Bukan Duda Biasa

Bukan Duda Biasa
Bab 16 Takut khilaf


__ADS_3

Rosalina mengambil tangan Kenzo yang masih saja mengeluarkan cairan segar berwarna merah. Dia segera membersihkan menggunakan tisu yang dia gapai dari meja yang ada di sebelah Kenzo berdiri saat ini.


"Pasti sakit ya Om?" tanya Rosalina sambil meniup-niup luka Kenzo pada saat membersihkannya.


"Kotak obatnya di mana Om?" tanya Rosalina pada Kenzo yang sedari tadi hanya diam saja ketika ditanya oleh Rosalina.


Kenzo tetap diam tidak menjawab, dia hanya menatap wajah Rosalina yang terlihat sangat khawatir padanya.


"Om, di mana kotak obatnya?" tanya Rosalina kembali.


Namun, tetap saja Kenzo diam, tak menjawab dan masih menatap wajah Rosalina yang sedang panik melihat luka tangan Kenzo.


Hufffttt....


Rosalina menghembuskan nafasnya, dia tahu jika Kenzo masih marah padanya dan tidak akan menjawab pertanyaan darinya.


Segera Rosalina berkeliling mencari kotak obat di seluruh ruang kamar Kenzo. Dari laci satu ke laci yang lain di bukanya, tapi tidak menemukannya. Dari ruang satu ke ruang lainnya pun dia tidak menemukannya. Hingga akhirnya dia masuk dan memeriksa ruang kerja Kenzo. Di sana dia tidak berani menyentuh meja kerja Kenzo, dia hanya mencari kotak obat di seluruh ruangan tersebut.


"Akhirnya... aku menemukannya," ucap Rosalina dengan ekspresi senang melihat kotak obat yang ada pada tangannya.


Dari luar ruang kerja itu Kenzo melihat ekspresi Rosalina ketika menemukan kotak obat tersebut. Dia tetap diam, namun bibirnya melengkung ke atas melihat tingkah lucu Rosalina.


Segera Rosalina membawa kotak obat tersebut untuk mengobati luka yang ada di tangan Kenzo.


Kenzo masih berdiri dan diam saja tidak mau berkata apapun.


"Om, sini biar Rosa bersihkan dulu lukanya," ucap Rosalina sambil membersihkan luka Kenzo menggunakan alkohol.


Kenzo meringis ketika tangannya dibubuhi dengan cairan tersebut. Tapi dengan sekuat tenaga dia menahannya.


"Tahan ya Om, agak perih sih, tapi gapapa biar cepat sembuh," ucap Rosalina sambil mengoles luka Kenzo dengan salep dan meniup-niupnya agar tidak perih.


Kenzo memperhatikan Rosalina yang begitu telaten merawat lukanya.

__ADS_1


Dia gadis yang baik, perhatian, telaten dan juga penyayang. Pantas saja bayi itu nyaman dengannya, Kenzo berkata dalam hatinya sambil memandang wajah Rosalina yang masih meniup-niup luka di tangan Kenzo.


"Sudah Om. Sebaiknya tetap rutin diobati ya Om biar cepat sembuh lukanya," tukas Rosalina sambil tersenyum manis pada Kenzo yang sedari tadi melihatnya.


Waduh gawat, kenapa aku gak sadar tadi kalau Om Kenzo masih belum memakai bajunya. Alamak... kalau gini terus bisa-bisa aku khilaf, Rosalina berkata dalam hatinya.


"Ehmmm... Om, sebaiknya Om cepat pakai bajunya deh. Saya takut khilaf Om. Saya permisi dulu," ucap Rosalina gugup sambil membuang mukanya melihat ke arah lain dan berjalan menuju pintu kamar Kenzo.


Kenzo tersenyum mendengar perkataan Rosalina. Dia tidak menyangka jika segampang itu kemarahannya bisa diredakan oleh Rosalina. Hanya dengan mendengarkan isi hatinya yang dia katakan secara gamblang padanya.


"Oh iya Om. Buruan keluar untuk makan malam. Semuanya sudah disiapkan oleh Bik Narmi," ucap Rosalina yang kini sudah berada di tengah pintu tanpa menoleh ke arah Kenzo berada.


Kemudian Rosalina segera berjalan cepat menuju dapur untuk mengambil air minum dingin.


Seperti Kebiasaannya, dia berdiri tepat di depan kulkas untuk meminum air dingin.


Gila, hot banget... Untung aja aku kuat iman. Kalau gak kuat bisa berabe kan, ckckck..., Rosalina berkata dalam hatinya sambil meminum air dingin.


"Rosa, ambilkan saya minuman dingin," suara seorang laki-laki yang tidak asing di telinga Rosalina mengagetkannya.


Sebisa mungkin Kenzo menahan tawanya, kemudian dia bertanya pada Rosalina.


"Rosa, kamu kenapa?"


Rosalina menoleh dan menatap Kenzo dengan tidak bersahabat.


"Ini gara-gara Om ngagetin Rosa," jawabnya dengan nada kesal.


"Kenapa jadi saya yang salah?" tanya Kenzo kembali yang tidak mau disalahkan.


"Ya karena Om datang pada saat tidak tepat," jawab Rosalina yang masih saja kesal.


"Saat yang tidak tepat? Apa kamu sedang memikirkan saya?" tanya Kenzo kembali sambil menahan senyumnya.

__ADS_1


"Enak aja, siapa yang sedang mikirin Om," Rosalina mengelak tuduhan Kenzo.


"Terus mikirin apa?" tanya Kenzo kembali yang masih menahan senyumnya.


"Utang. Karena saya belum dapat gaji dari Om," jawab Rosalina dengan tegas dan kesal.


"Oh... kirain tadi lagi mikirin saya karena takut khilaf kalau lihat secara langsung seperti tadi," ucap Kenzo yang berniat menyindir Rosalina.


Rosalina berjalan meninggalkan Kenzo dengan melihat ke arah lain agar rasa malunya tidak terlihat oleh Kenzo.


Om Kenzo tuh kenapa sih kalau ngomong suka bener. Aku kan jadi malu, Rosalina berkata dalam hatinya sambil berjalan menuju kamar baby Chintya.


Ternyata di dalam kamar baby Chintya masih ada bik Narmi yang menjaganya. Rosalina merasa tidak enak pada bik Narmi ketika melihat bik Narmi tertidur di samping baby Chintya karena kelelahan.


"Bik, maafin Rosa ya karena terlalu lama meninggalkan Chintya. Terima kasih bik sudah bantu jaga Chintya. Jika terjadi apa-apa dengan Chintya, pasti aku akan dimarahi habis-habisan oleh Om Kenzo. Belum lagi nanti gajiku akan dipotong enam puluh persen jika aku tidak becus merawat Chintya," tutur Rosalina di samping bik Narmi sambil memijit tangan bik Narmi.


Bik Narmi yang tadinya tertidur jadi terbangun karena mendengar perkataan Rosalina dan pijatan tangan Rosalina yang membuat bik Narmi ingin menangis serta memeluknya.


Kenzo yang ingin mengajak Rosalina makan bersama, kini berada di tengah pintu kamar baby Chintya dan mendengar semua perkataan dari Rosalina.


Dia merasa sedikit bersalah pada Rosalina karena mengancamnya untuk memotong gajinya. Tapi itu hanya gertakan dari Kenzo saja, sebab Kenzo bukanlah tipe orang yang tega dengan orang lain, apalagi dengan Rosalina yang bisa membuat harinya merasakan tawa dan kesal secara bergantian.


"Rosa, ayo kita makan sebelum bayi itu bangun dari tidurnya," ucap Kenzo dari tempatnya berdiri saat ini.


Rosalina terhenyak mendengar suara Kenzo yang mengajaknya makan hanya berdua tanpa ada baby Chintya. Ada rasa bahagia dalam hati Rosalina, tapi semua itu ditepisnya karena menurutnya Kenzo hanya mengajaknya makan karena dia tidak ada teman untuk makan bersama di meja makan yang sebesar itu.


"Kita Om? Kita berdua?" tanya Rosalina gugup.


"Iya, seperti biasanya. Apa kamu mau makan sendiri di dapur? Saya tidak suka makan sendiri, maka dari itu saya ajak kamu makan bersama dengan saya. Lagi pula bayi itu masih tidur. Cepatlah makan sebelum bayi itu bangun dari tidurnya," tukas Kenzo sebelum pergi dari kamar tersebut.


Rosalina memandang baby Chintya dan bik Narmi. Kemudian dia berganti memandang punggung Kenzo yang berjalan menjauhinya.


"Ditinggal makan dulu gapapa kali ya?" Rosalina bermonolog sambil beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruang makan.

__ADS_1


Bik Narmi tersenyum ketika sedikit membuka matanya dan melihat Rosalina berjalan ke arah ruang makan.


"Kamu anak yang baik Rosa," ucap bik Narmi lirih.


__ADS_2