Bukan Duda Biasa

Bukan Duda Biasa
Bab 35 Skakmat!


__ADS_3

Kenzo menghela nafasnya lega ketika sudah melihat melalui rekaman CCTV mobil Dino yang membawa pulang Dina dari rumahnya.


Dia mengingat-ingat semua perkataan dari Dina yang dikatakannya penuh emosi padanya dan Rosalina. Dia tidak mengira jika perhatiannya sebagai seorang kakak bisa disalah artikan oleh Dina, adik dari sahabat baiknya.


Dia juga tidak mengira jika Dina bisa berkata sekasar itu pada Rosalina. Dina gadis manis dan manja yang dia kenal ternyata hanya bersikap seperti itu saja di hadapannya. Dan sekarang dia sudah mengetahui sikap asli dari Dina yang melukai gadis pilihan hatinya, Rosalina.


Mengingat nama Rosalina, dia kembali merasa rindu padanya. Bayangan senyumnya, tawanya bahkan wajahnya yang bersedih karena ucapan Dina yang merendahkannya membuat Kenzo semakin ingin bertemu dengannya.


Aaah... ada apa denganku? Kenapa aku sangat merindukannya? Kenapa aku ingin sekali bertemu dengannya? Kenzo berkata dalam hatinya dengan senyumnya yang mengembang ketika membayangkan wajah Rosalina, gadis pujaannya itu.


Merasa dirinya dan hatinya sangat tersiksa, Kenzo segera beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari kamarnya.


Ceklek!


Pintu kamar baby Chintya dibuka oleh Kenzo. Matanya melihat sekeliling dalam kamar tersebut untuk mencari keberadaan gadis pemilik hatinya, Rosalina si baby sitter yang telah berhasil mencuri hatinya.


Memang kamar baby Chintya tidak pernah dikunci oleh Rosalina dan jika dia meninggalkan baby Chintya sendiri di dalam kamar, sudah pasti kamar tersebut tidak ditutupnya.


Kenzo berjalan masuk ke dalam kamar tersebut dan mendekat ke arah ranjang. Terlihat Rosalina yang tertidur dengan nyenyak di atas ranjang tersebut.


Bibir Kenzo melengkung ke atas melihat wajah cantik yang dikaguminya dan selalu membuat dirinya selalu merindukannya.


Rasanya dia tidak jemu melihat wajah cantik itu. Matanya tertuju pada wajah Rosalina yang sedang tertidur dengan nyenyaknya.


Tanpa sadar Kenzo naik ke atas ranjang tersebut dan tidur berhadapan dengan kekasih hatinya itu. Masih saja matanya tidak jemu memandang wajah Rosalina. Hingga akhirnya dia tertidur berhadapan dengan Rosalina.


Mata Rosalina mengerjap-ngerjap ketika terbuka setelah dia terbangun dari tidurnya. Wajah Kenzo lah yang pertama dilihatnya. Wajah yang tidak jemu dilihatnya dan wajah yang bisa membuatnya mengatakan iya ketika diperintahkannya.


Jari lentik Rosalina menyentuh wajah tampan pria yang ada di hadapannya itu. Setiap bagian wajahnya dan setiap inci wajah tersebut tidak luput dari jari Rosalina.

__ADS_1


"Tampannya... sangat sempurna seperti pahatan patung yang dibuat sedemikian rupa. Kamu benar-benar membuatku gundah dan bingung. Haruskah aku menerimamu? Atau aku harus menolakmu? Tapi kenapa kamu harus seorang duda? Harusnya kamu masih perjaka sehingga aku bisa langsung menjawab iya jika kamu mengajakku untuk menikah," oceh Rosalina lirih dengan menyentuh setiap bagian wajah Kenzo.


Kenzo mendengarnya. Sangat tidak mungkin jika dia tidak mendengarnya di jarak sedekat itu. Kenzo memang sudah bangun dari tidurnya ketika Rosalina menyentuh wajahnya. Hanya saja dia berpura-pura masih tertidur agar dia mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Rosalina selanjutnya padanya.


Ternyata Rosalina hanyut oleh suasana. Tanpa sadar ketika jari lentiknya itu menyentuh bibir Kenzo, tiba-tiba saja wajahnya mendekat dan...


Cup!


Bibir Rosalina menempel pada bibir Kenzo. Ketika Rosalina akan menarik bibirnya dari bibir Kenzo, tiba-tiba saja tangan Kenzo menarik tengkuk Rosalina.


Kenzo tidak melepaskan kesempatan itu. Dia tidak melepaskan begitu saja ciuman dari Rosalina. Bibir Rosalina itu yang seolah sudah menjadi candunya membuatnya melupakan status mereka saat ini.


Kenzo memperdalam ciuman mereka sehingga mereka berdua larut dalam suasana heningnya malam yang tercipta untuk mereka berdua. Bahkan baby Chintya pun tidak merengek ataupun menangis pada saat itu.


Seolah keberuntungan sedang berpihak padanya, Kenzo membuat Rosalina terbuai dengan ciuman mereka. Suara decapan dari bibir mereka memenuhi kamar tersebut. Hingga nafas mereka terengah-engah dan mereka melepaskan ciuman mereka.


Rosalina yang beradu pandang dengan Kenzo masih saja diam bergelayut dengan pikirannya. Pikiran dan hatinya saling beradu dengan keinginan masing-masing. Hatinya mengatakan iya, hanya saja pikirannya mengatakan tidak.


Jujur saja hati Rosalina sudah terpaut pada Kenzo, sayangnya pikirannya itu ingin tetap menolaknya karena status duda Kenzo yang pastinya menurut orang awam dia sudah tidak perjaka.


"Aku ingin selalu seperti ini berdua denganmu. Apa kamu gak ingin selalu seperti ini berdua denganku?" tanya Kenzo lirih dengan mata mereka yang masih saling menatap.


Rosalina hanya mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia enggan menjawab pertanyaan Kenzo karena hati dan pikirannya masih saja saling beradu. Hanya saja yang dia tahu sekarang yaitu hatinya sangat menginginkan Kenzo, sama seperti apa yang dikatakan Kenzo padanya.


"Apa kamu masih bimbang padaku?" tanya Kenzo dengan tangannya menyentuh bibir Rosalina.


Tanpa sadar kepala Rosalina menggeleng, menandakan bahwa dia tidak meragukan dan sama sekali tidak bimbang pada Kenzo.


Kenzo pun tersenyum dan tangannya yang menyentuh bibir Rosalina itu kini menyentuh pipi lembut nan mulus milik Rosalina.

__ADS_1


"Kamu gak usah khawatir tentang keperjakaanku. Aku sungguh-sungguh dan gak berbohong sama sekali padamu. Besok akan aku ceritakan semuanya padamu, asalkan kamu berjanji akan selalu bersamaku," ucap Kenzo menatap serius mata kekasih hatinya itu.


Tampak Rosalina sangat terkejut mendengarnya. Bahkan tidak ada sepatah katapun yang bisa keluar dari mulutnya.


"Apa kamu mau berjanji padaku?" tanya Kenzo kembali tanpa melepaskan pandangan matanya dari mata Rosalina.


Seolah terhipnotis oleh mata Kenzo, Rosalina pun menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Kenzo.


Kenzo tersenyum manis penuh dengan kelegaan mendapatkan jawaban dari Rosalina. Dia meraih tubuh Rosalina dan membawanya dalam pelukannya.


Rosalina hanya menurut dan menikmati kehangatan dan kenyamanan berada dalam pelukan Kenzo.


"Besok aku akan menceritakan semuanya padamu. Sekarang, biarkan kita seperti ini dulu. Aku ingin merasakan kenyamanan bersamamu," tutur Kenzo sambil memeluk erat tubuh Rosalina.


Tidak ada perlawanan dari Rosalina. Bahkan tangannya pun menyambut pelukan Kenzo. Dia membalas pelukan Kenzo dan merasakan kenyamanan dalam pelukan tersebut.


"Aku ingin selalu seperti ini bersamamu. Apa kamu juga sayang?" tanya Kenzo pada Rosalina yang masih ada dalam pelukannya.


Rosalina pun mengangguk. Dia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri.


"Aku mencintaimu. Apa kamu juga mencintaiku?" tanya Kenzo kembali sambil mencium rambut Rosalina, menikmati wangi rambut Rosalina.


Rosalina kembali ragu menjawabnya. Dia tidak menjawab pertanyaan Kenzo.


"Aku tau kamu mencintaiku," ucap Kenzo yang setelah beberapa saat tidak mendapatkan jawaban dari Rosalina.


"Apa kamu mau menikah denganku?"


Pertanyaan ini kembali ditanyakan oleh Kenzo. Dan pertanyaan inipun seolah menjadi skakmat bagi Rosalina. Dia seolah mati kutu, tidak bisa mundur dan tidak bisa maju. Jadilah Rosalina yang seperti saat ini. Terombang-ambing dalam pikiran dan perasaan hatinya.

__ADS_1


__ADS_2