguh perjuangan berat untuknya bisa membuat baby Chintya kembali tenang.
Tunggu, bukan berarti bik Narmi bisa menenangkan baby Chintya begitu saja. Dia tetap tidak bisa menenangkannya. Hanya saja baby Chintya kelelahan menangis dan akhirnya dia tertidur pulas sekarang.
Bayangkan saja, bayi seumur baby Chintya menangis selama beberapa jam tanpa berhenti. Pantas saja dia kelelahan dan tertidur pulas sekarang.
Apalagi Bik Narmi yang berusaha sangat keras menenangkannya. Rasanya di usianya yang sekarang ini semua energinya sudah terkuras habis.
"Bik... Bik... Bik Narmi... tolong bantu Kenzo," seru Venita masuk ke dalam kamar baby Chintya.
Bik Narmi yang sedang rebahan di sebelah baby Chintya terburu-buru bangun agar Venita tidak berseru kembali. Bik Narmi takut jika seruan Venita akan mengganggu baby Chintya dan membangunkannya kembali.
"Ada apa Nyonya? Apa yang terjadi dengan Tuan Kenzo?" tanya Bik Narmi cemas.
"Cepat Bik, ikut saya ke kamarnya Kenzo," ucap Venita dengan kepanikannya yang luar biasa.
"Chintya Nyonya? Bagaimana dengan Chintya?" tanya Bik Narmi yang sudah beranjak dari ranjang.
"Tinggal aja. Beri dia pembatas agar tidak jatuh," jawab Venita dengan acuh.
Bergegas Bik Narmi memberikan batas pada tepi ranjang baby Chintya. Dan dalam hati dia berdoa agar baby Chintya tetap tidur dengan nyenyak sampai dia kembali menemaninya.
"Sudah Bik, ayo buruan," seru Venita sambil menarik tangan Bik Narmi agar cepat berjalan menuju kamar Kenzo.
Langkah Bik Narmi terseok-seok mengikuti Venita yang menarik tangannya dengan langkahnya yang cepat.
Sesampainya di dalam kamar Kenzo, Bik Narmi melihat Kenzo yang masih saja seperti tadi, seperti saat Venita datang ke dalam kamar itu. Keadaannya masih sama dan masih saja mengigau memanggil-manggil nama Rosalina dalam tidurnya.
"Rosa... Rosalina... Sayang... jangan tinggalkan aku... Rosa...."
"Nyonya, sepertinya Tuan Kenzo sakit," ucap Bik Narmi setelah melihat dan memeriksa suhu badan Kenzo.
"Cepat panggil dokter Bik!" perintah Venita pada Bik Narmi.
"Baik Nyonya," ucap Bik Narmi sambil merogoh saku bajunya.
__ADS_1
Tampak sekali Bik Narmi yang sedang mencari sesuatu di bajunya.
"Kenapa Bik? Cepat panggil dokter yang biasanya menangani Kenzo," seru Venita dengan paniknya.
"Maaf Nyonya, sepertinya HP saya tertinggal di kamar Chintya. Sebentar Nyonya, biar saya ambil dulu HP saya," ucap Bik Narmi dengan sungkan.
"Sudah, pakai HP Kenzo saja. Saya tidak tau dokter yang biasanya menangani Kenzo," sahut Venita dengan matanya yang berkelana mencari keberadaan ponsel Kenzo.
Bagaimana Nyonya bisa tau segalanya tentang Tuan Kenzo, lha wong Nyonya tidak pernah mengurusi Tuan Kenzo sejak dulu, Bik Narmi berkata dalam hatinya seraya tangannya mengambil ponsel Kenzo yang berada di genggaman tangannya.
Ya, benar sekali apa yang dikatakan oleh Bik Narmi. Venita dari dulu hanya sibuk bekerja. Dia san suaminya sibuk mengurus bianis mereka. Hingga mereka melupakan Kenzo yang kesepian dan sangat membutuhkan kasih sayang mereka.
Sehari-hari Kenzo kecil selalu bersama baby sitter nya yang kini sudah tiada. Baby sitter tersebut merawat Kenzo hingga dia tutup usia pada saat Kenzo menginjak umur remaja. Karena itulah sifat Kenzo sangat tertutup pada siapapun, hanya Dino sajalah teman dekatnya yang mengerti semua tentang dia.
"Ini Nyonya HP Tuan Kenzo," ucap Bik Narmi sambil menyerahkan ponsel Kenzo pada Venita.
Segera diambilnya ponsel tersebut dari tangan Bik Narmi. Untung saja ponsel Kenzo tidka terkunci saat itu karena ponselnya masih menyala saat Bik Narmi mengambilnya dari tangan Kenzo.
Mata Venita terbelalak ketika melihat ponsel Kenzo yang sedari tadi menampilkan chat Kenzo bersama dengan Rosalina.
Venita membaca seluruh chat Kenzo pada Rosalina yang tertera pada layar ponsel itu. Dan dia bisa melihat dan menilai bagaimana perasaan Kenzo pada Rosalina.
Sepertinya Kenzo sangat mencintai Rosalina. Dan sepertinya dia takut kehilangannya. Lalu kenapa Rosalina bisa pergi meninggalkan Kenzo? Apa itu karena aku? Venita berkata dalam hatinya sambil membaca-baca ratusan chat yang dituliskan Kenzo hari ini untuk Rosalina.
"Dokter siapa Bik namanya?" tanya Venita pada Bik Narmi yang berdiri di sebelahnya.
"Kalau gak salah namanya dokter Aldo, Nyonya," jawab Bik Narmi sambil mengingat-ingat nama dokter yang biasanya datang berkunjung ketika Kenzo sedang sakit.
Jari Venita sibuk, dia segera mencari kontak yang bernama dokter Aldo pada buku kontak yang ada di ponsel Kenzo.
"Ini dia," ucap Venita sambil menekan nomor ponsel yang tertera dengan nama dokter Aldo.
Kenzo ada apa? Tumben sekali kamu meneleponku. Katanya sekarang kamu sudah punya dokter cinta yang bisa mengobati seluruh penyakitmu. Ternyata kamu masih membutuhkan aku. Hahaha... suara dokter Aldo terdengar nyaring sari seberang sana mengejek Kenzo.
Dokter Aldo seumuran dengan Kenzo. Dan dia anak dari pemilik rumah sakit yang digunakan oleh Rosalina dan baby Chintya melakukan tes waktu itu. Mereka menjadi dekat sejak Kenzo menjadikannya sebagai dokter pribadinya.
__ADS_1
"Saya Mamanya Kenzo. Dia sedang sakit di rumah. Tolong segera datang ke rumah Kenzo untuk segera memeriksanya," tukas Venita menyahuti ucapan dari dokter Aldo.
Oh maaf Bu. Baiklah, saya akan segera datang ke rumah Kenzo, dokter Aldo menyahuti dari tempatnya berada dan dia segera mematikan teleponnya setelah Venita mematikan telepon itu terlebih dahulu.
Venita kembali terkejut ketika melihat wallpaper pada ponsel Kenzo adalah foto Kenzo bersama dengan Rosalina. Dengan rasa penasarannya dia membuka galeri pada ponsel tersebut.
Matanya semakin terbelalak ketika melihat foto Kenzo bersama dengan Rosalina dengan jumlah yang sangat banyak. Bahkan ada juga foto mereka berdua bersama dengan baby Chintya. Dan tentu saja ada banyak foto candid Rosalina yang diambil oleh Kenzo.
Hanya itu saja yang tersimpan di galeri ponsel Kenzo. Dari situlah Venita kembali memikirkan nama Rosalina untuk menjadi kandidat menantunya.
Beberapa saat kemudian dokter Aldo datang dan memeriksa Kenzo. Keadaan Kenzo masih sama dengan yang tadi. Bahkan kini keringat dingin sudah membanjiri tubuhnya. Baju Kenzo basah oleh keringat dinginnya.
"Rosa... Sayang... Rosalina... jangan tinggalkan aku... Rosa...," Kenzo kembali mengigau ketika dokter Aldo meletakkan stetoskop pada dada Kenzo untuk memeriksanya.
"Maaf Bu, sepertinya Kenzo butuh dokter cintanya agar cepat sembuh. Bahkan tanpa obat pun dia bisa sembuh jika dokter cintanya itu yang merawatnya. Tapi tenang saja, saya akan tetap memberikan obat untuk Kenzo agar demamnya bisa turun," tutur dokter Aldo pada Venita setelah selesai memeriksa keadaan Kenzo.
"Dokter cinta? Siapa? Bik Narmi tau siapa dia Bik?" tanya Venita dengan menampakkan wajah bingungnya.
"Sepertinya Rosalina, Nyonya," jawab Bik Narmi ragu.
"Ya, benar sekali. Dia sedari tadi memanggil namanya. Berarti hanya dia yang dibutuhkan oleh Kenzo saat ini," tutur dokter Aldo pada Venita.
Kemudian dia memberikan beberapa obat yang dia keluarkan dari tasnya kepada Venita.
"Ini obatnya Bu. Tolong diberikan jika Kenzo perutnya sudah terisi," ucap dokter Aldo sambil memberikan beberapa obat pada Venita.
"Gawat. Kenzo kan belum makan sejak dia pulang dari kantor tadi Bik. Belum tentu juga dia sudah makan pada saat di kantor tadi," ucap Venita sambil menoleh pada Bik Narmi.
"Jadi, bagaimana Nyonya?" tanya Bik Narmi dengan wajah cemasnya.
"Bagaimana lagi Bik, kita harus...."
"Maaf, di mana perempuan yang disebutkan namanya oleh Kenzo? Lebih baik dia saja yang mengurus Kenzo dan memberikan makan padanya. Pasti Kenzo bisa sembuh dengan cepat," dokter Aldo menyela ucapan Venita.
Bik Narmi memandang Venita mencari tahu apa yang akan Venita lakukan. Lebih tepatnya apa yang akan diperintahkan Venita padanya.
__ADS_1