
Kenzo dan Rosalina tertidur dengan saling berpelukan. Kenyamanan yang mereka rasakan saat ini tidak pernah mereka rasakan sebelumnya. Hingga mereka terbuai oleh kenyamanan tersebut.
"Anak cantik, kamu sudah bangun ya?"
Suara seorang wanita terdengar jelas di telinga Kenzo dan Rosalina.
Mereka berdua membuka matanya dan saling menatap dalam keadaan masih saling berpelukan.
"Kamu anteng sekali, tidak seperti biasanya yang suka menangis dengan keras. Apa kamu sudah menemukan pengasuh yang tepat?"
Suara itu kembali terdengar di telinga Kenzo dan Rosalina. Suara wanita yang mereka berdua yakini bukan suara dari bik Narmi.
Kenzo dan Rosalina segera melepaskan pelukan mereka. Kemudian mereka menoleh ke arah box bayi milik baby Chintya ketika mendengar suara tawa baby Chintya dan suara tawa dari wanita tersebut.
Mata keduanya membelalak. Mereka berdua kaget mendapati sosok wanita sedang menggendong baby Chintya dan menciumi pipi baby Chintya hingga baby Chintya tertawa kegelian.
"Mama?!" seru Kenzo tidak percaya dengan penglihatannya saat ini.
Dia melihat mamanya berdiri di sebelah box bayi milik baby Chintya dan bercanda dengan baby Chintya tanpa menghiraukan Kenzo dan Rosalina yang sedang tidur bersama di dalam kamar tersebut.
Mata Rosalina semakin membelalak sempurna ketika mendengar bahwa wanita tersebut adalah ibu dari Kenzo, lelaki yang sedang tidur bersamanya.
Rosalina tidak berani menatap ibu dari Kenzo itu. Dia menundukkan kepalanya karena takut jika dia akan diomeli habis-habisan oleh ibu dari majikannya itu.
Dengan memejamkan matanya dan menundukkan kepalanya, Rosalina meratapi kebodohannya.
Berani-beraninya kamu tidur dengan Tuan mu Rosalina... Kenapa kamu lancang sekali? Ingat apa kata Dina dan Dino semalam, kamu itu hanya seorang baby sitter yang tidak mungkin bisa bermimpi menikah dengan Tuan mu. Ingat itu! Rosalina meratapi kebodohannya dalam hatinya.
"Kamu sudah bangun Kenzo?" tanya Venita, mama dari Kenzo.
Venita melihat Kenzo yang masih terduduk di ranjang berdampingan dengan Rosalina. Mata Venita pun memandang Rosalina yang masih menundukkan kepalanya dengan ketakutan.
"Siapa dia Ken?" tanya Venita sambil memandang ke arah Rosalina dengan tangannya masih menggendong baby Chintya.
__ADS_1
Kenzo menoleh pada Rosalina, dia melihat Rosalina yang terlihat sangat jelas jika dia saat ini sedang ketakutan.
Tangan Rosalina mencengkeram selimut dengan kencangnya. Kepalanya yang menunduk dan matanya yang tertutup membuat Kenzo yakin jika Rosalina sangat ketakutan saat ini.
Tangan Kenzo meraih tangan Rosalina yang mencengkeram selimut itu. Dia tidak ingin kekasih hatinya itu ketakutan sendiri meskipun ada dirinya.
Kenzo hanya ingin memberikan kekuatan pada Rosalina dan memberitahunya bahwa dia tidak sendirian melalui genggaman tangannya.
"Dia Rosalina Ma, dia calon istriku," jawab Kenzo sambil tersenyum pada mamanya.
Rosalina terhenyak ketika Kenzo memperkenalkan dirinya sebagai calon istrinya pada Mama Kenzo. Dia memandang Kenzo dengan tatapan tidak percaya. Sedangkan Kenzo tersenyum padanya setelah mengalihkan pandangannya dari mamanya.
"Benarkah? Mengapa kalian tidak menikah saja daripada kalian berbuat dosa seperti ini?" tanya Venita dengan memandang secara bergantian pada Kenzo dan Rosalina.
"Nanti Ma, Rosalina masih belum lulus, jadi dia masih ingin fokus pada pendidikannya terlebih dahulu," jawab Kenzo yang kini kembali memandang mamanya dan memberikan senyumnya pada mamanya.
"Lalu, kalian akan terus tidur berdua seperti ini?" tanya Venita kembali.
Rosalina sangat takut, jiwa bar-barnya hilang seketika. Jika dia dalam situasi seperti ini dengan orang lain, pasti dia sudah melawannya sedari tadi. Sayangnya yang dia hadapi bukan orang lain, melainkan mama dari Kenzo, wanita yang mungkin saja akan menjadi ibu mertuanya.
"Kamu pikir Mama percaya? Kalian sudah dewasa, tentu saja orang yang melihat kalian tidur bersama seperti ini akan berpikiran yang sama seperti Mama. Sebaiknya kalian cepat menikah saja," tutur Venita seperti orang yang sedang mengomel marah pada umumnya.
Menikah? Kenapa ibu dan anaknya sama-sama ingin kami segera menikah? Aku harus bagaimana? Kenapa aku bisa terjebak seperti ini? Aku hanya ingin membeli tas impianku, kenapa jadi aku harus menikah? Rosalina bertanya-tanya dalam hatinya.
"Ayo kita berbicara di luar. Dan ini, Chintya segera bersihkan dia Kenzo. Bukankah dia anakmu? Harusnya kamu lebih menyayanginya daripada wanita lain yang belum tentu menjadi istrimu," ucap Venita dengan menatap ketus pada Rosalina.
"Ma, apa yang Mama katakan? Seharusnya Mama tidka berbicara seperti itu pada wanita yang sangat aku cintai," tukas Kenzo sambil berdiri dan meraih tubuh baby Chintya dari tangan Venita.
Venita memandang Kenzo dan Rosalina secara bergantian. Kemudian dia berjalan keluar dari kamar baby Chintya meninggalkan Kenzo dan Rosalina yang masih dalam keadaan canggung.
Kenzo duduk di atas ranjang, tepatnya di hadapan Rosalina dengan meletakkan baby Chintya yang sedang bermain dengan tangannya.
Rosalina segera mengangkat tubuh baby Chintya untuk membersihkan badannya.
__ADS_1
"Sayang, maafkan Mamaku. Dia belum tau semuanya. Setelah ini aku akan menjelaskan semuanya padanya. Dan tentunya aku akan menjelaskan padamu rahasia besar dalam hidupku," ucap Kenzo yang berhasil menghentikan langkah Rosalina.
Kenzo berdiri dan berjalan mendekati Rosalina yang berdiri mematung.
"Percayakan semuanya padaku. Dan penuhi janjimu untuk tetap bersamaku tanpa meninggalkan aku apapun yang terjadi," ucap Kenzo sambil memeluk Rosalina dari belakang.
Hanya sebentar saja Kenzo memeluk Rosalina dari belakang. Kemudian dia melepaskan pelukannya itu dan berjalan keluar dari kamar tersebut.
Di sini lah Kenzo kini berada. Dia sedang bersama dengan Mamanya, duduk berhadapan di ruang tengah.
Kenzo menjelaskan siapa sebenarnya Rosalina dan tentu saja mengenai status Rosalina yang masih sebagai mahasiswa tingkat akhir.
"Lalu kenapa dia bekerja sebagai baby sitter di rumah ini?" tanya Venita pada Kenzo dengan tatapan menyelidik.
"Karena ekonominya mungkin. Sepertinya dia butuh biaya besar untuk kuliahnya. Dan mungkin juga untuk membantu keluarganya," jawab Kenzo tanpa berpikir.
Vineta, mama Kenzo itu tersenyum miring, seolah dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Kenzo, anaknya.
"Bukannya dia mahasiswa pintar yang selalu mendapatkan beasiswa?" tanya Vineta dengan senyumnya yang mengintimidasi Kenzo.
Sontak saja Kenzo membelalakkan matanya, dia kaget tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari mulut mamanya.
"Maksud Mama apa? Kenapa Mama bisa tau jika Rosalina selalu mendapatkan beasiswa?" tanya Kenzo menyelidik dengan mengerutkan dahinya.
"Apa kamu tidak mencari tahu terlebih dahulu jika menerima baby sitter untuk anakmu? Apa kamu percaya begitu saja dengan orang asing yang akan mengurus anakmu?" Venita berbalas tanya pada Kenzo.
"Apa Mama menyelidikinya?" tanya Kenzo dengan tatapan tidak percaya.
"Ya, tentu saja. Karena ini berkaitan dengan cucuku," jawab Venita dengan tegas.
Kenzo tersenyum miring, dia tidak menyangka jika pada saat seperti ini dia harus membuka kebenaran yang selama ini dia jaga rapat demi kebahagiaan semua orang.
"Aku ragu Mama akan tetap berbicara seperti itu jika Mama tau yang sebenarnya terjadi," ucap Kenzo dengan santainya.
__ADS_1
"Apa maksudmu Kenzo?" tanya Venita dengan meninggikan suaranya.