
Dengan segala rasa sakit hati dan kegalauan hatinya, Rosalina berjalan tak tentu arah. Dia hanya berjalan sesuai ke mana langkah kakinya membawanya.
"Kenapa aku bisa datang ke sini? Bukankah aku sudah berniat untuk meninggalkan semuanya? Huffttt... bahkan kaki ini gak rela pergi dari sini. Apa aku harus pergi tanpa kaki? Ckckck... bodohnya aku... Aku harus segera pergi dari sini sebelum ada yang mengetahuinya," Rosalina bermonolog ketika dia sadar telah berada di depan gerbang rumah milik Kenzo.
Tiba-tiba Pak Saleh keluar dari pos penjagaan dan berteriak memanggil Rosalina ketika Rosalina meninggalkan tempat itu beberapa langkah.
"Mbak Rosa! Mbak Rosalina! Tunggu!" teriak Pak Saleh untuk menghentikan Rosalina.
"Aduuuh gawaaaat... udah ah, aku mau kabur aja," gerutu Rosalina sambil berjalan cepat.
Grep!
"Mbak, tunggu!" ucap Pak Saleh dengan nafas ngos-ngosan sambil tangannya menahan tangan Rosalina agar tidak berjalan meninggalkan tempat tersebut.
"Eh Pak Saleh. Mau ke mana Pak?" tanya Rosalina dengan pertanyaan konyolnya pada Pak Saleh sambil tersenyum paksa.
"Loh, justru Pak Saleh yang mau bertanya pada Mbak Rosalina. Kok Mbak Rosalina pulang jalan kaki sendirian? Mana Tuan Kenzo? Kalian tadi kan berangkat sama-sama," tukas Pak Saleh menyelidik.
Senyum Rosalina yang terpaksa itu memudar. Kini dia panik untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang diajukan Pak Saleh padanya agar Pak Saleh tidak curiga padanya.
"Emmm... itu Pak, saya... saya tadi ada perlu di lain tempat. Dan sekarang saya sudah selesai. Mereka sudah pulang terlebih dahulu kan Pak?" ucap Rosalina dengan gugup, hanya saja sebisa mungkin dia menutupinya.
"Tuan Kenzo belum pulang Mbak. Mangkanya saya kaget melihat Mbak Rosalina berjalan sendiri datang ke sini. Saya kira Mbak Rosalina habis diculik orang loh tadi," jawab Pak Saleh sambil terkekeh.
"Hahahaha... Pak Saleh bisa saja. Saya baik-baik saja Pak. Lagian siapa yang mau menculik saya Pak. Gak ada yang mau bayar tebusannya Pak," ucap Rosalina sambil tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Pak Saleh.
"Loh siapa tau loh Mbak. Kan Mbak Rosalina cantik, jadi Mbak Rosalina harus berhati-hati," ucap Pak Saleh memperingatkan.
"Pak Saleh bisa saja. Oh iya Pak, saya mau pergi dulu ya. Maaf ya Pak kalau saya ada salah," ucap Rosalina yang tiba-tiba ingat jika dia sedang terburu-buru meninggalkan tempat itu karena takut Kenzo akan datang secepatnya.
__ADS_1
"Loh Mbak Rosalina mau ke mana? Bukannya Mbak tadi mau masuk?" tanya Pak Saleh menghentikan kembali langkah kaki Rosalina.
"Emmm... saya masih ada urusan Pak. Ternyata tadi ada yang kelupaan, jadi saya harus menyelesaikannya terlebih dahulu," ucap Rosalina sambil tersenyum kaku.
"Apa perlu dipanggilkan ojek Mbak? Atau taksi mungkin?" tanya Pak Saleh kembali.
"Emmm... tidak usah Pak. Saya buru-buru sekali Pak. Nanti saja saya naik ojek di depan, atau mungkin nanti naik angkutan umum saja," jawab Rosalina yang terlihat sangat panik karena takut Kenzo terlebih dahulu datang sebelum dia meninggalkan tempat itu.
"Mbak Rosalina yakin?" tanya Pak Saleh menyelidik.
"Yakin Pak. Seribu persen malahan," jawab Rosalina dengan panik.
"Baiklah, hati-hati ya Mbak. Dan cepat pulang!" seru Pak Saleh sambil melambaikan tangannya melihat Rosalina sudah berlari kecil meninggalkannya.
Pak Saleh menggelengkan kepalanya dan terkekeh melihat Rosalina yang berlari seperti sedang dikejar sesuatu.
"Chintya? Oh iya, di mana Chintya? Kok dia tidak bersama Mbak Rosalina? Apa Chintya bersama dengan Ibuk?" tanya Pak Saleh pada dirinya sendiri.
Kemudian dia membalikkan badannya dan berjalan menuju pos penjagaannya. Kemudian dia kembali berbicara,
"Tapi kok sepertinya ada yang aneh ya? Kenapa Mbak Rosalina tadi tidak seperti biasanya?"
Ah sudahlah, mungkin cuma perasaanku saja yang seperti itu, Pak Saleh berkata dalam hatinya.
Rosalina terburu-buru berlari menjauhi rumah Kenzo. Bahkan perutnya yang kelaparan dan sudah berkali-kali berbunyi semenjak tadi tak dihiraukannya.
Dia berhenti di bawah pohon yang ada di ruas jalan. Dia berusaha menormalkan nafasnya kembali agar bisa berpikir dengan jernih apa yang akan dilakukannya setelah ini.
Aku akan pergi ke mana sekarang? Pakaianku masih ada di rumah dia. Untung aja tasku ini beserta dompet dan HP ku masih bisa aku bawa. Hanya saja... baju ini satu-satunya yang aku bawa. Hahahaha... ya iyalah, kan aku pakai dari tadi, masa' bisa gak kebawa, bodoh kamu Rosa..., Rosalina berkata dalam hatinya hingga dia menertawakan dirinya sendiri dalam hatinya.
__ADS_1
Eh tapi... kenapa aku masih memakai baju ini lengkap? Dan... ini masih seperti saat aku memakainya, Rosalina melihat bajunya yang masih terlipat rapi dalam celananya.
"Entahlah... aku pulang saja sekarang. Pulang ke rumah Ibuku ah...," ucap Rosalina sambil beranjak dari duduknya.
Dia melangkahkan kakinya dengan riang untuk menutupi luka hatinya yang terasa semakin sesak dalam dadanya.
Kemudian dia menghentikan angkutan umum yang menuju ke arah rumahnya. Dalam angkutan umum itu dia kembali teringat akan masalahnya, masalah hati yang bahkan belum dia mulai, kini dirinya harus mundur tanpa menikmati indahnya masa pacaran mereka secara resmi.
"Stop Pak!" seru Rosalina menghentikan laju angkutan umum yang dinaikinya.
Angkutan umum itupun berhenti dan turunlah Rosalina dari angkutan umum tersebut. Langkah kakinya seolah enggan menapaki jalan yang mengarah pada rumahnya.
"Wah gawat... kenapa kakiku terasa berat? Bukankah ini rumahku sendiri? Harusnya aku senang bisa kembali ke rumah dan berkumpul dengan keluargaku. Tapi kenapa aku malah seperti ini? Hufffttt... sepertinya aku sudah terserang virus. Ckckck... virus cinta. Hufffttt...," ucap Rosalina seiring langkah kakinya menyusuri jalan dengan helaan nafas berat.
Dengan malas dia berjalan hingga sampailah di depan rumahnya. Matanya terbelalak sempurna melihat sebuah mobil yang terparkir di depan rumahnya.
"Bukankah itu mobil Sayangku? Eh salah, Om Kenzo, eh Mas Kenzo. Apalah kau ini Rosa. Kamu udah sepakat untuk melupakannya," ucap Rosalina sambil memukul-mukul kepalanya.
"Kira-kira itu benar dia bukan ya? Jika memang benar dia, kenapa dia bisa ada di sini? Apa dia mencariku?" Rosalina kembali bermonolog sambil memperhatikan mobil tersebut.
"Gawat!" ucap Rosalina sambil bersembunyi di balik sebuah pohon mangga.
Dia melihat Kenzo keluar dari rumahnya ditemani oleh Bu Ratih yang mengantarnya sampai di depan rumahnya.
"Hati-hati ya, jangan kebut-kebutan," ucap Bu Ratih sambil melambaikan tangannya pada Kenzo.
Kenzo tersenyum, kemudian dia menganggukkan kepalanya dan memberi salam pada Bu Ratih.
"Maaf Bu, jangan lupa titipan saya," ucap Kenzo lirih.
__ADS_1