
Rosalina tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Kenzo. Dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, mengapa Kenzo melakukan itu padanya.
"Memastikan apa Om?" tanya Rosalina pada Kenzo yang masih berada dalam pelukan Kenzo.
Kenzo tidak menjawab, dia diam dan masih memejamkan matanya untuk benar-benar memastikan perasaannya.
Beberapa saat setelah itu, Kenzo mengurai pelukannya. Dia memandang Rosalina, memperhatikan setiap inchi wajah Rosalina. Kemudian dia tersenyum.
Rosalina masih diam tidak mengerti mengapa Kenzo kini memandangnya seperti itu, bukannya menjawab pertanyaan yang telah dia ajukan tadi.
"Rosalina, aku mencintaimu. Maukah kamu menikah denganku?" tanya Kenzo dengan menatap intens mata Rosalina.
Sontak saja Rosalina membelalakkan matanya. Dia kaget karena tiba-tiba mendapatkan pernyataan cinta dari bosnya yang memang membuatnya tertarik, sayangnya status dari Kenzo lah yang membuat Rosalina memutuskan untuk tidak menyukainya kala itu.
Sekarang dia harus menjawab pernyataan cinta dari Kenzo. Mungkinkah dia mengikuti kata hatinya yang memang tertarik pada Kenzo sejak pertama mereka bertemu? Ataukah mungkin dia tetap pada prinsipnya untuk mencari suami yang masih perjaka?
Rosalina sungguh bingung dengan dirinya sendiri. Antara hati dan pikirannya, dia bingung harus menuruti yang mana.
"Rosa, bagaimana? Apa kamu mau menjadi istriku?" tanya Kenzo kembali pada Rosalina.
Tatapan mereka yang beradu membuat mereka tahu isi hati dari orang yang ditatapnya.
"Emmm... itu... anu... apa...," Rosalina gugup menjawabnya, apalagi tatapan mata Kenzo yang intens menatapnya dan tersenyum sangat manis padanya.
"Itu anu apa Rosa...?" tanya Kenzo sambil terkekeh dan tangan kanannya mencubit hidung mancung Rosalina.
Tangan Rosalina melepaskan tangan Kenzo yang berada di hidungnya. Kemudian dia menjawab pertanyaan Kenzo.
"Tapi Om kan duda. Aku kan maunya sama yang perjaka."
Kenzo tersenyum masih dengan menatap mata Rosalina. Kemudian dia bertanya kembali pada Rosalina.
"Sekarang aku tanya padamu, apa kamu menyukaiku? Apa kamu merasakan cinta padaku?"
Rosalina gelagapan. Kini dia melihat ke lain arah. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan Kenzo karena dia sedang bingung dengan dirinya.
__ADS_1
Kalau bicara tentang perasaan, memang dia merasakan tertarik pada Kenzo. Tapi jika untuk menjalin hubungan dengannya, Rosalina harus berpikir berkali-kali karena dia tidak ingin mempunyai masalah dengan statusnya yang tidak perjaka.
Rosalina takut jika tiba-tiba ada seorang wanita yang mengaku jika dia mengandung anak dari pasangannya, atau bahkan anak mereka sudah lahir. Sungguh Rosalina takut sekali membayangkan hal seperti itu.
Katakanlah dia terlalu banyak berburuk sangka karena melihat banyak kejadian seperti itu. Tapi karena mantan pacarnya lah yang memintanya untuk menyerahkan mahkotanya pada dia, membuat Rosalina semakin sadar betapa pentingnya perawan dan perjaka bagi orang yang akan menikah.
"Aku tau kamu juga mempunyai perasaan yang sama denganku. Jadi, bisa aku simpulkan jika kamu-"
"Om sok tau ih," Rosalina menyela perkataan Kenzo.
Dia malu dan dia tidak mau jika Kenzo mengetahui apa yang dirasakannya.
"Aku tau itu Rosa. Meskipun kamu sembunyikan, bagaimanapun aku tetap saja tau," tutur Kenzo yang tangannya berada di dagu Rosalina dan mengarahkannya untuk kembali menatapnya.
"Tapi aku maunya sama perja-"
"Sssttt... kamu tenang dulu. Nanti perlahan kamu pasti akan tau semuanya. Sekarang lebih baik kita pacaran saja lebih dahulu," Kenzo menyela ucapan Rosalina dengan menempelkan jarinya di bibir Rosalina.
"Pacaran?" celetuk Rosalina untuk meyakinkan pendengarannya.
Kenzo pun mengangguk dan tersenyum manis pada Rosalina. Kemudian dia berkata,
Di luar kamar tersebut, bik Narmi ragu untuk memanggil Kenzo dan Rosalina. Dia sangat takut jika Kenzo akan marah padanya karena mengganggu Kenzo dan Rosalina yang sedang bermesraan.
Namun, mengingat hal itu sangat penting, bik Narmi memberanikan dirinya untuk mengetuk pintu kamar tersebut.
Tok... tok... tok...
Bik Narmi benar-benar mengetuk pintu kamar baby Chintya dengan ragu-ragu.
Kenzo dan Rosalina yang sedang saling menatap itu kini mengalihkan perhatian mereka ke arah pintu kamar tersebut.
Rosalina kaget melihat bik Narmi yang tersenyum kikuk pada mereka berdua. Sontak saja dia menjauhkan tubuhnya dari Kenzo yang masih melingkarkan kedua tangannya pada pinggangnya.
Kenzo benar-benar merasa terganggu. Tanpa melepaskan kedua tangannya dari pinggang Rosalina meskipun Rosalina berusaha melepaskannya, Kenzo bertanya pada bik Narmi.
__ADS_1
"Ada apa bik?" tanya Kenzo datar sambil menatap bik Narmi yang sungkan dan merasa tidak enak padanya.
"I-itu Tuan, di luar... di luar ada lelaki yang memaksa masuk mencari Rosalina dan dia tidak mau diusir oleh keamanan. Bahkan dia mengatakan akan berbuat rusuh jika tidak bertemu dengan Rosalina," jawab bik Narmi dengan gugup.
Kenzo menoleh ke arah Rosalina. Dia yakin jika lelaki yang dimaksud oleh bik Narmi adalah Rendi.
Kenzo melepaskan kedua tangannya pada pinggang Rosalina. Helaan nafas lega terlihat jelas dari wajah Rosalina.
Namun, tangan Kenzo tidak melepasnya, tangannya hanya berpindah tempat saja. Kini tangan Kenzo menggenggam erat tangan Rosalina dan menatap Rosalina dengan senyum manisnya.
"Kami berpacaran Bik. Sebentar lagi dia akan menjadi istriku," ucap Kenzo dengan memperlihatkan gandengan tangan mereka pada bik Narmi.
Bik Narmi terlihat kaget, tapi senyumnya mengembang memperlihatkan ketulusan memandang Kenzo dan Rosalina.
Tentu saja bukan hanya bik Narmi yang kaget. Rosalina sangat kaget karena Kenzo benar-benar mengatakannya pada bik Narmi di depannya. Dan anehnya dia tidak bisa mengelak untuk mengatakan tidak.
"Bibik doakan kalian secepatnya menikah dan bahagia selamanya," tutur bik Narmi sambil tersenyum.
"Terima kasih Bik. Sekarang tolong jaga bayi ini sebentar. Saya dan Rosalina akan menyelesaikan permasalahan yang terjadi di depan," tukas Kenzo sambil berjalan menggandeng Rosalina keluar dari kamar tersebut.
"Om, kok Om bilang gitu sih sama Bik Narmi? Nanti Bik Narmi mengira itu semua benar," protes Rosalina pada Kenzo seiring langkahnya menuju halaman rumah Kenzo.
"Itu memang benar. Sekarang kita berpacaran, sebentar lagi kita tunangan dan setelah itu kita akan menikah," jawab Kenzo sambil berjalan menggandeng Rosalina.
"Om kok memutuskan semuanya sendiri sih? Aku kan belum menjawab," ucap Rosalina dengan nada sedikit kesal.
"Jangan panggil aku Om. Kamu itu pacarku dan aku bukan Om kamu," tukas Kenzo yang kini menatap Rosalina sambil berjalan.
"Terus manggilnya apa dong?" tanya Rosalina dengan wajah polosnya.
"Panggil aku sayang," jawab Kenzo sambil mengerlingkan sebelah matanya.
"Hah?! Gak mau ah, aneh ngomongnya," ucap Rosalina sambil menggelengkan kepalanya.
"Terserah mau panggil aku sayang atau Mas," tukas Kenzo sambil tersenyum pada Rosalina.
__ADS_1
"Kok Mas sih? Tambah aneh jadinya," ucap Rosalina memprotes.
"Ya sudah, panggil aku sayang!" tutur Kenzo sambil menarik tangan Rosalina sehingga menabrak tubuhnya dan tangannya berpindah ke pinggang Rosalina.