
Cinta, kata itu menjadi momok bagi Rosalina. Dia takut jika salah mencintai seseorang. Seperti dirinya yang dulu pernah salah mencintai mantan pacarnya. Dan dia juga takut jika pilihannya akan berakhir hancur seperti Kenzo meskipun tidak mencintai Levia.
Inti dari semuanya adalah pilihan. Memilih siapa yang akan dicintainya dan memilih siapa yang akan menjadi pasangannya.
"Apa kamu mencintaiku?"
Pertanyaan Kenzo membuat Rosalina menjadi tercengang. Dia tahu sekarang ini tidak ada lagi alasan darinya untuk tidak menerimanya karena Kenzo sudah menyatakan keperjakaannya.
Aku harus bagaimana? Jika aku terima, aku memang bahagia karena aku juga mulai mencintainya. Tapi bagaimana dengan keluarganya? Keluarga kami bagai langit dengan bumi. Dan jika aku menolaknya, apa yang harus aku katakan? Dia sudah menyatakan bahwa dia masih perjaka. Eh tunggu, tapi..., Rosalina bertanya-tanya dalam hatinya.
"Aku tau kamu pasti malu mengatakannya," tutur Kenzo sambil tersenyum jahil.
"Enggak. Aku biasa aja," ucap Rosalina sedikit gugup.
"Lalu, apa jawabanmu setelah mengetahui tentang cerita pernikahanku?" tanya Kenzo menyelidik.
"Mmmm... belum ada buktinya kan?" Rosalina mencoba mengulur waktu, dia mencoba untuk menetapkan hatinya dan mencoba untuk membuktikan pada Venita bahwa dia tidak seperti yang dipikirkannya.
"Mau bukti apalagi sayang...?" tanya Kenzo sembari mencubit gemas hidung mancung Rosalina.
"Itu.. syarat untuk jadi suaminya aku," jawab Rosalina lirih dengan menundukkan kepalanya.
Kenzo menahan tawanya. Bibirnya merapat ke dalam agar tawanya tidak keluar. Bagaimana dia tidak gemas dengan gadis di hadapannya ini jika apa yang dilakukannya mampu membuatnya gemas dan ingin memeluknya.
"Apa perlu aku perlihatkan?" tanya Kenzo dengan mengedipkan sebelah matanya.
Sontak saja Rosalina terkejut dan mendongakkan kepalanya mendengar apa yang dikatakan oleh Kenzo padanya.
"A-apa maksudnya?" tanya Rosalina gugup dengan menggigit bibirnya.
"Membuktikan padamu bahwa aku masih perjaka," jawab Kenzo dengan mendekatkan wajahnya di depan wajah Rosalina.
Tentu saja Rosalina terkejut. dia tidak bisa maju ataupun mundur. Dia tidak bisa mundur karena dia sedang duduk di sofa dengan baby Chintya yang berada di dekatnya dan di depannya ada Kenzo yang siap menerkamnya.
"Ca-caranya?" tanya Rosalina gugup.
__ADS_1
Kenzo tersenyum penuh arti. Rasanya dia senang sekali menjahili Rosalina yang disebutnya sebagai calon istrinya.
"Kita menikah saja agar kita bisa segera melakukannya," jawab Kenzo dengan senyum manisnya.
"Enggak. Gak mau. Kalau kita udah menikah dan ternyata kamu tidak perjaka bagaimana?" ucap Rosalina tanpa berpikir panjang.
Bukannya Kenzo sedih mendengar penolakan dari Rosalina, dia malah tertawa mendengar ucapan dari gadis di hadapannya itu. Bagaimana bisa dia mengatakan hal segamblang itu di depan laki-laki yang mengajaknya menikah.
"Aku bisa jamin jika aku masih perjaka. Lalu... apa kamu masih perawan?" tanya Kenzo dengan ekspresi serius untuk menutupi kejahilannya.
Dia memang ingin sekali mendapatkan istri yang masih perawan, sama seperti Rosalina yang menginginkan suami perjaka. Dan alasan mereka sama, mereka tidak ingin nantinya ada kejadian yang mempersulit rumah tangga mereka. Seperti kejadian Levia yang mengandung ketika menikah dengan Kenzo.
Dari situlah Kenzo berpikir jika apa yang diinginkan oleh Rosalina merupakan syarat yang wajar untuk memiliki pasangan hidup yang belum tersentuh oleh siapapun.
"Tentu saja. Bahkan aku berani bersumpah jika ada yang menyuruhku melakukannya," jawab Rosalina dengan antusias tanpa berpikir panjang.
"Lalu, bagaimana caramu membuktikannya?" tanya Kenzo yang seolah membalikkan pertanyaannya tadi pada dirinya sendiri.
Rosalina gelagapan, dia tidak bisa menjawabnya karena sama saja seperti menjerumuskan dirinya sendiri.
Rosalina bertambah gugup, belum juga dia menikah tapi kegugupannya sudah terasa sekarang.
"Apa perlu kita ke rumah sakit?" tanya Kenzo dengan menatap lekat mata Rosalina seolah mencari jawaban dari mata tersebut.
"Hah, untuk apa?" tanya Rosalina yang semakin gugup dan ada sedikit keringat dingin menetes di pelipisnya.
Kenzo semakin terhibur melihat ekspresi dari Rosalina. Niatan untuk menjahilinya semakin gencar. Sekarang ini hari-harinya semakin berwarna semenjak kehadiran Rosalina di hidupnya. Sehingga dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menjahili Rosalina.
"Untuk mencari bukti. Jika kamu mau, kita akan pergi sekarang juga," ucap Kenzo dengan mempertahankan posisinya saat ini.
"E-enggak. Kamu harus bekerja sekarang," sahut Rosalina sambil mendorong tubuh Kenzo menjauh darinya.
Secepat kilat dia berdiri dan berjalan cepat untuk menjauhi Kenzo. Melihat hal itu Kenzo terkekeh dan beralih duduk di tempat duduk yang tadinya diduduki oleh Rosalina.
Setelah beberapa detik, Rosalina kembali lagi dengan wajah yang grogi di hadapan Kenzo.
__ADS_1
"Kenapa? Mau berangkat sekarang?" tanya Kenzo dengan santainya.
"Enggak. Aku hanya mau mengambil Chintya," jawab Rosalina, setelah itu dia mengambil baby Chintya dari atas sofa yang berada di dekat Kenzo.
Seketika senyum Kenzo sirna. Ternyata sekarang dia yang merasa dijahili oleh Rosalina.
Di tempat lain, tepatnya di sebuah cafe yang bernuansa klasik, duduklah seorang wanita berpakaian anggun bersama dengan seorang perempuan yang berpakaian trendi.
"Jadi, seperti itu Tante ceritanya," ucap perempuan tersebut setelah menceritakan dengan panjang lebar tentang seseorang.
Wanita berpakaian anggun itu menatapnya dengan seksama sejak tadi mereka bertatap muka.
"Lalu, apa tujuanmu mengatakan semua itu pada saya?" tanya wanita tersebut pada perempuan di hadapannya.
"Emmm saya... saya tidak bermaksud apa-apa Tante. Saya hanya ingin Kak Kenzo tidak salah dalam memilih pasangan," jawab perempuan tersebut dengan gugup.
Ya, benar sekali, wanita itu adalah Venita, mama dari Kenzo. Sedangkan perempuan di hadapannya adalah Dina, adik Dino yang terobsesi pada Kenzo.
Venita memicingkan matanya, menelaah ekspresi wajah Dina. Setelah itu Venita mengeluarkan smirk nya dengan menatap tajam Dina yang semakin salah tingkah mendapatkan tatapan seperti itu dari Venita.
"Apa kamu yakin dengan apa yang kamu katakan tadi?" tanya Venita dengan tatapan seolah mengintimidasinya.
Seolah seperti mendapatkan angin segar, Dina tersenyum lega dan menjawab pertanyaan Venita dengan antusias.
"Saya yakin seratus persen Tante."
Venita menganggukkan kepalanya, kedua tangannya dilipat di depan dadanya dengan matanya yang tidak pernah lepas menatap Dina.
"Lalu kenapa kamu harus repot-repot menemui saya. Kamu kan bukan siapa-siapanya Kenzo," ucap Venita dengan tenang dan tersenyum licik pada Dina.
Seketika senyum Dina menghilang. Wajahnya kini berubah menjadi sedikit memucat. Rencananya untuk menjelek-jelekkan Rosalina di depan Venita kini tidak semulus yang dia rencanakan. Venita tidak sebodoh dan segampang yang dia kira.
"Saya adik dari Kak Dino, sahabat baik Kak Kenzo. Jadi kami sangat dekat karena Kak Kenzo sudah menganggap saya seperti adiknya sendiri," jawab Dina dengan ragu.
"Saya tau. Bahkan saya sangat tau itu. Yang ingin saya tau adalah... apa kamu menyukai Kenzo, putra saya?" tanya Venita dengan smirk di bibirnya.
__ADS_1