
Kenzo duduk di kursinya dan Rosalina duduk di depan Kenzo dengan salah tingkah. Dia tidak menatap ke arah Kenzo sama sekali. Dia hanya menunduk melihat ke arah makanan meskipun pada saat sedang mengambil makanan.
Kenzo tidak mau merusak makan malamnya dengan menegur Rosalina yang hanya menunduk saja. Dia lebih memilih makan dengan diam daripada harus berdebat dengan Rosalina di meja makan.
Rosalina memakan makanannya dengan cepat hingga dia tersedak karena tidak nyaman dengan keadaannya saat ini.
"Minum Ros," ucap Kenzo sambil memberikan segelas air putih pada Rosalina.
Rosalina menerima gelas yang berisi air putih tersebut dan menenggaknya habis.
"Terima kasih Om," ucap Rosalina sambil melihat ke arah Kenzo dan kembali menunduk setelah Kenzo tersenyum padanya serta menganggukkan kepala padanya.
"Rosa, terima kasih ya sudah merawat luka saya," tukas Kenzo ketika Rosalina berdiri sambil membawa piring bekas makannya.
Rosalina berhenti ketika hendak melangkahkan kakinya. Kemudian dia menatap Kenzo yang masih menatapnya dengan tersenyum.
Melihat senyuman Kenzo padanya, Rosalina menyimpulkan bahwa Kenzo tidak lagi marah padanya.
Rosalina pun kembali duduk dan meletakkan piringnya kembali di meja makan, kemudian dia berkata,
"Sebenarnya ada apa sih Om? Kenapa Om bisa sampai terluka seperti itu?"
Kenzo mengalihkan pandangannya pada lain arah, dia tidak ingin menjawab pertanyaan yang di berikan Rosalina padanya. Dia juga tidak ingin membahas alasan dari lukanya.
"Oke jika Om tidak mau memberitahu. Tapi lukanya itu Om rawat sendiri aja kalau gak mau ngasih tau," Rosalina mengancam Kenzo dengan menatapnya dan meletakkan kedua tangannya di depan dada.
Sontak saja Kenzo menoleh ke arah Rosalina dan mereka beradu pandang selama beberapa saat.
"Tanganku terkena cermin di dalam kamar mandi," tukas Kenzo sambil meraih gelas yang berisi air putih yang berada di depannya.
"Hah?! Kok bisa? Terus sekarang gimana, udah dibereskan apa belum kaca-kacanya?" tanya Rosalina panik.
Kenzo menggelengkan kepalanya setelah selesai meminum minumannya. Melihat gelengan kepala Kenzo sebagai jawaban dari pertanyaan yang dia ajukan, segeralah Rosalina beranjak dari duduknya dan berjalan menuju dapur.
Kenzo hanya memperhatikan Rosalina yang berjalan menuju ruang belakang, kemudian dia membawa peralatan untuk membersihkan menuju kamar Kenzo.
Melihat Rosalina masuk ke dalam kamarnya, segeralah Kenzo mengikutinya. Dia melihat Rosalina membersihkan kaca-kaca tersebut dengan telaten dan tidak mengeluh sama sekali.
"Auuuww...," seru Rosalina ketika jarinya terkena pecahan kaca kecil yang diambilnya dari cermin yamg retak karena hantaman tangan Kenzo.
__ADS_1
Dengan segera Kenzo mendekat ke arah Rosalina dan memegang tangannya untuk melihat luka yang ada pada jari tangan Rosalina.
Dengan telatennya pecahan kaca kecil itu diambil oleh Kenzo. Rosalina menatap wajah Kenzo yang serius itu dengan rasa kagum. Dia tidak merasakan sakit ketika Kenzo mengambil pecahan kaca yang masuk ke dalam jarinya.
Apa ini hipnotis dari ketampanan wajah Om Kenzo? Aku tidak merasakan sakit sedikit pun, Rosalina berkata dalam hatinya.
"Kamu harus hati-hati. Pecahan kaca yang kecil justru akan sulit di ambil jika mengenai tanganmu," tutur Kenzo sambil membersihkan tangan Rosalina dari pecahan kaca yang sangat kecil.
"Om, Om kok ganteng sih?" celetuk Rosalina tanpa sadar.
Kenzo hanya menahan senyumnya, dia tidak menghentikan kegiatannya ataupun menoleh pada Rosalina. Dia yakin saat ini Rosalina mengatakannya tanpa menyadarinya.
"Sayangnya Om duda sih. Aku kan nyarinya yang perjaka," Rosalina kembali mengatakan isi hatinya tanpa sadar.
Mendengar kata duda, Kenzo tidak senang. Dia menghentikan kegiatannya untuk membersihkan tangan Rosalina dari pecahan kaca. Kemudian dia menatap Rosalina beberapa saat.
"Cepat bersihkan kacanya," ucap Kenzo sambil beranjak dari hadapan Rosalina.
Rosalina terhenyak, dia baru sadar jika Kenzo memerintahkannya untuk membersihkan pecahan kaca itu ketika mendengar perintah Kenzo. Sayangnya dia tidak ingat jika dia mengatakan isi hatinya secara langsung, bukan dalam hati seperti yang dia bayangkan.
Mata Kenzo tak lepas memperhatikan Rosalina yang sedang membersihkan ruang dalam kamar mandinya. Sebenarnya dia sangat terhibur dengan sikap Rosalina yang apa adanya, teledor dan bar-bar. Tapi di antara itu semua, Kenzo sangat mengagumi Rosalina yang sangat penyayang dan telaten dalam mengurus orang lain.
Sepertinya kekesalan Kenzo pada Rosalina tadi pagi sudah terlupakan. Kini dia tidak lagi memperlihatkan kekesalannya pada gadis itu.
Rosalina menoleh ke arah Kenzo berada. Dia menatap Kenzo dengan penuh tanya, tapi tidak ada sepatah kata pun yang diucapkan dari mulut Kenzo.
"Ada apa Om?" tanya Rosalina dengan menatapnya heran.
"Apa kamu sudah punya pacar?" tanya Kenzo dengan serius menatap Rosalina.
"Pacar? Makanan apa itu Om?" tanya Rosalina sambil terkekeh.
"Kamu jangan bercanda. Saya tanya serius sama kamu," tukas Kenzo dengan tatapan seriusnya.
Bibir Rosalina menutup dan tidak lagi tertawa karena ditatap Rosalina seperti itu.
"Rosa gak punya pacar Om," jawab Rosalina serius dengan menatap Kenzo.
"Kenapa?" tanya Kenzo ingin tahu.
__ADS_1
"Rosa gak mau sakit hati lagi Om. Cukup sekali saja dan itu rasanya sakit banget Om. Sekarang aja Rosa baru bisa move on. Jadi gak mau lagi deh ngerasain yang namanya sakit hati," Rosalina menjelaskan pada Kenzo tanpa sungkan padanya.
"Lalu cowok yang ketemu sama kamu tadi siapa?" tanya Kenzo dengan penuh penasaran.
"Oh si Rendi, dia teman saya Om, bukan pacar saya," jawab Rosalina sambil terkekeh.
"Bukannya dia menyatakan cintanya sama kamu kemarin?" tanya Kenzo menyelidik.
"Iiih Om kok tau sih?" tanya Rosalina sambil.memicingkan matanya pada Kenzo.
"Ya kan dia ngomongnya keras. Saya gak budek, jadi saya dengar dia ngomong apa," jawab Kenzo yang sedikit salah tingkah seperti sedang ketahuan.
Rosalina mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian dia berkata,
"Tiba-tiba aja dia ngomong suka sama saya. Terus gimana dong Om? Saya harus jawab apa?" tanya Rosalina yang kini malah berjalan mendekat ke arah Kenzo dan duduk di depan Kenzo.
Kenzo kaget mendapati Rosalina duduk di tepi ranjangnya dan bertanya tentang apa yang akan dia lakukan untuk menghadapi lelaki yang menyatakan cintanya padanya.
"Kamu suka sama dia?" tanya Kenzo padanya.
"Ehmmm... enggak Om, dia kan temanku, jadi gak ada rasa suka melebihi teman," jawab Rosalina setelah menggelengkan kepalanya.
"Bagus," celetuk Kenzo tanpa sadar.
"Hah, kok bagus Om?" tanya Rosalina bingung.
"Eh bukan, maksud saya lebih baik tidak usah kamu terima pernyataan cintanya. Lebih baik kalian berteman saja," jawab Kenzo dengan gugup.
"Oh gitu ya...," ucap Rosalina sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Eh tapi Om, kalau dia maksa gimana? Tadi aja dia ngasih aku tas branded limited edition yang sangat aku inginkan," tutur Rosalina sambil memandang Kenzo yang sedari tadi memandangnya.
"Lalu?" tanya Kenzo penasaran.
"Kan kasihan Om kalau ditolak," jawab Rosalina sambil tersenyum.
"Kamu mau sakit hati lagi?" tanya Kenzo dengan menaikkan nada bicaranya.
Rosalina kaget mendengar Kenzo yang berbicara seperti menyentaknya, dengan cepatnya dia menjawab pertanyaan Kenzo.
__ADS_1
"Enggak Om, beneran deh. Terus gimana dong?"
"Gak usah diterima!" seru Kenzo sambil menatap tajam Rosalina sehingga membuat Rosalina mengkerut dan menganggukkan kepalanya.