Bukan Duda Biasa

Bukan Duda Biasa
Bab 9 Usaha Rendi


__ADS_3

Keesokan harinya, Rendi datang ke rumah Kenzo untuk bertemu dengan Rosalina. Dia tidak bisa menemukan Rosalina di kampus karena dia sedang cuti.


Hal itu membuat Rendi kecewa karena tidak bisa bertemu dengan Rosalina dan rencananya untuk menyatakan perasaannya pada Rosalina pun tidak akan terlaksana jika dia tidak bertemu dengannya.


Tidak biasanya hari ini Kenzo pulang sore hari. Bahkan dia pulang sama seperti jam kerja karyawan lainnya.


Kini dia sedang menikmati secangkir teh hangat dengan camilan dan kue yang disediakan oleh bik Narmi di ruang tengah sambil menonton tayangan di televisi.


Sedangkan Rosalina, dia menemani baby Chintya bermain di sebelah Kenzo. Memang sejak tadi Rosalina dan baby Chintya berada di sana dan Kenzo lah yang tiba-tiba datang mendekati mereka dengan dalih menonton televisi.


"Maaf Tuan, di depan ada teman Mbak Rosalina yang bernama Rendi. Dia memaksa untuk bisa bertemu dengan Mbak Rosalina," ucap petugas keamanan yang berjaga sore itu.


Kenzo terhenyak mendengar siapa yang datang ingin menemui Rosalina.


Pak Saleh kenapa pakai ngomong di depan Rosalina sih? Harusnya langsung diusir saja, Kenzo mengomel dalam hatinya sambil menatap tajam pada Pak Saleh.


"Beneran Pak? Kok Rendi tau aku tinggal di sini sih?" tanya Rosalina pada Pak Saleh, petugas keamanan rumah Kenzo.


"Beneran Mbak, itu orangnya ada di depan gak mau pulang sebelum bertemu dengan Mbak Rosalina," jawab Pak Saleh.


"Ya sudah Pak suruh nunggu sebentar ya," ucap Rosalina sambil beranjak dari duduknya.


"Om, titip Chintya bentar ya," ucap Rosalina sambil tersenyum lebar.


"Bukannya dia tanggung jawab kamu? Kamu kan saya bayar untuk mengasuh dia dua puluh empat jam. Jadi jalankan tugas kamu dengan benar atau gaji kamu saya potong enam puluh persen," tukas Kenzo dengan tegas tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi.


Rosalina menghela nafasnya kecewa, dia tidak bisa melawan perintah Kenzo, apalagi masalah gaji yang sangat dia ingin dapatkan. Sialnya lagi dia harus membawa baby Chintya untuk menemui Rendi.


Aku harus ngomong apa nanti ke Rendi? Apa aku bilang aja kalau mereka ini saudaraku ya? Ide bagus tuh. Aah... Rosalina, kamu memang pintar sekali, Rosalina berkata dalam hatinya dan tersenyum seiring langkah kakinya untuk menemui Rendi.


Kenzo hanya diam memperhatikan Rosalina yang berjalan menemui Rendi dengan menggendong baby Chintya. Dalam hatinya dia kesal dan tidak terima jika di rumah miliknya, Rendi berani menemui Rosalina.

__ADS_1


"Hai Ren," sapa Rosalina ketika sudah berada di dekat Rendi.


Rendi kaget ketika Rosalina memanggilnya dan sudah berada di belakangnya dengan menggendong baby Chintya.


"Rosa?!" ucap Rendi kaget melihat Rosalina berpakaian santai dengan menggendong baby Chintya layaknya seorang ibu menggendong anaknya.


"Ada apa Ren?" tanya Rosalina cuek seperti tidak cemas dengan pertanyaan Rendi nantinya mengenai baby Chintya.


"Eh gapapa. Cuma pengen ketemu sama kamu aja, pengen ngobrol sama kamu. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kamu," jawab Rendi sambil tersenyum manis.


"Ya udah ngomong aja. Aku gak bisa lama-lama soalnya," ucap Rosalina yang bertujuan agar Rendi tidak berlama-lama menemuinya.


Dari depan pintu rumah, Kenzo melihat Rosalina yang masih berada di depan pintu pagar berbicara dengan Rendi. Rosalina tidak mempersilahkan Rendi untuk masuk ke dalam rumah Kenzo agar Rendi tidak berlama-lama menemuinya.


Kenzo sendiri beralasan dalam hatinya jika dia tidak mau orang asing masuk ke dalam rumahnya. Oleh sebab itu dia mengawasi Rosalina yang sedang menemui Rendi.


"Rosa, apa kita bisa bicara di dalam?" tanya Rendi dengan sedikit gugup.


"Emmm... Ren, kita bicara di sini saja ya. Gak enak ada Om Kenzo di dalam," jawab Rosalina sungkan.


"Om Kenzo? Siapa dia?" tanya Rendi sambil melihat ke arah pandang Rosalina tadi sebelumnya, lebih tepatnya ke arah Kenzo saat ini berada.


"Dia yang punya rumah ini. Dia Om ku dan ini Chintya anak dari Om Kenzo," jawab Rosalina dengan memberikan senyum manisnya agar Rendi tidak curiga padanya.


"Om kamu? Sebentar deh, bukannya kamu di sini kerja sebagai baby sitter ya?" tanya Rendi pada Rosalina.


Seketika mata Rosalina terbelalak. Dia tidak menduga jika Rendi mengetahuinya.


Gawat, kok dia bisa tau sih? Rumah ini aja dia tau, apalagi statusku di rumah ini. Tapi dia tau dari mana ya?


Bukannya Rosalina menjawab pertanyaan dari Rendi, dia malah sibuk bertanya dalam hatinya.

__ADS_1


"Rosa, kamu kenapa?" tanya Rendi sambil memegang kedua pundak Rosalina dan menghadapkannya untuk melihatnya.


"Eh, gapapa kok. Kamu... kamu tau dari mana aku tinggal di sini?" tanya Rosalina gugup sambil memandang wajah Rendi ingin tahu kebohongan atau kejujuran yang akan dikatakannya.


"Aku mengikutimu kemarin dan aku tau pekerjaanmu dari Bapak Satpam ini," jawab Rendi sambil tersenyum memandang Rosalina.


Sial, Pak Saleh pakai ngomong lagi, kan malu aku sama Rendi. Apalagi alasanku kerja di sini karena ingin membeli tas, Rosalina kembali berkata dalam hatinya.


"Rosa, kamu ada masalah?" tanya Rendi kembali dan itu membuat Rosalina tersadar.


"Masalah?" celetuk Rosalina dengan wajah bingungnya.


"Selama ini kamu tidak pernah kesulitan ekonomi karena kamu mendapatkan beasiswa, tapi kenapa sekarang kamu malah bekerja menjadi baby sitter?" tanya Rendi ingin tahu.


Sepertinya percuma saja aku bohong padanya. Dia pasti akan mencari tau lagi jika dia merasa aku sedang berbohong, Rosalina berkata dalam hatinya.


Rosalina menatap Rendi dengan wajah pasrah. Dia menghela nafasnya, kemudian dia menceritakan tujuannya bekerja di rumah itu sebagai baby sitter baby Chintya.


Mendengar pengakuan dari Rosalina, tentu saja Rendi kaget. Dia tidak menyangka jika Rosalina yang dia kenal juga menginginkan tas branded yang limited edition, sama seperti perempuan pada umumnya.


Menurut Rendi, sosok Rosalina adalah perempuan yang sederhana dan cerdas. Dia tidak mengerti jika selama ini Rosalina berusaha mendapatkan beasiswa agar uang yang diberikan untuk biaya kuliahnya dari orang tuanya bisa dia gunakan untuk menunjang penampilannya.


Keluarga Rosalina memang tidak sekaya keluarga Rendi ataupun Kenzo. Tapi keluarga Rosalina juga tidak bisa dikatakan miskin karena memang kehidupan mereka berkecukupan.


"Oh iya, kamu tadi ke sini mau ngomong apa?" tanya Rosalina yang cemas karena baby Chintya sudah bergerak tidak nyaman dalam gendongannya.


"Emmm itu...," ucap Kenzo ragu sambil menggaruk tengkuknya.


"Maaf Ren, kalau kamu lupa lain kali saja bicaranya. Kasihan Chintya sepertinya dia sudah mengantuk," ucap Rosalina sambil membenarkan gendongan baby Chintya yang bergerak terus menerus.


"Rosa, apa kamu mau jadi pacarku?"

__ADS_1


__ADS_2