
Ajakan menikah itu kembali diucapkan oleh Kenzo. Rosalina menjadi sadar jika dia masih enggan dengan hubungannya dengan Kenzo.
Rosalina mengurai pelukannya. Dia menatap Kenzo yang juga menatapnya karena kaget Rosalina melepaskan pelukannya.
"Tapi aku maunya sama perjaka," ucap Rosalina dengan mata yang menampakkan kekecewaan.
Kenzo tersenyum, membuat Rosalina menjadi bingung. Dia memicingkan matanya melihat laki-laki yang mengajaknya menikah itu sedang tertawa ketika dia mengatakan tentang tipe laki-laki yang menjadi suaminya harus perjaka.
Kenzo menghentikan tawanya ketika Rosalina menatapnya seperti meminta penjelasan padanya. Kemudian dia berbisik di telinga Rosalina,
"Aku juga perjaka."
Rosalina membelalakkan matanya mendengar bisikan dari Kenzo. Laki-laki tampan yang berstatus duda beranak satu itu mengatakan bahwa dirinya masih perjaka.
Siapa yang percaya jika mendengar hal semacam itu. Rosalina pun tidak mempercayainya. Dia meragukan apa yang dikatakan oleh Kenzo.
Kenzo yang mengetahui apa arti tatapan Rosalina itu membuatnya terkekeh. Dia tahu sekali jika Rosalina tidak akan mempercayainya begitu saja.
Kini seorang Kenzo yang sangat cuek mempunyai keinginan untuk menjahili gadis yang baru beberapa jam menjadi pacarnya itu.
Kenzo berdiri, dia memandang Rosalina yang masih menatapnya dengan penuh tanya. Kemudian dia berkata,
"Akan ku beritahu lain waktu," ucap Kenzo sambil berjalan keluar dari kamar baby Chintya dengan tertawa.
Baru kali ini Kenzo tertawa puas karena bisa menjahili seseorang. Sungguh perasaan yang membahagiakan dan bisa menghiburnya. Harinya lebih berwarna dengan kehadiran Rosalina dalam kehidupannya.
Rosalina melongo melihat Kenzo yang tertawa seperti itu, bahkan dia tidak biasanya mengatakan hal yang membuat orang menjadi penasaran.
Kok dia seperti itu? Ada yang aneh, Rosalina berkata dalam hatinya.
Rosalina berlari kecil ke arah pintu kamar tersebut.
"Om kenapa? Om gak sedang stres kan?" seru Rosalina dari depan pintu kamar tersebut ke arah Kenzo yang sedang berjalan.
Sontak saja Kenzo menghentikan langkahnya dan badannya berbalik menghadap ke arah Rosalina yang masih berada di depan pintu.
Kenzo berjalan cepat, dengan langkah lebarnya itu dia berhasil menangkap tangan Rosalina yang hendak melarikan dirinya masuk ke dalam kamar tersebut.
"Kamu panggil saya apa tadi?" tanya Kenzo sambil tersenyum licik pada Rosalina.
__ADS_1
Rosalina berpikir, dia mengingat-ingat apa yang dia katakan tadi. Dan dia terperanjat kaget ketika mengingat bahwa dia memanggil Kenzo dengan sebutan om.
Rosalina tersenyum lebar setelah mengingat bahwa dirinya memanggil Kenzo dengan sebutan om.
Melihat senyum Rosalina yang baru menyadari kesalahannya itu membuat Kenzo memajukan wajahnya. Sontak saja Rosalina memundurkan badannya, sayangnya keseimbangan tubuhnya tidak stabil.
Rosalina hendak terjatuh ke belakang karena kakinya yang tidak tepat ketika dia akan memutar tubuhnya untuk melarikan diri dari Kenzo.
Untung saja Kenzo cepat menyadari hal itu. Tangan kekar Kenzo menyelamatkan Rosalina. Tangannya merangkul pinggang Rosalina, menahannya agar dia tidak terjatuh ke belakang.
Kini posisi mereka saling menatap. Kenzo tersenyum licik melihat posisi mereka yang sangat menguntungkan bagi Kenzo untuk menghukumnya.
Tangan Kenzo yang tidak melingkar di pinggang Rosalina kini memegang tengkuk leher Rosalina. Segera ditariknya tengkuk Rosalina sehingga tubuhnya pun ikut tertarik.
Bibir Kenzo kini menempel pada bibir Rosalina. Serangan Kenzo yang secara tiba-tiba itu membuat Rosalina terbelalak kaget.
Bukannya dia memberontak, kini dia malah memejamkan matanya menikmati sentuhan bibir Kenzo.
Merasa Rosalina tidak memberontak dan menolaknya, Kenzo semakin memperdalam ciumannya.
Bibir mereka saling bertautan, bahkan Rosalina pun ikut larut dalam situasi tersebut. Rosalina menyambut ciuman Kenzo dan dia membalas ciuman tersebut tidak kalah dengan Kenzo.
Rosalina salah tingkah ketika matanya beradu pandang dengan Kenzo. Apalagi tangis baby Chintya yang semakin keras membuat mereka segera beranjak dari posisi mereka saat ini.
Rosalina segera menggendong baby Chintya dan ajaibnya tangisnya langsung berhenti ketika Rosalina menggendongnya.
Kenzo mendekati mereka. Dia memberanikan dirinya untuk melihat wajah baby Chintya dan mencoba menyentuhnya, bahkan dia berniat untuk menggendongnya jika Rosalina menyuruhnya.
"Kamu hebat sayang. Dia langsung diam," ucap Kenzo sambil melingkarkan tangannya pada pundak Rosalina.
"Chintya. Panggil dia Chintya," tukas Rosalina dengan tegas.
Kenzo terkekeh dan mencubit gemas hidung Rosalina sambil berkata,
"Iya sayang, iya...."
"Ini coba gendong dia," Chintya memerintah Kenzo sambil memberikan baby Chintya padanya.
Kenzo kaget ketika tiba-tiba baby Chintya sudah berada di tangannya. Keringat dingin menetes di pelipisnya. Tangannya yang gemetar sedang mengendong baby Chintya.
__ADS_1
Wajah baby Chintya membuatnya teringat akan mendiang istrinya, Levia. Trauma itu kembali menghantui Kenzo. Dia mati-matian menghadapinya. Dia melawan rasa takutnya agar dia bisa terbebas dari masa lalunya.
Masa lalu yang membelenggunya, yang selalu menghantuinya setiap dia mengingat mendiang istrinya itu.
Rosalina tersenyum puas karena Kenzo mau menuruti permintaannya. Tapi, ketika dia melihat raut wajah Kenzo yang sedikit pucat dengan keringat yang menetes di pelipisnya, segeralah dia mengambil baby Chintya dari tangan Kenzo.
Kenzo hanya diam menata pikirannya dan nafasnya yang terengah-engah akibat trauma yang dimilikinya.
Tangan Rosalina meraih tangan Kenzo untuk memberikan ketenangan padanya. Kenzo tersenyum palsu padanya. Sayangnya senyum Kenzo yang palsu itu diketahui oleh Rosalina.
Ditaruhnya baby Chintya dalam box bayinya. Kemudian dia meraih tubuh Kenzo yang masih berdiri mematung ke dalam pelukannya.
"Tenang, ada aku di sini," ucap Rosalina sambil mengusap-usap lembut punggung Kenzo untuk menenangkannya.
Kenzo segera menyambut pelukan Rosalina, dia memeluk erat tubuh Rosalina seolah dia tidak ingin kehilangannya.
"Jangan tinggalkan aku. Selalu bersamaku sampai kapanpun. Jangan sakiti aku dan jangan kecewakan aku," ucap Kenzo penuh dengan permintaan pada Rosalina.
"Aku janji, aku gak akan meninggalkanmu," tukas Rosalina yang masih saja mengusap punggung Kenzo dalam pelukannya.
"Terima kasih. Aku harap kamu tidak akan mengingkari janjimu. Dan aku harap kamu benar-benar tidak mengecewakan aku," ucap Kenzo sambil mengeratkan pelukannya.
"Jangan khawatirkan hal itu. Aku bukan seorang pembohong yang suka ingkar janji," ucap Rosalina menanggapi perkataan Kenzo.
Mendengar perkataan Rosalina, Kenzo menjadi lebih tenang. Dia sedikit mengurai pelukannya untuk melihat wajah gadis yang sedang berpelukan dengannya.
"Janji?" tanya Kenzo sambil menatap intens manik mata Rosalina.
Rosalina pun mengangguk dan tersenyum pada Kenzo. Kemudian dia berkata,
"Aku janji."
"Lalu... mau kah kamu menikah denganku?" tanya Kenzo serius dengan tatapannya yang masih menatap lekat mata Rosalina.
"Hah?!"
Rosalina terperanjat, dia baru sadar jika dia belum memutuskan untuk mau menerima hubungan dengan Kenzo. Hanya saja dia mau melakukan sekedar pacaran untuk saling mengenal seperti apa yang diharapkan oleh Kenzo.
Bodoh... bodoh... bodoh... Bodohnya kamu Rosalina, bukannya kamu keberatan dengan statusnya yang seorang duda? Kamu kan maunya perjaka untuk jadi suamimu. Lalu aku harus bagaimana? Rosalina memaki dirinya sendiri dalam hatinya.
__ADS_1