
Sepulangnya mereka dari rumah sakit, Kenzo selalu mengawasi Rosalina dan baby Chintya dari jauh. Dia tidak mau lagi terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti tadi.
"Ingat, mulai sekarang jangan tinggalkan dia sendiri. Lakukan tugasmu dengan baik, atau-"
"Iya tau. Gak usah ngancam-ngancam gitu deh," Rosalina menyela perkataan Kenzo dengan sedikit kesal.
"Kok kamu jadi marah gitu sih? Harusnya aku yang marah sama kamu, karena keteledoran kamu dia jadi jatuh," sahut Kenzo yang ikut kesal mendengar nada bicara Rosalina padanya.
"Gak bosen apa Om ngomongnya gitu-gitu mulu dari tadi? Lagian Om tuh aneh, sama anak sendiri gak mau panggil namanya. Udah gitu gak mau gendong lagi. Om tuh gak kayak Bapak-bapak yang lain tau gak? Jangan-jangan...," perkataan Rosalina mengambang, dia ragu melanjutkannya sambil melirik ke arah Kenzo.
Mendengar perkataan Rosalina, Kenzo merasa emosi. Dia berdiri dari duduknya, menatap tajam pada Rosalina dan berkata,
"Tau apa kamu tentang saya?!"
Rosalina tersentak, dia kaget mendengar perkataan Kenzo yang memperlihatkan emosinya. Dia baru menyadari jika yang dia ucapkan sangat menyinggung hati Kenzo.
"Maaf Om, maafkan saya," seru Rosalina dari tempatnya duduk saat ini.
Braak!
Suara pintu kamar Kenzo ditutup dengan kerasnya oleh si pemilik kamar. Kerasnya suara yang dihasilkan oleh pintu kamar itu menandakan betapa emosinya Kenzo saat ini.
Rosalina sangat kaget mendengar suara pintu kamar yang ditutup oleh Kenzo saat itu, bahkan baby Chintya pun sedikit mewek karena kaget mendengarnya.
Rosalina berusaha menenangkan kembali baby Chintya dengan menggendongnya. Serta dalam hati dia berkata,
Apa aku sangat keterlaluan ya? Sepertinya kelakuan bar-bar ku belum bisa dimaklumi oleh Om Kenzo. Lalu aku harus bagaimana? Dia sangat marah sekali padaku.
"Rosa, Tuan Kenzo ke mana? Tadi ada di sini kan?" tanya bik Narmi yang berjalan mendekati Rosalina.
"Barusan masuk ke dalam kamar Bik," ucap Rosalina lemah.
"Kenapa kamu lemas gitu Rosa? Apa Chintya nakal hari ini?" tanya bik Narmi penasaran.
"Gapapa Bik, cuma lagi lemas aja," jawab Rosalina tidak bersemangat.
"Oh iya, tadi pas Bibik pulang dari pasar kok kamu sama Chintya gak ada? Kalian dari mana, kok tiba-tiba pulang sama Tuan Kenzo?" tanya bik Narmi menyelidik.
__ADS_1
"Hufffttt... nanti ya Bik ceritanya, saya mau menidurkan Chintya dulu di kamar. Saya juga sangat lelah sekali hari ini," jawab Rosalina lemas seolah tak bertenaga.
"Memangnya kamu habis ngapain sampai lelah kayak gitu? Gak biasanya kamu kayak gini," tanya bik Narmi kembali.
"Lelah hati dan pikiran bik," jawab Rosalina dengan menghela nafasnya lesu.
Bik Narmi menatap heran pada Rosalina, karena selama dia berada di rumah itu tidak pernah sekalipun bik Narmi melihat Rosalina yang seperti itu. Rosalina selalu ceria dan bisa membuat orang lain tertular senyumannya.
"Sebenarnya ada apa sih Rosa? Cerita sama Bibik ya," ucap bik Narmi dengan mengusap pundak Rosalina.
Bik Narmi memperlakukan Rosalina seperti anaknya sendiri karena dia teringat dengan anak gadisnya yang sudah meninggal pada saat seumuran Rosalina.
Huffftt...
Rosalina kembali menghela nafasnya. Kemudian dia berkata,
"Nanti ya Bik. Sekarang saya mau ke kamar Chintya dulu."
Bik Narmi mengangguk dan melepas kepergian Rosalina masuk ke dalam kamar Chintya. Bik Narmi tahu jika sebenarnya ada sesuatu yang disembunyikan Rosalina saat ini.
Bik Narmi tidak ingin kejadian anaknya menimpa Rosalina. Anak bik Narmi mempunyai masalah dan tidak memberitahu pada siapapun tentang masalahnya sehingga putri bik Narmi lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri di dalam kamarnya.
Usut punya usut, ternyata putri bik Narmi sedang mengandung. Dia tidak berani mengatakannya pada bapak dan ibunya jika dia sedang mengandung anak dari pacarnya, sedangkan pacarnya tidak mau bertanggung jawab dan menghilang entah ke mana.
Bik Narmi tidak mau kejadian itu terulang pada Rosalina, karena Rosalina sudah dianggapnya seperti anaknya sendiri semenjak dia membantu bik Narmi di dapur pada hari pertamanya bekerja.
Di dalam kamarnya, Kenzo tidak bisa tenang. Dia benar-benar merasa kesal mendengar apa yang dikatakan oleh Rosalina padanya. Tapi dia tidak bisa membiarkan Rosalina mengatakan itu padanya.
Ingin sekali dia mengatakan yang sebenarnya pada Rosalina agar dia tidak berpikiran buruk tentangnya. Sayangnya hal itu tidak bisa dia lakukan karena Rosalina bukanlah bagian dari hidupnya.
Kenzo menatap ke arah cermin yang berada di dalam kamar mandinya. Dengan tubuh atletisnya yang masih basah tersiram oleh air terllihat dengan jelas dalam cermin tersebut.
Kenzo memperhatikan dirinya, dia ingin tahu apa yang ada dalam hatinya hingga dia merasa sangat aneh belakangan ini.
Namun, sebelum dia mendapatkan jawaban dari hatinya, bayangan mendiang mantan istrinya kala itu kembali terlihat olehnya.
"Aaaaaarrgh...," teriak Kenzo sambil meninju cermin tersebut dengan tangannya.
__ADS_1
Praang!
Keluarlah cairan segar yang berwarna merah dari tangannya. Cermin itu retak terkena hantaman tangan Kenzo.
Saat Rosalina membuatkan susu formula untuk baby Chintya di dapur. Tiba-tiba bik Narmi menghampirinya.
"Rosa, bisa kamu panggilkan Tuan Kenzo untuk makan malam? Biar makanannya Bibik siapkan sekarang," ucap bik Narmi ketika sudah berada di dekat Rosalina.
"Tapi Bik, apa gak Bibik aja yang manggil? Ini aku sedang buatkan susu formula untuk Chintya," ucap Rosalina dengan tersenyum kikuk.
"Kamu aja ya manggil Tuan Kenzo ya, bibik aja yang bawakan botol susunya ke kamar Chintya," ucap bik Narmi sambil membawa botol susu milik baby Chintya.
"Tapi bik...," ucapan Rosalina tidak diteruskan karena bik Narmi sudah berjalan meninggalkannya menuju kamar baby Chintya.
"Gak ada pilihan lagi kan? Rosa, kamu harus bertanggung jawab dengan perbuatanmu. Kamu harus meminta maaf pada Om Kenzo," ucap Rosalina menyemangati dirinya sendiri.
Tok... tok... tok...
Suara pintu kamar Kenzo diketuk oleh Rosalina. Sama seperti sebelumnya, Kenzo tidak menyahut dari dalam kamarnya.
Rosalina kembali panik karena dia mengingat jika Kenzo marah besar padanya. Dia takut hal buruk kembali lagi terjadi pada Kenzo.
Rosalina langsung masuk ke dalam kamar Kenzo tanpa berpikir panjang lagi. Dia melihat seisi kamar Kenzo yang sepi seperti tidak berpenghuni.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka dan keluarlah Kenzo dari dalam kamar mandi dengan tangan yang masih mengeluarkan cairan segar yang berwarna merah menetes disela-sela jarinya.
"Om maaf, saya hanya disuruh bik Narmi memanggil Om untuk makan malam sekarang," ucap Rosalina dengan salah tingkah.
Kenzo diam saja tanpa menjawab pertanyaan Rosalina, dia berjalan dengan hanya berbalut handuk saja sebatas pinggang menuju walk in closet.
Rosalina gugup dan salah tingkah melihat Kenzo tidak memakai atasan. Tapi tak sengaja pandangan mata Rosalina mengarah pada tangan Kenzo yang mengeluarkan cairan segar warna merah itu.
Rosalina berjalan cepat menghampiri Kenzo dan memegang tangannya sambil berkata,
"Om, ini kenapa? Apa yang terjadi?"
__ADS_1