Bukan Duda Biasa

Bukan Duda Biasa
Bab 8 Curahan hati


__ADS_3

Kenzo bertambah kesal ketika mengetahui bahwa Rendi, teman laki-laki Rosalina mengetahui rumahnya.


Dia memerintahkan pada petugas keamanan agar tidak pernah membiarkan Rendi masuk ke dalam rumahnya.


Sejak pulang dari kampus itu, Kenzo tidak keluar dari kamarnya. Dia merasa kesal dengan Rosalina yang dia tunggu lama hingga kerepotan menenangkan baby Chintya yang menangis, tapi nyatanya Rosalina mengobrol dan bercanda bersama Rendi, teman laki-lakinya yang menurutnya menyukai Rosalina.


Hingga dia tertidur setelah keluar dari ruang kerjanya yang terhubung dengan kamarnya.


Tok... tok... tok...


Suara pintu kamar Kenzo diketuk oleh Rosalina. Dia diberi pesan oleh bik Narmi agar memangil Kenzo untuk makan malam.


Namun, tak ada jawaban dari Kenzo. Berkali-kali Rosalina mengetuk pintu kamar tersebut dan tetap saja tidak ada suara yang terdengar dari dalam kamar tersebut.


Rosalina menempelkan telinganya pada daun pintu kamar Kenzo. Dan dia tidak mendengar suara apapun dari dalam sana.


Dengan rasa penasarannya yang membuncah, Rosalina membuka pintu kamar tersebut tanpa memikirkan akibatnya. Dia hanya takut terjadi sesuatu pada Kenzo seperti waktu itu.


Jika dia tidak masuk ke dalam kamar Kenzo saat itu, pasti Kenzo tidak akan cepat sembuh dari sakitnya.


Langkah kaki Rosalina mengarah pada ranjang Kenzo. Dia takut jika Kenzo kembali sakit, sehingga dia melangkahkan kakinya menuju ranjang Kenzo.


Terlihat Kenzo sedang tidur saat ini. Tanpa berpikir panjang, Rosalina meletakkan tangannya pada dahi Kenzo bermaksud untuk memeriksa suhu badannya.


"Ganteng banget sih. Tapi sayang, duda. Coba kalau masih perjaka, pasti aku mau sama Om," ucap Rosalina lirih di depan wajah Kenzo.


Tiba-tiba mata Kenzo terbuka dan mendapati Rosalina tepat berada di depan wajahnya. Mereka berdua sama-sama kaget, tapi anehnya mereka tidak melepaskan pandangannya. Mereka malah saling menikmati pandangan mereka.


Hingga akhirnya Rosalina menggerak-gerakkan kelopak matanya membuat bulu matanya yang lentik itu bergerak naik turun dan itu membuat Kenzo tersadar.


Ctak!

__ADS_1


Kenzo menyentil dahi Rosalina agar dia sadar dan itu memang benar-benar membuat Rosalina tersadar.


"Ouch...," Rosalina merintih kesakitan sambil memegangi dahinya yang habis disentil oleh Kenzo.


Sontak saja dia menjauh dari wajah Kenzo. Sangat terlihat gugup sekali wajah Rosalina.


"Emmm... i-itu Om. Makanan udah siap. Silahkan makan," ucap Rosalina yang setelah itu dia mengambil jurus langkah seribu agar bisa keluar dari kamar tersebut secepatnya.


Kenzo duduk dan bersandar pada kepala ranjang. Dia tersenyum melihat Rosalina yang bertingkah lucu karena ketahuan seperti pencuri. Dan kata-kata Rosalina yang memuji Kenzo tadi membuat Kenzo berbunga-bunga.


Setelah dia kembali pada kesadarannya, segeralah dia beranjak dari ranjangnya untuk membersihkan dirinya.


Di kamar baby Chintya, Rosalina sedang berjalan mondar mandir sambil memukul-mukul kepalanya merutuki kebodohannya.


"Bisa-bisanya aku melakukan itu. Eh tunggu, apa dia mendengar ucapanku tadi ya? Apa jangan-jangan dia memang mendengarnya? Aaah... mampus aku... Gimana ini? Eh tapi... kalau dia dengar pasti dia bangun kan? tadi dia masih merem kok. Aman lah ya... Tapi kalau dia memang dengar gimana?"


Rosalina bermonolog dalam kamar baby Chintya sambil mondar mandir membuat baby Chintya tertawa lepas.


Kenzo yang mendengar tawa keras baby Chintya itu menjadi penasaran. Dia ingin tahu bagaimana caranya Rosalina bisa menaklukan baby Chintya yang super duper rewel menurut semua mantan baby sitter yang pernah merawat baby Chintya.


Melihat hal itu Kenzo berjanji akan mempertahankan Rosalina tetap berada di rumah itu apapun yang terjadi.


Kenzo segera berjalan cepat menuju meja makan ketika melihat Rosalina berjalan akan keluar dari kamar baby Chintya.


Rosalina menyiapkan makanan baby Chintya dengan cekatan. Meskipun dia sedang menggendong baby Chintya, tidak menjadi penghalang baginya untuk bisa meladeni baby Chintya sendiri, tanpa bantuan orang lain.


Kenzo yang melihat semua kerjaan Rosalina sebagai baby sitter baby Chintya merasa sangat bahagia karena dia tidak akan lagi mencari-cari baby sitter seperti waktu itu, waktu baby sitter yang lama tiba-tiba berhenti dan tidak kembali lagi.


Sebenarnya Rosalina mengetahui jika Kenzo sedari tadi memandang dan memperhatikannya. Tapi dia tidak mau jika dia menjadi bodoh seperti tadi.


"Rosa, kamu makan lah bersamaku. Rasanya tidak enak jika makan sendirian," perintah Kenzo pada Rosalina.

__ADS_1


"Hah?! Sa-saya Om?" tanya Rosalina meyakinkan pendengarannya.


"Iya kamu, siapa lagi?" ucap Kenzo sambil melambaikan tangannya.


Rosalina pun berjalan dengan ragu ke arah meja makan. Dia merapal doa dalam hatinya agar kebodohannya tidak lagi terjadi.


"Duduklah," ucap Kenzo sambil menunjuk kursi yang berada di depannya.


Dengan ragu dan perasaan malu, Rosalina duduk tepat di kursi depan Kenzo, sesuai perintahnya.


"Makanlah bersamaku, jangan sungkan," tukas Kenzo dengan tegas tanpa menatap Rosalina, matanya menatap piringnya selagi berucap.


Rosalina pun mengangguk dan dia memohon ijin untuk menyuapi baby Chintya yang ada dalam gendongannya.


Pandangan mata Rosalina tidak hanya tertuju pada baby Chintya. Dia mencuri-curi pandang ketika Kenzo sedang memakan makanannya.


Sedangkan Kenzo, dia sesekali berpura-pura melihat ke arah lain, padahal dia mencuri pandang ke arah Rosalina. Entah mengapa dia ingin sekali melihatnya.


Hingga tak sengaja mata mereka beradu pandang dan saling menatap untuk beberapa saat.


Namun, tatapan mata mereka terhenti karena baby Chintya yang tiba-tiba tertawa. Entah apa yang membuatnya tertawa hingga membuat Rosalina dan Kenzo tersadar dari acara pandang memandang mereka.


Malu, mereka berdua sama-sama malu. Rosalina salah tingkah, sedangkan Kenzo, dia tetap saja menjadi dirinya yang cuek dan menyembunyikan rasa malunya.


"Emmm... saya... saya mau ke kamar Chintya dulu Om. Nanti kalau sudah makannya biarkan saja di sini, biar saya yang membereskan," ucap Rosalina gugup sambil berdiri dari duduknya tanpa melihat Kenzo.


Kenzo hanya diam dan mengangguk sebagai jawabannya. Dan itu sudah pasti tidak terlihat oleh Rosalina, karena dia tidak berani memandang Kenzo. Dia takut jika mata mereka kembali beradu pandang seperti tadi.


Dengan salah tingkah dan gugup, Rosalina yang masih menggendong baby Chintya berjalan masuk ke dalam kamar milik baby Chintya.


Kenzo bernafas lega ketika tahu bahwa Rosalina sudah masuk ke dalam kamar baby Chintya. Dia sendiri sangat malu sama seperti Rosalina. Hanya saja, dia merasa lebih malu lagi jika Rosalina mengetahui bahwa dirinya juga malu seperti Rosalina.

__ADS_1


Secepatnya dia kembali ke kamarnya sebelum Rosalina kembali ke meja makan untuk membereskan bekas makanan mereka.


"Kenapa aku harus salah tingkah? Memangnya kenapa kalau kita saling memandang? Iya kan Chintya?" Rosalina mengajak baby Chintya berbicara, mirip orang yang sedang mencurahkan isi hatinya.


__ADS_2