Bukan Duda Biasa

Bukan Duda Biasa
Bab 34 Aku masih perjaka!


__ADS_3

Perjaka, seperti kata keramat bagi Rosalina. Status perjaka sangat diinginkannya untuk syarat menjadi suaminya. Dan tentunya mereka juga saling mencintai dan mempunyai keinginan untuk hidup bersama dan setia hingga maut memisahkan.


Bukan karena obsesinya untuk mendapatkan seorang yang perjaka, hanya saja dia merasa keperjakaan itu sangat dibutuhkan agar tidak terjadi masalah ketika mereka sudah berumah tangga.


Itu semua karen Raihan, mantan pacar Rosalina. Dan Kenzo yang pernah sekali mendengar tentang itu tidak menyalahkan syarat Rosalina yang menginginkan suaminya masih perjaka.


"Dari dulu aku berjanji akan menikah dengan laki-laki yang masih...."


"Perjaka?" tanya Kenzo dengan mengernyitkan dahinya.


Rosalina menatap kaget pada Kenzo yang bisa menebak kata hatinya. Dan Kenzo menengadahkan wajahnya lebih dekat pada Rosalina berharap agar Rosalina menjawab pertanyaannya.


"I-iya," ucap Rosalina sambil menganggukkan kepalanya lirih.


Kenzo tersenyum dan mencubit hidung mancung Rosalina yang ada di hadapannya itu. Sebenarnya dia ingin kembali mencicipi bibir pink alami milik Rosalina yang sudah menjadi candunya itu, hanya saja Rosalina benar-benar tidak memanggilnya dengan sebutan om, sehingga Kenzo tidak bisa memberinya hukuman.


Hanya sekejap dia mencubit hidung Rosalina, setelah itu dia melepaskannya dan beralih mendekat ke arah samping wajah Rosalina.


Ternyata Kenzo ingin membisikkan sesuatu pada Rosalina, hanya saja Rosalina yang terbawa susana hingga dia memejamkan matanya. Entah apa yang dia pikirkan hingga dia memejamkan matanya seperti itu.


"Aku masih perjaka," bisik Kenzo di telinga Rosalina.


Sontak saja Rosalina membuka matanya, dan dia mendapatkan serangan mendadak dari Kenzo. Bibir pink miliknya itu merasakan benda kenyal yang ternyata adalah bibir milik Kenzo.


Bibir milik Kenzo itu menempel pada bibir Rosalina hanya sekejap saja, setelah itu Kenzo dengan cepatnya berdiri dan berjalan menuju pintu kamar.


Layaknya pencuri yang sudah berhasil mengambil sesuatu, Kenzo kini meninggalkan Rosalina tanpa mengatakan sesuatu setelah membisikkannya sesuatu tadi di telinga gadisnya itu.


Mata Rosalina terbelalak mendapatkan serangan di bibirnya.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin dia masih perjaka?" tanya Rosalina sambil menutup bibirnya setelah mendapatkan ciuman dari Kenzo.


"Bisa, dan itu lah aku," ucap Kenzo yang kembali menampakkan kepalanya di depan pintu kamar yang memang tidak ditutup oleh Kenzo setelah dia keluar dari kamar itu tadi.


Rosalina kembali terbelalak karena Kenzo ternyata mendengar apa yang dia katakan. Kenzo hanya tersenyum dan meninggalkan Rosalina dalam kebingungannya seorang diri tanpa menjelaskan padanya.


Apa ini? Apa aku harus mempercayainya? Rosalina berkata dalam hatinya, dia takut jika Kenzo kembali mendengar apa yang dia tanyakan pada dirinya sendiri.


Malam ini Rosalina begitu kalut. Dia memikirkan tentang Kenzo. Dan dia tidak sadar sudah melupakan sesuatu yang sangat penting.


Dia melupakan tentang Rendi, tentang perasaan Rendi padanya, tentang penolakannya dan tentang tas branded limited edition yang diberikan oleh Rendi padanya.


Dalam kamar yang tenang itu dia kembali mendengar suara Dina yang ternyata belum juga meninggalkan rumah itu.


Rosalina mendekat ke arah pintu, dia mencuri dengar apa yang dikatakan oleh mereka di luar sana.


Dina menolak diajak pulang oleh Dino. Sungguh sangat malu sekali Dino pada Kenzo. Dan beruntungnya Kenzo selalu tidak pernah menyalahkan Dino atas sikap adiknya selama ini padanya.


"Aku gak mau pulang! Aku mau tinggal di sini! Aku gak mau si baby sitter sialan itu merayu Kak Kenzo!"


Berulang kali Dina mengatakan hal itu ketika Dino mengajaknya pulang. Dan akhirnya Dino menyerah, dia hanya menunggu adik manjanya itu di sofa ruang tengah sambil menonton tayangan televisi.


"Dina, Kakak harap kamu bisa bersikap dewasa. Dan ini sudah malam, Kakak minta dengan hormat kamu bisa pulang sekarang bersama dengan Dino, Kakakmu," tutur Kenzo dengan berdiri menjaga jarak aman dari Dina yang seolah siap menerkamnya.


"Kak Kenzo ngusir aku? Kakak jahat banget sih. Pasti baby sitter sialan itu yang sudah meracuni pikiran Kakak. Pokoknya aku gak mau pulang sebelum Kakak mengatakan akan menikah denganku," ucap Dina dengan entengnya, tanpa berpikir panjang.


Kenzo menatap tajam ke arah Dina. Dia benar-benar hilang kesabaran menghadapi adik dari sahabatnya itu.


"Maaf, Kakak gak bisa melakukannya. Dan satu lagi, jangan sekali-kali kamu merendahkan, menghina ataupun memfitnah Rosalina, karena dia adalah calon istriku. Ingat itu!" ucap Kenzo sambil menunjuk ke arah Dina dari tempatnya berdiri saat ini.

__ADS_1


Kenzo sudah hilang kesabaran menghadapi Dina. Dia sudah tidak memikirkan posisinya sebagai sahabat dari Dino, kakak kandung Dina.


Setelah mengatakan itu, Kenzo segera masuk ke dalam kamarnya dan mengunci kamar itu dari dalam.


Dina masih saja mengomel dan berteriak memaki Rosalina. Dia juga meneriakkan bahwa dia tidak akan keluar dari rumah Kenzo jika Kenzo todak mau berjanji padanya sesuai dengan keinginannya tadi, yaitu berjanji untuk menikah dengannya.


Di dalam kamarnya, Kenzo mengambil ponsel dari dalam saku celananya, kemudian dia berbicara pada seseorang.


"Pak tolong bawa keluar adik perempuan Dino sekarang juga," perintah Kenzo dengan tegas pada penjaga keamanan yang sedang berjaga di pos penjagaan depan rumahnya.


Dengan segera Pak Mail dan Pak Saleh masuk ke dalam rumah. Mereka berdua menyeret Dina untuk keluar dari rumah Kenzo.


"Lepaskan! Lepaskan aku! Kalian kurang ajar! Aku akan melaporkan kalian agar kalian dipecat! Lepaskaaaaan....!"


Dina memberontak dan berteriak ketika ditarik keluar oleh Pak Mail dan Pak Saleh. Sedangkan Dino, dia hanya mengikuti Dina yang ditarik oleh Pak Mail dan Pak Saleh itu di belakangnya.


Dino memang tidak meminta pada Pak Saleh dan Pak Mail untuk melepaskan Dina karena dia tahu jika sudah pasti Pak Saleh dan Pak Mail diperintahkan oleh Kenzo.


Dino segera membuka pintu mobilnya dan Pak Saleh serta Pak Mail memasukkan Dina ke dalam mobil tersebut, setelah itu Dino mengunci pintu mobilnya agar Dina tidak bisa keluar dari mobil tersebut.


"Sudahlah Dina kamu menyerah saja. Kenzo akan lebih tidak suka padamu jika kamu seperti itu. Kamu harus menjadi perempuan yang baik jika ingin mengambil hati Kenzo," tutur Dino pada adiknya yang terlihat sangat marah dari wajahnya.


Mendengar perkataan dari kakaknya itu, membuat Dina berpikir dan dia tersenyum seperti mendapatkan sesuatu.


Dina menoleh pada kakaknya. Dia menanyakan sesuatu dengan antusias pada kakaknya.


"Apa menurut kakak jika aku berubah menjadi perempuan yang manis bisa membuat Kak Kenzo berubah pikiran?"


"Bisa saja kan? Siapa tau itu akan terjadi," jawab Dino dengan asal, karena dia hanya berniat untuk menghibur adik manjanya itu.

__ADS_1


Dina tersenyum cerah, matanya berbinar membayangkan apa yang dikatakan oleh kakaknya itu benar adanya.


__ADS_2