Bukan Duda Biasa

Bukan Duda Biasa
Bab 61 Bubur pengobat rindu


__ADS_3

"Rosa, kamu ke mana saja sih dari tadi?" tanya Bik Narmi yang berjalan bersama Rosalina menuju dapur.


"Rosa gak ke mana-mana kok Bik. Dari tadi juga cuma di rumah aja," jawab Rosalina sambil tersenyum manis pada Bik Narmi.


Bik Narmi terhenyak mendengar Rosalina mengatakan bahwa sedari tadi dia berada di rumahnya. Padahal Kenzo mengatakan jika Rosalina tidak berada di rumah pada saat dia datang ke rumahnya.


"Beneran Ros? Berarti tadi kamu tau kalau Tuan Kenzo datang ke rumahmu?" tanya Bik Narmi dengan serius sambil memandang lekat wajah Rosalina.


Rosalina gugup, dia tidak menyangka jika Bik Narmi mengetahui Kenzo datang ke rumahnya.


"Emmm... tau Bik," jawab Rosalina sambil mencuci beras yang akan dimasak menjadi bubur.


"Lalu, kenapa kamu tidak menemui Tuan Kenzo?" tanya Bik Narmi menyelidik.


Tiba-tiba Bik Narmi menjadi wartawan yang menyelidiki kepergian Rosalina sejak dari rumah sakit waktu itu.


Rosalina menghentikan kegiatannya mencuci beras. Kemudian dia menghela nafasnya dan membalikkan badannya menghadap Bik Narmi.


"Saat Rosa datang, mobil Om Kenzo udah jalan Bik, udah pergi dari rumah Rosa," jawab Rosalina mencoba mencari jawaban teraman agar Bik Narmi tidak bertanya kembali padanya.


"Bibik kasihan sekali melihat Tuan Kenzo. Kamu tau Rosa, Tuan Kenzo terlihat frustasi sekali tadi. Dia sangat sedih pulang tanpa membawa kamu. Apalagi Chintya menangis semenjak tadi kamu menghilang," tutur Bik Narmi dengan wajah sedihnya.


"Oh iya Chintya. Di mana Chintya sekarang Bik? Kenapa dia tidak ada bersama dengan Bibik sekarang?" tanya Rosalina untuk mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


Bukannya Rosalina tidak iba ataupun tidak peduli pada Kenzo. Dia mengalihkan pembicaraan agar Bik Narmi tidak lagi membicarakan tentang Kenzo. Cukup sudah dia merasa bersalah dan jujur saja dia teramat sangat sedih melihat keadaan Kenzo yang seperti itu hanya karena dirinya yang bukan siapa-siapa di rumah itu.


"Barusan saja Chintya tertidur. Sepertinya dia terlalu capek karena menangis hampir seharian tadi. Kamu tau sendiri kan Ros seperti apa jika Chintya menangis tidak ada kamu? Bibik kasihan sama dia. Wajahnya sampai memerah dan badannya sampai lengket karena air matanya. Aneh juga sih, padahal kami bukan ibu kandungnya, tapi kenapa Chintya bisa sedekat itu ya sama kamu?" ucap Bik Narmi sambil mengiringi Rosalina mengaduk-aduk beras yang ada di panci.


Rosalina tersenyum getir. Dia kini bertambah bimbang. Keinginannya untuk menjauhi Kenzo berimbas pada baby Chintya. Sungguh dia tidak menginginkan semua ini terjadi. Dia hanya tidak mau jika kehadirannya membuat hal rumit dalam hidup Kenzo. Nyatanya kini kehadirannya sangat berarti dalam hidup Kenzo.


Sebelum datang ke rumah Kenzo, dalam hatinya memutuskan untuk datang dan merawat Kenzo, setelah itu dia akan berpamitan dengan baik-baik pada Kenzo untuk tidak lagi bekerja sebagai baby sitter baby Chintya. Entah diperbolehkan atau tidak oleh Kenzo, Rosalina tetap akan kembali ke rumahnya dengan alasan kuliahnya yang memasuki tahap akhir.


"Rosa juga tidak tau Bik. Mungkin dia nyaman saja bersamaku Bik. Dikira Ibunya kali Bik," ujar Rosa sambil terkekeh berniat untuk bercanda dan mencairkan suasana.


Ternyata Venita berada di balik tembok dapur ketika Bik Narmi membahas Kenzo. Kali ini dia menyadari pentingnya kehadiran Rosalina dalam hidup Kenzo dan baby Chintya. Setelah itu dia kembali ke kamar Kenzo karena niatannya ke dapur hanya ingin memberitahu Rosalina agar lebih cepat memasaknya. Nyatanya dia malah mendengar percakapan antara Rosalina dan Bik Narmi.


"Ya sudah, setelah ini kamu jangan pergi-pergi lagi. Kasihan Tuan Kenzo sama Chintya. Mereka sama-sama membutuhkan kamu," tutur Bik Narmi sambil mengusap punggung Rosalina yang sedang memasak.


Rosalina diam, dia tidak menjawab perkataan Bik Narmi, dia hanya tersenyum getir penuh misteri. Dalam hati Rosalina pun bertanya, apakah dia benar-benar akan meninggalkan Kenzo dan baby Chintya atau dia akan tetap bertahan di rumah itu?


Bik Narmi tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Kemudian dia kembali ke kamar baby Chintya untuk kembali menungguinya.


Sedangkan Rosalina, dia membawa semangkok bubur buatannya dan segelas air putih untuk Kenzo.


Melihat Rosalina masuk ke kamar Kenzo, Venita menjauh dari Kenzo. Dia memperhatikan sepasang kekasih itu dari sofa yang ada dalam kamar tersebut.


Rosalina meletakkan mangkok bubur tersebut di atas meja nakas dan memberikan gelas tersebut untuk Kenzo minum terlebih dahulu.

__ADS_1


Tentu saja Rosalina membantu meminumkannya. Tangan Kenzo seolah tidak kuat memegang gelas ataupun sendok. Dia dilayani oleh Rosalina. Bahkan minum pun dibantu meminumkannya.


Setelah selesai minum, Rosalina mengambil mangkok bubur tersebut dan menyuapkan bubur itu ke dalam mulut Kenzo.


Dengan telatennya Rosalina menyuapi Kenzo. Sedikit demi sedikit bubur itu sudah masuk ke dalam mulut Kenzo.


Di dalam kamar itu hening, tidaka ada suara sama sekali. Kenzo hanya menikmati wajah Rosalina tanpa berkedip. Hanya beberapa jam saja dia terpisah dari kekasih hatinya itu, seolah sudah beberapa tahun saja dia merasakannya, hingga dia jatuh sakit karena tersiksa akan hatinya yang rindu pada kekasihnya itu.


Sebenarnya Rosalina gugup ditatap intens seperti itu oleh Kenzo. Apalagi jarak mereka sangat dekat. Tapi dia menahannya sekuat tenaga agar tidak terlihat gugup ataupun malu di depan Kenzo.


Semua itu tidak luput dari pandangan Venita. Tatapan Kenzo yang penuh cinta dan mendamba pada Rosalina. Dan betapa telatennya Rosalina merawat Kenzo yang sedang sakit membuat Venita yakin jika karena itulah babay Chintya nyaman berada di dekat Rosalina.


Bayi itu dan Kenzo sepertinya sangat membutuhkan dia. Apakah aku harus menerima Rosalina menjadi bagian dari keluarga kami? Venita bertanya dalam hatinya sambil memperhatikan reaksi kedua manusia yang berlawan jenis di hadapannya itu.


Suapan terakhir telah diberikan Rosalina pada Kenzo. Kini dia kembali membantu Kenzo untuk meminum air putih yang sudah disiapkan oleh Rosalina tadi.


"Obatnya diminum dulu. Ingat, jangan sampai gak makan kalau ingin sehat," tutur Rosalina sambil memberikan obat dan meminumkan air putih pada Kenzo.


"Iya Sayang. Asalkan seperti biasanya, kamu menemaniku makan," tukas Kenzo sambil tersenyum manis dan memegang tangan Rosalina yang tidak membawa gelas.


Rosalina melepaskan tangan Kenzo dan mengambil mangkok bubur di atas nakas itu.


"Aku ke belakang dulu," ucap Rosalina sambil membawa mangkok dan gelas air minum bekas Kenzo.

__ADS_1


"Biarkan saja di situ. Biar Bik Narmi saja yang mengambilnya," ujar Kenzo untuk menghentikan Rosalina.


"Hanya sebentar saja. Ok," ucap Rosalina sambil memberikan senyum manisnya pada Kenzo.


__ADS_2