
Hari-hari berlalu, Kenzo semakin jarang berada di rumahnya. Dia sangat menghindari Levia. Hingga dia jarang pulang ke rumah dan selalu bermalam di kantornya.
Hal itulah yang membuat orang tua Kenzo bertanya-tanya dengan kegilaan Kenzo dalam bekerja. Mereka selalu mengomel pada Kenzo agar pulang tepat waktu dan tidak meninggalkan istrinya di rumah sendirian.
"Ken, kenapa kamu tiba-tiba gila kerja seperti ini?" tanya Venita dan Antonio ketika datang berkunjung ke kantor Kenzo.
"Banyak kerjaan yang harus Ken kerjakan," jawab Ken tanpa mengalihkan pandangannya dari file-file yang sedang dikerjakannya.
"Tapi kamu harus memperhatikan istrimu Ken. Levia kamu tinggal sendiri di rumah. Apa kamu tidak ingin bersamanya? Apa kamu tidak bosan hanya bertemu dengan kertas-kertas ini?" Venita mengomeli Kenzo dengan gaya khas ibu-ibu mengomeli anaknya.
Kenzo tidak menjawabnya, dia tetap saja fokus pada pekerjaannya. Dan itu membuat Venita bertambah geram.
"Bagaimana bisa kamu memberikan kami cucu jika kamu lebih mementingkan pekerjaanmu?" tanya Venita kembali dengan menutupi berkas yang dibaca Kenzo menggunakan map yang ada di meja tersebut.
Kenzo mengalihkan perhatiannya dari kertas-kertas tersebut dan memandang wajah mamanya yang benar-benar marah padanya.
"Tenang saja Ma. Pasti Mama akan mendengar berita yang luar biasa. Tapi... Ah sudahlah, biarkan aku bekerja sekarang Ma. Mama dan Papa hanya tinggal menunggu saja berita dari menantu Mama nantinya," tutur Kenzo sambil tersenyum miring pada Venita dan Antonio.
"Apa maksudmu Ken? Apa Levia hamil?" tanya Venita dengan antusias.
Kenzo kembali menampakkan smirk nya. Dia tidak bisa mengatakan apapun pada kedua orang tuanya. Saat ini dia merasa sangat bodoh bisa berada dalam keadaan seperti ini.
"Sebaiknya Mama dan Papa menunggu berita itu di rumah sampai berita itu datang dari mulut menantu Mama itu. Dan tolonglah Ma, Pa, kami sudah dewasa dan berumah tangga. Tolong jangan urusi rumah tangga kami. Dan jangan melarang-larang Ken untuk tetap bekerja keras dengan pekerjaan Ken," tutur Ken dengan melihat secara bergantian wajah mama dan papanya.
"Ken, kami hanya menasehatimu saja. Mama kamu saja selalu protes jika Papa telat pulang ke rumah. Jadi Papa ingin kamu tidak bekerja terlalu keras dan pulanglah ke rumah tepat waktu untuk-"
"Apa Papa takut perusahaan Ken lebih unggul dari perusahaan Papa?" tanya Kenzo dengan tersenyum untuk menyela perkataan papanya.
"Kamu ini Ken, dikasih tau Papa malah meledek. Sudahlah Ma, kita tinggalkan saja anak yang tidak mau mengalah ini," ucap Antonio sambil memegang kedua pundak Venita untuk membantunya berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Kami pulang dulu Ken. Dan ingatlah istrimu, jangan hanya ingat pada pekerjaanmu saja. Jangan lupa untuk memberikan kami cu-"
"Akan Ken ingat Ma," sahut Kenzo untuk menyela perkataan mamanya yang membahas tentang cucu.
Setelah kedua orang tuanya keluar dari ruangan itu, Kenzo mencengkeram kertas yang dipegangnya dan melemparkan ke sembarang arah. Hatinya sangat marah kembali mendengar nama Levia yang masuk ke indera pendengarnya.
Sungguh dia tidak pernah membenci orang seperti itu. Luka yang diberikan oleh Levia bukan hanya goresan semata, sepertinya luka itu teramat dalam menembus hati dan pikiran Kenzo.
Kesibukan yang selama ini Kenzo terapkan dalam kesehariannya bertujuan untuk melupakan masalahnya di rumah dengan fokus pada pekerjaannya.
Namun, kini kenyataan itu kembali dipaparkan oleh mama dan papanya di hadapannya, sehingga Kenzo kembali teringat akan pahitnya rumah tangganya.
Drrrttt... drrttt... drrrtt...
Getaran ponsel Kenzo mengalihkan perhatiannya dari apa yang sedang dia kerjakan.
Diangkatnya ponselnya itu yang tertera nama bik Narmi pada layar ponselnya.
Tuan, Nyonya sedang demam, saya khawatir dengan kandungannya, ucap bik Narmi dari seberang sana.
"Saya sedang sibuk Bik. Lebih baik Bibik saja yang mengurusnya seperti biasanya," tukas Kenzo dengan kesal.
Tapi Tuan, saya khawatir kalau-
"Sudahlah Bik, jangan menyita waktu saya dengan urusan tidak penting seperti itu. Bawa saja dia ke rumah sakit atau apalah, terserah. Merepotkan saja."
Kenzo menyela ucapan bik Narmi dan segera mematikan teleponnya ketika perkataannya sudah selsai.
Kenzo kembali kesal, dia tidak bisa fokus dengan pekerjaannya. Segera dia berjalan menuju kamar yang ada di ruangannya itu. Malam ini dia kembali menginap di sana. Dan di malam itu juga bik Narmi harus mengurus Levia yang sedang demam di rumah.
__ADS_1
Kedua orang tua Kenzo dan Levia benar-benar tidak pernah bertemu dengan Levia. Kenzo tidak pernah melarang Levia untuk bertemu dengan mereka. Hanya saja Levia sendiri yang memilih tidak bertemu dengannya.
Levia selalu saja menghindar jika mereka ingin bertemu dengannya. Ada saja alasan yang diberikannya ketika mereka ingin bertemu dengannya. Dan jika mereka datang untuk menemuinya di rumah Kenzo, Levia selalu bersembunyi dalam kamarnya. Bik Narmi lah yang selalu membantunya agar mereka tidak menemukannya.
Levia belum siap bertemu dengan mereka. Dia tidak ingin mereka tahu jika dia sedang hamil. Dia tidak ingin jika mereka mengira anak itu adalah anak dari Kenzo. Karena sudah bisa dipastikan jika Kenzo akan sangat marah padanya jika mereka mengira anak itu adalah anak Kenzo.
"Bik, terima kasih untuk bantuan Bibik selama ini. Saya tidak tahu bagaimana nasib saya dan anak saya jika tidak ada Bibik yang membantu saya. Sekali lagi, terima kasih ya Bik...," ucap Levia sambil tersenyum pada bik Narmi dan mengusap-usap perutnya.
Bik Narmi tersenyum, kemudian dia mengusap perut Levia yang sudah membesar dan tinggal menunggu kelahirannya saja.
"Bik, saya tau sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang Bibik ingin tanyakan. Pasti Bibik tidak berani bertanya pada kami," ucap Levia dengan tersenyum tulus pada bik Narmi.
Bik Narmi hanya menatap Levia dengan pandangan yang menampakkan kesedihan. Dia tidak mampu mempertanyakan semua pertanyaan yang ingin dia ketahui selama ini.
"Bik, sebenarnya anak ini bukan anak Kenzo. Dan kami akan bercerai setelah anak ini lahir," tutur Levia sambil memegang kedua tangan bik Narmi.
Tentu saja bik Narmi sangat kaget. Dia membelalakkan matanya karena terkejut mendengar penuturan Levia. Apa yang dia perkirakan selama ini memang benar. Dia sangat prihatin pada Kenzo, tapi dia tidak bisa menyalahkan Levia yang menurutnya juga wanita baik selama dia mengenalnya.
Bik Narmi diam, dia menunggu Levia untuk berbicara lagi padanya. Levia pun menceritakan semua yang terjadi, mulai dari kehamilannya, perjodohannya dan akhir perjanjiannya dengan Kenzo.
Air mata Levia mengiringi ceritanya pada bik Narmi. Dengan senyumnya itu mampu menutupi kesedihannya, hanya saja air matanya sudah tidak bisa dia sembunyikan.
"Lalu, apa pacar Nyonya... maksud saya ayah dari anak ini tau jika Nyonya sedang mengandung anaknya?" tanya bik Narmi dengan penasarannya.
"Dia tau Bik. Dia akan menikahi saya ketika anak ini lahir dan saya sudah bercerai dari Kenzo," jawab Levia sambil tersenyum membayangkan dirinya, anaknya dan ayah dari si bayi tersebut bersama.
Bik Narmi tersenyum melihat Levia yang tersenyum bahagia mengatakannya. Dia mengusap perut Levia dengan lembut.
"Auuuh... aaaah... Bik, sepertinya... sepertinya... dia...."
__ADS_1
Levia memegang perutnya sambil merintih kesakitan membuat bik Narmi yang malam itu tidak pulang karena menemani Levia di rumahnya menjadi panik.