Bukan Duda Biasa

Bukan Duda Biasa
Bab 41 Kenyataan yang menyakitkan


__ADS_3

Apa yang didengar oleh bik Narmi terngiang-ngiang di indera pendengarnya. Pernikahan Kenzo yang membuat bik Narmi ikut bahagia, kini malah membuatnya sedih.


Bik Narmi sangat bahagia mendengar berita pernikahan Kenzo kala itu, karena dia berharap jika Kenzo tidak lagi larut dalam kesendiriannya.


Meskipun Kenzo bukan anaknya, tapi bik Narmi merasakan kesedihan dengan kegagalan rumah tangga Kenzo yang baru saja beberapa jam berlalu.


Seperti biasanya, bik Narmi membersihkan semua ruangan di dalam rumah tersebut. Saat itu Kenzo sudah berangkat bekerja, sedangkan Levia, dia duduk di taman, sepertinya dia sedang merenungi nasibnya.


Kasihan Nyonya Levia, dia sepertinya wanita baik-baik. Lalu kenapa Tuan Kenzo melakukan hal itu? Siapapun pasti akan bersedih jika diperlakukan seperti itu oleh suaminya yang baru saja menikahinya, bik Narmi berkata dalam hatinya sambil memandang Levia yang sedang duduk termenung di bangku taman.


Dengan berbekal peralatan kebersihannya, bik Narmi masuk ke dalam kamar Levia. Dia sengaja membersihkan kamar Levia terlebih dahulu agar Levia tidak tahu jika ada yang masuk ke dalam kamarnya.


Setiap inchi kamar tersebut dibersihkan oleh bik Narmi dengan telaten. Tidak ada hal yang berbeda dari kamar tersebut. Hingga mata bik Narmi tertuju pada satu buah box susu formula untuk ibu hamil yang sudah terbuka.


Benda itu membuat rasa penasaran bik Narmi bangkit. Di dekatinya benda itu dan diperiksanya. Bahkan di meja tersebut ada gelas bekas minuman.


Gelas itu diperiksa oleh bik Narmi. Indera penciuman bik Narmi bekerja. Dia berusaha memeriksa bau dari bekas minuman yang ada dalam gelas tersebut dengan susu formula untuk ibu hamil yang ada dalam box kemasannya.


Sama, apa Nyonya Levia sedang hamil? Bagaimana mungkin dia hamil ketika dia dan Tuan Kenzo baru menikah kemarin? Apa mereka melakukannya sebelum pernikahan mereka? Bisa juga sih, tapi... apa ini ada hubungannya dengan apa yang aku dengar tadi? Hufffttt... kenapa jadi serumit ini? Padahal mereka baru saja menikah. Harusnya mereka bahagia sekarang. Pantas saja Tuan Kenzo berangkat kerja sekarang. Harusnya kan mereka berbulan madu sekarang. Ah sudahlah, aku akan melihat perkembangannya nanti. Semoga saja jika Nyonya Levia memang benar-benar hamil, anak itu benar-benar anak Tuan Kenzo.


Bik Narmi berkata dalam hatinya sambil menatap nanar box yang berisi susu formula untuk ibu hamil yang ada di meja kamar Levia.


Ketika bik Narmi keluar dari kamar tersebut, Levia masih saja berada di taman. Dia mengusap-usap perutnya dengan bibirnya yang bergerak-gerak seperti sedang mengatakan sesuatu. Bik Narmi semakin yakin jika Levia sedang hamil saat ini.


Hati bik Narmi menjadi trenyuh, dia ingat akan putrinya. Apapun keadaan Levia saat ini, bik Narmi hanya berusaha untuk menjaganya dan menjaga kandungannya, karena itu sudha menjadi tugasnya dan karena hati seorang ibu yang seolah melihat anaknya sedang hamil.


"Nyonya, ini buah-buahan segar. Silahkan dimakan," ucap bik Narmi sambil meletakkan bermacam-macam potongan buah dalam piring besar pada meja yang berada di sebelah Levia.


Levia melihat ke arah meja tersebut dan matanya berbinar ketika melihat potongan buah-buahan segar tersebut.

__ADS_1


"Terima kasih ya Bik. Pasti buah-buahan ini sangat segar. Lebih nikmat lagi jika ada bumbu rujaknya bik," ucap Levia sambil menikmati sepotong buah yang diambil dari piring tersebut.


Bik Narmi tersenyum getir, dia menghela nafasnya mendengar perkataan Levia.


Sepertinya dugaanku benar. Dia sedang hamil. Tapi kenapa Tuan Kenzo menjatuhkan talak padanya? Bukankah itu tidak diperbolehkan? Lagipula harusnya dia senang dengan kehamilan istrinya. Kecuali... Ah sudahlah, tugasku hanya menjaga mereka. Aku tidak boleh mencampuri urusan mereka, bik Narmi berkata dalam hatinya dengan senyum tipis melihat Levia dengan lahapnya memakan potongan buah yang dia berikan padanya.


"Bik, ada apa? Apa ada yang ingin Bibik sampaikan?" tanya Levia disela makannya.


Bik Narmi menggeleng dan tersenyum pada Levia. Kemudian dia berkata,


"Tidak Nyonya, saya hanya senang melihat Nyonya memakan buah itu dengan lahap. Apa perlu saya buatkan rujak buah untuk Nyonya? Sepertinya Nyonya sangat menginginkannya."


"Boleh Bik. Saya memang sedang ingin memakannya. Terima kasih ya Bik," ucap Levia dengan mata yang berbinar.


Bik Narmi tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Setelah itu dia kembali melakukan tugasnya untuk memasak dan membersihkan rumah tersebut.


Di kantornya, Kenzo menjadi perbincangan karyawannya. Mereka heran dengan Kenzo yang baru kemarin melangsungkan pernikahannya dan sekarang dia sudah kembali bekerja. Bahkan kedatangan Kenzo pun lebih awal daripada kedatangannya biasanya.


Kenzo tidak menjawab dan masuk begitu saja ke dalam ruangan kantornya. Dihempaskannya tas kerjanya di atas mejanya dengan kasar.


Dino menatap heran pada Kenzo yang sangat terlihat sekali kemarahan pada wajahnya itu.


Kenzo duduk di kursi kebesarannya. Dia menutup wajahnya seolah sedang mempunyai masalah yang sangat berat sedang dihadapinya.


"Ada apa Ken?" tanya Dino dengan hati-hati.


Tidak ada jawaban apapun dari Kenzo. Dia hanya mengepalkan tangannya ketika tangannya itu sudah tidak lagi menutupi wajahnya.


"Kamu bisa bercerita padaku jika kamu mau Ken. Ingat, aku ini sahabatmu yang selalu ada untukmu," tutur Dino sambil mendudukkan dirinya pada kursi yang berada di depan meja kerja Kenzo.

__ADS_1


Kenzo menatap wajah sahabatnya yang ada di hadapannya itu. Tatapan Kenzo penuh dengan luka dan amarah. Bahkan Dino yang melihatnya bisa merasakan kepedihan dalam hati Kenzo saat ini.


"Dia hamil," ucap Kenzo dengan lebih erat mengepalkan tangannya yang berada di atas meja kerjanya.


"Dia? Siapa?" tanya Dino menyelidik.


Kenzo sangat enggan menyebut nama istrinya. Hatinya sangat hancur mengingat malam pengantinnya yang ditorehkan luka oleh istrinya.


Dino berpikir, dia tahu jika Kenzo tidak akan menjawab jika dia sudah memilih diam. Dan dia tahu jika tidak ada sama sekali wanita dalam hidup Kenzo. Hanya Levia, dia satu-satunya wanita yang ada di dekat Kenzo saat ini.


"Apa dia... Levia, istrimu?" tanya Dino dengan rasa ingin tahunya.


"Jangan sebut namanya di hadapanku! Aku tidak mau mendengar nama itu!" seru Kenzo dengan sorot mata kebenciannya.


Mata Dino terbelalak. Dia terkejut dengan kenyataan yang ada. Dia tahu jika Kenzo tidak akan melakukan hal yang dilarang.


Apalagi dia tahu jika Kenzo selama ini hanya bertemu dengan Levia ketika jam makan siang kantor saja dan itupun hanya beberapa saat di restoran dekat kantor mereka. Yang terpenting adalah Dino selalu ikut bersamanya, hanya saja dia berbeda meja dengan Kenzo dan Levia.


"Siapa yang menghamilinya?" tanya Dino dengan emosi.


Kenzo menatap kembali wajah sahabatnya itu. Dia melihat adanya kemarahan pada wajah Dino. Kemudian Kenzo menceritakan semuanya.


"Berengsek! Bisa-bisanya dia mengelabuhimu sampai sejauh ini? Lalu apa rencanamu Ken?"


Tentu saja Dino marah, dia yang hanya mendengar dari Kenzo saja merasakan marah dan kesal, apalagi Kenzo yang menjadi korban dalam masalah itu.


Kenzo mengeluarkan map dari dalam tas kerjanya. Kemudian dia memberikan map tersebut pada Dino.


Dino menerima map tersebut dan membukanya. Matanya terbelalak melihat kertas yang ada dalam map tersebut. Rupanya itu surat pernyataan yang ditulis tangan oleh Levia.

__ADS_1


"Aku akan menceraikannya ketika anaknya sudah lahir," ucap Kenzo sambil menampakkan smirk di bibirnya.


__ADS_2